You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
Berkeluh Kesah


__ADS_3

Kana dan Raya sedang duduk berhadapan di restoran tempat biasa mereka nongkrong, Raya sedari tadi memperhatikan raut wajah kana yang terlihat murung. Ia menunggu Kana memulai untuk bicara.


“Raya…. Aku udah ngak tinggal di kediaman Nicolas lagi.” Ucap Kan sedih dan menundukkan kepalanya.


”Hah? Lalu kakak tinggal dimana sekarang?”Tanya Raya terkejut, karena setaunya selain kediaman Nicolas, Kana hanya punya toko kue tempat biasa ia menginap.


”Kakak berencana mencari kontrakan yang terletak jauh dari sini dan lebih tepatnya di sebuah pedesaan.” Ucap Kana. sekali lagi raya terkejut atas penuturan dari Kana.


”Kok jauh- Jauh kakak ngontrak, tinggal aja di toko bareng aku kak.”Ucap Raya heran.


"Aku hanya ingin pergi jauh dari sini, Ray." Ucap Kana sedih dan menundukkan kepalanya.


"Kenapa? Kakak ada masalah ya, cerita sama aku. Aku akan menjadi pendengar yang baik dan akan membantumu mencari solusinya."


Kana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lemah dengan keadaan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia menundukkan kepalanya agar Raya tidak melihat raut kesedihannya.


"Kalau ada masalah, ngomonglah Kak. Jangan hanya diam dan tertunduk, Kakak manggil aku kemari karena ingin menceritakan masalah kakak kan?" Ucap Raya khawatir sambil memegang kedua bahu Kana.


"Please! Ngomong sama aku, Kita akan hadapi masalah kakak sama-sama. Aku akan bantu kakak." Ucap Raya dengan nada yang lebih lembut.


Kana langsung mengangkat kepalanya dan menatap mata Raya yang duduk di hadapannya.


"Raya...Kakak takut, kakak trauma, kakak sakit. Kakak ngak tau lagi apakah bisa menjalani hidup Kakak selanjutnya." Ucap Kana dengan suara gemetar sambil memegang dadanya, dan mengeluarkan air mata yang sedari ia tahan.


Raya yang melihat Kana yang menangis langsung memeluk Kana dengan erat, ia juga sedih seperti merasakan apa yang Kana rasakan.


"Kakak. Tolong ceritakan ke aku, jangan pendam lagi. Lepaskan, dan berkeluh kesahlah padaku." Ucap Raya sambil menepuk pelan punggung Kana.


Kana sudah tidak tahan lagi, tangisnya langsung pecah. Air mata berurai dengan deras dan disertai dengan sesenggukan. Raya merasakan tubuh Kana yang dia peluk bergetar.


”Ray… hiks, hiks, hiks, aku…akkkuuu. Aku diperkosa, Raya." Ucap Kana sambil memeluk Raya lebih erat.


Setelah mengatakan itu semua, Kana merasakan sakit di hati dan di sekujur tubuhnya karena teringat akan kejadian malam itu.


”Apa?" Raya terkejut dan spontan melepaskan pelukannya, lalu menatap Kana yang sedang menangis sesenggukan.


"Siapa yang melakukannya?Jawab aku kakak.”Tanya Raya memanas dan mencengkram bahu Kana.


Raya benar-benar marah pada orang yang telah memperkosa Kana, tubuhnya juga ikut bergetar.


”Aku…..” sambung Kana terputus karena ragu memberitahu Raya.


”Cepat jawab kak, siapa yang memperkosa kakak sehingga kakak memutuskan untuk keluar dari kediaman Nicolas?” Ucap Raya penuh emosi.


Kana cuman menggelengkan kepalanya lemah, karena tak sanggup menyebutkan siapa pelakunya.


Raya yang melihat reaksi Kana menjadi geram dan memaksanya untuk mengatakannya.


"Cepat Kakak! Aku akan kecewa, kalau Kakak tak mau menyebut siapa pelakunya." Ancam Raya.


Dan dengan terpaksa Kana pun mengatakannya.

__ADS_1


”Itu… adik Lano dan Lani. Addan namanya” ucap Kana dengan derai airmata dan tertunduk.


Raya terkejut dan langsung membekap mulutnya tak percaya.


"Kenapa dia begitu tega melakukan hal itu padamu. Tak sadarkah dia bahwa Kak Kana, Kakak ipar dari Kakaknya sendiri." Ucap Raya mengebu-ngebu sambil mengepalkan tangannya.


"Apa Kak Lano, Kak Lani dan Kak Nena tau kejadian itu?" Tanyanya lagi.


“Aku tak tau Ray, hiks hiks hiks...setelah kejadian itu, aku pergi darisana tanpa sepengetahuan orang disana.” Ucap Kana masih berlinang airmata.


”Aku mohon sama kamu jangan beritahu siapapun, kakak ingin menenangkan diri. Kakak mohon sama kamu, Kakak juga tak ingin Paman mengetahui ini semua. Kakak takut membuat Paman malu dan mengecewakannya” Ucap Kana lagi memohon sambil mengatupkan keduan tangannya sebagai tanda memohon.


”Huuffff..... baiklah. Tapi kakak harus selalu kabarin aku dan beritahu aku alamat kakak dimana, jika ada waktu senggang aku akan kunjungi kakak, dan kita harus selalu berkomunikasi.. oke?” Ucap Raya lalu menghela napas panjang.


Sulit baginya melepaskan kakaknya ini, Kakak yang terlihat kuat dari luar tapi sebenarnya pribadi yang lemah.


”Iya , nanti kakak kirim alamat kontrakan kakak ke kamu. Terimakasih, dan juga tolong kamu jaga toko kue ya. Kamu kan udah bisa menciptakan kue baru..” ucap Kana memeluk Raya dan dibalas pula pelukan erat oleh Raya.


”Iya aku akan jaga toko kue, setelah ini kakak akan berencana pergi kemana?”


"Setelah ini, aku akan berkunjung ke panti asuhan. Aku mau melihat adik-adik panti disana dan juga Ibu Sofi yang sudah lama tak aku temui."


"Apa aku boleh menemanimu Kak? Aku khawatir padamu."


"Tidak usah Ray...Lebih baik kamu balik ke toko ya. Jangan khawatir, kakak akan baik-baik saja." Ucap Kana lembut, yang masih mengeluarkan tetesan air mata.


"Kakak yakin, tidak mau aku temanin?" Ucap Raya yang khawatir.


Raya pun melepaskan pelukannya dengan pelan, lalu menatap Kana.


" Yaudah...Aku harap kakak baik-baik saja. Jangan menangis lagi, aku ngak suka lihat kakakku yang tersayang menangis." Ucap Raya lembut sambil mengusap air mata Kana.


Kana hanya mengangguki ucapan Raya padanya.


Raya tersenyum kepada Kana dan dibalas Kana dengan tersenyum lemah.


Setelah perbincangan mereka selesai, mereka pun pergi dari restoran tersebut.


Sesudah menemui Raya, Kana pun pergi ke panti asuhan dengan naik ojek online.


Setibanya di panti asuhan, Kana disambut oleh anak-anak panti asuhan disana, mereka memeluk Kana secara bergantian. Rasa sedih Kana seketika berkurang setelah melihat wajah gembira mereka semua. Ia pun juga disambut oleh seorang Ibu yang telah merawatnya sedari kecil yaitu Ibu Sofi.


Ibu Sofi pun juga mengajak Kana ke kamarnya untuk berbincang dan melepas rindu.


"Nak...Ibu sangat senang kamu berkunjung kesini, sudah 2 tahun kamu tak kemari. Ibu kangen banget sama kamu sayang." Ucap Ibu Sofi lalu memeluk Kana sambil mengeluarkan air mata.


Kana pun juga membalas pelukan Ibu Sofi, ia ikut mengeluarkan air mata kerinduan terhadap sang Ibu yang telah mengasuhnya sedari kecil.


"Kamu cuman sendiri kesini, mana Nena Nak?" Tanya Ibu Sofi dengan lembut sambil mengusap sayang kepala Kana.


"Nena tidak bisa datang Bu, ia lagi sibuk Katanya." Ucap Kana berbohong.

__ADS_1


"Oh begitu...Kamu sudah makan Nak?"


"Aku sudah makan Bu...Kana mau ceritain sesuatu ke Ibu." Ucap Kana dengan raut sedih.


"Ceritakanlah Nak, Ibu akan mendengarkannya." Ucap Ibu Sofi.


Kana pun menceritakan kejadian yang menimpanya, Ibu Sofi yang mendengarnya terkejut dan merasa geram. Setelah menumpahkan segala keluh kesahnya, Bu Sofi memeluk Kana dengan erat untuk menguatkan Kana, Mereka menangis bersama-sama.


Ibu Sofi pun juga meminta Kana untuk tinggal di rumahnya yang terletak di sebuah desa, rumah yang jarang ia tempati. Awalnya Kana menolak tapi akhirnya setelah dibujuk dan rayuan Ibu Sofi akhirnya Kana mau menuruti permintaan Ibu Sofi.


Beberapa jam kemudian setelah memindahkan barang-barangnya dan melakukan perjalanan ke rumah Ibu Sofi, akhirnya Kana sekarang sudah menempati rumah Ibu Sofi yang terletak di sebuah desa terpencil.


Sekarang Kana sedang duduk diatas kasurnya sambil memainkan handphone, ia melihat begitu banyak isi pesan dan telepon dari Nena, Lani dan Lano. Tapi Kana tak mengubrisnya, saat ini Kana ingin menenangkan dirinya dan tak mau membahas masalah itu dulu.


Kemudian ia melihat isi pesan dari Risa, sahabatnya untuk ketemuan di restoran seefood kesukaan Lani dan Risa, Kana pun mengiyakan ajakan Risa.


Dilain sisi kediaman Nicolas


“Bagaimana kak, apa Kana mau dihubungi?” Tanya Addan pada Lani.


”Ngak Dan, panggilannya masuk tapi ngak di angkat" Ucap Lani


”Ini semua gara-gara kamu Dan. Gara-gara kamu kakak aku pergi dan tak ada kabarnya. Kalau sampai kak Kana ngak ketemu, aku ngak akan pernah maafin kamu." Teriak Nena emosi di hadapan Addan. Lalu menangis sesengukan di pelukan Lano, sang suami.


Addan hanya terdiam, ia tidak membuka suara. Ia hanya berdiri memantung sambil mengepalkan kedua tangannya.


”Kenapa lakukan hal itu Addan..,kamu menyakiti Kana, kamu bertingkah layak laki-laki brengsek. Kamu sebut itu CINTA. Cinta seperti apa yang kamu miliki sehingga menyakiti orang yang kamu cintai.” Ucap Lano penuh emosi.


Lano ngak habis pikir kearah pikiran adiknya itu, ia masih tak percaya adiknya segila ini mendapatkan cinta dari seorang Kana yang merupakan kakak ipar nya sendiri.


”Kamu harus bertanggung jawab terhadap Kana. Bagaimana kalau dia hamil Dan….” Ucap Lani sesenggukan menatap adiknya itu kecewa, sudah dua hari sahabatnya itu tak kembali kediaman Nicolas, ia merasa menyesal mengajak sahabatnya itu untuk tinggal bersama.


“Sebelum di suruh pun aku pasti akan menikahi Kana. Sebelum kejadian itu terjadi aku pernah melamarnya, tapi apa? Ia malah menolak ku mentah-mentah. Seharusnya kalian berdua tahu sifatku bahwa aku orang yang pantang menyerah, sesuatu yang aku tetapkan sebagai milikku harus menjadi miliku sampai kapanpun. “Bentak Addan yang tidak tahan disudutkan.


”Apa kalian masih belum percaya bahwa aku tulus mencintainya. Aku memang salah karena telah menyakitinya. Maafkan aku, aku tidak ada cara lain lagi untuk menahannya agar tetap disisiku. Sungguh, Aku hampir gila setiap memikirkan gadis itu. Mungkin aku memang gila sekarang.” Ucap Addan dengan suara tinggi agar mereka mengerti, seberapa menderitanya dia menahan gejolak hatinya yang terus meronta untuk memiliki kana seutuhnya.


Mereka semua terdiam, ternyata begitu berat bagi Addan menahan gejolak hatinya untuk memiliki Kana seutuhnya. Mereka tak meyangka Addan begitu sangat mencintai Kana.


Lani dan Lano dulunya mengira bahwa addan hanya cinta monyet terhadap Kana, dan hanya bertahan sementara tapi, mereka tak menyangka ternyata cinta Addan terhadap Kana begitu besar, bertahun-tahun cinta itu bertahan. Semakin lama cinta yang dirasakan addan malah bertambah besar.


Lano pun menatap istrinya yang tangannya sedang ia genggam.


”Nena, mas mohon sama kamu. Izinkan Addan memiliki Kana. Percayalah, Kana pasti akan bahagia bersamanya, aku mengenalnya sedari kecil. Aku sungguh tidak tega melihatnya seperti itu. Maafkanlah keegoisanku sayang....” Ucap Lano menatap istrinya sendu sambil memegang kedua tangan Nena.


”Aku ingin Kak Kana bahagia. Tapi bagaimana caranya?” ucap Nena meneteskan air mata lalu menatap suaminya. Ia benar-benar luluh akan bujukan Lano serta melihat betapa prustasinya Addan.


”Tolong kamu bujuk Kana kembali, dan minta dia agar mau menikah dengan Addan. Mas tau ini egois dan tak memikirkan perasaan Kana, tapi mas yakin kana akan berangsur jatuh cinta pada Addan seiring berjalan waktu.” Ucap Lano lagi menatap istrinya itu.


”Iya mas, aku akan coba.” Saut Nena


semua yang ada disana tersenyum lega, kini tinggal mencari Kana, lalu membujuknya agar mau menikah dengan Addan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2