You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Tragedi


__ADS_3

Mendengar nada bicara Addan yang sedikit ramah, hati Soka sedikit tergelitik. Atasannya itu hampir terbilang tidak pernah bersikap ramah pada orang lain, kecuali terhadap rekan bisnisnya. Biasanya nada bicara Addan terkesan dingin dan sombong, namun kini kejadian langka Soka saksikan.


Soka menyunggingkan sedikit senyuman, ia menyadari perubahan besar pada diri Addan semenjak pria itu menikahi Kana. Addan sangat beruntung, ia begitu tepat memilih pendamping hidup, pikirnya.


Sebelum bapak penjual koran itu pergi, Addan memborong semua korannya. Melihat perjuangan seorang pria lanjut usia mengais rejeki, membuat hati Addan tergerak untuk membantu meringankan beban perekonomiannya.


Kejutan apalagi ini?, ucap Soka dalam hati. Ia menatap takjub sekaligus tak percaya pada nominal uang yang dikeluarkan Addan dari dompetnya untuk diserahkan ketangan si pedagang koran.


“Tapi Nak, uang ini kebanyakan…”Ucap Bapak penjual koran itu sungkan sambil menyodorkan kembali uang yang diberikan Addan tadi.


“Terima saja Pak, anggap itu sebagai tanda terimakasih saya atas informasi Bapak tadi.”


“Tapi saya_”


“Terima ya Pak? Saya ikhlas…Jangan merasa terbebani.”Sela Addan sedikit memaksa sambil memasang tampang sedikit garang. Ia tidak akan senang apabila ada orang yang menolak kebaikannya.


Bapak itupun pasrah setelah didesak. “Baiklah, terimakasih banyak Nak, semoga Allah SWT membalas kebaikanmu, Nak.”


“Amiinn…terimakasih atas do’anya Pak.”


Akhirnya setelah 15 menit kemudian, arus jalan raya kembali lancar. Soka pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi atas perintah Addan yang sudah tak sabar untuk sampai di Vilanya.


...****************...


"Tidak, tidak bisa menunggu besok. Aku tidak ingin Ibuku keburu mati karena kelaparan. Harus kutuntaskan hari ini....harus."Feni berdialog sendiri sambil mondar-mandir dikamarnya. Ia pun mulai menggigit-gigit kecil kuku jempol tangannya.


“Eh, pergi kemana wanita itu? tadi dia sedang menyirami bunga kan…”Feni baru menyadari bahwa Kana sudah tidak lagi berada ditaman bunga. Sekarang yang ada hanya beberapa bodyguard yang sedang berpatroli.


“Pasti dia sudah kembali kekamarnya. Hmm…sekarang sudah waktunya makan siang ya, hehehe…saatnya beraksi.”Tambahnya disertai kekehan.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Feni menyiapkan makanan, karena ia hanya butuh delivery saja tanpa perlu menguras tenaga berkutat dengan alat-alat dapur untuk memasak makan siang.


“Nyonya…saatnya makan siang…”Panggil Feni seraya mengetuk-ngetuk pintu kamar Kana.


“Iya Mbak…sebentar lagi saya akan nyusul kebawah.”Sahut Kana dari dalam kamar.


“Baik Nyonya…”


Feni tersenyum licik, "jangan salahkan aku. Salahkan saja dirimu karena telah menjadi istrinya Addan."


Wanita itu kembali kedapur. Matanya menulusuri area dapur secara teliti, hingga matanya itu tertuju pada sekantong minyak goreng. Dengan cepat Feni langsung mengambil minyak goreng tersebut, lalu bergegas pergi kearea tangga dengan tergesa-gesa.


“Ah tidak perlu menunggu dia makan dulu, mending habisi saja dia sekarang. Kalau disinetron-sinetron, rencana ini selalu berhasil. Kecuali orang yang dicelakai terlampau pintar.”


Feni yang sudah berada diurutan tangga ketiga dari atas, tanpa pikir panjang menumpahkan setengah minyak goreng disana.


Tentu sebelum melancarkan aksinya itu, Feni mengecek sekitar dan memperhatikan sudut ruangan apabila terdapat CCTV. Beruntungnya, Addan belum sempat memasang alat CCTV di Vila, jadi ia tidak perlu takut akan kepergok atau ketahuan.

__ADS_1


"Anak tangganya banyak, mungkin bukan anaknya saja yang mati, iapun justru juga ikut mati. Ah...terserahlah yang penting Ibuku tidak mati kelaparan.”


Feni tidak memusingkan apa yang akan terjadi pada Kana. Malah lebih bagus kalau Kana ikut mati, sehingga dirinya bisa menggantikan posisi Kana sebagai Nyonya Nicolas, pikirnya.


Setelah menumpahkan minyak goreng pada anak tangga, Feni bergegas menjauh dan bersembunyi.


Tak lama berselang waktu, Kana keluar dari kamarnya dan berjalan menuju tangga sembari mengusap perut buncitnya sesekali.


Dari celah pintu kamar tamu, Feni hanya memperhatikan Kana sambil berharap rencananya itu membuahkan hasil.


Ketika diurutan anak tangga yang ketiga. Kana terpeleset.


“Aaaahhh…!!”Pekik Kana.


Beruntungnya Kana sempat berpegang kuat pada railing tangga sehingga dirinya tetap seimbang dan tercegah jatuh dari tangga. “Huffhh hampir saja…”ujarnya bernafas lega.


Melihat kejadian itu Feni dibuat geram, iapun tak tinggal diam dan segera ia hampiri Kana yang sedang membelakanginya.


Jangan senang dulu, rasakan ini


Sepasang tangan Feni mendorong kuat punggung Kana sehingga tangannya terlepas dari railing tangga.


"KYAAA!!"Pekik Kana histeris, dirinya tak bisa mengimbagi diri.


Kana pun jatuh terguling-guling, dan berakhir pada urutan anak tangga yang terakhir. Perutnya yang buncit berkali-kali bertabrakan dengan ujung siku anak tangga, begitu pula dengan kepalanya.


“Mbak Feni! Mbak Feni tolong…!!” Teriaknya memanggil Feni berkali-kali. Namun yang dipanggil tak kunjung menampakkkan batang hidungnya.


Sementara Feni yang sebagai tersangka langsung kabur, melalui jendela dikamar tamu menggunakan seutas tali. Lalu ia pergi ketaman belakang dan berpura-pura mencabut rumput disana. Dengan begitu tidak akan ada yang mencurigai dirinya.


"Ahhh...a-anakku...."Kaget Kana dengan suara bergetar, mendapati selakangannya sudah dibanjiri darah.


Baginya tak ada yang lebih penting selain nyawa sang buah hati, sampai-sampai ia mengabaikan rasa sakit dan darah yang mengalir dari pelipisnya hingga mengenai matanya. Hanya satu saat ini yang ia pinta, tolong selamatkan anaknya.


Mendapati tak ada satupun orang yang datang, Kana pun memutuskan bergerak mengesot menuju pintu, meminta bantuan kepada siapapun yang ada diluar sana.


Sebelum dirinya mencapai pintu, mata Kana semakin buram dan keadaannya pun semakin lemah karena kehilangan banyak darah. Dan sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Kana sayup-sayup melihat tubuh mungil berlari kearahnya seraya menyerukan namanya.


"Tante, tante Kana bangun...."Alika menepuk-nepuk kecil pipi Kana agar ia sadarkan diri.


Melihat Kana yang benar-benar sudah tak sadarkan diri lagi, Alika gegas berlari keluar untuk meminta bantuan kepada para bodyguard yang berjaga didepan pintu.


"Paman-paman hiks hiks...Tante Kana jatuh dali tangga...hiks hiks. Tolong bantu bawa Tante Kana ke Lumah Sakit..."Ucap gadis kecil itu disertai isakan. Tangan mungilnya menarik-narik ujung baju salah satu bodyguard.


"Apa?! Nyonya…?”Seru mereka serempak dan bergegas masuk kedalam Vila.


“Astaga Nyonya…”

__ADS_1


Salah satu dari bodyguard itupun membopong tubuh Kana, lalu membawanya keluar untuk dilarikan kerumah sakit.


...****************...


Addan yang masih dalam perjalanan, tiba-tiba menerima panggilan dari salah satu bodyguard istrinya.


"Ya, ada apa?"


"...."


JEDERRR...!!!!


Wajah Addan berubah pucat pasi, handphone digenggamannya meluncur bebas begitu saja. Jantung Addan berdetak kencang bahkan sangat kencang setelah mendapat kabar kalau istrinya jatuh dari tangga. Tenggorokannya pun terasa tercekat, dan sulit bernafas.


Benar saja, apa yang dia takutkan selama ini benar-benar terjadi, walaupun kejadian yang menimpa sang istri tidak persis dengan kejadian yang ia alami didalam mimpi.


"Soka, putar balik. Kita kerumah sakit sekarang juga!"Desak Addan sedikit berteriak.


"Ada apa Bos?"


"Jangan banyak tanya. Cepat putar balik dan tancap gas kerumah sakit sekarang!"Bentaknya.


"Ba-baik Bos."


......................


Setibanya di Rumah Sakit, Kana langsung dibawa keruang IGD dan mendapat penanganan dari dokter Sammy dan tim medis.


Para perawat yang mengetahui bahwa istri dari pemilik Rumah Sakit mengalami kecelakaan, menyebarkan berita. Jadi tak ada satupun penghuni Rumah Sakit yang tidak mengetahui kabar kecelakaan yang Kana alami.


Tak berselang lama, Addan dan Soka tiba di Rumah Sakit. Dengan tergesa-gesa, Addan masuk tanpa menghiraukan sapaan beberapa tenaga medis yang menyapanya.


"Diruang mana istriku dirawat?"tanya Addan pada salah satu perawat yang berpapasan dengannya dilorong Rumah Sakit.


Sebelum menjawab pertanyaan Addan, perawat itu sempat membungkuk hormat.


"Tu-tuan. Nyonya Kana... masih dalam penanganan di IGD Tuan, tim medis juga sedang menunggu persetujuan dari Anda untuk melakukan tindak operasi karena Nyonya kehilangan banyak darah."


"Antarkan saya kesana!"


"Baik, mari ikuti saya Tuan."


Bersambung...


_


_

__ADS_1


~Maaf ya Readersku, lagi² author telat update.😓 InsyaAllah besok update lagi ya....doakan author agar selalu semangat melanjutkan ceritanya. Terimakasih...😊🙏


__ADS_2