
Happy Reading! đ
_
Sambil mengemasi beberapa helai pakaiannya dan sang suami, Kana masih saja bergelut dengan pikirannya.
Berbagai pertanyaan sudah ia siapkan untuk sang suami, kenapa suaminya itu tiba-tiba memintanya mengemasi pakaian dan barang-barang penting lainnya? ada apa sebenarnya?, pikirnya.
Namun tampaknya Addan sengaja menghindar, setiap ia membahas alasan kepindahan mereka itu.
Sebelum diminta berkemas, Addan sempat mengatakan bahwa mereka akan pindah ke Vila keluarga Nicolas yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman Nicolas.
Ceklek!
Mendengar suara pintu kamar terbuka, Kana sontak menoleh kepintu. Sejenak ia menghentikan kegiatan memasukkan pakaian kedalam koper.
âSudah?âtanya Addan, seraya menghampiri sang istri.
Kana hanya tersenyum membalas pertanyaan sang suami, kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi.
Addan duduk disisi kiri Kana, ia juga ikut membantu Kana memasukkan beberapa pakaian kedalam koper.
âDek. Ngak usah banyak-banyak bawa pakaiannya, cukup lima lembar saja. Nanti kita beli lagi baju yang baru,âucap Addan sambil menatap wajah cantik istrinya.
Ya Tuhan...Kenapa istriku tetap cantik dan mempesona, walaupun keadaannya belum mandi dan masih acak-acakan sehabis bangun tidur?, batin Addan mengagumi ciptaan Tuhan yang bak bidadari disampingnya itu.
âAku ngak mau ninggalin baju yang lainnya, Mas. Semuanya aku suka. Satu aja ngak ada dilemari aku gelisah,"balas Kana tanpa menatap lawan bicaranya.
Addan menghela nafas, tangannya mengusap gemas rambut sang istri.
âBaiklah, terserah kamu saja.â
Tatapan Kana teralihkan kearah baju yang dipakai oleh Addan saat ini, yang ternyata kusut dan sudah bemandi keringat. Ia pun menahan tangan suaminya itu, mencegahnya membantu dirinya berkemas.
âMasâŠbiar aku saja. Kamu lebih baik mandi dulu gih!â ujarnya lembut, dan tersenyum manis.
Kana tau kalau Addan pasti lelah, iapun mengerti suaminya itu pasti banyak pikiran. Dan bukan hanya menyita pikiran dan perasaan, tapi masalah itu juga membuat tubuh Addan lelah.
âSehabis ini, Mas akan mandi,âbalas Addan. Tangannya terus sibuk memilah dan memilih pakaian kantornya yang akan dibawa.
âNgak Mas! Kamu lebih baik mandi sekarang,âpaksanya.
âLoh kok kamu maksa sayang?â
Kana tersipu. Setiap kata âsayangâ yang dilontarkan oleh Addan, membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ia merapatkan bibirnya, menahan senyumannya.
âKamu bau Mas.âujar Kana sambil menutupi hidungnya dan mengibas-ngibas kan sebelah tangannya kehadapan sang suami.
âHa?! Masa?âkagetnya dan refleks mencium keteknya sendiri yang basah.
Kana cekikikan melihat tingkah konyol ayah dari anaknya itu. Addan yang melihat tawa lepas sang istri, mengulum senyum. Sungguh pemandangan yang sangat indah, pelepas rasa lelah.
âNgak bau-bau amat kok YangâŠKamu responnya berlebihan..âujarnya dan cemberut.
Addan yang terus didesak oleh sang istri, akhirnya memutuskan pergi membersihkan badan. Memang sedari tadi tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman. Hanya saja ia tidak tega membiarkan istrinya berkemas seorang diri, oleh sebab itu ia bersikukuh membantu sang istri.
Selesai mandi, Addan mencari-cari keberadan Kana seraya memanggil namanya. Namun, yang dicari ternyata sudah pergi meninggalkan kamar. Addan melirik sebuah koper besar yang tergeletak diatas ranjang.
__ADS_1
âPasti banyak sekali pakaian yang ada dikoper itu. Hufffhhh...Kana...Kana....âucap Addan berdialog sendiri sambil terkekeh pelan.
......................
Feni yang pada saat itu sedang membersihkan lukisan di dinding dengan kemoceng, tiba-tiba dikagetkan oleh Kana yang sedang menuruni anak tangga sambil menjinjing koper kecil.
Mau pergi kemana dia? Jangan- janganâŠtidak-tidak!, batin Feni.
Ia sudah mulai gelisah, bagaimana kalau Kana dan Addan pindah keluar kota atau keluarga negeri. Bisa-bisa ia tak memiliki kesempatan lagi menuntaskan misi.
Feni meletakkan kemoceng ditangannya ke atas nakas, kemudian bergegas menghampiri Kana.
âNyonya, Anda mau pergi kemana? Kok seperti orang mau pindah saja. Atau... Anda dan Tuan mau pergi kemping?âtanyanya. Dan sebelum melontarkan pertanyaan itu ia membungkuk hormat terlebih dahulu.
âMmâŠsaya bersama suami saya berencana pindah ke Vila, Mbakâjawab Kana dan tersenyum.
âLoh! Kok mendadak Nyonya?âkagetnya.
âSaya ngak tau juga Mbak. Mas Addan tiba-tiba ngajak saya pindah ke Vilanya. Saya sebagai seorang istri tentu akan ikut kemanapun dia pergi.â
âSaya ikut ya Nyah?âharap Feni.
âHm?__Kalau saya sih, mau saja Mbak ikut. Tapi... coba saya tanya dulu ke suami saya, ya?â
âKamu, disini saja Feni. Jumlah pembantu di Vila saya sudah banyak, jadi tidak membutuhkanmu disana,âsela Addan. Ditangannya terdapat sebuah koper berukuran besar, yang berisi pakaiannya dan Kana.
âTapi Tuan. Saya sudah berjanji bahwa saya akan mengikuti kemanapun Nyonya pergi, saya pun sudah berjanji kepada diri saya sendiri, akan selalu melindungi Nyonya, dimanapun beliau berada.â
âlagipula saya tidak ada teman disini, saya dikucilkan.âtambahnya. Raut wajahnya pun dibuat sesedih mungkin.
Namun, Addan hanya menunjukkan reaksi biasa saja. Ia tidak perlu ada orang lain seperti Feni melindungi istrinya, sebab ia sendiri bisa melindungi istrinya, ditambah lagi ia juga memiliki banyak bodyguard yang melindungi istrinya disaat ia tidak ada.
Kana yang mendengar penuturan Feni merasa terharu. Setelah keberangkatan Lani ke Negeri Sakura, Jepang. Hanya Feni lah yang menjadi teman obrolannya ketika dirumah. Sedangkan Nenek Suci dan Belinda, kerap kali memusuhinya, disaat Addan sibuk diruang kerjanya.
âMasâŠMbak Feni ikut kita ya Mas?âpinta Kana.
âBiarkan saja dia disini, di Vila kita sudah banyak pelayan dan pembantu, sayang...âucap Addan.
Sejujurnya Addan tidak suka istrinya berdekatan dengan Feni, karena setiap melihat Feni ada saja rasa curiga dan cemas menghinggapi dirinya. Ditambah lagi perkataan Hobby beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa Feni seperti memiliki niat tersembunyi terhadap keluarganya.
âTapi Mas. Aku ingin Mbak Feni ikut. Mbak Feni akan jadi teman mengobrolku disana, disaat kamu bekerja.âkekehnya.
âPelayan dan pembantu yang ada disana, kan bisa kamu ajak bicara. Kenapa harus dengannya.â
Kana terdiam, ia tidak tau lagi cara membujuk suaminya itu. Wajahnya pun berubah sedih. Selama ini, Addan selalu menuruti keinginannya. Tapi mengapa yang satu ini ia tidak mau, padahal itu tidak sulit.
Addan yang melihat raut sedih sang istri, merasa tidak tega. Setelah lumayan lama bergelut dengan pikirannya, akhirnya Addan memenuhi permintaan sang istri tercinta.
âCepat bereskan barang-barangmu,âperintah Addan mengarah pada Feni, dan diangguki semangat olehnya.
"Baik, terimakasih Tuan..."
Feni pun langsung lekas pergi ke kamarnya, mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Kana yang mendengar ucapan Addan, sangat senang.âTerimakasih ya Mas?!â
Addan membalas ucapan sang istri dengan senyuman tipis sambil mengusap sayang kepalanya.
__ADS_1
âHekhem!"Deheman seseorang mengejutkan keduanya, mereka pun spontan menoleh ke sumber suara, yang ternyata adalah Kakek Vino.
"Sudah mau pergi saja, tidak sarapan dulu kalian?âtanya Kakek Vino yang tiba-tiba muncul dari arah pintu yang mengarah ke taman belakang, bersama Nenek Suci yang memapahnya.
âKami nanti sarapannya direstoran saja, sebelum ke Vila. Kakek sudah diperiksa oleh Sammy?â
âSudah, pagi-pagi buta anak itu sudah mengecek kesehatan Kakek.â
âKapan kakek akan menjalani transplantasi ginjal?âtanya Addan.
âLusa kakek akan menjalani operasi.âjawab Kakek Vino dan diangguki oleh Addan.
Kakek Vino menderita penyakit gagal ginjal kronis, dan sudah empat hari beliau menjalani pemeriksaan rutin dikamarnya. Makanya, beliau tidak mengetahui sama sekali kejadian yang terjadi selama dua hari ini, dan juga alasan kepindahan Kana dan Addan. Yang ia dengar dari istrinya, kalau alasan pasangan suami istri muda itu pindah karena ingin mencari suasana tenang dan sejuk, dan tinggal di Vila adalah pilihan yang tepat.
âBaiklah Kek. Kalau begitu kami pamit dulu.âucap Addan.
Kana melangkah, menghampiri Kakek Vino dan Nenek Suci. âNenek, Kakek. Kana pergi dulu ya, jaga selalu kesehatan kalian, âpamitnya sambil menyalami tangan pasangan suami istri yang berusia lebih dari setengah abad itu, bergantian.
âIya..hati-hati ya Nak. Jaga selalu kesehatan dan bayimu. InsyaAllah setelah Kakek berhasil menjalani operasi. Kami akan mengunjungi kalian di Vila,âucap Kakek Vino seraya tangannya mengusap lembut kepala cucu mantunya itu.
Sementara Nenek Suci acuh tak acuh, ia tampak tidak peduli sama sekali dengan Kana. Bahkan ia mengalihkan pandangannya ketika sempat bersitatap dengan Kana.
âIya.. Kakek. Sekali-sekali Kana juga akan pulang kesini, melihat kondisi Kakek dan Nenek..â
âTidak perlu! Justru saya menantikan kamu pergi dari sini, ngapain lagi kamu balik?âucap Nenek Suci ketus. Ia tidak perduli sama sekali dengan tatapan sedih Kana, karena ia memang masih tidak menyukai Kana.
âSuci! Jaga bicaramu,âtegur Kakek Vino.
Nenek Suci tidak menghiraukan teguran suaminya, dan langsung melangkah pergi. Kakek Vino yang melihat sikap istrinya, hanya bisa bersabar. Dan berharap istrinya itu suatu saat akan berubah, menrima kehadiran Kana.
"Hufhh...maafkan Nenekmu ya Nak?"ucap Kakek Vino pada Kana, dengan perasaan bersalah.
"Tidak apa-apa Kek..."balas Kana dan tersenyum. Ia maklum Nenek Suci membenci dirinya, sebab ia bukanlah kriteria menantu idamannya.
Didalam kamarnya Nenek Suci termenung, mengingat kejadian kemaren malam.
~~
Flasback
Malam harinya, saat Nenek Suci yang hendak pergi kedapur untuk minum. Ia melintasi kamar Belinda yang ternyata lampu kamarnya yang masih menyala.
"Apa yang dilakukannya ditengah malam begini?"gumamnya.
Karena penasaran. Nenek Suci melangkah mendekat kepintu kamar Belinda, dan melihat kegiatan Belinda dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dari sana ia melihat Belinda yang tengah melakukan panggilan dengan seseorang.
Dengan seksama ia mendengar setiap obrolan Belinda.
Nenek Suci diam terpaku, matanya terbelalak lebar, mulutnya pun sedikit menganga. Ketika dirinya mendengar isi percakapan Belinda yang mengarah kepada Kana.
"Astagah...Belinda berencana membunuhnya dan bayinya. Ini tidak bisa dibiarkan,"geram Nenek Suci.
Ternyata selama ini ia salah menilai Belinda, ia pikir Belinda adalah sosok gadis yang lembut dan baik. Tetapi ternyata, wanita yang sangat jahat.
"Aku harus mengatakannya kepada Addan."
Bersambung...
__ADS_1