
Kana yang kini sudah berdiri di depan pintu ruang rapat ragu-ragu untuk mengetuk pintu.
“Masuk ngak ya? Kalau masuk aku takut nanti mengganggu rapatnya. Kalau tidak, gimana flashdisknya mau sampai ke tangan Mas Addan?"Gumamnya.
Didepan pintu ruang rapat, Kana masih saja bergelut dengan pikirannya. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahunya hingga ia yang sedang mondar-mandir terperanjat karena kaget.
“Astaghfirullahal’adzim…”Kana yang kaget sedikit berteriak lalu mengelus pelan-pelan dadanya, Ia pun menolehkan kepalanya ke belakang. Dan ternyata yang menepuk bahunya barusan adalah Hoby yang kini berdiri di belakangnya sambil memegang segelas kopi.
Mereka berdua saling pandang sejenak, hingga akhirnya Hoby membuka suara setelah memperhatikan sosok wanita cantik dihadapannya itu.
“Hai! Kamu istrinya Addan kan?”Tanya Hoby memastikan, tanpa memalingkan tatapannya dari wajah Kana.
“Iya, saya istrinya, Anda kenal saya?”Tanya Kana dan menunjuk dirinya sendiri.
“Tentu saja, aku kan sahabat suamimu. Kamu tidak ingat padaku ya? padahal saat di pesta pernikahanmu, kita sempat mengobrol loh walau hanya sebentar saja.”
“Ohhh…anda yang waktu itu datang dengan membawa pasangan seorang model itu ya?”Ucap Kana setelah mengingat siapa pria yang dihadapannya itu.
“Exactly…Hmmm…Kamu kemari ingin bertemu dengan Addan?”Tanya Hoby lagi, dan tidak henti-hentinya memandang wajah cantik Kana, sehingga si empunya pun merasa risih ditatap seperti itu.
“Iya”jawab Kana singkat dengan sedikit jutek karena tidak suka akan tatapan Hoby kepadanya.
“Ya sudah, masuk saja. Kenapa ragu-ragu, dari kejauhan aku lihat kamu mondar-mandir saja disini. “Hoby menyarankan Kana masuk dan tersenyum manis.
"Dan, bini kau bikin aku gemes. Biar umurnya lebih tua tapi mukanya baby face dan cakepnya kebangetan! Ya Tuhan...beri aku bini yang kayak gini satu."Batin Hoby mengagumi kecantikan istri dari sahabatnya itu.
“Apa tidak apa-apa? Saya takut menganggu rapat di dalam.”Tanya Kana yang ingin memastikan.
“Tidak apa-apa…jangan khawatir, kamu tidak akan mengganggu. Masuk saja.”Ucap Hoby lalu mendorong pintu masuk ke ruang rapat itu, sehingga ia dan Kana tampak begitu jelas.
Suasana mendadak hening seketika, orang-orang yang berada di meja rapat melihat ke arah Kana yang berdiri mematung di pintu, termasuk karyawan Addan yang sedang mempresentase, focusnya pun ikut teralihkan. Sedangkan Hoby sudah masuk terlebih dulu, dan kini duduk di samping Ghani.
Addan yang melihat kedatangan Kana langsung berdiri dan berjalan menghampiri Kana. Ia menghampiri Kana dengan raut wajah bahagia, senyumannya yang secerah mentari pun tak lupa ia perlihatkan kehadapan sang istri.
“Sayang…Kenapa tiba-tiba kamu datang ke perusahaan, ada apa?”Ucap Addan dengan lembut.
Semua orang yang ada di ruang rapat itu kaget dan melongo setelah mendengar perkataan Addan yang terdengar lembut dan mesra. Terutama karyawan Addan, selama bekerja di perusahaan Nicolas mereka menilai bahwa Addan merupakan pria yang irit bicara dan juga pria yang sulit mengendalikan emosi ketika marah, jarang tersenyum, tegas dan tak pernah berkata lemah lembut baik kepada lawan jenis maupun sesama jenis. Tapi sekarang yang mereka lihat begitu berbanding terbalik dari kenyataan yang selama ini karyawan Addan rasakan.
Kana yang mendengar ucapan Addan menjadi malu, karena mereka menjadi pusat perhatian di ruang rapat.
“Mas! Kamu apa-apaan sih?”Bisik Kana yang mencoba menahan rasa kesalnya.
“Apa sayang…?”Addan malah bercanda dan terkekeh melihat Kana yang sudah kesal.
“Mas….!!”Kesal Kana dan tanpa sadar ia mencubit perut Addan.
DEG
Jantung Addan berdetak kencang setelah merasakan cubitan Kana pada perutnya.
Kana mencubit Addan karena ia merasa kesal, berbeda halnya dengan Addan, ia mengartikan cubitan Kana merupakan cubitan cinta yang membuat hatinya bergetar hebat.
“Kalau tidak ada orang di sini, sudah ku cium kamu Kana.”Batin Addan.
Orang-orang di meja rapat saling berbisik-bisik, ada yang mengagumi Kana yang sangat cantik alami dan ada pula yang iri karena ada yang lebih cantik dari dirinya.
__ADS_1
"Ayo Dek!"Addan menarik tangan Kana ke arah kursi ke kursi rapat yang ia duduki.
Kana menarik tangannya dari genggaman Addan.
"Mas....Aku pulang saja ya. Dan ini flashdisk dan kotak makan siangmu Mas."Ucap Kana kemudian menyodorkan sebuah flashdisk dan kantong berisi kotak makan.
"Ketemu dimana Dek, flashdisknya?"
"Di atas meja makan Mas."
Addan tersenyum, karena Kana sudah membawakan apa yang ia butuhkan.
"Terimakasih ya Sayang...sudah membawakannya."Bisik Addan ke telinga Kana dan tanpa malu Addan mencium pipi Kana dengan mesra dihadapan rekan bisnisnya dan karyawannya.
Kana yang dicium oleh Addan secara mendadak hanya diam mematung, pipinya pun merah merona karena malu, ia tidak mampu berkata-kata karena bibirnya tiba-tiba terasa kelu.
Bahkan saking kagetnya Kana tidak sadar bahwa saat ini ia sudah ditarik oleh Addan ke kursi rapatnya.
"Ghan...Tolong kamu bawakan satu buah kursi kesini, lalu letakkan di sebelah kursiku."Perintah Addan kepada Ghani.
"Ok bang..."Saut Ghani, ia pun bangkit dari duduknya, lalu keluar dari ruang rapat untuk mengambil apa yang disuruh oleh kakak angkatnya itu.
Addan menduduki kursinya sedangkan Kana masih dalam keadan berdiri di samping Addan, ia masih diam membisu.
"Maaf Tuan Austin karena rapat terhenti sejenak, Silahkan dilanjutkan!"Ucap Addan kepada rekan bisnisnya, kemudian mempersilahkan karyawannya untuk melanjutkan presentasenya.
"Tidak masalah Tuan Nicolas."Ucap Tuan Austin dan tersenyum menanggapi ucapan Addan.
Addan menarik tangan Kana, sehingga Kana terduduk di atas pangkuannya. Wajah Kana pun semakin memerah dibuatnya.
"Apa?Hmmm...?"Addan malah balik bertanya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Kana.
Hangatnya nafas Addan menerpa telinganya, membuat bulu kuduk Kana merinding dan wajahnya pun semakin memerah bak kepiting rebus.
"Dasar Mesum...Jangan macam-macam kamu Mas, nanti aku tampol."Ucap Kana pelan lalu mendorong wajah Addan dari telinganya.
Addan menanggapi ucapan Kana dengan terkekeh pelan, lalu menjauhkan wajahnya dari telinga Kana dan kembali fokus ke arah layar infokus.
Semua orang yang ada di ruang rapat itu merasa iri, dan merasa menjadi obat nyamuk diantara kedua pasangan suami istri itu. Sedangkan Tuan Austin, rekan bisnis Addan yang berasal dari Jerman hanya tersenyum bahagia melihat interaksi keduanya.
"Dunia terasa berdua saja ya Dan, Kami ini kau anggap ngontrak."Batin Hoby dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, Ghani datang dengan membawa sebuah kursi empuk lalu meletakkannya di samping kursi Addan.
"Kakak ipar, silahkan."Ucap Ghani.
"Terimakasih Ghani."Ucap Kana dengan suara pelan agar tidak mengganggu rapat yang sedang berlangsung. Ia pun beranjak dari pangkuan Addan lalu duduk di kursi yang sudah disediakan Ghani.
"Sama-sama Kak."
1 jam kemudian, akhirnya rapat pun selesai, semua karyawan yang mengikuti keluar dari ruangan. Dan kini hanya menyisakan Addan, Kana, Ghani, Hoby, dan Tuan Austin beserta sekretarisnya di ruang rapat.
"Nyonya lagi hamil?" Tanya sekretaris Tuan Austin, yang sedari tadi memperhatikan perut Kana yang sudah lumayan besar.
"Iiiyaa..."Jawab Kana dan tersenyum lemah karena gugup.
__ADS_1
"Wah...selamat ya Nyonya, Tuan Nicolas."Ucap Sekteris Tuan Austin yang bernama Dona.
"Terimakasih..."Ucap Kana diselingi senyuman, sedangkan Addan hanya menganggukkan kepala saja tanpa menjawab perkataan Dona.
"Tuan...Saya sangat puas akan apa yang telah anda rencakan tadi, bukan hanya itu saja. Saya sangat salut kepada anda, karena anda begitu penyayang istri. Saya sangat senang bekerja sama dengan orang yang begitu sayang kepada istrinya, karena itu mencerminkan bahwa dia pasti orang yang pekerja keras dan rela melakukan apa saja demi orang yang dicintainya, dan juga dapat dipercaya."
"Apa hubungannya coba dengan kerjasama? Memangnya orang yang penyayang istri sudah pasti pekerja keras dan dapat dipercaya? Ah bodo amat dah..."batin Hoby, ia merasa tidak masuk akal dengan pola pikir Tuan Austin.
"Terimakasih atas kerja samanya Tuan Austin."Ucap Addan lalu mengulurkan tangan Kanannya ke arah Tuan Austin.
Tuan Austin membalas uluran tangan Addan, mereka pun berjabat tangan.
"Terimakasih kembali Tuan Nicolas, kalau ada waktu datanglah ke rumah saya di Jerman, sekedar mengobrol dan makan bersama dengan keluarga kecil saya. Dan jangan lupa ajak istri anda."
"Kalau ada waktu luang, kami usahakan untuk memenuhi undangan anda Tuan Austin."
"Yasudah...kami permisi dulu Tuan dan Nyonya Nicolas."Pamit Tuan Austin sedangkan sekretarisnya membungkuk hormat.
"Baik Tuan."Saut Kana dan tersenyum ramah.
"Baik. Silahkan...." Addan yang sambil menganggukkan kepalanya.
Tuan Austin dan Sekretarisnya pun keluar, dan kini menyisakan Addan, Kana, Ghani dan Hoby di ruang rapat.
"Ngapain kalian berdua masih disini, keluar sana."Usir Addan kepada Ghani dan Hoby, sembari memberi kode mata ke arah keduanya agar segera meninggalkannya berdua saja dengan Kana di ruang rapat.
"Hei! Kau mengusir kami? Mentang-mentang ada bini, kami yang tidak lagi kau butuhkan kau usir begitu saja?"Kesal Hoby.
Mendengar ucapan Hoby, Addan melototkan matanya ke arah Hoby.
"Sialan kau Hob, Awas kau ya. Aku tidak akan mentraktirmu lagi."batin Addan kesal.
Ghani menepuk jidatnya, karena Hoby benar-benar tidak mengerti kode dari Addan. Ia pun mendekati Hoby lalu berbisik.
"Bang...Kenapa kamu tidak mengerti arti dari kode bang Addan, dia pengen berdua-duan dengan kakak ipar, lebih baik kita keluar saja. Kalau abang tidak mau, kamu pasti tidak akan ditarktir lagi oleh Bang Addan."Bisik Ghani.
Hoby melebarkan matanya, lalu tersenyum.
"Hmmm...Baiklah...Ok Ok"Ucap Hoby.
"Hoi Dan! Kau traktir aku nanti, awas kalau tidak."Ucapnya lagi.
"Hmmm.."Addan menganggukkan kepalanya.
"Yok kita keluar Ghan... Makan Mie Setan di warung di dekat lampu lalu lintas."Ajak Hoby sambil memangku leher Ghani dan berjalan keluar.
"Abang yang traktir?"
"Kaulah... kau kan adiknya Addan."
"Rugi lagi...rugi lagi. Dasar ngak bermodal, Ya Allah...kenapa Engkau pertemukan hamba dengan makhluk yang satu ini."batin Ghani meratapi nasib, setiap makan bersama dengan Hoby, ia terus merugi.
Setelah Ghani dan Hoby keluar, kini keadaan ruang rapat menjadi sunyi dan hanya menyisakan Addan dan Kana.
"Mmm....itu..."
__ADS_1
Bersambung...