You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L


__ADS_3

Keesokan harinya Kana terbangun dari tidurnya dalam keadaan Addan yang memeluknya dengan erat, Kana ingin marah namun ia urungkan karena teringat akan kondisi Addan sekarang.


Kana bangkit kemudian memeriksa suhu badan Addan dengan meletakkan termometer di ketiaknya.


“Syukurlah, panasnya sudah turun.” Ucap Kana yang lega dengan kondisi Addan yang agak membaik.


Setelah memeriksa suhu badan Addan, Kana pun beranjak pergi dari kamar menuju dapur untuk membuatkan bubur, karena dari kemaren Addan belum makan.


Sebenarnya dari kemaren, Kana berniat membangunkan Addan untuk makan, tapi ia tak tega melihat Addan yang terlihat letih dan tidurnya yang lelap.


Sepeninggalan Kana, Addan membuka kedua matanya dan tersenyum gembira. Ia merasa senang bahwa Kana peduli dan mau merawatnya semalaman, sedari tadi ternyata ia hanya pura-pura tidur saja.


Sebelum Kana bangun Addan sudah terbangun lebih dulu, tapi karena melihat tanda-tanda Kana akan bangun, dengan cepat Addan menutup matanya lagi.


Ia merasakan sentuhan lembut tangan Kana pada keningnya sehingga membuat jantungnya berdetak tak karuan.


Di dapur Kana membuat bubur ayam dan teh hangat untuk Addan, disana ia di temani oleh Bi Murni.


“Nyonya muda, apakah Tuan muda sudah membaik?”Tanya Bi Murni.


“Alhamdulillah demamnya sudah turun Bi, tapi sedari pulang dari kantor kemaren aku lupa memberinya makan.”Ucap Kana dengan rasa bersalah.


“Sekarang Nyonya sedang buat apa untuk Tuan muda?”Tanya Bi Murni dan tersenyum.


“Buat Bubur ayam Bi sama teh hangat”Saut Kana sambil mengaduk-ngaduk air teh dalam gelas.


“Apa perlu Bibi bantu Nyonya? Saya khawatir nanti Nyonya kenapa-napa.”Ucap Bi Murni yang khawatir karena takut bisa berpengaruh terhadap kandungan Kana.


“Ah! Bibi berlebihan, aku kan cuman buat bubur sama teh.” Ucap Kana dan mengibas-ngibaskan tangannya sambil terkekeh geli.


Setelah selesai, Kana melangkahkan kakinya ke arah kamar Addan untuk mengantarkan bubur dan teh yang ia buat tadi.


Sesampainya Kana di dalam kamar Addan, Kana melihat Addan yang ternyata sudah bangun.


“Kamu sudah bangun. Ini bubur dan teh, makan dan minumlah.” Ucap Kana yang terkesan cuek.


Mendengar nada bicara dan ekspresi yang di tujukkan Kana padanya, membuat Addan sedih. Akan tetapi ia tetap bersyukur karena setidaknya Kana peduli padanya.


“Iya, terimakasih ya Na?” Ucap Addan pelan dan tersenyum lemah.


“Mmmm…kalau begitu aku keluar dulu, dan tolong habiskan buburnya, supaya kamu cepat sembuh.”


"Bisakah kamu menyuapiku Na?tanganku terasa kaku." Ucap Addan sambil menatap kedua bola mata Kana, berharap permintaanya di setujui oleh Kana.


Mendengar ucapan Addan, Kana pun membalikkan badannya sehingga berhadapan dengan Addan lagi.


Dan dengan terpaksa, Kana menuruti permintaan Addan itu.


"Hufh.....Baiklah..." Ucap Kana pasrah, lalu meraih mangkuk bubur ayam kemudian menyuapi Bubur ke mulut Addan sampai isi dari mangkuk itu tandas.


~~


2 hari kemudian, Addan sudah kembali bekerja lagi di perusahaan. Selama dua hari ini, ia tidak datang ke kantor karena masih merasa kurang enak badan, dan selama itu pula Kana merawatnya dengan telaten.


Addan yang di rawat Kana sempat berharap bahwa ia lebih baik tidak sembuh saja agar Kana selalu bersamanya.


Tapi ia berpikir, misalnya dia sakit terus. Bagaimana dengan nasib perusahaannya, lalu siapa yang akan memenuhi kebutuhan istri dan anaknya? Maka dari itu ia berharap cepat sembuh dan rajin makan meski makanan itu terpaksa ia telan.


~~Di perusahaan

__ADS_1


"Soka! Kemana Ghani dan ke empat serangkai itu? Sudah beberapa hari mereka tidak terlihat wujudnya."Tanya Addan tanpa menatap lawan bicaranya, ia hanya sibuk menanda tangani berkas yang tergeletak di atas mejanya.


"Mereka berlima balik lagi ke jepang Bos, alasannya kalau komandan Moran masih membutuhkan mereka."Saut Soka.


"Oh begitu. Yasudahlah! sekarang jadwal meeting kita hari ini, jam berapa?"Ucap Addan sambil menggerakkan tangannya memperbaiki dasinya yang longgar.


"Sebentar lagi Bos! kemudian jam 13.20 nanti, kita ada janji dalam rangka penanda tanganan kontrak kerjasama dengan perusahaan Gunadarma grup ." Jawab Soka sambil membolak-balikkan kertas jadwal yang ada ditangannya.


"Hmmm...Ok. Sekarang siap-siapkan berkas yang kita perlukan hari ini."Ucap Addan, lalu berdiri dan berjalan keluar dari ruangannya menuju ruang meeting.


"Siap Bos!"Saut Soka semangat.


Beberapa jam kemudian setelah meeting, Addan dan Soka kini tengah duduk berhadapan dengan sekretaris perusahaan gunadarma grup di sebuah restoran mewah.


"Selamat Siang Tuan Addan, Saya Darius yang bekerja sebagai sekretaris perusahaan Gunadarma. Ceo perusahaan Gunadarma sebentar lagi akan datang Tuan, mohon bersabar."Ucap Darius dan tersenyum sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah Addan.


"Baiklah sekretaris Darius..."Ucap Addan dan membalas uluran tangan Darius.


Tak lama kemudian, nampak seorang pria berambut ikal, berkulit hitam manis dan mengenakan jas hitam berkerah gold berjalan menuju ke arah mereka.


"Maaf Tuan Addan Saya terlambat datang, bisa kita mulai diskusi kita sekarang?" Tanya pria itu.


Addan yang merasa familiar dengan suara itu, segera mengangkat kepalanya yang tertunduk karena mengecek pesan dari rekan bisnisnya di ponsel.


Dengan ekpresi terkejut, Addan secara spontan berdiri.


"Damian?" Saut Addan.


"Yo...Dan, apa kabar kawan?" Ucap Pria itu, tanpa aba-aba memeluk sambil menepuk-nepuk pelan punggung Addan.


Sedangkan Addan masih diam mematung. Merasa Addan tidak respon, Damian melerai pelukannya dan menatap Addan di hadapannya.


"Hei!Kau kenapa? Tidak senang berjumpa denganku?"Ucap Damian dengan dahi yang berkerut.


"Jadi, kau CEO Gunadarma grup, Damian?."


"Ya, apa kau tidak ingat nama lengkapku? nama belakangku Gunadarma."Ucap Damian dengan sedikit jengkel.


"Aku lupa"Ucap Addan santai.


"Kau dari dulu memang menyebalkan, di tambah lagi kau tukang emosian."Ucap Damian yang semakin jengkel dengan reaksi Addan.


"Sudahlah hentikan omelanmu itu, sekarang duduklah. Kita disini membahas kerjasama bukan acara reunian."Ucap Addan menghentikan perdebatan mereka.


Mendengar apa yang dikatakan Addan, Damian langsung merubah ekspresinya menjadi serius lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Addan.


"Baik, mari kita mulai Tuan muda Nicolas."Ucap Damian dan diselingi senyum tipis.


Beberapa menit setelah berbincang membahas kerjasama mereka dan penanda tanganan kontrak kerjasama.


"Ok terimakasih atas kerjasamanya Dan, aku senang sekali berjumpa denganmu. Dengar-dengar sekarang kau sudah menikah, apa itu benar?" Tanya Damian.


"Ya aku sudah menikah. Darimana kau tau?"Saut Addan.


"Dari Hoby, dia bilang bini kau cakep banget Dan."Ucap Damian bercanda lalu terkekeh pelan karena melihat ekpresi Addan yang terlihat jengkel.


"Oiya! Apa gadis yang menjadi istrimu sekarang adalah gadis yang sering kau sebut sebagai tunanganmu dulu?" Tanya Damian penasaran.


"Ya." Jawab Addan singkat lalu menyesap minuman cappucino yang tadi ia pesan.

__ADS_1


"Ku pikir kau cuman alasan saja, supaya ciwi-ciwi yang suka padamu refleks menjauh."


Addan hanya diam tidak menanggapi ucapan Damian, ia hanya asik meminum cappucino miliknya.


2 jam kemudian, Damian pun pamit pergi dari hadapan Addan dan diikuti oleh Darius, sekretarisnya. Karena ia juga ada pertemuan penting entah dengan siapa.


Sedangkan Addan, tentu saja ia kembali ke perusahaannya, karena masih ada berkas yang belum ia tanda tangani.


Setibanya di perusahaan, ketika Addan masuk ke dalam ruangannya. Ternyata ada 2 orang wanita yang sedang menunggunya.


Melihat kedatangan kedua wanita itu, Addan langsung memasang wajah dingin dan datarnya karena tidak suka dengan kehadiran kedua wanita itu, yang satu masih muda sekitar berumur 19 tahun sedangkan yang satunya lagi paruh baya.


"Ah! Addan....akhirnya kamu kembali, dari tadi kami menunggumu. Salah satu karyawanmu bilang kalau kamu sedang ada pertemuan dengan klaen penting ya?"Ucap wanita yang paruh baya yang bernama Dara.


Addan menghiraukan pertanyaan wanita itu, dan malah balik bertanya.


"Kenapa kalian disini? Bukankah sudahku beri kalaian cek sejumlah 2,5 Triliun, bahkan jumlah uang tersebut dapat menghidupi seluruh keluarga kalian dalam kurun waktu yang lama."Ucap Addan datar sambil berjalan menuju kursi kebesarannya.


"Tapi sekarang uang itu sudah menipis Kak! karena uang itu kami gunakan untuk membeli mobil sport kesukaanku dan ketiga saudaraku, serta kami juga membeli rumah mewah bertingkat 3."Ucap gadis berambut sebahu yang bernama Nahila, ia merupakan sepupu Addan dari pihak Ibu.


"Apa aku meminta kalian memfoya-foyakan uang itu?Alasanku memberikan kalian uang karena itu permintaan dari paman Xander sebelum meninggal, Kalau bukan demi paman Xander. Aku enggan memberi kalian uang sebanyak itu."Bentak Addan yang sudah emosi.


"Kamu kan sudah janji kepada Xander akan memenuhi kebutuhan kami, kenapa sekarang kamu malah marah-marah?"Ucap Dara yang jengkel.


"Ya aku sudah janji, tapi tidak berlaku untuk selamanya. Hanya 1,5 Triliun yang diminta Paman Xander, tapi ku berikan kalian sejumlah 2,5 Triliun setelah itu aku tidak ada tanggung jawab lagi."


"Tapi..." Ucap Dara dan Nahila secara bersamaan.


"Jangan terlalu serakah, jika saja kalian menggunakan uang itu untuk hal-hal yang berguna pasti uang itu tidak akan cepat habis. Sekarang kalian berdua keluar dari ruanganku."Ucap Addan dengan datar dan memancarkan aura yang siapa saja melihatnya pasti takut dan ciut.


"Kau belum memberikan kami uang Addan....Jika belum, kami tidak akan keluar."Ucap Dara dengan keras kepalanya.


Mendengar ucapan wanita paruh baya itu, membuat Addan naik darah.


"Apa kau tuli? KELUAR!" Teriak Addan menggelegar, sehingga mengejutkan keduanya dan juga Soka yang berada di seberang ruangan Addan.


Mendengar teriakan Addan dan ekpresi Addan yang menakutkan, dengan terpaksa mereka berdua pergi.


Setelah keduanya pergi, Addan yang merasakan kepalanya agak pusing, memijat pelipisnya.


Soka yang mendengar teriakan Addan, segera menghampirinya.


"Bos! Apa anda baik-baik saja?" Tanya Soka, karena melihat Addan yang tengah duduk bersandar sambil memicingkan kedua mata dan memijit pelipisnya.


"Hmmm... tidak apa-apa."Jawab Addan lalu menegakkan punggungnya.


"Apa sebaiknya Anda pulang saja Bos? Kelihatannya Anda kurang enak badan."


"Hmmm ya. Lebih baik aku pulang saja." Ucap Addan lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Baiklah Bos, mari saya antar."Ucap Soka sambil mempersilahkan Addan berjalan mendahuluinya.


Addan hanya menggangguk kepalanya sebagai tanda menyetujui ucapan Soka.


Bersambung....


-


-

__ADS_1


~Maaf Ya readers, kalau author beberapa hari ini jarang update, karena author banyak kegiatan yang harus author utamakan. InsyaAllah author akan usahakan update, tapi belum tentu setiap hari. Yang penting pantau terus karya author satu ini Ya🥰


Dan tidak lupa pula author ucapkan Marhaban ya Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin. Selamat menunaikan ibadah puasa ya readers, semoga lancar terus puasanya 🤗


__ADS_2