
Pria yang sedari tadi memperhatikan keduanya terlihat bertambah geram ketika Zora menggenggam erat tangan Kana.
Brak!!!
Merasa tidak tahan melihat pemandangan tersebut akhirnya ia mengamuk menggebrak kuat meja yang ada di hadapannya. Sehingga membuat semua orang yang ada di dalam kafe menoleh ke arahnya.
Betapa terkejutnya Kana melihat siapa pelaku yang menggebrak meja itu.
''Di..dia.."Ucap kana pelan dengan tangan gemetar.
Zora menoleh ke arah Kana, kemudian bertanya. Karena ia merasa Kana mengenal pria tersebut.
"Na, Kamu kenal pria itu?" Tanya Zora menatap Kana sambil memeluk bahu Kana.
Sekali lagi pemandangan tersebut menambah amarah pria itu, matanya memerah memancarkan api permusuhan kepada Zora.
"Beraninya kau menyentuh wanitaku! Menjauh darinya." Teriak pria itu lantang, membuat semua orang yang ada di kafe terkejut mendengar teriakannnya.
Pria itu berjalan cepat ke arah panggung, tempat dimana Kana berada.
Raut wajahnya terlihat menyeramkan, sehingga membuat siapapun yang melihatnya merasa takut.
Para pengunjung berbisik-bisik, karena sebagian dari mereka mengenal sosok pria itu, dan pernah melihatnya di TV.
Kana yang melihat pria itu berjalan mendekat ke arahnya, dengan cepat ia bersembunyi di balik punggung Zora.
"Kana?" Ucap Zora menolehkan kepalanya ke belakang melihat kana yang bersembunyi di belakangnya.
Tampak jelas dari raut wajah Kana yang ketakutan melihat pria itu.
"Zora...biarkan aku bersembunyi di balik punggungmu." Ucap Kana dengan suara gemetar.
Sekarang pria itu tengah berhadapan dengan Zora, terlihat tangannya mengepal keras.
"Berikan dia padaku." Ucap Pria itu dengan nada dinginnya.
"Kau siapa? Jika kau kemari hanya ingin menyakiti Kana. Lebih baik kau pergi dari sini." Ucap Zora dengan penekanan, membalas tatapan tajam pria itu padanya dengan tatapan menantang.
"Aku suaminya!" Ucap pria itu lantang.
Mendengar kata yang terlontar dari mulut pria itu membuat Kana dan Zora terkejut.
Zora terdiam mematung, ia tidak percaya atas apa yang di ucapkan pria itu.
" Tidak! tidak mungkin Kana sudah menikah. Aku tidak percaya." Ucap Zora membatin.
"Kana, apa yang di katakan pria ini benar?" Tanya Zora lalu membalikkan badannya, menatap Kana yang kini berhadapan dengannya.
Zora berharap apa yang dikatakan pria itu tidak benar.
"Itu...ti.."Ucap Kana terhenti karena ada sebuah tangan yang menariknya. Sehingga ia berada di pelukan pria itu.
"Hei! Lepaskan Kana." Teriak Zora, namun tidak di gubris oleh pria itu.
Kana bertambah takut, karena sadar berada di pelukan siapa dia sekarang, ia merasa takut menegakkan kepalanya melihat pria yang memeluknya sekarang.
Pria itu berbisik ke telinga Kana.
"Jika kamu tidak mau mengakuiku sebagai suamimu, maka aku akan memberitahukan pada mereka semua bahwa kau tengah mengandung benihku."Ancam pria itu yang tak lain adalah Addan.
Ya pria itu adalah Addan, ayah dari janin yang Kana kandung.
Mendengar ucapan Addan, Kana bertambah gelisah, cemas dan takut. Begitu sulit ia menentukan pilihan, ia tidak ingin berbohong tapi kalau dia jujur. Maka semua orang bakal tahu dan menganggapnya sebagai wanita yang tidak baik-baik, wanita murahan yang hamil di luar nikah.
Kana meneteskan air mata, dan dengan terpaksa mengiyakan ucapan Addan.
"Aku bilang lepaskan dia, kalau tidak aku akan lapor polisi." Ucap Zora mengancam Addan.
"Heh! Mau melaporkanku ke polisi? Polisi tidak akan menahanku bodoh, karena aku suaminya. Jadi atas alasan apa mereka menahanku, aku tidak melakukan kekerasan terhadap istriku kan?." Ucap Addan santai.
"Na. Apa benar dia adalah suamimu?" Tanya Zora lagi kepada Kana.
__ADS_1
"......"Kana hanya diam lalu menatap Addan yang berada di sampingnya, menatap penuh ancaman ke arahnya.
"Hmmm?" Addan menatap Kana memberikan kode pada Kana agar membenarkan hal itu.
"Itu...itu benar Zor...di...dia...adalah Suamiku."Ucap Kana terbata-bata sambil memicingkan kedua matanya sehingga menetes air mata.
Betapa terkejutnya Zora, hatinya terasa hancur berkeping-keping setelah mendengar ucapan sang pujaan hati.
"Apa? Kamu...kamu sudah menikah, tapi mengapa kamu tidak bilang padaku?" Tanya Zora menatap Kana kecewa.
" Itu karena kamu tidak bertanya." Ucap Kana pelan lalu menundukkan kepalanya.
Sungguh Kana merasa sangat bersalah terhadap Zora, karena telah membohonginya.
Semua pengunjung kafe hanya menyaksikan kejadian itu sambil berbisik-bisik. Padahal awalnya mereka mengira Zora dan Kana merupakan pasangan yang romantis, tapi nyatanya tidak. Karena mereka sudah tahu bahwa Kana sudah bersuami, yang mana seorang pengusaha terkaya se Asia.
"Kalau begitu kami permisi." Ucap Addan lalu menarik Kana keluar dari kafe.
Zora hanya menyaksikan kepergian mereka, tanpa menghentikannya. Ia merasa sedih, hatinya terasa remuk dan hancur, bagaimana tidak? Wanita yang selama ini ia cintai sedari SMP kini telah menjadi milik orang lain.
Setibanya di luar kafe, Kana langsung menghempaskan tangannya kasar sehingga cengkraman tangan Addan terlepas.
"Sebenarnya apa yang kamu mau? Setelah merenggut yang aku jaga selama ini!"Ucap Kana lalu meneteskan air matanya.
"Aku menginginkanmu dan juga calon anak kita Na. Menikahlah denganku"Ucap Addan menatap Kana serius.
"Aku tidak mau!" Ucap Kana lantang tanpa pikir panjang, karena hatinya sudah terlanjur sakit, ulah pria itu.
Mendengar penolakan Kana, membuat Addan geram.
"Kau harus menikah denganku Na, kau tidak boleh menolakku lagi." Ucap Addan lalu memegang tangan Kanan Kana, ia hendak menarik Kana ke suatu tempat.
Namun dengan sigap, Kana mendorong Addan hingga Addan terjatuh dibuatnya.
"Apa kau tuli? Aku bilang Aku tidak Mau!!" Teriak Kana lalu berlari ke arah pinggir jalan dan menghentikan sebuah taksi yang lewat.
"Taksi" Teriak Kana sambil melambaikan sebelah tangannya.
"Kana, berhenti!" Teriak Addan kemudian berdiri dan berusaha mengejar Kana.
"Sial!" Teriak Addan marah sambil menendang sebuah tong sampah yang berada di sampingnya.
Teriakan Addan mengundang tatapan orang kepadanya.
"Eh itu bukannya CEO perusahaan Nicol Visa's Star, Addandra Nicolas." Ucap Salah satu pejalan kaki.
"Kyaaa!!! Iya...." Teriak pejalan kaki yang satunya lagi dengan senang.
Mereka pun menggerubungi Addan yang tengah menghubungi Soka.
"Tuan Addan...bolehkah kami minta foto bareng dengan anda."Ucap pejalan kaki 1
"Iya Tuan, dan juga kami minta tanda tangan anda." Ucap pejalan kaki 2
Addan yang di kelilingi oleh orang-orang tersebut merasa geram.
"Menjauh dariku!!" Teriak Addan emosi.
'Dasar pengganggu, orang lagi kalut. malah diganggu.' ucap Addan membatin
Mendengar teriakan Addan, mereka langsung menjauh karena takut.
Addan kembali meletakkan handphone yang ia genggam ke telinganya.
"Cepat kemari.Gara-gara kau, aku kehilangan Kana."Ucap Addan ketus, setelah itu langsung mematikan panggilannya.
Beberapa menit kemudian, berhentilah sebuah mobil sport bewarna hitam milik Addan yang di kendarai oleh Soka.
~Beginilah tampilan mobil Addan ya, mobil impian Author 🤩🤭
__ADS_1
Soka pun turun dari mobil untuk menghampiri bosnya yang terlihat sangat kesal.
"Maaf Bos, Saya lama pergi beli minyak mobilnya. Karena tadi saya tidak sengaja menabrak seekor kucing." Ucap Soka merasa bersalah lalu menundukkan kepalanya menunggu kata-kata mutiara yang akan terlontar dari mulut Addan.
Soka dan Addan tadinya berada Café der wahren Liebe, karena mengadakan pertemuan dengan klaen penting. Namun Soka menyadari bahwa minyak mobil sport Addan hampir habis, ia pun izin kepada Addan membeli minyak mobil, padahal ia bisa membelinya setelah rapat selesai.
"Dasar tidak berguna, jika bukan karena kau. Aku pasti bisa mengejar Kana yang kabur dengan taksi tadi" Ucap Addan memarahi Soka.
"Sekali lagi maafkan saya Bos, lain kali saya akan hati-hati."
"Ah sudahlah...lebih baik kita balik ke perusahaan."Ucap Addan ketus.
"Baik Bos...Silahkan masuk" Ucap Soka lalu membukakan pintu mobil untuk Addan.
Beberapa menit kemudian, mobil sport tersebut melaju sangat kencang membelah jalan raya yang padat melewati pengendara lainnya.
¤¤¤
Dua hari kemudian....
Tok, tok tok tok
Kana yang mendegar suara ketukan pintu, langsung berdiri dan pergi kearah pintu.
Tok, tok ,tok ( sura ketukan itu lagi).
”Iya tunggu sebentar..” Teriak Kana dari dalam rumah, kemudian berjalan terburu-buru ke arah pintu.
Setibanya di depan pintu, Kana memutar handle pintu. Setelah terbuka terlihatlah disana Raya.
”Raya kamu…” seketika ucapan Kana terhenti karena terkejut melihat tiga orang yang berdiri di belakang Raya, orang itu adalah Nena, Lani dan Lano.
”Kalian…… kenapa bisa ada disini?” Tanya Kana cemas dan takut Nena dan Lani marah padanya.
“Apa ngak boleh kesini? Kami kesini untuk jeput kakak” Ucap Nena dan tanpa basa-basi langsung memeluk Kana.
Kana yang mendengar jawaban Nena hanya diam dan membalas pelukan Nena.
Beberapa detik kemudian, Kana dan nena pun melepaskan pelukan mereka, kemudian Kana memandang Lani yang tengah cemberut.
”Lan..? aku….” Ucap Kana terhenti karena Lani tiba-tiba memeluk Kana erat.
“Aku kangen....baget sama kamu, udah 2 bulan lebih ngak ketemu, ternyata kamu sembunyi disini. Aku khawatir sama kamu…” Ucap Lani.
”Lan…..Lan, jangan peluk aku terlalu erat, aku lagi hamil La…Ups” Ucap Kana keceplosan dan langsung menutup mulutnya.
”Udah….. ngak usah disembunyiin lagi, kami semua udah tau kok. Bagaimana kedaan keponakanku?” Ucap Lani sambil mengelus lembut perut Kana.
”Dia sehat kok Lan….”ucap Kana.” oh iya mari masuk…” Tawar Kana.
”Tunggu bentar Na, kami nunggu seseorang dulu, setelah dia tiba baru kita masuk dan membicarakan hal penting..” saut Lano.
”Siapa?” Tanya Kana.
”Ahhh udahlah tunggu dulu kak, dan lebih baik kakak duduk dulu deh kasian keponakan aku..” saut Nena.
Dan Kana pun duduk di kursi depan yang terletak di teras rumah, sambil menunggu kedatangan orang yang ditunggu mereka(Lani,Lano,Nena,Raya).
Kana yang tak menaruh curiga siapa yang akan datang ia hanya tetap menunggu saja, ia tak tahu siapa yang akan datang, dan menurutnya mungkin teman lano.
Kana tak sempat berpikiran jauh siapa yang akan datang.
Kana merasa kebelet pipis dan ia pun permisi untuk ketoilet.
"Aku mau ke toilet dulu ya?" Ucap Kana, dan diangguki oleh mereka.
Tak lama berselang waktu terdengar suara mobil sport bewarna hitam dan langsung terparkir dihalaman Rumah Bu Sofi.
Terlihat seorang pria berjas hitam dan berkemeja hitam keluar dari mobil tersebut, lalu menghampiri mereka yang berdiri di teras rumah Bu Sofi.
Kana yang sudah selesai buang air kecil, langsung kembali kedepan. Setelah kembali ke teras rumah, betapa terkejutnya Kana melihat siapa yang berada di antara Lani, Lano dan juga Nena.
__ADS_1
Kana terlihat begitu syok melihat pria yang selama ini ia hindari, yang kini tengah berdiri dengan gagahnya di hadapannya.
Bersambung......