You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Jangan khawatir, aku akan selalu mengisi hari-harimu, kekosongan hatimu. Dan akan selalu ada dihidupmu sampai akhir untuk mencintaimu dan melindungimu, itulah janjiku padamu.~Addan


...----------------...


Feni terus mengikuti langkah Addan hingga ke pintu kamarnya. Addan yang merasa diikuti, menjauhkan tanganya dari hundle pintu, kemudian memutar tubuhnya hingga posisi menyamping. Ia melirik Feni, seraya berkata. "Apa yang kau lakukan disini?"tanyanya dengan nada datar tanpa ekspresi.


"Apa Anda membutuhkan bantuan saya, Tuan?"tanya Feni antusias, ia berharap Addan meminta bantuannya dan mempersilahkannya masuk kekamarnya.


Addan menajamkan tatapannya kearah Feni. Ia sungguh tidak menyukai orang lain masuk kedalam kamar pribadinya, selain istrinya sendiri dan Bi Murni yang sudah ia anggap sebagai sosok Ibu. "Tidak perlu,"balasnya dengan nada ketus.


Feni merasakan badannya bermandi keringat, setelah mendapat tatapan yang begitu menghunus ."Mmm aa..anu..."


"Pergilah"usir Addan seraya membalikkan badan, lalu kembali menggendong Kana yang sempat diturunkan dari gendongannya.


Reaksi obat perangsang dalam tubuh Kana semakin meningkat, ia pun sudah tidak tahan menahan sesuatu yang bergejolak pada dirinya. Dalam pelukan sang suami, Kana meronta-ronta minta disentuh. Bisa dirasakan oleh Addan, suhu tubuh sang istri semakin panas dan sekujur tubuhnya pun sudah bermandikan keringat.


"Eugh...Pria tampan...lepaskan ikatan ini, tolong sentuhlah aku...Aku sudah tidak tahan lagih...."ucapnya memelas, dan beberapa centi lagi bibirnya berhasil mendarat di bibir Addan. Sebelum bibirnya mendarat, Addan dengan sigap memundurkan kepalanya, menghindari serangan ciuman dari sang istri. "Tenang ya sayang...Kalau kamu sudah tenang, kamu akan Mas lepaskan."balas Addan dengan nada lembut.


Addan melirik Feni sekilas, seraya berucap" Kenapa kau masih berdiri disitu? Bukankah saya sudah menyuruhmu pergi!"ujarnya dengan nada dingin.


"Tu...tuan..."belum sempat Feni mengucapkan sesuatu, Addan sudah keburu menutup pintu kamarnya, menghiraukan Feni yang masih berdiri depan pintu kamarnya.


Blam!!


"Grr...Sialan! Berani-beraninya dia mengabaikan ku,"gerutunya sambil mengepalkan tangannya ke udara, menahan rasa kesal didalam hati.


......................


Dret...Dret...


Belinda melirik handphonenya yang bergetar diatas nakas. "Ck! Siapasih? mengganggu kesenanganku saja."ujarnya kesal. Saat itu ia sedang bersandar pada kepala ranjangnya sambil mengoleskan krim lulur pada kakinya.


Belinda memajukan kepalanya, melihat nama si pemanggil yang tertera pada layar handphonenya.


"Ternyata dia. Ribet banget sih, pakai telponan segala, padahal tinggal se-atap."Belinda mengabaikan panggilan Feni yang menurutnya tidak penting, ia memilih melanjutkan kegiatan lulurnya.


Dret...dret...handphone Belinda kembali bergetar.


"Hish...mengganggu saja! Awas kau ya, kalau kau membicarakan hal yang tidak penting."Belinda meraih handphonenya, kemudian beranjak dari atas kasurnya dan berjalan menuju balkon kamar.


"Ya ada apa?"tanyanya dengan nada amat ketus.


"Gawat Linda, sepertinya orang suruhanmu tidak berhasil."ujar Feni mengebu-ngebu.


"Maksudmu pria yang aku sewa untuk membuat rekaman aksi kotornya bersama istrinya Addan?"Belinda memperjelas maksud ucapan Feni.


Sejak awal Belinda sudah menduga tingkat keberhasilan rencananya itu hanya satu persen saja. Sebab, Addan merupakan orang yang sangat protektif terhadap istrinya, pastinya akan selalu dia awasi kemanapun istrinya itu pergi.


"Iya! Tadi aku lihat wanita itu pulang dalam keadaan pakaian yang utuh dan masih rapi. Kalaupun memang benar pria suruhanmu sudah berhasil memperkosa wanita itu, tidak mungkin begitu cepat mereka melakukannya, obat perangsang yang aku sediakan itu, efeknya lumayan lama. Ditambah lagi...Kau taulah pria itu mata keranjang, tidak akan puas melakukan hubungan badan hanya satu ronde dan berdurasi sebentar."jelas Feni.


"Oh begitu"balasnya tanpa meluapkan sedikitpun emosi.


"Eh, kau tidak marahkah Belinda? Rencanamu tidak berhasil loh..."tanya Feni yang kebingungan akan reaksi santai dari Belinda.


"Tidak, aku tidak marah sama sekali. Tidak perlu cemas, masih banyak rencanaku yang lain."


"Tapi.. ak.."


Tut! Belinda memutuskan panggilannya lalu kembali keranjang dan merebahkan diri disana.


"Biarkan ikan besar itu memangsa umpan yang kecil-kecil terlebih dahulu. Nanti kalau sudah pada waktunya, kau sebagai umpan besar akan mendapatkan giliran. Aku sebagai nelayan hanya menerima hasil saja,"gumamnya disertai senyuman sinis.

__ADS_1


......................


"Engh...tolong! panas...panas..."Kana meraih dan menarik kerah baju Addan lalu mencium lehernya dengan ganas.


Jari jemari Addan bergerak gelisah, bunyi gemeletuk giginya karena menahan ***** terdengar begitu jelas.


"Shhh...Sayang. Tunggu sebentar. Kita tidak akan melakukan itu. Mas akan membantumu dengan cara yang lain."ujarnya, sambil mendorong Kana dengan pelan agar berhenti mencumbu lehernya. Hampir saja pertahanannya runtuh. Andai saja Kana tidak hamil dan tidak dibawah pengaruh obat perangsang, Addan pasti akan dengan senang hati melakukan itu kepadanya.


"Uh! Kumohon...sentuh akuh..."ucap Kana dan mendesah, sambil meraba-raba dada dan selangkangannya. Mata Addan melotot ketika melihat pemandangan indah dan mengundang ***** itu.


Tak lama kemudian, ia tersadar kembali dan dengan cepat, langsung memalingkan wajahnya.


Apakah ada cara yang lain?, batin Addan sambil memukul-mukul pelan kepalanya sendiri.


"Kalau berendam dengan air dingin?... Tidak-tidak...Jika Kana berandam air dingin, itu akan membahayakan anakku dan juga dirinya."Addan bermonolog sendiri.


Tak lama kemudian teringat seseorang yang bisa membantunya memberikan solusi agar efek obat perangsang pada istrinya menghilang."Sammy! Ya...aku harus bertanya kepadanya,"


Addan tergesa-gesa merogoh handphonenya dari dalam saku celanannya, bermaksud menghubungi dokter Sammy. Ia turun dari ranjang, menjauhi sang istri supaya tidak diterkam olehnya.


Tut...Tut...Tut


Sambungan panggilan masuk, namun Dokter Sammy tak kunjung mengangkat. "Ck! Kemana dia?"ujarnya kesal, sebelah tangannya kini sudah bertengger dipinggangnya.


Addan menjauhkan handphonenya dari telinganya, dan mengecek sekilas nama kontak yang tertera dilayar handphone. Kemudian ia kembali menghubungi Dokter Sammy.


"Ini yang terakhir, kalau kau tidak juga mengangkat panggilanku, Sam. Kita lihat saja apa yang akan terjadi kepada dirimu di keesokan harinya."gerutunya.


Di apartement Dokter Sammy, sepasang kekasih sedang bermadu kasih. Bunyi decitan ranjang dan suara-suara erangan dan jeritan kenikmatan, memenuhi seisi kamar. Namun, kegiatan mereka terpaksa harus berhenti ketika mendengar nada dering ponsel Sammy, yang mana bikin mood si cewek hilang seketika.


Dreng-dreng....Aiya ya yai bermain dengan tupai... jeng-jeng....Aiya ya yai bermain dengan tupai ~ bunyi nada dering ponsel Sammy yang merupakan rekaman suaranya sendiri.


"Ck! Abaikan saja. Sudah diujung tanduk ini sayang...tidak bisa lagi dihentikan..."Sammy melanjutkan aksi mencumbu bibir kekasihnya itu.


Si Wanita kembali mendorong tubuh Sammy, kali ini dorongannya lebih kuat."Menyingkir Abang...kamu harus mengangkat panggilannya."


"Jangan perdulikan...kita lanjutkan saja. Abang masih tegang ini..."ujar Sammy memelas.


"Syutt...Aku ngak mau melanjutkan kalau nada dering ponsel abang selalu mengganggu."ujar si wanita dengan raut wajah kesal dan bibir cemberut.


"Ok...Ok...jangan marah-marah terus sayang..."balas Sammy sambil mengelus sayang kepala si wanita.


Sammy bangkit dari atas tubuh sang kekasih lalu meraih handphonenya yang terletak diatas nakas.


"Besok, ganti nada dering ponsel Abang itu. Bikin aku kesal saja."


"Iya..iya Sayang,"Sammy terkekeh menanggapi ucapan sang kekasih.


Setelah panggilan diterima.


"Ya Halo?"


"..."


Sammy tertegun ketika mendengar suara amukan dari si penelepon. Ia menjauhkan ponselnya dari telinganya lalu melihat nama yang tertera dilayar ponselnya, "Eh Tuan Addan? Bagaimana bisa kau mengabaikan panggilan darinya Sam...Matilah kau..."gumamnya dengan raut wajah gelisah.


Sammy menetralkan debaran jantungnya.


"Ehkhem...Ada apa Tuan?"tanya Sammy hati-hati.


"...."

__ADS_1


"Aa...Maaf...Tuan...saya tadi ada urusan...hehehe."dustanya seraya menggaruk-garuk pipinya yang tak terasa gatal.


"..."


"Jangan memandikan Nyonya dengan air dingin, Tuan. Sebaiknya kalian berhubungan badan saja. Obat perangsang itu bisa saja memiliki dampak yang buruk untuk ibu hamil. Besok, saya akan datang ke kediaman Nicolas untuk memeriksa kondisi Nyonya."


"..."


"Tidak apa-apa Tuan, anda lakukan saja dengan istri Anda. Ingat! Guncangan atau gerakan yang terlalu kuat berbahaya bagi janin, Nyonya Kana tidak boleh terlalu lelah. Asalkan pelan-pelan, bayi kalian pasti akan baik-baik saja."cetusnya semangat.


"..."Addan hendak mengakhiri panggilan, namun dengan cepat Dokter Sammy mencegahnya.


"Tunggu Tuan...jangan dimatikan dulu. Dengarkan penjelasan saya sampai selesai..."Sammy sedikit teriak.


"..."


"Ketika bercinta, disarankan untuk menghindari posisi hubungan yang memungkinkan membahayakan janin. Cairan putih kental milik Anda jangan ditembakkan didalam rahim Nyonya, keluarkan diluar atau pakai ****** saja. Cairan itu dapat menyebabkan reaksi sensitif pada mulut rahim, dan akan sangat berbahaya untuk janin...."


Tut...Tut...Tut...


"Anda..."sambung Dokter Sammy, "eh! Dimatikan?... Ini nih yang bikin gue kesel setiap melakukan panggilan dengannya."


......................


"Banyak omong kau, Sam."gerutu Addan kesal setelah memutuskan panggilan sepihak.


Ketika Addan membalikkan badannya, Kana sudah berada dihadapannya. Tanpa diduga langsung memeluk dan mengalungkan tangannya ke leher Addan.


Awalnya Addan kaget. Tapi tak lama kemudian bibirnya terangkat, menampilkan sebuah senyuman bahagia."Jangan salahkan aku sayang...Kamu yang menggodaku duluan"bisiknya didepan wajah sang istri.


Setelah mengucapkan kalimat itu, tanpa pikir panjang langsung menyambar bibir sang istri. Kakinya melangkah maju, spontan Kana berjalan mundur. Ia menuntun Kana menuju ranjang, tanpa melepaskan penyatuan bibir mereka.


Setelah mencapai pinggir ranjang, Kana memutar posisi mereka menjadi Addan yang membelakangi ranjang.


Kemudian ia mendorong tubuh Addan hingga terlentang diatas kasur. Kana naik ke atas tubuh Addan dan menduduki perutnya.


Melihat Kana yang begitu agresif, Addan menyungingkan senyuman menggoda, "Benar-benar agresif sekali..."


"Pria tampan... Apa aku cantik? Apa aku menarik?"tanya Kana sambil membuka kancing kemeja Addan satu persatu.


"Bagiku kamu adalah wanita tercantik didunia" pujinya seraya mengelus pipi sang istri dengan lembut. "Apa kamu tau siapa aku?"sambungnya, menatap serius kedua mata Kana yang berkabut.


"Pri tampan?"sahutnya.


"Aku suamimu, Addan."


"Addan?...Mas Addan?"


"Betul"


"Mas Addan..."Kana berangsur-angsur mendekatkan wajahnya kewajah Addan.


Addan memegang pinggang Kana, seraya mengucapkan kata-kata cinta."Kana...Aku sangat mencintaimu..."Addan menatap Kana dengan tatapan sayu dan penuh damba, jantungnya berdebar kencang.


"Mmm..."


Cup!


Ciuman yang awalnya lembut perlahan-lahan berubah menjadi *******-*******, mereka saling bertukar saliva. Hingga kegiatan mereka berlangsung ketahap selanjutnya, setiap adegan yang mereka lakukan disaksikan oleh rembulan yang menerangi kamar mereka.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2