
"Bang, tidak kasihankah kau melihatku tidak ikut makan bersama kalian? Aku juga lapar..."Ucap Ghani pada Addan dengan ekspresi mengiba sambil menelan ludah.
Posisinya saat ini, berdiri tepat didepan Addan dan Soka yang tengah menyantap makan siang mereka.
Addan mengacuhkan adik angkatnya itu, dan hanya meliriknya sekilas. Kemudian kembali fokus menyendokkan makan siangnya kedalam mulut.
"Kenapa kau tidak ikut pergi makan bersama Hobby saja tadi?"tanya Soka disela-sela kegiatan makannya. Pria itu sedikit kasihan melihat Ghani yang diabaikan.
"Ogah ah! kalau makan dengannya, yang ada aku rugi. Setiap makan selalu diriku yang bayar."Balasnya bersungut-sungut.
"Ooo...Jadi tujuan kau tetap disini untuk makan gratis?"Timpal Addan.
"Hehehe...Ya begitulah..."Ghani cengegesan menanggapi ucapan kakak angkatnya itu sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang sebenarnya tidaklah gatal.
Brak!!
Tiba-tiba pintu ruang Addan dibuka secara paksa, sehingga menimbulkan suara yang sangat nyaring akibat bertabrakan dengan tembok dengan begitu kuatnya.
"Uhuk-Uhuk!"Addan terbatuk-batuk sambil memukul dadanya. Untung saja makanan didalam mulutnya sempat ditelannya. Kalau tidak, mungkin sudah menyembur keluar.
“Gawat Dan! Gawat….!!”Ucap Hobby yang baru masuk dengan nada panik. Dialah pelaku pendobrakan yang membuat hampir seisi ruangan jantungan. Tetapi pria itu acuh tak acuh akan tatapan horror penghuni ruangan itu, serta beberapa umpatan yang tertuju padanya.
"Hei sialan! bisa tidak, kau buka pintuku pelan-pelan?! "Maki Addan pada Hobby.
Hobby tersenyum malu-malu. "Sorry...Karena Ada berita penting aku sampai tidak sempat membuka pintumu dengan penuh kelembuatan"
Soka dan Ghani mencibir menanggapi ucapan Hobby.
“Seberapa penting beritamu itu hah?! Sehingga kau tidak melihat kesibukanku hari ini! ”Ucap Addan penuh kekesalahan sambil melirik kotak makanannya yang baru tiga sendok dilahapnya.
“Sangat penting!”balasnya mantap.
Addan menghela nafas, saat ini bukan waktunya dia marah-marah. Selama ini, informasi yang diberikan Hobby tidak pernah mengecewakan.
“Katakan,”Addan menaruh sendok makannya dengan kasar diatas meja, lalu menatap Hobby serius.
"Dan, tadi pihak rumah sakit menghubungiku dan mengatakan bahwa Asisten pria bertopeng yang aku selamatkan itu, bunuh diri."
"Bagaimana bisa? Apa dia loncat dari gedung rumah sakit?"Reaksi Addan sedikit kaget mendengar berita itu.
Hobby menggeleng lemah. "Bukan. Kata pihak rumah sakit, setelah pria itu mengonsumsi semangkok bubur, beberapa menit kemudian ia kejang-kejang hingga akhirnya meregang nyawa. Sepertinya ada seseorang yang sengaja meracuninya.”
__ADS_1
“Hmm mungkin. Soka, coba kau pantau CCTV rumah sakit. Siapa yang menyediakan bubur itu.”Addan memberi perintah pada Soka.
“Baik bos!”Soka segera beranjak, meraih laptopnya. Kemudian melancarkan aksinya mengecek rekaman CCTV Rumah Sakit tempat dirawatnya si Asisten pria bertopeng.
******
Sudah dua jam lamanya Kana menunggu kepulangan Addan, namun yang ditunggu tak kunjung pulang. Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, biasanya Addan sudah ada dirumah sebelum waktu shalat magrib masuk.
Entah apa yang mendorongnya untuk menunggu suaminya pulang, biasanya Kana begitu enggan melakukannya. Jangankan menunggu, untuk bertatapan saja dengan Addan, dia tak sudi. Tetapi sekarang, sepertinya tidak begitu lagi, bahkan dirinya yang sekarang sudah tidak mampu berjauhan dengan Addan.
"Kemana sih kamu Mas, jam segini kok belum pulang? Aku kan kangen..."ucapnya berdialog sendiri, “eh maksudku bayinya yang kangen, nanti ge’er pula dia. ”ralatnya cepat saat menyadari ucapannya.
Bahkan ketika mengatakan dirinya kangen pada suami brondongnya itu dalam keadaan sendirianpun masih sempat berkilah. Dasar bumil, selalu gengsi yang dipelihara, padahal sebenarnya dirinya sangat membutuhkan kehadiran pria itu.
“Nyonya, Anda sedang apa? Disini kan dingin Nyonya,”tanya Feni sok perhatian.
Sebelumnya wanita itu hendak pergi mengambil air minum, namun saat dalam perjalanan kedapur ia mendapati Kana yang tengah mondar mandir didepan pintu.
"Sedang menunggu suamiku pulang, Mbak."Jawabnya sembari menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya karena udara malam yang dingin, ditambah lagi ia hanya menggunakan dress berlengan pendek dan cukup tipis.
Sejenak Feni terdiam, entah rencana apa yang terpikirkan oleh benaknya. "Biar saya saja yang menyambut Tuan pulang. Nyonya lebih baik tidur saja, kalau disini terus, nanti Anda bisa masuk angin."
Ya, sebaiknya kau tidur saja bulat! Suamimu, biar aku saja yang menyambut dan menyenangkannya malam ini, batin Feni penuh percaya diri sambil tersenyum licik.
"Tidak usah Mbak. Saya lah yang sepatutnya menyambut Mas Addan pulang, bukan orang lain."Tolak Kana tegas.
Ucapan Kana yang memang terdengar lembut tetapi terkandung sindiran didalamnya yang menohok ulu hati wanita ular bin siluman itu.
*Grrr...Kalau bukan demi kelancaran misiku, saat ini juga kuhabisi nyawamu b*tch*!, batin Feni geram sambil mengepalkan kedua tangannya kuat.
"Baiklah Nyonya, kalau begitu saya permisi..."Ucapnya ramah. Walaupun dirinya sangat dongkol, ia tetap memaksakan senyuman yang ia anggap sangat profesional.
"Iya Mbak..."
......................
Setengah jam kemudian terdengar suara deru mobil memasuki pekarangan Vila, Kana bergegas melongokkan kepalanya kejendela. Senyuman secerah mentari terbit dari bibirnya, ketika melihat sosok suaminya yang keluar dari mobil itu.
Tak berselang lama pintu Vila terbuka, Addan berjalan masuk dan menghampiri istrinya yang tengah menatapnya sambil tersenyum.
"Kamu menunggu Mas dek?"tanya Addan. Tangannya mencengkram lembut bahu sang istri. Tak lupa pula mendaratkan ciuman singkat yang penuh cinta dikening wanita yang amat sangat dicintainya itu.
__ADS_1
Grep! Dengan sekejap Kana sudah berada dipelukan suaminya. Sepasang tangan Addan reflek memeluk pinggang istrinya yang tentunya tidaklah seramping dulu lagi.
Bunyi detak jantung mereka pun saling bersahutan.
"Iya...kok tumben kamu pulangnya jam segini Mas? Biasanya kan, kamu pulang sebelum waktu shalat magrib tiba..."Ucapnya manja seraya menggesek-gesekkan kepalanya kedada bidang sang suami.
Addan tersenyum senang, istrinya itu sudah tidak lagi canggung kepadanya, Kana justru terkesan sangat manja. Betapa ia sangat menantikan moment-moment kedekatan dan keintiman mereka berdua, seperti saat ini. Ia pun berharap suatu saat nanti, Kana benar-benar sudah membuka hati untuknya.
Addan tersentak ketika menyadari pakaian yang dikenakan sang istri. Setiap malam udara di Vila sangatlah dingin, tapi istrinya malah memakai baju yang tipis dan berlengan pendek. Pantas saja dirinya merasakan kulit bahu istrinya yang terasa dingin.
"Dek, kenapa tidak memakai jaket hm? Kamu pasti kedinginan kan?"Addan menanggalkan jasnya lalu mengenakannya ketubuh sang istri.
"Sedikit..."
"Apanya yang sedikit, udara sedingin ini dibilang sedikit? apalagi kamu lagi hamil, angin malam tidak baik buat kesehatanmu dan bayi kita..."Omel Addan dengan nada sedikit kesal.
"Iya-iya...aku salah Mas. Maaf..."
Melihat wajah cemberut sang istri, Addan menarik lembut kedua tangan Kana dan mencium punggung tangannya dengan lama.
"Kamu duniaku sayang.... Mas ingin kamu dan anak kita selalu sehat dan baik-baik saja...Mengertilah, mas melakukan ini karena mas cinta dan sayang kamu..."Ucapnya tulus dan penuh kesungguhan. Siapapun yang melihatnya pasti akan tahu betapa besarnya cinta pria itu terhadap wanitanya.
Mendengar ucapan sang suami, mulut Kana terasa terkunci, yang bisa ia lakukan saat ini yaitu memandang dalam kedua bola mata Addan cukup lama. Bola mata indah yang memancarkan kekaguman dan keseriusan kepadanya.
Dirinya juga ingin bahagia seperti pasangan suami istri lainnya. Tapi....Bolehkah dirinya egois dan mengingkari janjinya pada Nenek Suci?
"Dek...? Dek...?__Kana?"Panggil Addan.
Dan akhirnya pada panggilan yang ketiga berhasil membuyarkan lamunan bumil cantik itu.
"Ah i-iya...ada apa Mas?"
"Kamu kenapa hm? ada yang sakit?"tanya Addan khawatir sambil mengusap lembut perut sang istri.
"Ti-tidak Mas, aku baik-baik saja."
Addan tersenyum lembut sembari mendekatkan bibirnya kekening sang istri dan menciuminya.
"Ya sudah, lebih baik kita kekamar saja ya. Disana ada alat pengatur temperatur suhu ruangan."
"Iya Mas..."
__ADS_1
Addan merangkul bahu istrinya dan mereka pun berjalan beriringan menuju kamar mereka.
Bersambung...