You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Mengubah Rencana?


__ADS_3

Setelah menerima pesan dari Gipson. Ekpresi Feni berubah gusar. Pesan tersebut berisi peringatan untuknya agar segera menuntaskan misinya, karena waktunya hanya tinggal dua hari lagi.


“Ck! Dua hari lagi? Dua hari cuman waktu yang sebentar....” Gumamnya gusar.


Apa yang harus kulakukan? Aku belum mempunyai rencana yang matang."Tambahnya seraya menggigit-gigit kecil kuku jarinya.


Feni sangat menyesali kebodohan dan kecerobohannya. Bukannya memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melaksanakan misi, ia malah terbuai akan fasilitas mewah Vila megah itu. Mulai dari melakukan perawatan, menggunakan peralatan gym sesuka hati. Bahkan dengan beraninya tidur siang dikamar milik Addan dan Kana, disaat kedua pasangan suami istri itu tidak ada ditempat.


Ditengah kegelisahannya, ponsel dalam saku celananya tiba-tiba bergetar, dengan cepat Feni merogohnya. Tertera nama Belinda dilayar ponsel itu, dan tanpa pikir panjang ia langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo Bel?"


"...Jangan bunuh wanita itu, cukup anak yang ada didalam kandungannya saja."Ucap Belinda tanpa basa- basi dari sebrang sana.


"Loh Kenapa?! Bukankah itu yang kau inginkan? "tanya Feni kaget.


Padahal ia juga sangat menantikan momen disaat Kana meregang nyawa. Tapi apa ini? Belinda tiba-tiba membatalkan rencana pembunuhan terhadap Kana begitu saja.


"Aku berubah pikiran,"


"Apa yang mempengaruhimu sampai membuatmu berubah pikiran? apa kau tau, dengan matinya wanita itu, kau bisa memiliki Addan sepenuhnya!" ucap Feni mengompori Belinda.


Tampaknya Belinda sedikit terpancing akan ucapan wanita itu, terbukti dengan keterdiaman Belinda dari sebrang sana hingga beberapa detik lamanya.


"Belinda!halo... Belinda..."Panggil Feni berulang kali.


"Ja-jangan banyak omong lagi, aku tau apa yang kulakukan. Segera laksanakan perintahku. Ku tunggu kabar gembira darimu dalam dua hari ini. Kalau gagal....kau akan kujebloskan kedalam penjara!"


Mendengar ancaman Belinda, Feni dengan susah payah menelan salivanya. Ancaman itu membuatnya tak dapat berkutip lagi. Ia sungguh tidak mau dipenjara, bukan karena ia mengkhawatirkan ibu dan putrinya, tetapi ia khawatir keluarga ayahnya tidak akan mau memberinya bagian harta warisan.


Tidak...tidak...aku tidak mau dipenjara!, teriak batinnya.


“Hei! Dengar tidak, apa yang aku katakan barusan?!”teriak Belinda.


Suara bass Belinda, membuyarkan lamunannya.“Ah…i-iya…aku dengar kok. Kau tenang saja…semuanya pasti beres…”


“Yasudah, hanya itu saja yang kusampaikan.”


Tut…Tut…Tut…


Belinda yang langsung memutuskan panggilannya, membuat Feni seketika bernafas lega. Ia kembali memikirkan rencananya, hingga timbul sebuah ide cemerlang yang selama ini tak pernah terpikirkan olehnya. Ide itu terinspirasi dari kisah ibundanya yang juga seorang pelakor, dimasa mudanya.


“Kenapa baru sekarang terpikirkan olehku.”Feni terkikik geli, “tak susah-susah diriku memikirkan rencana lagi. Terimakasih Ma, atas idemu. Tidak buruk juga kau menjadi pelakor...”lanjutnya.


*


*


Setelah memutus panggilannya dengan Feni, Belinda melirik tajam seorang pria yang duduk dikursi kebesarannya, siapa lagi kalau bukan kakak tirinya yang sangat ia benci. Dirinya semakin kesal saat mendapati pria itu memasang senyuman lebar kearahnya.


“Bagaimana? Sudah kau katakan kepada perempuan itu?”ucap pria itu disertai kerlingan mata.


“Sudah, puas kau?!”geramnya. Tangannya terkepal kuat dibawah meja, ingin sekali rasanya melayangkan sebuah bogeman mentah kewajah pria itu.


Mendengar nada ketus sang adik tiri seketika pria itu tertawa renyah. Dirinya terasa tergelitik melihat ekpresi kesal sang adik tiri, wajah itu selalu membuatnya terhibur setiap kali mereka berjumpa, bukan karena wajah Belinda imut dan menggemaskan saat marah, tapi karena ia juga sangat membenci gadis itu.


“Ohhh…tentu saja aku puas…."


“Kalau begitu, kembalikan investorku. Kau tolong bujuk mereka untuk kembali berinvestasi diperusahaanku.”


“Tenang saja dik, dalam waktu lima menit semua investor akan segera menghubungimu, dan memintamu untuk kembali bekerjasama dengan mereka.”


"Kupegang janjimu..."Tekan Belinda.


"Hm tenang saja. Tapi....ingat! Jangan coba-coba kau menipuku. Kau tau kan sifatku..."Sinis pria itu.


kalau ada yang berani mengkhianatiku, tak peduli siapa dia. Aku akan membuatnya berakhir sama seperti hewan yang ada dibawah kakimu itu."Sambungnya seraya melirik karpet yang terbuat dari kulit harimau yang merupakan hewan buruannya semasa remaja.

__ADS_1


Belinda sontak mengikuti pandangan Kakak tirinya yaitu kearah karpet yang diinjaknya. Glek! Tubuhnya seketika bergetar hebat, saat membayangkan dirinya yang dikuliti dan kulitnya dijadikan karpet sama seperti kulit harimau.


Sial!...ternyata pria ini jauh lebih berbahaya dari yang kukira, batin Belinda ketakutan.


...****************...


Addan dan Kana, kini sudah duduk berhadapan di sebuah restoran yang terletak disebrang perusahaan Addan. Sesekali mereka saling melirik, namun tak ada satupun kata yang terlontar dari mulut mereka.


Awalnya Kana menawarkan Addan untuk mencoba makanan dipiringnya, akan tetapi suaminya itu membalasnya dengan gelengan kepala tanpa menatap dirinya.


Tak menyerah begitu saja, Kana juga mengajak Addan mengobrol, namun lagi-lagi kebungkaman sang suami yang ia dapat. Hingga akhirnya ia pun ikut-ikutan diam.


"Hekhem! Jangan lama-lama dianggurin makanannya, nanti dingin dan lalatnya hinggap disana..."ujar Ghani memecahkan keheningan antara kedua pasangan suami istri itu.


Namun, keduanya tetap saja diam membisu. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing sambil memutar-mutar sendok pada kuah soto dimasing-masing mangkuk mereka.


Pria berusia 22 tahun itu (Ghani) menghela nafas panjang, ia kembali mengingat kejadian sebelum mereka ke restoran.


Flashback


Kana yang baru tiba dikantor Addan. Saat hendak memasuki gedung pencakar langit itu, tiba-tiba ada seorang pria menariknya dan mendekapnya erat.


"Apa__"Belum sempat Kana menyelesaikan kalimatnya, ucapannya sudah lebih dulu dipotong oleh pria itu.


"Kaka...aku kangen banget sama kamu sayang..."


Kaka? Hanya satu orang yang pernah memanggilnya dengan sebutan itu. "Brian...?"


"Ya ini aku Ka..."ucapnya tanpa melepaskan pelukannya.


"Bri...lepaskan aku! Kamu apa-apaan sih?"Kana memberontak, ia mencoba mendorong tubuh Brian darinya, namun tenaganya kalah kuat dari pria itu.


"Biarkan seperti ini...sebentar...saja,"pinta Brian sambil mengetatkan pelukannya.


"Lepasin ngak? Kalau kamu ngak mau lepasin, aku bakal teriak dan laporin kamu kepolisi!"Ancamnya serius.


"Teriak saja, aku tidak takut!"


Tap!


Tap!


"Dek...kamu__"ucapan Addan tiba-tiba terhenti ketika melihat pemandangan yang sangat menyakitkan mata. Dadanya tiba-tiba terasa panas melihat pemandangan itu.


Brian sengaja melonggarkan sedikit pelukannya. Sementara, Kana yang melihat kedatangan sang suami mendorong Brian sekuat tenaga, hingga sang mantan sedikit terhuyung kebelakang.


Melihat wajah pria yang telah berani memeluk istrinya, membuat Addan sangat murka. Pria yang pernah melukai istrinya, kini dengan tidak tahu malunya memeluk istrinya.


Addan mendekati Brian, lalu menghadiahi pria itu beberapa kali bogeman di area wajah tampannya.


"Beraninya kau memeluk istriku!"


Buk!


Buk!


"Ku ingatkan kau, dia istriku, milikku!!"teriak Addan yang dipenuhi amarah pada Brian.


Melihat sang suami menghajar sang mantan membabi buta, Kana berlari mendekati Addan lalu memeluknya dari belakang.


"Mas...mas..hentikan Mas! Nanti dia bisa meninggal..."


Addan menghentikan aksi memukulnya, kemudian


menatap istrinya dengan tatapan terluka. Ia menduga bahwa istrinya itu masih menaruh rasa kepada sang mantan, karena ia menatap sang mantan dengan tatapan penuh kekhawatiran.


"...Jadi...dia alasanmu tidak bisa mencintaiku?"

__ADS_1


"Mas..ini tidak seperti yang kamu pikirkan...Tolong dengarkan penjelasanku dulu."Kana mencoba meraih lengan Addan, namun suaminya itu menolak untuk disentuh.


"Tidak perlu kamu jelaskan, Mas mengerti."Ucap Addan lirih dengan tatapan penuh kekecewaan. Kemudian ia melenggang pergi, menyebrang menuju restoran tempat mereka janjian.


Kana yang hendak mengejar Addan, seketika dihentikan oleh Ghani.


"Jangan dikejar Kak. Kakak lagi hamil....Kita jalan pelan-pelan saja kesana. Mari aku bimbing..."Ucap Ghani dan diangguki lemah oleh Kana.


Mereka berdua pun berjalan beriringan menyusul Addan yang sudah masuk kedalam restoran.


Flashback Off


*


*


Mendengar suara deru mobil memasuki halaman Vila, Feni buru-buru bangkit dari kegiatan selonjorannya diatas karpet empuk diruang keluarga. Dia langsung mematikan televisi dan bergegas membereskan semua sampah-sampah makanan ringan yang berserakan diatas karpet.


"Ck! Tumben cepat mereka pulang, biasanya pukul setengah enam sore baru pulang,"gerutunya.


Setelah membereskan semua kekacuan yang telah ia buat. Feni dengan berlari kecil menuju pintu masuk, menyambut kedatangan Kana dan Addan.


"Selamat datang...Tuan dan Nyonya." Sambutnya seraya membungkukkan badan.


"Terimakasih Mbak!"Balas Kana dengan suara yang agak parau, seperti orang yang habis menangis.


Addan tidak mengubris sambutan Feni, ia langsung melewatinya begitu saja.


Feni menatap punggung kedua pasangan suami istri itu yang sedang menaiki tangga, sambil tersenyum sinis. Lalu ia merogoh ponselnya dari dalan saku celana hendak menghubungi seseorang.


Panggilan tersambung:


"Hai sayang...Sepertinya kau berhasil."


"..."


"...Apa?!kau dipukuli oleh Addan? Kasihan sekali suamiku ini..."


"..."


"Bagus...kau benar-benar sangat membantuku Bri..."


"..."


"Tidak...aku tidak jadi mengajukan perceraian kita kepengadilan. Sekarang aku baru tau, kau merupakan suami yang dapat diandalkan."


"..."


"Hm ya...sebentar lagi aku akan membawa segepok uang, kemudian kita bagi sama rata..."


"..."


"Hehehe...bye-bye suamiku..."


"..."


Tut!


"Dasar benalu...kau pikir aku akan kembali kepada manusia tak berguna sepertimu? Kembali saja kau kepada istri sirihmu itu, aku sudah kapok terus-terusan kau selingkuhi. "Gerutunya kesal.


-


Bersambung...


_


_

__ADS_1


~InsyaAllah besok lagi ya, updatenya. 🥰


Jangan lupa like, comment dan favoritkan agar author tambah semangat dan readers tidak ketinggalan kelanjutan episodenya. Terimakasih...😁🙏


__ADS_2