You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Misi Baru Untuk Feni


__ADS_3

Feni menarik Gipson, hingga mereka tiba digang sempit yang terletak tidak terlalu jauh dari toko kue.


"Kenapa anda datang langsung kemari?"


"Aku ingin secara langsung menculik istri dari Tuan Nicolas, lalu membiarkan Nona Belinda menghabisinya."


"Bukannya itu tugasku! Kenapa menjadi anda yang turun tangan?"Kagetnya.


"Kau terlalu lamban, ini sudah hampir satu bulan. Tapi belum ada perkembangan dari laporan yang kau sampaikan."


"Kalau...kalau bukan aku yang menuntaskan misi ini, berarti uang yang diberikan Belinda harus ku kembalikan begitu?"


"Ya tentu saja, karena kau sama sekali tidak ada berperan dalam misi ini. Kau malah membuat Nona Belinda rugi. Dan kaulah penyebab kematian Marco, mata-mata profesional yang selama lima tahun ini diandalkan oleh Nona Belinda."Ucapnya meremehkan Feni.


Feni menelan saliva dengan susah. "...Iiitu...salahnya sendiri, siapa suruh dia bertindak dengan tergesa-gesa."


Lagipula dia pantas mati, karena dia benar-benar melakukan kekerasan terhadapku waktu itu, batin Feni.


"Terserah kau saja, lagipula dia sudah mati. Intinya mulai sekarang kau mundur dari misi ini, biar saya saja yang menuntaskannya."


Tidak, Itu tidak boleh! Aku tidak mau uang 10 miliar ditanganku harus dikembalikan. Aku harus membujuk pria ini, agar misi itu dikembalikan kepadaku. HARUS!, batin Feni.


"Aku mohon Gipson, jangan...cabut misi ini dari tanganku. Aku janji, dalam 1 bulan, aku bisa menuntaskannya."Ujar Feni.


"Satu bulan? itu terlalu lama, dua minggu, bagaimana?"


"Kumohon... satu bulan, dua minggu itu terlalu singkat."


"..."Gipson tidak membalas perkataan Feni, ia sedang berpikir keras, menimang-nimang keputusan yang tepat untuk Feni.


"Kumohon..."Ucapnya memohon lagi sambil mengatupkan kedua tangannya.


Gipson melirik Feni sejenak, kemudian terlintas sebuah ide dipikirannya, ia pun tersenyum licik."Baiklah...tapi dengan satu syarat, kau harus masuk kedalam kediaman Nicolas, dekati wanita itu dan buat dia percaya padamu."Ujarnya.


Mata Feni membola seketika."Apa kau bercanda? kau bermaksud memintaku mengantarkan nyawa kesana. Jelas-jelas Tuan Addan terkenal akan kekejamannya."Gerutunya dan menatap Gipson dengan tatapan penuh kekesalan.


"Aku tau kau tidaklah bodoh. Dengan kau masuk kedalam kediaman Nicolas, itu akan mempermudah berjalannya misimu. Jika kau terus berdiam diri disini, kapan kau akan menuntaskan misimu? Sedangkan wanita itu sangat jarang datang ketoko kuenya, sehingga waktu kau untuk dekat dengannya hanya sedikit. Pikirkanlah baik-baik ide dariku ini."Balas Gipson santai, lalu merogoh sekotak rokok dari saku jaketnya.


Sambil menghisap sebatang rokok Gipson menunggu jawaban dari wanita itu.


"Aku...aku..."Feni ragu menerima ide dari Gipson. Ia merasa takut, jika ide dari Gipson itu akan membuat nyawanya terancam. Ia tau keluarga Nicolas bukanlah keluarga konglomerat seperti pada umumnya, mereka terkenal akan kekejamannya dalam menuntaskan musuh-musuh mereka. Jadi sangatlah kecil kemungkinannya, ia keluar dari kediaman Nicolas hidup-hidup setelah membunuh istri dari konglomerat muda yang satu itu.


Melihat Feni yang masih ragu-ragu, Gipson menghela nafas."...Huffh...Saya tidak akan memaksamu Nona."Ucapnya, kemudian membalikkan badannya."Kuberi kau waktu tiga minggu, tidak boleh lewat dari itu."Ucapnya lagi.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Gipson bersama semua anak buahnya pergi dari hadapan Feni.


Feni masih dalam keadaan diam mematung ditempat, ia memandang punggung Gipson yang sudah menjauh.


......................


Feni balik ke toko kue, dengan perasaan campur aduk antara menyetujui ide Gipson atau tidak.


Feni menghiraukan Raya yang kini menatapnya tajam dari balik etalase kue, dan itu tentu membuat gadis 18 tahun itu geram. Dengan dipenuhi aura kemarahan, Raya berjalan cepat kearah Feni lalu menghadangnya, sebelum wanita itu mencapai etalase.


"Kemana aja sih Mbak?"Tanya Raya dengan ketus, wajahnya pun tampak kesal.


Feni mendelik."Apasih, dasar kepo! Urus urusanmu sendiri."Balas Feni dengan ketusnya. Kemudian berjalan melewati Raya yang berdiri dihadapannya itu, bahkan dengan sengaja ia menyenggol bahu Raya, hingga badan gadis yang mungil itu sedikit terhuyung ke belakang.


Raya memutar tubuhnya menatap kesal Feni yang berjarak beberapa centi itu darinya. "Oi Tante Jamblay...Grrr..."Geramnya sambil mengepalkan kedua tangannya. Feni yang ditegur pura-pura tuli.


"Sabar...yang sabar Raya...anggap saja ujian dari Allah"Gumam Raya sambil mengelus-ngelus dadanya.


~


Feni merenungkan ide dari Gipson tadi, menurutnya ide itu merupakan cara yang tepat untuk menyelesaikan misinya dengan cepat. Akan tetapi, tentu ada resikonya jika rencananya ketahuan, bukan hanya uang yang sudah ditangannya yang akan lenyap, nyawanya pun pasti juga ikut lenyap karenanya.


Aku harus melakukan sesuatu supaya bisa dengan cepat dan mudah masuk ke kediaman Nicolas, batin Feni.


"Ada apa Tante Jablay, habis diputusin pacarkah?"Ejek Raya dan mencebik ketika Feni menatapnya tajam.


"Hishhh...Bocah!"Gerutu Feni.


...****************...


Addan membantu memijat kaki Kana yang terkilir, sesekali kana menjerit kesakitan karena merasakan tekanan yang begitu kuat pada kakinya.


"Ah...Mas...u,udah..."Pinta Kana sambil menggigit bibirnya dan meremas bahu suaminya. Air matanya pun lolos dari sudut matanya, karena saking sakitnya pijatan dari Addan yang dirasakannya.


"Tahan ya...bentar lagi selesai."Ucap Addan dengan lembut. Tangan Addan tanpa henti terus memijat kaki Kana, hingga bengkakan pada Kaki istrinya itu lumayan mengecil.

__ADS_1


Tok tok tok


Addan mengalihkan pandangannya kearah pintu kamar."Masuk!"Sahutnya, kemudian fokus kembali memijat kaki istrinya yang berada dipangkuannya.


Ceklek


Dokter Sammy bersama Asistennya masuk kedalam kamar Addan. Ditangannya terdapat sebuah tas bewarna hitam yang tentunya berisi peralatan medis dan juga obat-obatan.


Addan meletakkan kaki Kana yang berada dipangkuannya dengan pelan diatas kasur, kemudian menatap tajam Dokter Sammy yang berdiri dihadapannya itu.


"Kau lamban sekali, untung aku lumayan jago memijat. Kalau tidak, kaki istriku pasti sudah bengkak sebesar kepalamu."Ucapnya ketus dan sedikit menyombongkan diri.


Anda berlebihan Tuan, tidak mungkin sebesar itu juga bengkaknya, batin Dokter Sammy mengejek Addan dalam hati.


Addan mengangkat sebelah alisnya, tatapannya yang tajam ia arahkan kearah Dokter Sammy."Apalagi yang kau tunggu, cepat periksa istriku."Bentak Addan.


Dokter Sammy dan Asistennya seketika terperanjat setelah mendengar suara bentakan Addan, bahkan Kana yang berbaring disampingnya pun ikut kaget.


Astagfirullah... bikin kaget saja kamu Mas..., batin Kana sambil memegang dadanya.


"Iiiya...Tuan."Sahut Dokter Sammy yang gelagapan.


Dokter Sammy mengulurkan tangannya, yang hendak menyentuh pergelangan Kaki Kana yang terkilir, namun belum sempat mendaratkan tangannya pada kaki Kana, ia sudah ditegur oleh Addan.


"Kau ngapain? Mau mencari kesempatan buat menyentuh istriku?"Marahnya, matanya menatap tajam tangan dan wajah Dokter Sammy secara bergantian.


Sammy dengan cepat menjauhkan tangannya dari kaki Kana.


"Bu, bukan...begitu Tuan. An, anda salah paham, saya mau memeriksa keadaan kaki Nyonya. yang terkilir."Jelas Dokter Sammy yang gelagapan.


Anda posesif sekali Tuan...padahal saya belum menyentuh kaki Nyonya sedikitpun, batin Dokter Sammy.


"Mas...biarkan saja, itukan tugas dokter. Kamu kenapa sampai marah sih?"Ucap Kana, dan Addan hanya melirik istrinya itu tanpa membalas ucapannya.


Addan tidak terima istrinya disentuh oleh pria lain selain dirinya.


"Kau, Kau yang periksa kaki istriku."Tunjuk Addan ke arah Asisten wanita yang sedang berdiri dibelakang Dokter Sammy.


"Eh. ba, baik...Tuan."Saut Asisten dokter itu gelapan, Asisten itu memeriksa keadaan kaki Kana.


"Hm Bagaimana?" Ucap Addan datar dan menatap Asisten Dokter Sammy dingin, tangannya pun terlipat di dadanya.


"Iitu...itu, kaki Nyonya sudah membaik Kok Tuan. Sebenarnya tidak perlu memakai resep dokter untuk menyembuhkan kaki Nyonya, keseleo ringan seperti ini bisa sembuh dengan sendirinya, Tuan."Jelasnya dengan suara sedikit bergetar dan kepalanya pun tertunduk ketika betatapan dengan mata elang Addan.


Dokter Sammy yang melihat Asistennya yang ketakutan, segera mengalihkan perhatian Asistennya itu, dengan memberikannya tugas membalut kaki Kana yang terkilir dengan perban elastis.


"Grace, balut kaki Nyonya dengan perban elastis. Tapi sebelum itu semprotkan obat pereda nyeri."Perintahnya


"Ba...baik Dokter"


Dengan telaten, Asisten itu membalut kaki Kana yang terkilir.


"Oh iya, saya sampai lupa memberikan ini kepada Anda Nyonya. Ini krim untuk meredakan rasa sakit akibat terkilir, bila tiba-tiba Anda mersakan nyeri lagi pada kaki yang terkilir, cukup Anda oleskan krim atau gel pereda nyeri pada area yang cedera. Krim ini lebih efektif meredam rasa nyeri pada kaki Anda dibanding dengan mengonsumsi obat tablet yang belum tentu bisa mengurangi rasa nyeri pada kaki Anda yang terkilir."


"Kau mau mempromosikan produkmu lagi hm?"


"Hehehe...anda tau saja Tuan...Ini produk saya yang terbaru Tuan, Nyonya. Tolong bantu dipromosikan ya Tuan."Ucap Dokter Sammy dan cengengesan, ia menatap Addan penuh harap.


"Huh...Baiklah."Addan dengan nada berat mengiyakan permintaan Dokter sammy.


Senyuman Dokter Sammy seketika mengembang, selama dua minggu ini sungguh hari keberuntunganya. Pertama dipromosikan sebagai dokter terhandal se-Asia melalui media massa oleh Lani, sekarang ia mendapatkan lagi keburuntangan yaitu produk ketiganya dipromosikan oleh Addan.


Yes!, teriaknya girang dalam hati.


Bukan tanpa alasan Addan menuruti permintaan Dokter Sammy, ia melakukan itu supaya Dokter Sammy menutup mulutnya dan tidak memberitahukan kepada istrinya perihal kebohongannya yang pura-pura belum sadarkan diri ketika dirumah sakit beberapa hari yang lalu.


Kring..kring...


Handphone Addan yang berada diatas nakas berdering, menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dilayar tertera nama Soka disana, tanpa pikir panjang Addan mengangkat panggilan dari Asisten pribadinya itu.


"Apa ada informasi penting yang kau dapatkan?"


"..."


"Ok! Kita bahas diruang baca saja, kau datanglah kemari."


"..."


"Ya, bawalah Hobby."

__ADS_1


"..."


"Hm"


Tut (Addan langsung memutuskan panggilannya)


Dokter Sammy sedikit ragu-ragu menghampiri Addan."...Mmm Tuan, karena tidak ada lagi urusan kami disini. Kalau begitu kami pamit dulu."Ujar Dokter Sammy.


"Ya, silahkan."Balas Addan dengan sedikit ketus.


Dokter Sammy masih berdiri dihadapan Addan, ia sepertinya ingin mengatakan sesuatu.


Addan menatap heran Dokter Sammy yang masih berdiri dihadapnnya itu."Apalagi? Kan sudah kuperbolehkan kau pergi."


Dokter Sammy menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


"Jangan lupa yang tadi ya Tuan...hehehe."Ucapnya dan terkekeh.


Addan memijat pangkal hidungnya.


"Haish...Ya ya, pergi kau sana! hush...hush "Addan yang kesal mengusir Dokter Sammy dengan mengibas-ngibaskan tangannya.


"Hehehe..."Dokter Sammy terkekeh lagi, kemudian keluar dari kamar Addan bersama Asistennya dengan perasaan gembira.


......................


Kini Kana duduk bersandar pada kepala ranjang, ia ditemani oleh Lani yang kini tengah membantunya mengupas buah apel. Sedangkan Addan ada diruang baca bersama Soka, Ghani dan Hobby, mereka membahas suatu hal penting terkait masalah yang terjadi diperusahaan beberapa hari ini semenjak kejadian penculikan Kana.


~


"Kalau kekamar mandi itu jangan lari-lari..."Ucap Lani menasehati.


"Habisnya aku takut ibu Sofi menungguku terlalu lama..."Balas Kana dengan kepala yang tertunduk.


"Seharusnya kamu tidak perlu sekhawatir itu, jika kamu akan datang terlambat, telepon Bu Sofi. Lalu berikan alasan kalau kamu akan datang terlambat. Bereskan..."Jelas Lani.


"Maaf...aku benar-benar ceroboh."


"Ya sudah. Kamu sudah mengabari Bu Sofi atau belum?"


"Astagfirullah....Belum Ni. Gimana ini? Sudah lewat 1 jam..."


"Huffh...Kemarikan handphonemu, biar aku yang menghubungi Bu Sofi."Ucap Lani sambil menyodorkan tangannya ke arah Kana.


Kana meraih handphonennya yang terletak diatas nakas samping ranjangnya, lalu menyerahkannya ke tangan Lani. Lani mencari kontak Bu Sofi, setelah ketemu ia segera melakukan panggilan.


Panggilan tersambung.


"Halo Kana. Nak....kamu dimana?Begitu lama menunggumu ditoko kuemu, Ibu terpaksa balik ke panti. Tadi...Ibu mencoba menghubungimu, tapi sayangnya tidak bisa, sepertinya handponemu mati."


"..."Lani terdiam,ia bingung mau mengatakan apa kepada Bu Sofi. Lani menatap sekilas Kana yang berada disampingnya.


"Halo?!!"


"Ah..iiya..."Sahut Lani yang kaget mendengar suara Bu Sofi yang sedikit keras.


"Ini Kana kan?"Tanya Bu Sofi.


"Mmm...Maaf Bu, ini dengan Lani."


"Oh...dengan nak Lani. Kok bukan Kana yang mengangkat, apa terjadi sesuatu kepadanya?"


"Mm...itu...bla..bla."Lani menceritakan kejadian Kana yang terpeleset dikamar mandi.


"Ya Allah...Apa Kana baik-baik saja sekarang Nak?"Dari nada bicaranya, begitu jelas bahwa Bu Sofi begitu mengkhawatirkan anak asuhnya itu.


Kana merebut handphonenya dari Lani.


"Na!"Lani kaget ketika Kana merebut handphone ditangannya secara tiba-tiba.


"Alhamdulillah...Kana baik-baik saja Bu, bentar lagi Kana sembuh kok Bu...jangan khawatir."Ucap Kana.


"Gimana ngak khawatirnya ibu kepada anak gadis Ibu hm? Ibu lagi dijalan...sebentar lagi Ibu sampai dirumahmu."Balas Bu Sofi yang terdengar marah-marah. Kemudian...


Tut tut tut (Bu Sofi memutuskan panggilan)


"Eh!Bu...?Bu...? Aduh Bu Sofi memutuskan panggilan."Keluh Kana, ia meletakkan handphonennya kembali diatas nakas, lalu menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang lagi.


"Siap-siap kena ceramah ya Na...hehehe."Ujar Lani dan terkekeh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2