
Soka berlari menyusuri koridor Rumah Sakit, ia mencari ruang tempat istrinya dirawat. Dalam perjalanan, ia berpapasan dengan seorang perawat.
"Sus! pasien atas nama Narusha, di rawat diruang mana ya Suster?"Tanya Soka, raut cemas tak luntur dari wajahnya itu.
"Nona Sasha?"
"Iya Sus, dia istri saya."Sahut Soka cepat.
"Mari ikut saya Tuan, saya baru saja balik dari ruang tempatnya dirawat."
Soka mengangguk mengiyakan ajakan perawat wanita itu, ia mengikuti langkah kaki si perawat hingga tiba didepan pintu kamar pasien VIP.
"Silahkan masuk Tuan, Nona Sasha sedang menunggu Anda didalam."Ucap si perawat.
"Baik Suster, terimakasih."Ucap Soka dan dibalas anggukan oleh si perawat.
Soka mendorong pintu masuk ruang rawat Sasha.
"Sayang...kamu.."Soka seketika terhenti, raut wajahnya yang tadi terlihat amat gelisah, sekarang malah terlihat bingung ketika melihat sang istri yang baik-baik saja.
Dengan keripik kentang dipangkuannya, Sasha sekarang sedang tertawa menonton sebuah acara di televisi yang terpasang didinding ruang rawat.
Menyadari kehadiran seseorang, Sasha menoleh ke arah pintu."Mas...kamu sudah tiba. Sini...sini. Aku mau mengatakan hal penting."Ucap Sasha dan tersenyum, Ia menepuk-nepuk sisi kasurnya, meminta Soka mendekat dan segera duduk disampingnya. Soka pun menuruti keinginan sang istri, ia mendekat lalu duduk dipinggir ranjang pasien.
"Kamu terlihat baik-baik saja, tapi kenapa sampai masuk Rumah Sakit segala?"Ujar Soka.
la menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, ketika melihat banyak sampah bungkus kripik kentang yang berserakan dilantai.
Sasha menyimpan keripik kentangnya di balik pot bunga diatas nakas. Ia kembali menatap sang suami dan tersenyum ala iklan pepsodent, terlihat jelas dari wajahnya terpancar aura bahagia.
"Tadi itu...Pas aku turun dari pesawat kepalaku itu terasa berputar-putar gitu Mas, biasanya kan setiap naik pesawat aku tidak begitu. Perutku pun terasa kram, untung ada seorang pria tampan..."
"Stop! Stop!...Jadi yang bawa kamu kerumah sakit adalah seorang pria?"Soka dengan cepat memotong ucapan Sasha, ia cemburu kalau istrinya itu memuji pria lain di hadapannya.
Sasha memutar bola matanya malas melihat tingkah sang suami yang ke kanak-kanakan menurutnya.
"Haish... Dengerin dulu sampai selesai...simpan dulu rasa cemburumu itu. Ini hal penting yang harus kamu ketahui!"Dengan nada jengkel Sasha memarahi Soka.
"Dia menolongku, dan berinisiatif membawaku ke Rumah Sakit. Setibanya dirumah sakit, aku diperiksa dan ternyata hasilnya...."Lanjutnya.
"Hasilnya?"Soka penasaran, kedua tangannya saling meremas. Dibalik rasa penasarannya tentu ada rasa takutnya, ia takut istrinya ternyata mengidap suatu penyakit.
Sasha tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Soka."Selamat! kamu bakal jadi Ayah, Mas..."Bisik Sasha.
Sejenak Soka terdiam, ia mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali, memastikan apakah ini mimpi atau sungguhan. Tak lama kemudian...
"Ha...Apa?!!"
...****************...
Dua hari kemudian...
Kini, kaki Kana yang terkilir sudah membaik. Meskipun jalannya masih sedikit terseok-seok.
Di kamar mandi, Kana akan membantu Addan membersihkan badan, seperti biasanya ia hanya mengelap-ngelap tubuh Addan dengan handuk kecil yang sudah dicelupkan kedalam air setengah hangat. Addan tidak dianjurkan mandi oleh Dokter Sammy, karena luka ditubuhnya belum kering sepenuhnya.
"Mas, untuk saat ini kamu belum boleh mandi. Seperti biasanya, aku hanya akan mengelap saja badanmu dengan air separuh hangat."Ucap Kana sambil membuka satu-persatu kancing kemeja Addan.
Addan mengangguk-anggukkan kepalanya."Baiklah..."Balasnya dan tersenyum manis, tangannya pun bertengger di kedua sisi pinggang Kana.
Kana menatap suaminya ragu-ragu.
__ADS_1
"Mm...Mas...kamu bisakan membuka celanamu sendiri?"Tanya Kana dengan suara sedikit bergetar karena gugup, pipinya pun memerah. Padahal beberapa hari ini, ia selalu melihat penampakan tubuh Addan, tapi tetap saja rasa gugupnya tidak hilang.
"Punggung Mas akan terasa sakit, ketika membungkukkan badan. Tolongin ya...?"Ujar Addan dengan raut wajah mengiba, entah itu alasan saja atau memang fakta.
"Tap...Tapi..."Lagi-lagi Kana memalingkan wajahnya ketika bersitatap dengan Addan.
Setiap menatap bagian atas tubuh suaminya itu, jantungnya berdetak tak karuan. Bentuk perut Addan yang berkotak-kotak, lengan yang kekar, tubuh yang berotot dan ada kesan berminyak, sehingga dimata Kana, suaminya itu terlihat begitu sangat seksi.
...Seksi!...Kyaa...Kata itu lagi...Apa yang kamu pikirkan Kana? kemana perginya kepolosanmu?, teriak batin Kana.
Kana memukul-mukul kepalanya agar pikiran kotornya menghilang. Baru kali ini keinginannya untuk menyentuh perut kotak-kotak suaminya begitu besar, selama beberapa hari ini ia bisa tahan, tapi kenapa sekarang tidak lagi.
Addan kaget melihat aksi Kana yang memukul kepalanya sendiri. "Dek...Kamu kenapa? Jangan pukul lagi, nanti kepalamu sakit!"Cegah Addan sambil menahan kedua tangan Kana, supaya tidak memukul kepalanya lagi.
Kana merutuki kebodohannya sendiri, Dasar bodoh! bikin malu saja, batinnya.
"Bu..bukan Mas...Ayo cepat duduk!"Ucapnya salah tingkah.
"Celana Mas, belum dibuka Dek..."Addan mengingatkan.
"Mmm...Itu...."Kana ragu-ragu menjawab.
Setelah lumayan lama terdiam, akhirnya Kana terpaksa membantu Addan membukakan celana panjang yang dikenakannya, dan hanya menyisakan ****** ******** saja. Dengan mata tertutup Kana menurunkan celana Addan perlahan-lahan.
Addan tersenyum melihat Kana yang malu-malu. Kenapa kamu bisa seimut ini sayang..., batin Addan dan senyum-senyum sendiri.
"Udah!"Ujar Kana, dan dengan cepat berdiri lagi. Lalu memalingkan wajahnya agar suaminya tidak melihat pipinya, yang tentu sudah memerah bak kepiting rebus.
Addan terkekeh pelan sambil mengusap kepala Kana dengan lembut dan penuh kasih sayang. Setelah itu Addan duduk diatas kursi yang telah di sediakan Kana untuknya.
Kana mulai mencelupkan handuk kecil kedalam baskom berisi air separuh hangat, meremasnya lalu mengelap seluruh badan Addan dengan handuk kecil itu.
~
Lagi asik-asiknya Kana menyiram bunga ditaman, ia dikejutkan oleh suara yang cukup keras dari klakson sebuah mobil BMW bewarna hitam, yang berhenti tepat di depannya.
"Nenek..." Gumam Kana, ketika melihat Nenek Suci keluar dari mobil itu dengan elegannya.
Kriett...
Bi Murni keluar dari pintu besar, lalu berlari-lari kecil menghampiri Nenek Suci.
Kana hanya melihat Bi Murni tanpa berniat menegurnya. Sepertinya Bi Murni tau kalau Nenek Suci akan datang, batinnya.
"Selamat datang...Nyonya Besar.."Sapa Bi Murni seraya membungkukkan badan.
Nenek Suci menatap Bi Murni dari atas hingga bawah. "Kamu Bi Murni kan?"
"Iiya Nyonya Besar."
"Hm.., tolong kamu bawakan koper saya kedalam."Perintahnya.
Nenek Suci melirik Kana sekilas, kemudian membuang mukanya ke sembarang arah karena begitu enggan menatap sosok Kana yang begitu dia benci.
"Baik Nyonya."Sahut Bi Murni, kemudian membuka begasi mobil Nenek Suci. Ia mengeluarkan satu persatu koper dan beberapa kotak hadiah dari sana.
Apa Nenek akan tinggal disini?Untuk mengawasikukah?, batin Kana.
Kana meletakkan slang air yang di pegangnya ke tanah, kemudian menghampiri Nenek Suci.
"Selamat datang Nek! Nenek akan tinggal disini ya?"Tanya Kana dan tak lupa menampilkan senyuman ramah yang biasa ia tampilkan ke setiap orang yang dijumpainya.
__ADS_1
"Kalau iya memangnya kenapa? Kamu tidak suka saya berada disini!"Jawab Nenek Suci dengan ketusnya, membuat Kana kaget sekaligus sedih.
Kana menggeleng-gelengkan kepalanya lemah.
"Bukan, bukan begitu Nek...aku tentu..."Belum sempat Kana menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba seorang wanita berteriak dari kaca mobil bewarna putih yang baru saja tiba.
"Nenek...!!!"Teriaknya, lalu wanita itu keluar dari mobil itu dengan sebuah koper bewarna kuning ditangannya.
Nenek Suci tersenyum bahagia."Linda...."Serunya.
Dengan berlari-lari kecil, Belinda menghampiri Nenek Suci.
"Nenek..."Belinda memeluk Nenek Suci.
Ketika memeluk Nenek Suci mata Belinda dengan mata Kana saling beradu pandang. Kana menampilkan senyumannya ketika menatap Belinda, namun Belinda membalas senyuman Kana dengan senyuman sinis dan menatapnya tak suka.
Kok dia terlihat benci gitu ke aku ya? Apa aku pernah menyinggungnya?, batin Kana.
"Yuk Sayang, kita masuk!"Ajak Nenek Suci kepada Belinda. Mereka berjalan menuju kedalam rumah dengan bergandengan tangan. Kana yang melihat keakraban mereka, meresa iri. Yang menjadi menantu di kediaman Nicolas adalah dirinya, tapi yang disambut dengan bahagia dan tangan terbuka oleh Nenek Suci adalah Belinda.
Sebelum masuk, Nenek Suci mendekatkan bibirnya ketelinga Kana, seraya berbisik."Ingat! Jangan sampai kamu lupa dengan perjanjian yang telah kita sepakati."
"Nenek, bagaimana dengannya? Tidak diajakkah masuk? Dia kan Nyonya rumah..."Ucap Belinda yang pura-pura kasihan dan bersimpati.
"Jangan perdulikan wanita itu, dia hanya Nyonya sementara dirumah ini. Setelah dia melahirkan, kamu akan menjadi Nyonya rumah ini selanjutnya dan seterusnya. Kamu bebas keluar masuk rumah ini, jadi jangan takut padanya."Ujar Nenek Suci.
Nenek Suci dan Belinda melewati Kana begitu saja, mereka tertawa cekikikan ketika melihat raut wajah Kana yang terlihat sangat sedih.
"Baik Nek!"Sahut Belinda dan tersenyum bangga.
Jadi dia yang akan menjadi pendamping Mas Addan di masa depan, batin Kana dengan raut wajah amat sedih. Matanya berembun ketika menghayalkan keharmonisan rumah tangga Addan nantinya bersama wanita itu.
"Kenapa hati ini terasa amat sakit ya Allah....?"Gumam Kana sambil meremas dada kirinya yang terasa berdenyut.
......................
"Wah...rumahnya luas sekali, dekorasinya pun sangat indah dan mewah."Puji Belinda, matanya menjajah seluruh ukiran unik yang terukir didinding, dipintu, ditiang, dan ditangga.
"Tentu, rumah ini di desain oleh seorang arsitek terkenal di dunia."Ujar Nenek Suci dengan bangganya.
Kana yang sedari tadi menatap interaksi keduanya dari kejauhan, akhirnya berinisiatif mendekat.
"Mm...Nenek dan Nona, apakah ingin meminum sesuatu? Kalian pasti lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh."Ujar Kana.
Nenek Suci dan Belinda menghentikan obrolan mereka, mereka berdua saling tatap lalu tersenyum licik.
"Wah kebetulan aku lagi haus nih!...terimakasih sudah menawarkannya ya. Buatkan aku teh manis ya."Ucap Belinda memerintah.
"Nah begitu...kamu harus tau diri. Jangan seperti sebelumnya yang bermimpi menjadi Nyonya rumah."Ujar Nenek Suci.
"Bawakan juga kami kue ya...Sudah itu saja, pergi sana!"Sambungnya.
Mendengar hinaan dari Nenek Suci, Kana hanya bisa menahan diri untuk terus bersabar. Ia tidak bisa menyalahkan Nenek Suci, sebab apa yang di katakannya ada benarnya, bahwa ia memang tidak pantas menjadi menantu keluarga Nicolas.
Bersambung...
_
_
Maaf ya readers...beberapa hari ini author tidak update. Author terus menunda untuk update episode selanjutnya, dikarenakan banyak kegiatan yang belum author selesaikan didunia nyata. Harap dimaklumi ya...Jika ada waktu senggang author usahakan akan update walau tak setiap hari.
__ADS_1
Terimakasih sudah mampir, semoga kalian sehat selalu...🤗