You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L (6)


__ADS_3

Semenjak nasehat dari Bu Sofi, hubungan Kana dan Addan hampir membaik, Kana tidak lagi bersikap dingin dan acuh terhadap Addan. Tapi masih ada perasaan canggung dan takut yang Kana rasakan, karena tidaklah mudah baginya melupakan dan memaafkan pelecehan yang telah Addan lakukan terhadapnya.


Kana selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk Addan. Setiap pagi Kana datang ke kamar Addan untuk menyiapkan pakaian yang akan Addan kenakan saat bekerja.Tetapi, Kana masuk ke kamar Addan, ketika Addan masih tertidur dengan lelap, itu di lakukan agar ia tidak berinteraksi dan bertatapan dengan Addan.


“Hmmm…yang mana ya? Bagusnya untuk Addan pakai ke perusahaan.”Gumam Kana sambil memilah dan memilih setelan jas yang akan Addan pakai.


“Aku suka sekali warna pink, tapi tidak mungkinkan Addan memakai ini ke kantor. Bagaimana ya bentuknya, kalau pria garang pakai setelan jas warna pink. Pufhhhh…..ngak kebayang bagaimana reaksi karyawannya nanti.”Ucap Kana dan menahan tawa sambil membayangkan Addan memakai setelan jas warna pink yang ia pegang.


Addan yang sudah bangun hanya diam memandang Kana yang membelakanginya sambil tersenyum karena gumaman Kana yang ia dengar.


Addan melihat dan merasakan perubahan Kana, merasa senang meski Kana masih takut dan canggung kepadanya,namun baginya itu tidaklah terlalu penting, yang penting Kana sudah tidak mengacuhkannya lagi.


“Yap! Jas dan celana hitam seperti biasanya saja, karena itu cocok dengan karakternya. Lalu kemejanya…. bewarna abu-abu dan dasinya... bewarna hitam sajalah, Hmmm…yang ini! Dasinya bewarna hitam yang ada sedikit coraknya.”Gumam Kana dengan semangat.


Kana dengan asiknya berceloteh sendiri tanpa menyadari ada sepasang mata yang kini tengah memandangnya dengan gemas.


Setelah dirasa pas dengan pilihannya, Kana membalikkan badannya sambil tersenyum puas akan jas pilihannya.


Betapa terkejutnya Kana ketika melihat addan yang sudah bangun, dan kini memandangnya diselingi sebuah untaian senyuman yang manis.


“Eh! Kamu udah bangun. Oh ini pakaian yang akan kamu kenakan nanti.”Ucap Kana pelan, lalu meletakkan pakaian itu di samping Addan.


Addan hanya memandang wajah cantik Kana, dan membalas perkataan Kana dengan senyuman.


Kana yang di pandang Addan seperti itu, menjadi salah tingkah. Ia berusaha mengalihkan matanya agar tidak menatap Addan yang berada di hadapannya itu.


“Kalau gitu, aku keluar dulu.”Pamit Kana.


“Iya.Makasih banyak ya Dek!”Ucap Addan dan tersenyum.


“Hah?”Kana kaget, lalu membalikkan badannya sehingga berhadapan dengan Addan lagi.


“Bagaimana kalau mulai sekarang, Kamu panggil aku Mas dan aku panggil kamu Adek?”


“Tapi aku lebih tua dari kamu, masak kamu panggil aku, Dek!”Ucap Kana dengan sedikit manyun.


“Apa salahnya? Kita kan suami istri, lagipula perbedaan umur kita tidak jauh, cuman 2 tahun.”


Mendengar ucapan Addan, Kana teringat akan ucapan Bu Sofi seminggu yang lalu.


Satu hal lagi yang harus kamu ingat! Hormati suami, meskipun dia lebih muda darimu ~ perkataan Bu Sofi.


"Mungkin dengan memanggilnya dengan sebutan Mas, merupakan salah bentuk bahwa aku menghormatinya sebagai suami."pikir Kana.

__ADS_1


“Gimana sayang?”Ucap Addan dan mengejutkan Kana.


“Hah apa-apaan lagi tu? Sayang?” Ucap Kana dalam hati dan merasa merinding.


“Aku akan mencobanya.”Ucap Kana tanpa pikir panjang, kemudian pergi dari kamar Addan dengan tergesa-gesa.


Addan yang melihat ekpresi Kana yang- menggemaskan pun terkekeh.


"Aku akan berusaha mendapatkan hatimu Kana. Suatu saat nanti kamu pasti akan mencintaiku."Ucap Addan.


~~


Di sore harinya, para pekerja di kediaman Nicolas ribut, karena Kana berkebun di halaman belakang rumah. Mereka dengan susah payah membujuknya untuk tidak melakukan pekerjaan berat itu. Tapi tetap saja, Kana keras kepala.


Begitu antusiasnya Kana menanam beberapa jenis bunga yang telah ia beli. Bahkan lahan yang tadinya kosong menjadi penuh dengan berbagai macam bunga.


Para pekerja menatap Kana dengan cemas, mereka takut kalau hal buruk terjadi pada Kana, sang Nyonya muda. Yang lebih menakutkan lagi adalah jika Addan mengetahui apa yang Kana lakukan sekarang, pasti mereka akan terancam.


"Isah! Tolong hubungi Tuan muda Addan...Katakan pada beliau, kalau Nyonya muda, sekarang lagi berkebun di halaman belakang rumah."Perintah pak Sunan, yang merupakan tukang kebun kediaman Nicolas.


Daripada terjadi sesuatu kepada Nyonya muda dan calon tuan muda kecilnya, Pak Sunan terpaksa memerintahkan Bi Isah untuk melapor kepada Addan, meski nanti ia akan menanggung resikonya.


"Baik Pak"Saut Bi Isah, lalu berlari ke dalam rumah untuk menelepon Addan.


"Ah...ngak papa kok Pak! malah Kana jadi semangat kalau begini, justru berdiam diri membuat Kana lelah Pak."Ucap Kana dan tersenyum sambil menggemburkan tanah dengan sekop kecil.


"Saya mohon Nyonya...Nanti Tuan muda Addan marah sama Saya. Ini kan pekerjaan saya. Kalau Nyonya ingin tanaman bunga disini, biar saya saja yang menanamnya Nyonya...Nyonya tinggal perintah saja."Bujuk lelaki tua yang berumur hampir 60 tahun itu.


"Tapi Kana lagi pengen sekali menanam bunga Pak. Ijinkan Kana sekali ini saja, ya Pak?"Pinta Kana dan menatap Pak Sunan dengan raut wajah mengiba.


Pak Sunan tak dapat berkutip lagi, tapi wajahnya bertambah pucat. Ia bingung mau mengatakan apalagi kepada Kana yang keras kepala itu.


Di perusahaan keluarga Nicolas.


"Soka, aku pulang dulu...Karena ada masalah di rumah. Kamu lanjutkan penjelasan saya tadi kepada Damian."Ucap Addan yang tampak tergesa-gesa setelah menerima panggilan dari kediamannya.


"Hei! Masalah apa? Tidak besarkan?" Tanya Damian yang khawatir karena melihat ekpresi Addan yang gelisah.


"Pasti karena istri cantiknya lagi tuh..."Saut Hoby dengan santai, ia duduk di Sofa sambil memakan kacang goreng.


"Memangnya kenapa dengan istrinya?"Tanya Damian penasaran.


"Istrinya itu sulit di taklukkan..."Ucap Hoby.

__ADS_1


"Berarti istrimu, tidak cinta padamu Dan?" Tanya Damian kepada Addan yang tengah memberikan dokumen ke Soka.


"Ya begitulah...."Jawab Hoby singkat.


"Sok tau kau!"Ucap Damian.


"Ayolah....Ada masalah apa? Ceritakan padaku, aku merupakan orang yang tepat sebagai tempat kau curhat soal wanita."Bujuk Damian lagi.


Addan menghela nafas, lalu menjawab pertanyaan Damian.


"Istriku berkebun di rumah, padahal dia sedang hamil sekarang."Ucap Addan.


"Hah? Berkebun? Gadis desa mana yang kau nikahi Ha?"


"Emangnya, setiap wanita yang suka berkebun berasal dari desa?"Saut Hoby dan tersenyum mengejek ke arah Damian.


Damian melirik Hoby dengan sinis karena selalu memotong pembicaraannya.


"Tadi kau juga bilang istrimu sedang hamil. Wah... cepat sekali istrimu bunting. Berapa bulan?"


Dengan sabar Addan menjawab pertanyaan Damian, padahal saat ini Addan tengah panik.


"3 bulan lebih..."


"Hah! Bukannya kau menikah 2 bulan yang lalu?"Ucap Damian dan terkejut.


"Kan si Addan di buntingin dulu bininya, baru naik ke pelaminan."Ucap Hoby santai.


"Pasti kau kan Hob, yang beri saran. Kau benar-benar ahli sesat."Tuding Damian sakartis.


"Hei...saat itu aku cuman memberi saran padanya, dan tidak menyangka Addan memakai saranku itu."


"Kalian bisa diam Tidak!!!"Teriak Addan yang sudah geram, mendengar perdebatan mereka.


Mereka berdua langsung terdiam, karena Addan sudah begitu marah.


"Soka, itu semua sudah aku jelaskan padamu. Nanti malam kamu yang menggantikanku untuk makan malam dengan Tuan Hery, dan sekarang tolong kau bereskan makhluk yang satu ini."Ucap Addan lalu menunjuk wajah Damian.


"Hei!!" Teriak Damian kesal, namun tidak di hiraukan Addan.


"Baik Bos!!"Saut Soka.


Setelah itu, Addan langsung pulang ke kediamannya untuk melihat tingkah istrinya yang keras kepala itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2