
Di pagi harinya Kana terbangun dalam keadaan mata yang sembab, badan yang terasa sakit dan rasa perih yang melanda di area selangkangannya, Ia melihat kearah samping terlihat seorang pria tampan yang lebih muda darinya yang telah memperkosanya tadi malam sedang terlelap sangat damai.
Ia menatap benci dan kecewa atas apa yang dilakukan pria itu, lalu matanya beralih kearah sprei abu-abu yang terdapat bercak merah darah. Seketika Kana pun kembali menangis, air matanya dengan deras mengalir sambil meremas seprai abu-abu dengan tangannya.
Kemudian Kana berdiri menghapus airmatanya dengan kasar, ia berjalan menuju kamar mandi dengan keadaan tertatih karena merasakan perih di ***********, meskipun sangat sakit ia memaksakan diri untuk berjalan meskipun sesekali meringis kesakitan.
Di kamar mandi ia tak henti-hentinya menangis sambil menggosok kasar badannya, agar aroma badan hasil bercintanya dengan Addan hilang, ia meratapi nasibnya sambil memandang kosong kearah depan.
Dia berpikir apa yang akan ia katakan pada kekasihnya nanti, apa Gio mau menerima wanita yang tak suci lagi seperti dirinya.
Kana memang belum begitu mencintai Gio, tapi ia yakin dengan ketulusan Gio terhadapnya, dari pandangan pria itu, perlakuannya. Kana yakin Gio adalah pria yang tepat untuknya.
Tapi dengan apa yang telah terjadi Kana merasa Gio tak akan mau menerimanya. Lagi pula dengan keadaannya yang sudah seperti ini ia tidak mau Gio mendapatkan barang bekas seperti dirinya karena sekarang ia sudah tidak suci lagi.
Setelah mandi dan berpakaian Kana pun melirik kearah ranjang yang mana disana masih terlihat Addan yang tertidur pulas.
Kana tidak tau apa yang harus ia lakukan kepada Addan, apakah ia harus melaporkan perbuatan
Addan kepada pihak berwajib atau meminta Addan untuk bertanggung jawab.
Soal melaporkan Addan ke pihak berwajib, Kana benar-benar tak sanggup. Karena jika ia melaporkan Addan, Lani pasti merasa sedih selain itu keadaan perusahaan pasti akan buruk dan nama baik keluarga Nicolas juga akan tercemar, Kana sungguh tidak bisa melakukan itu ia sangat menyayangi Lani. Namun kalau dia meminta pertanggung jawaban Addan, ia juga sungguh tidak bisa hidup dengan lelaki yang telah menghancurkan hidupnya dan juga ia tidak mencintai Addan.
Akhirnya Kana membuat sebuah keputusan, untuk kebaikan dirinya dan juga untuk kebaikan keluarga Nicolas yaitu pergi menjauh.
“Aku harus pergi, aku tak mau lagi bertemu dengannya lagi. Aku harus menjauh sejauh mungkin dari pria ini, aku benar-benar sangat membencinya.” Ucap Kana menatap benci kearah Addan sambil menetesakan air mata, tanda kekecewaan kepada Addan.
Kana pun melangkahkan kaki kearah pintu, akan tetapi ketika dia memutar handle pintu ternyata pintu dalam keadaan terkunci.
Kana berusaha mencari kunci, setelah lumayan lama mencari, ternyata kunci terletak diatas sofa, Kana pun mengambil kunci itu, kemudian membuka pintu kamar Addan dengan tergesa-gesa lalu bergegas keluar menuju kamarnya.
Di kamarnya, Kana membereskan seluruh pakaiannya ke dalam tas ransel dengan terburu-buru, ia harus cepat pergi dari sini sebelum Addan dan lainnya terbangun.
Setelah keluar dari kamarnya, kana menatap kamar Lani yang masih tertutup dengan pandangan mata yang memancarkan kesedihan.
”Lan, aku minta maaf, aku ngak bisa nemenin kamu lagi...mungkin setelah ini kita tak akan bertemu lagi. Jaga dirimu baik-baik ya? Aku menyayangimu.” Uacap Kana sendu dan meneteskan air mata.
Kana keluar dari kediaman Nicolas dengan endap-endap agar tak ada satupun orang yang melihat dan mengetahui kepergiannya.
Satu jam kemudian setelah kepergian Kana, Addan terbangun dari tidurnya sambil meraba-raba kearah samping mencari sosok pujaan hatinya. Tapi nihil sosok yang dicari tidak ada di sampingnya.
Addan pun bangkit dari tidurnya sambil memegang kepalanya karena merasakan nyeri di kepalanya. Addan sebenarnya sedikit ingat dengan kejadian semalam, ia ingat dan melihat semuanya, bagaimana polosnya mereka tadi malam yang tanpa busana, kulit mereka yang bersentuhan, keringat mereka yang saling menyatu.
Addan ingat itu, tapi awal itu terjadi dan bagaimana ia bisa melakukan itu dengan Kana ia benar-benar tidak ingat. Yang ia tau pasti adalah bahwa ia telah memperkosa Kana, memaksa Kana melakukan hal itu dengannya.
Hatinya benar sangat-sangat sakit melihat kedaan Kana setelah ia perkosa, Kana yang jatuh pingsan diatas kasur dalam keadaan mata bengkak dan air mata yang masih berurai. Tapi entah kenapa ia tidak menyesal melakukan hal itu kepada Kana, malah pikirannya mengatakan bahwa semua itu merupakan langkah awal mendapatkan Kana.
__ADS_1
Addan benar-benar tidak mengerti tingkah pola pikirnya, demi ambisinya mendapatkan cinta Kana, ia tega melakukan hal yang membuat Kana tersakiti. Namun itu semua sudah terjadi, nasi sudah jadi bubur dan tak akan ada kata penyesalan untuk itu semua.
Addan terus melihat sekeliling kamarnya mencari keberadaan Kana dengan perasaan cemas, karena ia takut Kana pergi darinya. Namun seketika kecemasannya hilang karena dari kamar mandi terdengar suara air kran yang masih menyala, sehingga Addan beranggapan bahwa Kana berada dalam kamar mandi.
”Mungkin ia sedang mandi.” Ucapnya sambil menggosok matanya.
Setelah sekian lama ditunggu. Sosok yang dinantikan tak kunjung keluar, Addan pun segera bangkit lalu melangkah ke kamar mandi dalam keadaannya yang tanpa busana. Namun, setelah di cek ternyata kamar mandi dalam keadaan kosong, yang dia lihat hanya bak mandi yang sudah melimpah karena air kran yang tidak dimatikan.
Seketika rasa takut menghinggapi dirinya, yang ia takutkan mungkin sudah terjadi.
Addan pun segera berlari kearah pintu dalam keadaan telanjang bulat, dan ternyata kunci yang dilemparnya ke sofa tergantung di pintu, dan sekarang pintu itu dalam keadaan tak terkunci. Addan pun panik.
Dengan sigap Addan berlari ke lemari pakaiannya memakai pakaian tanpa mandi, sekarang yang terbesit di otaknya hanyalah Kana, soal mandi ia tak peduli.
Addan keluar dari kamarnya dengan perasaan yang dipenuhi emosi dan disertai cemas langsung berlari ke kamar Kana, akan tetapi setelah ia masuk ke kamar Kana ternyata terlihat sunyi, Addan pun mengecek isi lemari dan benar dugaanya. Kana memang telah kabur, karena lemarinya kosong tak ada satupun pakaian yang tertinggal.
”Sial! Ternyata dia sudah pergi. Kana....kenapa kamu masih saja tidak mau menerimaku dan malah meninggalkanku?" Teriak Addan di dalam kamar Kana, lalu menendang kursi rias hingga terpental cukup jauh dan meninju kaca rias hingga pecah berderai. Ia tak peduli dengan keadaan tangannya yang sudah berdarah.
Suara teriakan Addan dan pecahan Kaca dari kamar Kana, membangunkan Lani.
Lani dengan tergesa-gesa melangkah menuju ke arah sumber suara, dan menemukan Addan dalam keadaan berdiri tertunduk dan tangannya yang meneteskan darah.
"Addan...kenapa bisa kayak gini? Kamu habis ngapain?" Tanya Lani khawatir sambil mengangkat tangan Addan yang berdarah.
"Lani.....Kana, Kana pergi. Ia pergi dariku Ni. Apa yang harus aku lakukan agar ia kembali?" Ucap Addan menatap Lani sambil meneteskan air bening dari matanya.
"Aku melukainya, aku mengecewakannya. Aku telah memperkosanya, Lani....ia telah membenciku." Ucap Addan lirih.
Seketika Lani terkejut, dan seketika air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Kamu... Kamu....." Ucap Lani terhenti, karena tiba-tiba ia jatuh pingsan, ia syok setelah mendengar tuturan dari adiknya itu.
Sebelum Lani jatuh kelantai, Addan dengan sigap merangkul Lani lalu menggendong dan meletakkannya diatas kasur. Setelah itu Addan pun memanggil Bi Murni untuk menjaga Lani sementara.
Addan kembali ke kamarnya untuk menelepon Soka.
"Halo. Ada apa Bos?" Saut Soka setelah panggilan tersambung.
"Tolong kamu cari keberadan Kana sekarang. Cepat!" Ucapnya dan berteriak.
"Kana! Emangnya kemana dia?" Tanya Soka
"Dia kabur. Jangan bertanya lagi, cepat kamu cari dan lacak keberadaan Kana sekarang!" Teriak Addan yang sudah tidak sabaran.
"Baik Bos. Tapi mungkin akan memakan waktu yang cukup lama. Harap sabar ya bos."
__ADS_1
"Hmmm ya sudah." Ucap Addan lalu mengakhiri panggilan.
Addan melangkah ke arah jendela, ia menatap ke arah luar sambil mengingat wajah Kana.
”Sampai keujung dunia pun aku akan mencarimu. Sesuatu yang telah ku tetapkan menjadi milikku tak akan pernah kulepaskan sampai kapanpun.” Ucap addan mutlak sambil menggepalkan tangannya yang masih meneteskan darah akibat luka terkena Kaca meja hias yang belum sempat ia tutup lukanya.
......................
Kana yang sedang bermenung duduk di dekat jendela melihat indahnya bintang yang berkelap-kelip.
Sampai sekarang kejadian kemaren masih membekas dan menimbulkan trauma, Kana tak bisa mengatakan pada siapapun soal kejadian itu. Ia tak bisa mengatakannya pada Nena, Lani dan Lano sebagai kakak dari pria yang memperkosanya.
Ia takut mereka akan membawannya ke hadapan Addan. Kini ia hanya bisa mengadu dan berkeluh kesah, tempat ia mengadu adalah Ibu Sofi, orang yang selama ini mengasuhnya di panti asuhan dan juga Raya, adik sepupunya. Tapi terlebih dahulu ia akan menghubungi raya dan mengajak Raya ketemuan, sebelum pergi menemui Ibu Sofi di panti asuhan.
Kana mengambil handphonenya yang terletak dia atas meja, lalu mencari kontak nama Raya untuk ia hubungi.
Panggilan pun masuk, kana meletakkan benda pipih tersebut di telinganya.
”Halo? Kak Kana” saut Raya di sebrang sana.
”Ya halo Ray….” Saut Kana yang tak dapat membendung airmatanya setelah mendengar suara Raya.
”Ada apa kak? Kok malam-malam begini telpon aku. Apa ada masalah!” Tanya Raya yang terdengar khawatir.
”Ray besok kita ketemuan ya. Di tempat biasa kita nongkrong, ada yang mau kakak omongin ke kamu.” Ucap Kana yang menahan isak tangisnya.
”Kalau kakak ada masalah bisa di omongin lewat telponkan. Masalahnya besar ya sehingga kakak minta ketemuan, apa perlu aku hubungi Kak Nena?” Ucap Raya lembut.
” Jangan! Raya, aku mohon jangan beritahu Nena, sekarang kakak hanya ingin memberitahumu saja dulu.” Ucap Kana memelas.
”Hmmm baiklah, jam berapa? Aku akan datang kesana. Sekarang lebih baik Kakak istirahat , besok kita akan cari jalan keluar soal masalah kakak.” Ucap Raya yang tak henti-hentinya mengkhawatirkan Kana.
“Iya terimakasih Ray, besok jam 10 pagi kamu udah ada disana, kakak tunggu kamu disana.” Ucap Kana memelankan sedikit suara agar isakan tangisnya tak terdengar oleh Raya.
”Baiklah. Sekarang kakak tidur ya? Lalu matiin sambungan telponnya.” Ucap Raya lembut.
”Iya.. sampai ketemu besok Raya..” saut Kana lalu mematikan sambungan telponnya.
Setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Raya, air mata yang sedari ia tahan akhirnya mengalir dengan deras. Kana menangis sesenggukan menahan sesak di dadanya.
Ia tak menyangka hal ini akan terjadi padanya, hubungannya dengan Lani mungkin saja tidak akan baik lagi setelah kejadian itu.
"Ya Allah...Apa yang harus aku lakukan? Kenapa terasa berat untuk menjalani kehidupanku selanjutnya. Tolong beri petunjuk-Mu ya Allah, dan ampunilah hamba-Mu yang telah kotor ini....hiks hiks hiks" Ucap Kana sambil menatap ke arah langit lewat jendela kamarnya sambil menangis.
Bersambung...
__ADS_1
Author~ Apakah Addan menemukan keberadaan Kana, dan membawa Kana kembali atau malah sebaliknya?
Mari kita nantikan kelanjutannya, tetap pantau terus kelanjutannya ya readers!🥰