You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~Lady Fighter


__ADS_3

"Haih...Kenapa kalian berdua mendapat musibah diwaktu yang bersamaan ya? Awalnya aku pergi kerumahmu untuk mengabarimu bahwa Sasha menghilang, lalu meminta bantuanmu untuk melacak keberadaannya. Namun, aku mendapat kabar dari asisten rumah tanggamu, bahwa Kana masuk rumah sakit. Jadi ya...aku menyusulmu kemari."


"Sasha menghilang?"ulang Addan, dan Hobby membalasnya dengan anggukan ringan.


"Sekarang Soka berada dimana? Kenapa dia tidak mengabariku?!"lanjutnya.


"Dia saat ini sedang mencari keberadaan istrinya, bersama para pengikutnya. Alasannya tidak mengabarimu, karena ia tidak ingin merepotkanmu."


"Pantas saja panggilanku tidak diangkat-angkat olehnya.__Hob, jelaskan kronologinya secara detail."


"Haih...Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi kepada Sasha. Begitupula dengan Soka, karena dia pulang setelah waktu magrib habis. Setibanya dirumah, pintu rumahnya ternganga lebar, bahkan pintu rumahnya rusak parah, itulah hal pertama yang dilihat Soka."


Sejenak Addan tampak berpikir dan menerka-nerka,"Sepertinya__ada sekelompok orang mendobrak paksa rumah mereka."ujarnya.


Hobby menganggukkan kepalanya membenarkan pernyataan Addan,"Hmm....Menurut kesaksian salah satu tetangganya. Sasha dibawa pergi oleh beberapa pria berbadan kekar dan berseragam hitam, sekitar pukul 11.00 WIB. Beberapa tetangganya hendak menolongnya, namun tidak ada yang berani, karena salah satu dari pria berseragam hitam itu menodongkan senjata ke arah mereka."jelas Hobby.


"Ini kunci gudang persenjataan di markas. Kau bawa beberapa senjata dan amunisi. Malam ini juga kau bantu Soka mencari Sasha sampai ketemu. Aku akan mengerahkan separuh anak buahku untuk membantumu..."ujar Addan sambil menyerahkan sebuah kunci ketangan Hobby.


"Bagaimana denganmu, kau tak ikut kah?"


"Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan istriku. Kau kabari saja aku, kalau Sasha sudah ketemu."


"Hm baiklah!"Hobby menganggukkan kepalanya, dan tiba-tiba ia baru teringat akan sesuatu yang belum sempat ia katakan,"bagaimana kalau kita meminta bantuan Quan saja. Dengan bantuannya, tidak membutuhkan waktu yang lama bagi kita mencari keberadaan Sasha,"sarannya.


"Aku tidak membutuhkan bantuannya,"tolaknya dengan tegas.


"Hilangkan egomu untuk saat ini, Dan. Hanya Quan lah yang dapat membantu kita menemukan Sasha secepatnya. Kau kenal Simon kan, pria paling cerdas dibidang IT? Nah, dia adalah bawahan Quan sekaligus kakak iparnya."


"Aku tidak akan mengemis memohon pertolongan padanya!!"balas Addan yang sedikit terbawa emosi. Mendengar nama Quan saja, ia tidak sudi, apalagi berbicara dan bersitatap muka dengannya.


"Bukan begitu maksudku....Ck! Kau ini. Cuman minta tolong, bukan mengemis."ujar Hobby yang sedikit merasa frustasi.


Addan terdiam, ia tidak membalas ucapan Hobby, dan memilih menatap para perawat yang lalu lalang didepannya. Hal itu membuat Hobby yang diacuhkan merasa kesal, ingin sekali rasanya ia memukul kepala sahabatnya itu.


"Hei ayo jawab! Kita harus segera mencari keberadaan Sasha,"desak Hobby.


Addan melirik Hobby tajam, kemudian berdiri dan hendak beranjak pergi, "kalau kau tetap kekeh meminta bantuannya, baiklah!__kau katakan saja padanya."ketusnya.


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Addan pergi meninggalkan Hobby sendirian yang duduk terperangah, menatap kepergiannya.


“Hufhh…dasar keras kepala.”


...****************...


Cahaya lampu yang menyilaukan, memaksa Sasha membuka matanya yang terasa amat berat. Obat bius itu ternyata masih mempengaruhi kesadarannya. Samar-samar ia mendengar keributan beberapa orang yang sepertinya melakukan perjudian. “Shh…Di-dimana ini?”gumamnya seraya menoleh ke kiri dan ke kanan, ada sekitar belasan pria yang duduk mengelilinginya sambil bermain domino dan ada pula yang bermain kartu remi.


“Sudah bangun, heh?!ujar seorang pria berkepala plontos yang merupakan bos geng yang menangkap Sasha kemaren siang. Ia berjalan mendekat kearah sasha disertai seringaian yang menyeramkan. Ditangannya terdapat sebilah pisau tajam yang siap menghunus dan mengoyak siapa saja, sesuai keinginan pemiliknya.


Haish...seumur hidup, baru kali ini ada orang yang berani menculikku, batin Sasha seraya menghela nafas panjang.


Sasha menggerak-gerakkan tubuhnya. Tubuhnya pun sudah dililiti oleh tali yang berukuran sama dengan tali yang biasa digunakan oleh petani untuk mengikat seekor kerbau.


Sasha memperhatikan sekeliling ruangan, sambil memikirkan suatu rencana yang pas untuk ia pakai, agar terlepas dari sekelompok orang-orang yang telah menculiknya itu.


"Hei, berani sekali kau mengacuhkanku dan berpura-pura tidak melihatku!"ujar sipria botak itu kesal, ia merasa Sasha pura-pura tidak melihatnya. Padahal apa yang dilakukan Sasha tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya.

__ADS_1


"Oh, kau disitu rupanya,"Sasha terkekeh geli melihat reaksi pria itu yang begitu lucu dimatanya. Entah kenapa ia begitu ingin rasanya menjitak kepala plontos pria itu, "Boleh ku pinjam kepalamu untukku jitak? Anakku yang minta, hahaha..."lanjutnya.


"Kau..."geram si pria botak, ia pun langsung mengeluarkan pistol dari saku celana dan menodongkannya kewajah Sasha.


Sejenak Sasha terdiam, namun tak lama kemudian ia kembali tertawa, dan kali ini suara tawanya lebih keras dari yang sebelumnya.


”…Oh iya, pilihan tali kalian cukup bagus. Tapi…cara kalian mengikatku tidak professional sama sekali. Sini kau botak, biar ku ajari kau cara menyekap orang yang benar,”ejeknya.


Sasha tidak merasa takut sama sekali akan gertakan dan tatapan tajam yang ditunjukkan oleh si pria berkepala botak itu. Justru ia merasa, sangat mudah baginya menghadapi pria yang memiliki karakter seperti itu.


“Rupanya kau tidak takut sama sekali ya padaku,Hehh…!”bentak Si pria botak yang semakin meradang, ”Apa kau tau? Aku ini sudah membunuh puluhan orang. Dan saat ini juga, aku tidak segan-segan menarik pelatuk pistolku dan melubangi wajahmu ini, ”tambahnya seraya menarik kasar dagu sasha keatas dan meremasnya.


“Hum! Tak ada gunanya kau menyombongkan diri dihadapanku. Aku tidak peduli berapa banyak orang yang sudah kau bunuh. Yang terpenting saat ini adalah, kau mau membebaskanku atau tidak? Kalau kau membebaskanku, nyawamu ku ampuni.”balas Sasha santai.


“Hei wanita! Sebaiknya sebelum kau berkata, berpikirlah terlebih dahulu. Apa kau pantas mengancamku dengan kondisimu yang terikat seperti ini Heh....?!"ejeknya sambil tetawa, dan diikuti oleh anak buahnya yang juga ikut menertawakan Sasha.


Sasha tersenyum sinis, “iyakah? Mari kita lihat.”


Srazz…!Tali yang meliliti tubuh Sasha seketika putus,hanya sekali sayatan pisau kecil saja. Ternyata dibalik lengan bajunya tersembunyi sebilah pisau kecil yang panjang. Meskipun ukuran kecil, pisau itu dapat memenggal kepala orang dewasa dengan sekali tebasan saja.


Pak!


Kelotak-kelotak...


Kakinya yang jenjang langsung menendang tangan si pria botak, sehingga pistol ditangannya terlempar dan masuk kedalam kolong meja.


Pria berkepala plontos itu terbelalak kaget, saat menyaksikan Sasha dengan mudahnya memutuskan tali besar yang meliliti tubuhnya. Seraya mengusap tangannya yang sakit akibat tendangan Sasha, ”ba-bagaimana bisa?”ujarnya tak percaya seraya berjalan mundur beberapa langkah. Kemudian ia melirik anak buahnya yang tengah melongo, “kenapa kalian diam disitu?! Habisi wanita itu cepat!!”teriaknya menggema.


“Siap Bos!”sahut anak buahnya serempak yang kelabakan mendapati bosnya yang mengamuk.


“Seandainya kau diam saja tadi, Nona. Mungkin nasibmu tidak akan begini. Sayangnya…,kau sudah terlambat untuk memohon kepada kami,”ujar salah satu anak buah si pria botak dengan sombongnya. Sasha hanya diam saja, tidak ada sedikitpun raut cemas dan takut yang terukir diwajah cantiknya.


Semua pria yang mengelilingi Sasha bergerak maju, masing-masing dari mereka memegang tongkat bisbol dan parang, tetapi ada pula yang tidak memegang senjata.


“Hehehe…Main keroyokan ya? Ok, aku ladeni kalian bermain tuan-tuan.”Sasha menggulung lengan bajunya keatas, “Majulah!”lanjutnya.


"Habisi dia, cepat!!"perintah si pria botak dengan suara lantang.


“Hiyat…”salah satu anak buah si pria botak maju, lalu mengayunkan sebuah tongkat bisbol ke tubuh Sasha.


Sebelum tongkat bisbol itu menyentuh tubuhnya, Sasha lebih dulu menendang perut pria itu dengan sekuat tenaga, sehingga terlontar lumayan jauh. Hanya sekali tendangan saja, pria itu pingsan seketika. Melihat kejadian itu, beberapa rekannya ciut seketika.


“Ke-kenapa kalian mundur? Kali ini kalian ditugaskan untuk membunuhnya...bayaran kalian akan ku naikkan!!”teriak si pria botak.


Mendengar tawaran sipria botak yang menggiurkan, tanpa pikir panjang mereka semua langsung menyerbu Sasha.


"Hiyat...!!"


30 menit kemudian...


Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama, Sasha berhasil menghabisi beberapa orang yang menyerangnya dengan menggunakan senjata dan melumpuhkan orang yang menyerangnya dengan tangan kosong.


Krucukk…!Refleks Sasha memegang perutnya. “Benar-benar deh…bikin perut ku keroncongan…Gara-gara kalian, aku tidak makan seharian."ujar Sasha kesal, kakinya menendang-nendang kecil badan si pria berkepala botak, "Seandainya kau mau membebaskanku, maka kau tidak akan mati menggenaskan seperti ini"


“SASHA!!”teriak Soka menggema yang berdiri diambang pintu. Sontak Sasha menoleh kearah sumber suara, matanya berbinar-binar memandang sang suami.

__ADS_1


“Mas…”Dengan sedikit berlari Sasha menghampiri Soka, lalu memeluk erat sang suami,”aku laper…”


"Eh?"Sempat-sempatnya dia memikirkan makanan disaat suasana menegangkan seperti ini, pikir Soka.


Soka membelai sayang rambut sang istri,”Apa kamu dan anak kita terluka, sayang...?”tanyanya lembut, dan dibalas gelengan oleh Sasha.


Sasha semakin menelusupkan wajahnya kedada Soka sambil mengendus-ngendus bau sang suami yang sangat ia rindukan."Mas...Aku laper..."


"Iya sayang...sebelum pulang, kita mampir di restoran ya"Soka mengucup kening istrinya itu lalu mencubit pipi tembemnya.


~


“HEH...?!”Hobby kaget melihat beberapa orang yang tergeletak bersimbah darah,”I-i-ini…siapa yang melakukannya? Bukankah kita baru sampai ya?”ujarnya seraya menutup hidungnya dengan telapak tangannya, karena bau anyir darah yang menyengat memenuhi ruangan.


“Menurutmu siapa lagi…? Yang berdiri tegak diruang ini ketika kita masuk, kan dia sendiri.”balas Quan santai sambil menunjuk Sasha yang tengah bermanja-manja dengan suaminya.


“What?! Are you kidding me?”Hobby tak percaya akan pernyataan sang sahabat.


~


“Mas. Rame banget kamu bawa pasukan.”ujar Sasha dengan nada manja.


“…Mas cuman bawa dua belas anak buah saja, selebihnya bawahan Tuan Addan dan Tuan Quan.”


"Terus mereka ngapain dong disini...Kan orang-orang tu sudah aku bereskan."


Hobby dan Quan hanya menjadi penonton adegan romantis keduanya.


“Hob! kalau misalnya lo dapat bini seperti dia. Gimana ya?"bisik Quan.


“Ogah gue, kalau misalnya mendapatkan istri seperti dia. Bisa-bisa gue ngak bisa hidup tenang..."gumam Hobby.


Setelah mengucapkan kalimat itu, mendadak bulu kuduknya berdiri.


"Kok suasana menjadi menyeramkan ya Wan? badan gue terasa panas-panas dingin."


"Coba deh. lu putar badan lu kebelakang...pasti lu mendapatkan jawaban atas pertanyaan lu tadi,"ucap Quan disertai senyuman menyeringai.


"Apa maksud dari senyuman lu yang menyebalkan itu, sialan..."


Hobby menuruti ucapan Quan untuk memutar badan. Dan betapa kagetnya dia, saat mendapati Sasha sudah berdiri tepat didepannya dengan aura yang menyeramkan.


Hobby tersenyum kecut,“ha-ha-ha... perkataan saya jangan dimasukkan kedalam hati nona, ta-tadi saya cuman bercanda..."ujarnya dengan wajah yang sudah memucat.


Sasha tidak menghiraukan ucapan Hobby, ia tetap melangkah maju.


Kretek!...Kretek! (bunyi gemeretak jari tangan Sasha)


Merasa nyawanya sudah tak tertolong lagi. Hobby pun pasrah, jika Sasha menghajarnya, “Quan…tolong lu bawa gue ke Rumah Sakit sesegera mungkin ya?! Kalau keadaan gue sangat memprihatinkan...”


Lani...good bye baby, batin Hobby. Tangannya melambai-lambai di udara, mengucapkan salam perpisahan kepada pujaan hatinya.


Buk!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2