You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L ~ Istri yang Perhatian


__ADS_3

Berlin


Setibanya ia dikota kelahirannya. Belinda tak mampir dulu kekediamannya untuk sekedar menyapa orang tuanya. Ia langsung saja menyuruh sopirnya tancap gas menuju perusahaan milik kakak tirinya yang merupakan tersangka utama.


Belinda melangkah cepat ke sebuah ruangan, yang mana dipintu ruangan itu bertuliskan "CEO Rooms".


Tanpa permisi dan mengetuk pintu terlebih dahulu, Belinda langsung menyerobot masuk. Seorang pria yang sedang melabuhkan tanda tangan ke sebuah dokumen, spontan menghentikan kegiatannya. Matanya menatap nyalang ke arah Belinda.


“Apa kau tidak tau bagaimana caranya bertata krama. Hah?”bentak pria itu.


Tanpa menjawab pertanyaan kakak tirinya itu, Belinda langsung mengatakan kekesalannya kepada pria itu.


"Maksud kamu apa, menghasut para investorku hah?! Kurang apalagi kamu? Sudah merebut kepercayaan Ayah, dan sekarang kau mau berebut kekuasaan denganku?. Sadar…kau itu hanya anak selingkuhan Ayah.“


Hening…


Tap!


Tap!


Pria itu melangkah cepat kearah Belinda, dengan dipenuhi emosi. Ia sangat tidak suka ucapan wanita itu.


“Mau apa kau!?”tanya Belinda yang sedikit ketakutan sambil beringsut mundur kebelakang.


Plak!!


Tamparan keras mendarat dipipi kanannya, Belinda refleks memegang pipinya yang terasa panas, matanya pun berkaca-kaca karena saking sakitnya tamparan sang kakak tiri di pipinya.


“Ka-kau. Apa yang kau lakukan?! Sshh..."Ringisnya.


"Dasar bajingan, anak dari ****** perebut Ayahku! Beraninya kau menamparku!"umpatnya.


Mendengar hinaan dari Belinda, membuat pria itu semakin murka. Ia kembali memberi pelajaran pada gadis itu dengan mencekik lehernya.


"Ukh..!!"Mata Belinda membola, nafasnya sesak. Ingin berteriak, tetapi suaranya tercekat.


“Kapan terakhir kalinya kuberi kau peringatan, untuk menjaga mulutmu yang kotor ini. Tidak takutkah kau, kalau nyawamu kucabut detik ini juga?”sarkasnya dan tambah mengetatkan cengkramannya dileher Belinda.


“Uhuk! Uhuk! Le-passs…”Belinda memukul-mukul lengan pria itu, agar ia berhenti mencekiknya.


Pria itu menyeringai, lalu menghempaskan Belinda kelantai. Belinda berkali-kali terbatuk-batuk, tenggorokannya terasa kering dan lehernyapun terasa perih akibat cengkaraman kuat pria itu.


Rasa dendam didalam dada gadis itu makin menjadi, sorot tajam dari matanya seakan-akan ingin mencabik-cabik kakak tirinya itu. Ia berjanji pada dirinya sendiri, apabila berhasil menguasai seluruh harta Ayahnya, pria yang angkuh didepannya saat ini, akan ia buat mati kutu dan tak berdaya.


Pria itu membalikkan badannya menghadap jendela kantornya, membelakangi Belinda. Dari sana ia memperhatikan orang-orang yang tampak seperti semut yang berlalu lalang.


“Kau mengingkari janjimu Belinda. Berkali-kali ku peringatkan padamu, jangan pernah melukai wanitaku.”Ujar pria itu yang kesekian kalinya kepada adik tirinya itu.


“Kalau dia tidak kubunuh, Addan akan tetap terikat padanya.”Balas Belinda. Suara terdengar serak.


“Itu masalahmu, aku tidak peduli sama sekali. Lagipula untuk apa kau mengejar-ngejarnya, dia itu tidak akan pernah mau melihatmu.”Ejek pria itu.


“Grrr…Lalu apa bedanya denganmu Heh? Kau juga belum tentu akan diterima oleh wanita itu.”


“Dia pasti akan menerimaku, karena dia masih mencintaiku.Kita lihat saja nanti, ”ujarnya dengan penuh rasa percaya diri.


Belinda mendelik ketika mendengar nada sombong kakak tirinya itu.


...****************...


Sudah dua bulan lebih Addan tidak pergi keperusahaannya, dan hari ini ia memutuskan untuk kembali bekerja. Ia tidak mungkin terus-terusan mengandalkan Soka, sebab ia tau Asistennya itu juga butuh istirahat, ditambah lagi istrinya sedang mengandung. Addan tau betul, Sasha pasti sedih karena sering ditinggal terlalu lama oleh Soka dirumah.


Kana keluar dari ruang ganti. Bukan hanya Addan saja yang sudah berpakaian rapi, ia pun juga.


Addan menatapnya dengan kening yang sedikit berkerut.


"Kamu mau pergi kemana Dek?"


"Ke toko kueku, Mas."


"Ok. Bareng Mas saja perginya."


"Nanti kamu terlambat loh Mas."


"Ngak akan...jalan menuju ketoko kuemu, jalannya kan searah ke kantor Mas."

__ADS_1


"Mm..Baiklah Mas. Yuk kita sarapan dulu sebelum berangkat!"Ajaknya dan diangguki oleh Addan.


*


*


Dimeja makan, mereka makan dengan khusuk, tak ada satupun yang membuka obrolan.


Tidak membutuhkan waktu lama, kedua insan itu menyudahi kegiatan sarapan pagi mereka.


"Ayo kita berangkat sekarang, kamu sudah selesai siap-siapnya kan?"tanya Addan.


"Sudah Mas"


Addan bangkit dari duduknya, dan hendak melangkah keluar rumah.


"Tunggu bentar Mas"Kana mencekal tangan suaminya.


"hm? ada apa Dek?"Addan membalikkan tubuhnya, menghadap sang istri.


Addan terdiam mematung, ketika sang istri berjinjit dan jari lentiknya menari-nari dikerah bajunya. Ternyata tujuan Kana menghentikan langkahnya untuk mengetatkan dasinya yang longgar.


Ini adalah pertama kalinya Kana membantuku memakaikan dasi, istri yang perhatian. Betapa bahagianya aku.... batin Addan gembira.


Merasa ada kesempatan, Addan melingkarkan kedua tangannya dipinggang Kana. Hal itu membuat si empunya tersentak kaget, Kana mendongak keatas melihat wajah suaminya, karena tingginya hanya sebatas dada Addan.


"Bisa lepasin ngak Mas?"Addan menggelengkan kepalanya.


Kana memutar bola matanya malas, tingkah suaminya semakin lama semakin manja. Tapi yang membuatnya heran adalah kenapa dirinya dengan mudahnya meladeni tingkah kekanakan suaminya itu.


Addan tersenyum tipis. "Makasih ya Dek..."


Kana tak menanggapi ucapan sang suami, ia terus sibuk membenahi bagian pakaian Addan yang terlihat kurang rapi dimatanya.


"Sudah rapi,"ucapnya dan tersenyum bangga. Tangannya menepuk-nepuk dada bidang sang suami, mengusir debu-debu yang mungkin saja bertengger dikemeja Addan.


*


*


"Ada apa Mas?"tanya Kana dengan nada kesal.


"Kamu melupakan sesuatu."


"Sesuatu apa? Rasanya ngak ada yang aku lupain deh!"


"Ini" Addan menyodorkan punggung tangannya kehadapan sang istri.


"Maksudnya?"Kana menatap bingung punggung tangan itu.


"Salim sayang..."


"Oh! Oke..."Kana meraih tangan Addan, dan tanpa basi-basi langsung menciumnya.


Wajah Addan seketika dipenuhi rona-rona bahagia, Kana sedikitpun tidak menolak ataupun marah atas permintaannya itu. Tampaknya Kana sudah mulai membuka hatinya untuk Addan.


"Nanti jam berapa kamu pulang?"


"Sekitar jam empat sorean lah Mas."


"Ok. Nanti Mas jemput"


"Eh, ngak usah Mas. Aku pulang sendiri saja, pakai taksi." Tolaknya halus.


"Ngak boleh. Mulai hari ini, Mas yang akan mengantar dan menjemputmu kemanapun kamu pergi."


"Tap_"


"Jangan membantah."Potong Addan cepat.


"Terserah Mas saja!"


Addan menghela nafas panjang, kalau kata terserah sudah terlontar dari bibir istrinya itu. Sudah dipastikan sang istri sudah dalam mood buruk.


Beberapa hari yang lalu ia menyempatkan diri pergi kerumah sakit, hanya sekedar menanyai seputar kehamilan kepada dokter kandungan. Dari situ ia mendapatkan berbagai macam informasi, dan salah satunya terkait mood ibu hamil yang harus selalu dalam mood baik.

__ADS_1


"Mas lepasin tanganku. Kamu harus kekantor sekarang kan?"


Addan tersentak dari lamunannya, dan segera melepaskan cekalannya pada pergelangan tangan Kana.


"Kamu marah sama Mas?"tanyanya ketika Kana memalingkan wajahnya.


"Katakan sama Mas, kamu maunya pergi sama siapa?"Addan meraih tangan istrinya, kemudian dikecupnya.


"Aku maunya sendiri. Kalau terus-terusan diantar jemput sama kamu, yang ada bikin kamu susah Mas."


"Ngak boleh! Kamu hamil, dan Mas tidak akan pernah membiarkanmu bepergian sendirian."Tegasnya dan tak mau dibantah.


"Kalau terus-terusan diantar jemput sama Mas, yang ada aku bikin kamu susah Mas. Jadwal ngantor kamu jadi terganggu."


"Buat kamu, ngak ada kata susah dari Mas. Apapun untuk kamu akan Mas lakukan.


Kana terkekeh geli. "Gombal!"cibirnya.


Masalah terlambat jangan dipikirkan, Mas kan bosnya jadi bebas mau jam berapa tibanya dikantor. "lanjutnya.


"Justru karena kamu bosnya, maka harus menjadi contoh yang baik buat para bawahanmu."


"Dua menit, tiga menit sampai lima menit. Tidak masalahlah...untuk ukuran pemilik perusahaan yang terlambat datang."


"Yaudah...terserah Mas aja."Ucap Kana pasrah, ia sudah malas berdebat dengan Addan.


"Mulai besok, Ghani tinggal bersama kita di Vila. Dan dia pulalah yang akan mengawalimu kemanapun kamu pergi."


Mendengar nama Ghani disebutkan, Kana seketika cemberut. Padahal ia sangat berharap setelah kepindahannya ke Vila, Ghani tak lagi menjadi bodyguardnya, mengikutinya kemanapun ia pergi. Bukannya karena benci, tapi karena pemuda itu terus-terusan membuatnya jengkel setengah mati.


"Tapi kenapa harus di_"Kana hendak protes, namun sebuah kecupan manis mendarat dikeningnya.


Cup...


"Jangan protes lagi, masuk sana! Atau kamu mau ikut Mas kekantor?"ucapnya tanpa dosa. Ia pura-pura tidak melihat wajahnya istrinya yang memerah bak kepiting rebus.


...****************...


Sudah tiga jam lebih Kana menyibukkan dirinya memanggang dan menghiasi kue yang akan ia taruh dietalase. Saat itu ia tidak dalam posisi berdiri, Raya sengaja menyiapkan kursi untuknya agar ia tidak terlalu merasakan kelelahan.


Setelah melakukan ritual pembuatan kue, Kana memutuskan menghampiri Raya yang sedang mengelap etalase kue.


"Kuenya sudah jadi semua Ray. Bantu kakak bawa dong."


"Siap Kak!"Raya langsung melaksanakan perintah Kakaknya itu.


Sekarang bermacam-macam rasa dan bentuk kue sudah tertata rapi didalam etalase. Pelanggan pun mulai berdatangan, sebagian dari mereka memilih menikmati hidangan didalam toko. Kana merasa senang dan puas, semakin hari tokonya semakin rame pengunjung, tak sia-sia selama ini ia mempercayakan tokonya dirintis oleh Raya.


"Kak, Kak Kana!"panggil Raya pada Kana yang tengah melamun.


Kana tersentak, kemudian mendongak menatap adik sepupunya yang berdiri dihadapannya sambil berkacak pinggang. "Ah i-iya Ray. Ada apa ya?"


"...Bukankah pria itu Asistennya suami Kakak ya?"Raya menunjuk seseorang yang berdiri diambang pintu.


Kana mengikuti arah pandangan Raya, ia sedikit terperanjat ternyata pria itu adalah Soka.


"Mau ngapain sih, Kak Soka kemari? Pasti nih kerjaannya Mas Addan,"gumamnya kesal.


Kana menghampiri Soka dengan raut muka yang tak bersahabat.


"Ada apa ya Kak? Apa ada yang dibutuhkan Mas Addan, atau dia mau beli kue?"ujarnya dengan nada agak ketus.


Selama dalam proses membuat kue, suaminya itu selalu mengganggunya dengan cara menelfonnya tanpa henti, hingga ia jengah lalu memutuskan untuk mematikan daya ponselnya. Dan kini, suaminya itu meminta Asisten pribadinya, entah apa tujuan Addan mengirimnya kemari.


"...Nyonya diminta Bos untuk menemuinya dikantor. Beliau mau mengajak Anda makan siang bersama direstoran."


"Kalau aku menolak, gimana?"ucapnya menantang.


"Bos bilang, kalau Nyonya menolak, beliau sendiri yang datang kemari membawa Anda paksa."


Kana seketika lunglai mendengar jawaban Asisten suaminya itu.


"Heh...boleh juga ya kayak gitu?" Soka mengangkat bahunya menanggapi ucapan Kana.


"Hum dasar! Mending aku ngak nanya tadi."kesalnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2