
"Menikmati angin sepoi-sepoi sangatlah membuatku merasa tenang!"Ucap Kana yang sedang duduk di kursi santai yang terletak di area balkon kamarnya.
Entah apa yang membuatnya terus kepikiran akan ucapan Lani tadi pagi, ada rasa bersalah yang bersarang di hatinya , ketika Lani mengingatkan bagaimana perlakuan baik dan perhatian Addan selama ini kepadanya.
"Apa aku salah berkata seperti itu kepadanya?
Awalnya aku berpikir bahwa dia pantas di perlakukan seperti itu. Tapi mengapa sekarang, rasa bersalah hinggap di hatiku?"Gumam Kana sambil melihat dedaunan pohon yang bergoyang-goyang karena terpaan angin sepoi-sepoi.
"Haruskah aku memaafkan dan menerimanya sebagai suamiku? Tapi, aku sudah tidak percaya lagi dengan cinta. Aku takut di khianati lagi."Ucap Kana dengan perasaan gelisah dan sedih.
Kana yang sedang bermenung, tiba-tiba di kejutkan oleh suara ketukan pintu.
Tok tok tok tok (bunyi ketukan pintu kamar Kana)
"Nyonya muda! ada seorang ibu-ibu yang sedang menunggu anda di ruang tamu. Beliau juga bilang, bahwa ia dari panti asuhan,tempat Nyonya muda di besarkan dulu."Ucap Bi Isah dari balik pintu kamar Kana.
Kana langsung bangkit dari duduknya setelah mendengar ucapan Bi Isah.
"Pasti Ibu Sofi yang datang!"Ucap Kana menduga-duga dengan raut wajah gembira.
Kana dengan berlari-lari kecil turun dari tangga, Bi Isah yang melihat Kana berlari-lari turun tangga, merasa cemas.
"Hati-hati Nyonya! Jangan lari-lari."Ucap Bi isah dengan sedikit berteriak karena mengkhawatirkan Kana yang tengah mengandung.
Ibu Sofi yang mendengar teriakan Bi Isah, segera mengalihkan kepalanya ke arah tangga. Bu Sofi terkejut melihat Kana yang lari-lari turun tunggu, ia pun juga ikut menegur Kana yang ceroboh.
"Nak! Jangan lari-lari sayang. Ingat! Kamu lagi hamil."Tegur Bu Sofi dengan suara agak keras.
Mendengar teguran dari Bu Sofi, Kana pun turun tangga dengan tidak tergesa-gesa lagi.
"Kamu ini jangan ceroboh gitu dong Nak! Kamu lupa kalau kamu lagi hamil?"Nasihat Bu Sofi yang mengingatkan Kana.
"Maaf Bu. Saking senangnya mendengar Ibu datang, Kana pun lari-lari karena ingin sekali melihat Ibu hingga Kana pun lupa kalau Kana hamil. Maaf ya Bu?."Sesal Kana yang sudah berada di hadapan Ibu Sofi sambil memegang kedua tangan Ibu itu, karena merasa bersalah.
Ibu Sofi hanya tersenyum dan mengelus kepala Kana dengan sayang, lalu menuntun Kana untuk duduk di sofa bersama.
"Ibu...Kaki Kana kan tidak sakit. Kok di tuntun gini sih jalannya."Ucap Kana dan terkekeh pelan.
"Kamu kan lagi hamil cucu Ibu. Jadi, Ibu harus jaga kamu agar kamu baik-baik saja."Ucap Ibu Sofi dan tersenyum lembut ke arah Kana.
"Oh iya! Udah cek kandungan ke dokter, belum?" Tanya Bu Sofi lalu menepuk paha Kana dengan pelan.
"Belum Bu. Rencananya sih lusa, Bu."
"Sama suami kamu?" Tanya Bu Sofi.
"Ngak Bu, Kana perginya sendiri saja."Ucap Kana
"Loh! Kok sendiri, suami kamu ngak mau ya ngantarin kamu ke dokter?"Tanya Bu Sofi dengan kening yang berkerut.
__ADS_1
"Bukan gitu Bu....aku..."Belum sempat Kana meyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Addan pulang dan mengucapkan salam. Sehingga Kana tidak menyelesaikan ucapannya.
"Assalammu'alaikum." Ucap Addan.
Semenjak Addan menikah dengan Kana, Addan mencoba membiasakan diri mengucapkan salam bahkan ia sudah mulai rajin shalat, menurutnya itu langkah pertama menjadi imam yang baik untuk Kana.
"Wa'alaikumsalam."Saut Bu Sofi dan Kana secara bersamaan, sambil menoleh ke arah Addan yang berjalan ke arah mereka.
"Eh! Nak Addan sudah pulang. Mari duduk dulu, ada yang mau ibu tanyakan padamu Nak."Ucap Bu Sofi dan tersenyum.
Addan yang diminta Bu Sofi berbincang bersama pun menuruti permintaannya. Ia duduk berhadapan dengan Ibu Sofi.
"Ada apa ya Bu?" Tanya Addan yang berusaha menjaga nada bicara agar tidak terdengar datar.
Sambil melonggar dasi yang melingkar di lehernya, Addan menunggu ucapan dari Bu Sofi dan sesekali menatap Kana yang duduk di samping Bu Sofi dengan kepala tertunduk.
"Kamu tau jadwal cek kandungan Kana?"Tanya Bu Sofi.
"Ya. Tentu saja saya tau Bu, Lusa saya dan Kana akan pergi ke rumah sakit milik keluarga saya."
Kana membulatkan matanya, Ia pun merasa heran, bagaimana bisa Addan tau jadwal cek kandungannya, padahal Kana tidak memberitahunya.
"Oh begitu..."Ucap Bi Sofi lalu melirik Kana yang duduk di sampingnya yang sedang menundukkan kepala dan meremas roknya sendiri, karena gugup.
"Bi...Bi Murni!!"Teriak Addan, lalu berdiri dari duduknya.
"Iya, iya Tuan..."Saut Bi Murni sambil berlari dari dapur ke ruang tamu, tempat Addan berada.
"Tolong Bibi buatkan Bu Sofi minuman dan bawa makanan ringan kesini, untuk di nikmati Bu Sofi."Perintah Addan.
"Iya Tuan, saya sedang membikinnya Tuan."
"Ok. Apa Nyonya sudah makan siang?"Tanya Addan agak lambat agar Kana tidak mendengarnya.
"Sudah Tuan muda. Tapi setelah makan, Nyonya muda sering mual-mual Tuan."
Mendengar tuturan dari Bi Murni, Addan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu berkata
"Panggil dokter Sammy kemari!"perintah Addan lagi.
"Baik Tuan muda."
"Yasudah, Bibi kembalilah ke dapur."
Bu Sofi dan Kana hanya memandang keduanya, Kana tidak mendengar ucapan Addan kepada Bi Murni, tapi Bu Sofi masih bisa mendengarnya.
"Bu, saya permisi ke atas dulu ya Bu."Pamit Addan pada Bu Sofi.
Addan tak lupa pula melihat ke arah Kana, akan tetapi ketika Kana menyadiri ia tengah di tatap oleh Addan, ia langsung mengalihkan pandangannya. Dan Addan hanya bisa menghela napas panjang, ketika Kana mengacuhkannya.
__ADS_1
"Oh, baik Nak Addan, silahkan!"Saut Bu Sofi dan tersenyum.
Setelah Addan pergi, Bu Sofi memandang Kana yang ada di sampingnya.
"Apa kamu sengaja menghindari suamimu, Nak?"
"Hmmm...itu Ibu....Aku.."Kana yang gugup sehingga ia merasa sulit untuk menjawab pertanyaan dari Bu Sofi.
"Hufhhhh (menghela nafas), Kamu belum bisa menerima dan memafkannya?" Tanya Bu Sofi dengan pelan sambil menggenggam kedua tangan Kana.
"Ibu..Aku sangat benci padanya, dia telah menghancurkan masa depanku."Ucap Kana dengan suara yang agak parau karena menahan rasa sesak di dada.
"Nak! Ibu tau bagaimana perasaanmu. Tapi kita tidak boleh larut dalam kebencian, mungkin kalian sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa untuk hidup bersama dan berdampingan. Kita tidak akan bisa menentang kehendak Tuhan Nak!"Ucap Bi Sofi menasehati.
Kana menundukkan kepalanya dan meneteskan air mata.
"Ibu, Kana takut sekali untuk jatuh cinta lagi. Kana tak ingin di kecewakan dan di khianati lagi."
"Kana...Ibu juga pernah mengalaminya, tapi sekarang ibu menyesalinya. Menyesal karena tidak memafkannya, menyesal karena tidak mendengarkan penjelasannya, menyesal karena pergi begitu saja meninggalkannya. Dan semua yang ibu sesali itu tidak ada artinya, karena kata menyesal tidak akan membalikkan keadaan seperti semula." Ucap Bu Sofi sedih karena mengingat masa lalunya yang kelam.
"Tapi aku sudah 3 kali di kecewakan Bu...Aku takut akan di kecewakan lagi."
"Ibu percaya, kali ini kamu pasti tidak akan kecewa lagi. Kamu pasti bahagia, ibu melihat tatapan cinta yang tulus dari suamimu. Pasti selama pernikahan kalian ini, ia selalu perhatian padamu kan?"
"I..iya Bu."Ucap Kana.
Ibu Sofi tersenyum lembut.
"Kamu beruntung memiliki suami seperti dirinya karena dia pria yang baik dan bertanggungjawab, meski caranya mendapatkanmu salah. Tapi apa salahnya memaafkan, dan mencoba menerimanya di kehidupanmu. Toh kalian sebentar lagi akan jadi orang tua."
Kana hanya diam dan menundukkan kepalanya, sambil meremaskan roknya.
"Satu hal yang harus kamu ingat Nak, jangan ingat keburukan yang dilakukan suamimu, tapi ingat juga kebaikan-kebaikan yang telah ia lakukan kepadamu Nak. Pernikahan bukanlah permainan, jadi belajarlah untuk memaafkan dan mencintai suamimu dari sekarang."
Mendengar ucapan Bu Sofi Kana segera mengangkat kepalanya, lalu menatap kedua bola mata Bu Sofi.
"Ibu....apa aku akan bahagia nantinya?"
"Ibu juga tidak tau Nak. Tapi entah kenapa melihat suamimu, Ibu merasa yakin bahwa ia bisa membahagiakanmu."
"Baiklah Ibu, aku mencobanya."Ucap Kana dengan nada pelan.
Ibu Sofi tersenyum lalu mengusap kepala Kana dengan sayang.
"Satu hal lagi yang harus kamu ingat! Hormati suami, meskipun dia lebih muda darimu. Karena yang namanya kita sebagai istri harus tetap menghargai dan menghormati suami, sebagaimana kodrat yang telah di tetapkan, bahwa suami adalah kepala rumah tangga."Nasehat Ibu Sofi lagi.
"Iya Bu, Kana mengerti. Terimakasih Bu."Ucap Kana dan tersenyum lalu memeluk erat Ibu Sofi.
"Iya Sayang....sama-sama."Ucap Ibu Sofi sambil membalas pelukan Kana.
__ADS_1
Bersambung...