
“ Pak tua sialan! berani-beraninya dia menipuku. Padahal sebelumnya aku telah menolak mentah-mentah perjodohan itu, kenapa sampai bisa terjebak?” Ucap Addan geram dan memukul meja dengan kuat hingga menimbulkan suara yang keras sampai terdengar keluar.
"Saya mengira Bos di minta ke Italy untuk menghadiri acara rekan kerja disana, namun ternyata malah menghadiri acara sendiri." Ucap Soka.
"Saya tidak akan pernah menerima pertunangan ini. bagaimana jika Kana tau? Ahhhh....." Ucap Addan prustasi sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Tenang Bos, tenang....." Ucap Soka cemas karena melihat tingkah Addan seperti orang hilang akal.
Tiba-tiba Addan teringat akan sesuatu.
"Coba kamu cek di internet dan di media lainnya, apakah berita tersebut tersebar..." Ucap Addan dengan gusar.
Addan yang melihat tingkah Soka yang hanya berdiri mematung, entah apa yang sedang di pikirkan Soka hingga ia mengabaikan ucapan Bosnya itu. Addan yang geram karena ucapannya tidak di dengar langsung berteriak.
"APA KAU TULI?" Teriak Addan lantang memenuhi ruangan.
Soka sontak terkejut di buatnya.
"Eh eh, tidak Bos. Saya dengar kok Bos, ampun bos! jangan pasang tampang garang gitu dong Bos..."Ucap Soka gelapan dan menatap pria yang lebih muda darinya ini dengan was-was.
"Kalau kau dengar, CEPAT LAKUKAN!" Teriak Addan marah.
"Si..siap Bos..." Ucap Soka ketakutan dan langsung berjalan cepat ke sofa yang terletak di ruangan tersebut, kemudian duduk dan langsung membuka laptopnya.
Addan memang sering marah-marah walaupun itu kesalahan yang kecil, sehingga seluruh karyawan perusahaan menyebutnya dengan sebutan Mr. Gorilla, tapi itu jika di belakang Addan dan tidak di ketahui oleh Addan. Jika sampai Addan tau bisa-bisa habislah hidup mereka saat itu juga.
Semenjak Addan memimpin perusahaan milik kakeknya itu, perusahaan berkembang pesat begitu cepat. Perusahaannya menjadi terkenal ke mancanegara, dan sering di liput berita. Sehingga banyak orang yang kagum padanya, bukan hanya wanita, pria pun juga mengidolakannya.
Dulu di masa kepemimpin Kakek buyutnya Addan, perusahaan tersebut juga melejit sehingga kakek buyutnya itu di nobatkan sebagai pebisnis tercerdas di Indonesia, namun setelah kepemimpinan berpindah ke tangan Papanya (Antoni) perusahaan tersebut malah semakin menurun.
Namun kini perusahaan kembali bangkit dan Addan pun di nobatkan menjadi pebisnis yang tercerdas, dan masuk dalam nominasi pebisnis tercerdas ke 5 di dunia, dan itu berkat kerja kerasnya selama beberapa bulan ini.
3 menit kemudian, Soka pun berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah Bosnya untuk memperlihatkan pencariannya.
"Bos! lihat nih Bos." Ucap Soka di dekat telinga Addan, sehingga membuat Addan terkejut dan merinding karena hembusan nafas Soka menerpa area telinganya.
"Sialan! haruskah kau berbicara di dekat kupingku? Kau benar-benar sudah bosan hidup Hah." Teriak Addan marah dan menoyor kepala Soka untuk menjauh, dan tidak lupa pula tatapannya yang garang.
"Eh Sorry Bos...Hehehehehe." Ucap Soka dan cengengesan, lalu agak menjauh menjadi berhadapan dengan Addan.
"Ternyata berita pertunangan anda dengan Nona Connor telah menyebar Bos, di berita, koran, majalah, media sosial. Dan juga sudah tayang secara live di televisi."Ucap Soka menjelaskan.
"Apa? La..lalu beritanya di tayangkan di channel apa?" Tanya Addan cemas.
"Di semua channel Bos, kecuali channel anak-anak."
"Shit! Pasti Kana melihatnya, pasti...Ahhhhh" Ucapnya dan berteriak prustasi lalu kembali menjambak rambutnya.
Soka hanya melihat tingkah Addan yang prustasi itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu.
"Siapa?" Tanya Soka sambil teriak.
Mendengar teriakan Soka, Addan langsung melayangkan pulpennya ke kepala Soka.
"Aduh!" teriak Soka yang merasakan sedikit sakit di keningnya.
"Bisa tidak! Kau tidak teriak-teriak Sialan..." Ucap Addan geram.
"Hehehehe Sorry Bos..." Ucap Soka cengengesan dan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
__ADS_1
"Gue bang..." Teriak orang itu di balik pintu.
Mereka berdua yang mendengar teriakan di balik pintu langsung menoleh.
Soka yang tau siapa orang itu langsung menyuruhnya masuk.
"Masuk.." Ucap Soka.
Pintu pun terbuka dan muncullah sosok pria tampan berambut gondrong yaitu Ghani bersama empat pasukannya.
"Ngapain kamu bawa empat cucurut ni?" Tanya Addan yang tak ramah.
"Elehhh...elu mah gitu Dan...Sekarang lu yang udah diatas, lupa sama kami. Songong amat sih lu." Ucap Hoby.
"Lupa lo Hob, sama mantan atasan kita ni. Dia kan memang anak konglomerat, kagak kayak lu konglomelarat. Apa-apa minta traktir, ngak pernah mau rugi." Ucap Elang mengejek Hoby.
"Diam lo lang...Lo kok cari ribut mulu ya sama gue?."Ucap Hoby geram dan menatap sangar Elang.
"Habisnya tampang lo tu menyebalkan, udah korengan, tidur ngorok, suka kentut sembarangan lagi." Ucap Elang memanasi Hoby.
Sedangkan kedua teman mereka yaitu Irly dan Sandi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah keduanya yang bak kucing dan anjing.
"Si Lembu sialan....Lo.." Ucap Hoby sambil menunjuk Elang dengan jarinya.
Namun tiba-tiba ucapannya terhenti karena ada yang ngamuk.
Brak!!
Addan emosi di ubun-ubun mendengar berdebatan mereka, ia mengebrak meja kerjanya lalu menatap mereka berdua dengan tatapan garang.
"Kalau kalian tidak bisa diam, Lebih kalian keluar dari ruangan Saya." Teriak Addan Emosi.
"Maafkan kelakuan mereka Komandan, sebenarnya kami kemari ingin menyampaikan berita penting buat anda." Ucap Randi.
"Perihal apa?" Ucap Addan tenang kembali.
"Kami melihat berita dan mendengar kabar bahwa anda sudah bertunangan dengan putri dari Juan Connor. Untuk itu kami ingin menyampaikan sesuatu tentang siapa Juan dan putrinya itu." Ucap Randi.
"Emangnya siapa mereka?" Tanya Addan dan mengerutkan keningnya.
"Hob, ceritakan semua yang kamu ketahui pada komandan." Ucap Randi meminta Hoby menjelaskan dan diangguki oleh Hoby.
"Addan, keluarga mereka bukanlah keluarga yang baik-baik. Si Juan Connor itu bisa saja menjeremuskanmu ke dalam masalahnya jika kamu menjadi menantunya. Apalagi putrinya itu, dia bukanlah gadis yang baik." Ucap Hoby
"Kau bilang dia bukan gadis yang baik, tapi dia sudah termasuk daftar gadis yang pernah kau tiduri"Ucap Elang dan tersenyum sinis ke arah Hoby.
"Kau..." Ucap Hoby geram, karena Elang berani membongkar aibnya.
"Cukup! kalian berdua bisa diam ngak sih, apa kalian mau komandan marah lagi?" Ucap Irly yang geram karena sedari tadi menyaksikan pertengkaran mereka berdua.
Mereka yang merasa bersalah langsung menundukkan kepala, karena takut Addan ngamuk lagi.
"Ghani, coba kamu cari tau latar belakang juan Connor dan juga putrinya itu.”Ucap Addan tak sabaran sambil mengetuk-ngetukkan kelima jari tangannya di atas meja.
”Baik” saut Ghani cepat dan langsung mengambil alih laptop Soka lalu mencari latar belakang perusahaan ORSA, pemimpinnya dan juga putrinya.
“ Oh Iya. Coba kamu cari informasi tentang kebusukan dan kesalahan Juan ”Ucap Addan lagi.
” Siap!” Saut Ghani semangat.
Setelah beberapa menit kemudian akhirnya Ghani angkat bicara.
__ADS_1
” Ini bang sudah ketemu dan silahkan dilihat informasinya” Ucap Ghani dan langsung memperlihat kepada Addan.
Addan yang melihat informasi tersebut pun tersenyum licik.
"Hoby, coba kamu berikan klarifikasi dan ceritakan semua keburukan yang ada pada wanita itu, lalu carikan buktinya dan berikan pada Soka."
"Amann tu Ndannn..." Ucap Hoby dan mengacungkan jempolnya lalu tersenyum.
Tiba-tiba Handphone Addan pun berbunyi menandakan ada pesan masuk, karena orang yang mengirimkan pesan itu tau bahwa Addan tak akan pernah mau menerima panggilan darinya.
Ternyata pesan tersebut dari Papanya (Antoni Nicolas), dan Addan pun dengan terpaksa membaca pesan dari Papanya.
Pesan tersebut berisikan bahwa Addan di minta Papanya untuk hadir acara pembukaan hotel baru keluarga Connor di Malaysia. Dan juga maminta Addan untuk menemani putri Connor selama acara berlangsung. Kalau Addan tidak datang, itu akan memberikan pengaruh buruk terhadap reputasi keluarganya.
Addan yang membaca pesan tersebut benar-benar geram dan darahnya terasa mendidih.
"Siapa Juan Connor itu sebenarnya, apakah kedudukannya begitu tinggi?" Tanya Addan menatap Soka.
” Itu bos. Juan Connor merupakan orang terkaya kedua di Eropa." Jawab Soka.
” Hanya orang kedua, sedangkan orang pertama terkaya Se- Eropa saja segan denganku, dan takut bersaing denganku.”Ucapnya dan tersenyum remeh.
"Menurutmu apa tujuan Pak tua sialan itu menikahkanku dengan putri Juan."
"Dari yang sudah saya selidiki, ternyata Tuan besar bertujuan untuk mendapatkan cabang perusahaan milik Juan."
"Heh! Benar-benar Pak tua yang sangat rakus, sudah diberi kekayaan berlimpah dari kakek. Tetap saja merasa kurang."Ucap Addan dan tersenyum sinis.
Deringan Handphone Addan Berbunyi menandakan ada yang menelepon dan terlihat di layar hp bermotif nama Lano, sang kakak. Addan pun segera mengangkat dan meletakkan benda pipih tersebut di telinganya.
” Halo?”saut Addan
"Mmmm" jawabnya.
“ Addan kamu dimana sekarang? Apa sudah balik dari Italy.” Tanya Lano
“ Aku lagi dikantor” jawab Addan Singkat.
” Apa di Indonesia?” Tanya Lano lagi.
” Iya..”jawab Addan.
” Kalau begitu lebih baik kamu segera pulang karena kami akan membicarakan hal penting denganmu. Sangat penting dan tak dapat diucap lewat alat komunikasi.” Ucap Lano menjelaskan bahwa ia tahu bahwa Addan pasti akan bertanya hal penting apa itu, jadi sebelum Addan bertanya lebih baik jawab dulu~pikirnya.
” Baiklah aku akan tiba dirumah dalam waktu 30 menit lagi.” Ucap Addan.
” Baiklah ku tung…..” Ucap Lano terputus karena Addan langsung memutuskan panggilan.
Addan pun langsung bergegas mengenakan jasnya dan menyambar kunci mobilnya yang terletak diatas meja kebesarannya.
” Soka, Ghani dan kamu Hoby, tetap dikantor dan kabari saya nanti jika ada berita baru lagi terkait juan dan putrinya itu, sedangkan kalian bertiga terserah mau pergi kemana”Ucap Addan datar lalu pergi dari ruangannya.
”Baik..” saut Ghani, Soka dan Hoby serempak.
Sedangkan Elang, Randi dan Irly hanya menghela nafas kecewa. Padahal mereka berharap Addan akan memberikan mereka tugas juga.
Addan langsung tancap gas menggunakan mobil sport bewarna hitam miliknya menuju kediaman Nicolas.
~~
“ Bocah sialan berani sekali dia memutuskan panggilanku, padahal belum selesai berbicara.” Geram Lano dan ditanggapi dengan tawa oleh Lani dan gelengan kepala oleh Nena dan Raya.
__ADS_1