You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Pindah


__ADS_3

Happy Reading! 😁


_


Sambil mengemasi beberapa helai pakaiannya dan sang suami, Kana masih saja bergelut dengan pikirannya.


Berbagai pertanyaan sudah ia siapkan untuk sang suami, kenapa suaminya itu tiba-tiba memintanya mengemasi pakaian dan barang-barang penting lainnya? ada apa sebenarnya?, pikirnya.


Namun tampaknya Addan sengaja menghindar, setiap ia membahas alasan kepindahan mereka itu.


Sebelum diminta berkemas, Addan sempat mengatakan bahwa mereka akan pindah ke Vila keluarga Nicolas yang jaraknya lumayan jauh dari kediaman Nicolas.


Ceklek!


Mendengar suara pintu kamar terbuka, Kana sontak menoleh kepintu. Sejenak ia menghentikan kegiatan memasukkan pakaian kedalam koper.


“Sudah?”tanya Addan, seraya menghampiri sang istri.


Kana hanya tersenyum membalas pertanyaan sang suami, kemudian melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi.


Addan duduk disisi kiri Kana, ia juga ikut membantu Kana memasukkan beberapa pakaian kedalam koper.


“Dek. Ngak usah banyak-banyak bawa pakaiannya, cukup lima lembar saja. Nanti kita beli lagi baju yang baru,”ucap Addan sambil menatap wajah cantik istrinya.


Ya Tuhan...Kenapa istriku tetap cantik dan mempesona, walaupun keadaannya belum mandi dan masih acak-acakan sehabis bangun tidur?, batin Addan mengagumi ciptaan Tuhan yang bak bidadari disampingnya itu.


“Aku ngak mau ninggalin baju yang lainnya, Mas. Semuanya aku suka. Satu aja ngak ada dilemari aku gelisah,"balas Kana tanpa menatap lawan bicaranya.


Addan menghela nafas, tangannya mengusap gemas rambut sang istri.


“Baiklah, terserah kamu saja.”


Tatapan Kana teralihkan kearah baju yang dipakai oleh Addan saat ini, yang ternyata kusut dan sudah bemandi keringat. Ia pun menahan tangan suaminya itu, mencegahnya membantu dirinya berkemas.


”Mas
biar aku saja. Kamu lebih baik mandi dulu gih!” ujarnya lembut, dan tersenyum manis.


Kana tau kalau Addan pasti lelah, iapun mengerti suaminya itu pasti banyak pikiran. Dan bukan hanya menyita pikiran dan perasaan, tapi masalah itu juga membuat tubuh Addan lelah.


“Sehabis ini, Mas akan mandi,”balas Addan. Tangannya terus sibuk memilah dan memilih pakaian kantornya yang akan dibawa.


“Ngak Mas! Kamu lebih baik mandi sekarang,”paksanya.


“Loh kok kamu maksa sayang?”


Kana tersipu. Setiap kata ’sayang’ yang dilontarkan oleh Addan, membuat jantungnya berdetak tak karuan. Ia merapatkan bibirnya, menahan senyumannya.


“Kamu bau Mas.”ujar Kana sambil menutupi hidungnya dan mengibas-ngibas kan sebelah tangannya kehadapan sang suami.


“Ha?! Masa?”kagetnya dan refleks mencium keteknya sendiri yang basah.


Kana cekikikan melihat tingkah konyol ayah dari anaknya itu. Addan yang melihat tawa lepas sang istri, mengulum senyum. Sungguh pemandangan yang sangat indah, pelepas rasa lelah.


“Ngak bau-bau amat kok Yang
Kamu responnya berlebihan..”ujarnya dan cemberut.


Addan yang terus didesak oleh sang istri, akhirnya memutuskan pergi membersihkan badan. Memang sedari tadi tubuhnya terasa lengket dan tidak nyaman. Hanya saja ia tidak tega membiarkan istrinya berkemas seorang diri, oleh sebab itu ia bersikukuh membantu sang istri.


Selesai mandi, Addan mencari-cari keberadan Kana seraya memanggil namanya. Namun, yang dicari ternyata sudah pergi meninggalkan kamar. Addan melirik sebuah koper besar yang tergeletak diatas ranjang.

__ADS_1


“Pasti banyak sekali pakaian yang ada dikoper itu. Hufffhhh...Kana...Kana....”ucap Addan berdialog sendiri sambil terkekeh pelan.


......................


Feni yang pada saat itu sedang membersihkan lukisan di dinding dengan kemoceng, tiba-tiba dikagetkan oleh Kana yang sedang menuruni anak tangga sambil menjinjing koper kecil.


Mau pergi kemana dia? Jangan- jangan
tidak-tidak!, batin Feni.


Ia sudah mulai gelisah, bagaimana kalau Kana dan Addan pindah keluar kota atau keluarga negeri. Bisa-bisa ia tak memiliki kesempatan lagi menuntaskan misi.


Feni meletakkan kemoceng ditangannya ke atas nakas, kemudian bergegas menghampiri Kana.


“Nyonya, Anda mau pergi kemana? Kok seperti orang mau pindah saja. Atau... Anda dan Tuan mau pergi kemping?”tanyanya. Dan sebelum melontarkan pertanyaan itu ia membungkuk hormat terlebih dahulu.


“Mm
saya bersama suami saya berencana pindah ke Vila, Mbak”jawab Kana dan tersenyum.


“Loh! Kok mendadak Nyonya?”kagetnya.


“Saya ngak tau juga Mbak. Mas Addan tiba-tiba ngajak saya pindah ke Vilanya. Saya sebagai seorang istri tentu akan ikut kemanapun dia pergi.”


“Saya ikut ya Nyah?”harap Feni.


“Hm?__Kalau saya sih, mau saja Mbak ikut. Tapi... coba saya tanya dulu ke suami saya, ya?”


“Kamu, disini saja Feni. Jumlah pembantu di Vila saya sudah banyak, jadi tidak membutuhkanmu disana,”sela Addan. Ditangannya terdapat sebuah koper berukuran besar, yang berisi pakaiannya dan Kana.


“Tapi Tuan. Saya sudah berjanji bahwa saya akan mengikuti kemanapun Nyonya pergi, saya pun sudah berjanji kepada diri saya sendiri, akan selalu melindungi Nyonya, dimanapun beliau berada.”


“lagipula saya tidak ada teman disini, saya dikucilkan.”tambahnya. Raut wajahnya pun dibuat sesedih mungkin.


Namun, Addan hanya menunjukkan reaksi biasa saja. Ia tidak perlu ada orang lain seperti Feni melindungi istrinya, sebab ia sendiri bisa melindungi istrinya, ditambah lagi ia juga memiliki banyak bodyguard yang melindungi istrinya disaat ia tidak ada.


Kana yang mendengar penuturan Feni merasa terharu. Setelah keberangkatan Lani ke Negeri Sakura, Jepang. Hanya Feni lah yang menjadi teman obrolannya ketika dirumah. Sedangkan Nenek Suci dan Belinda, kerap kali memusuhinya, disaat Addan sibuk diruang kerjanya.


“Mas
Mbak Feni ikut kita ya Mas?”pinta Kana.


“Biarkan saja dia disini, di Vila kita sudah banyak pelayan dan pembantu, sayang...”ucap Addan.


Sejujurnya Addan tidak suka istrinya berdekatan dengan Feni, karena setiap melihat Feni ada saja rasa curiga dan cemas menghinggapi dirinya. Ditambah lagi perkataan Hobby beberapa hari lalu yang mengatakan bahwa Feni seperti memiliki niat tersembunyi terhadap keluarganya.


“Tapi Mas. Aku ingin Mbak Feni ikut. Mbak Feni akan jadi teman mengobrolku disana, disaat kamu bekerja.”kekehnya.


“Pelayan dan pembantu yang ada disana, kan bisa kamu ajak bicara. Kenapa harus dengannya.”


Kana terdiam, ia tidak tau lagi cara membujuk suaminya itu. Wajahnya pun berubah sedih. Selama ini, Addan selalu menuruti keinginannya. Tapi mengapa yang satu ini ia tidak mau, padahal itu tidak sulit.


Addan yang melihat raut sedih sang istri, merasa tidak tega. Setelah lumayan lama bergelut dengan pikirannya, akhirnya Addan memenuhi permintaan sang istri tercinta.


”Cepat bereskan barang-barangmu,”perintah Addan mengarah pada Feni, dan diangguki semangat olehnya.


"Baik, terimakasih Tuan..."


Feni pun langsung lekas pergi ke kamarnya, mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.


Kana yang mendengar ucapan Addan, sangat senang.”Terimakasih ya Mas?!”


Addan membalas ucapan sang istri dengan senyuman tipis sambil mengusap sayang kepalanya.

__ADS_1


“Hekhem!"Deheman seseorang mengejutkan keduanya, mereka pun spontan menoleh ke sumber suara, yang ternyata adalah Kakek Vino.


"Sudah mau pergi saja, tidak sarapan dulu kalian?”tanya Kakek Vino yang tiba-tiba muncul dari arah pintu yang mengarah ke taman belakang, bersama Nenek Suci yang memapahnya.


“Kami nanti sarapannya direstoran saja, sebelum ke Vila. Kakek sudah diperiksa oleh Sammy?”


“Sudah, pagi-pagi buta anak itu sudah mengecek kesehatan Kakek.”


“Kapan kakek akan menjalani transplantasi ginjal?”tanya Addan.


“Lusa kakek akan menjalani operasi.”jawab Kakek Vino dan diangguki oleh Addan.


Kakek Vino menderita penyakit gagal ginjal kronis, dan sudah empat hari beliau menjalani pemeriksaan rutin dikamarnya. Makanya, beliau tidak mengetahui sama sekali kejadian yang terjadi selama dua hari ini, dan juga alasan kepindahan Kana dan Addan. Yang ia dengar dari istrinya, kalau alasan pasangan suami istri muda itu pindah karena ingin mencari suasana tenang dan sejuk, dan tinggal di Vila adalah pilihan yang tepat.


“Baiklah Kek. Kalau begitu kami pamit dulu.”ucap Addan.


Kana melangkah, menghampiri Kakek Vino dan Nenek Suci. “Nenek, Kakek. Kana pergi dulu ya, jaga selalu kesehatan kalian, ”pamitnya sambil menyalami tangan pasangan suami istri yang berusia lebih dari setengah abad itu, bergantian.


“Iya..hati-hati ya Nak. Jaga selalu kesehatan dan bayimu. InsyaAllah setelah Kakek berhasil menjalani operasi. Kami akan mengunjungi kalian di Vila,”ucap Kakek Vino seraya tangannya mengusap lembut kepala cucu mantunya itu.


Sementara Nenek Suci acuh tak acuh, ia tampak tidak peduli sama sekali dengan Kana. Bahkan ia mengalihkan pandangannya ketika sempat bersitatap dengan Kana.


“Iya.. Kakek. Sekali-sekali Kana juga akan pulang kesini, melihat kondisi Kakek dan Nenek..”


“Tidak perlu! Justru saya menantikan kamu pergi dari sini, ngapain lagi kamu balik?”ucap Nenek Suci ketus. Ia tidak perduli sama sekali dengan tatapan sedih Kana, karena ia memang masih tidak menyukai Kana.


“Suci! Jaga bicaramu,”tegur Kakek Vino.


Nenek Suci tidak menghiraukan teguran suaminya, dan langsung melangkah pergi. Kakek Vino yang melihat sikap istrinya, hanya bisa bersabar. Dan berharap istrinya itu suatu saat akan berubah, menrima kehadiran Kana.


"Hufhh...maafkan Nenekmu ya Nak?"ucap Kakek Vino pada Kana, dengan perasaan bersalah.


"Tidak apa-apa Kek..."balas Kana dan tersenyum. Ia maklum Nenek Suci membenci dirinya, sebab ia bukanlah kriteria menantu idamannya.


Didalam kamarnya Nenek Suci termenung, mengingat kejadian kemaren malam.


~~


Flasback


Malam harinya, saat Nenek Suci yang hendak pergi kedapur untuk minum. Ia melintasi kamar Belinda yang ternyata lampu kamarnya yang masih menyala.


"Apa yang dilakukannya ditengah malam begini?"gumamnya.


Karena penasaran. Nenek Suci melangkah mendekat kepintu kamar Belinda, dan melihat kegiatan Belinda dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dari sana ia melihat Belinda yang tengah melakukan panggilan dengan seseorang.


Dengan seksama ia mendengar setiap obrolan Belinda.


Nenek Suci diam terpaku, matanya terbelalak lebar, mulutnya pun sedikit menganga. Ketika dirinya mendengar isi percakapan Belinda yang mengarah kepada Kana.


"Astagah...Belinda berencana membunuhnya dan bayinya. Ini tidak bisa dibiarkan,"geram Nenek Suci.


Ternyata selama ini ia salah menilai Belinda, ia pikir Belinda adalah sosok gadis yang lembut dan baik. Tetapi ternyata, wanita yang sangat jahat.


"Aku harus mengatakannya kepada Addan."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2