You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L (7)


__ADS_3

"Wah!cantiknya....Tapi yang ini kurang rapi deh."seru Kana.


Kana membongkar salah satu tanaman bunga yang ia tanam tadi untuk dipindahkan ke tempat yang tidak sempit.


"Yap! Pas sekali..."Ucap Kana dengan gembira. " Sayangnya Mama....ini taman bunga milik kamu, setelah kamu lahir, mama akan beri nama kamu Camelia , karena di antara bunga yang Mama tanam, bunga camelia yang paling cantik menurut Mama."Ucap Kana lagi dan tersenyum bahagia sambil mengelus perutnya yang agak menonjol itu.


Kana kembali melanjutkan aktivitasnya yaitu menanan bunga yang masih tersisa sambil bersenandung ria.


"Lalala...lalala...Ahhhh!!"Pekik Kana yang kaget karena ada sebuah tangan yang besar menariknya.


Kana menolehkan kepalanya ke atas, melihat siapa yang menarik tangannya.


"Apa yang kamu lakukan Addan?"Kesalnya lalu berdiri dan menghentakkan tangan Addan.


"Justru aku yang bertanya. Apa yang kamu lakukan Kana? Kamu lupa, kalau kamu lagi hamil!."Ucap Addan dengan nada agak tinggi karena marah.


Kana terdiam, karena ketakutan melihat ekpresi suaminya yang kini berada di hadapannya.


"Aku ingat Kok! Tapi aku pengennnn...sekali menanam bunga." Ucap Kana bernada lemah dan kepalanya pun tertunduk.


"Lagi pula aku tidak apa-apa."Ucapnya lagi.


"Apanya yang tidak apa-apa. Lihat! Wajahmu terlihat pucat Kana, Apa kamu tidak sadar akan hal itu?"Ucap Addan yang kesal dan memegang dagu Kana.


"Ah! benarkah?"Saut Kana kaget setelah mendengar ucapan dari Addan.


Kana meraba wajah sampai ke lehernya yang sudah berkeringat dingin.


"Ya Allah...Kenapa aku tidak menyadarinya."batinnya.


Memang sempat Kana merasa lemas, tapi karena rasa sukanya terhadap bunga, ia mengabaikan itu semua, dan mengira bahwa ia akan baik-baik saja dan tidak akan berpengaruh terhadap janinnya.


Addan yang kesal akan respon Kana, menjadi bertambah kesal. Dengan sigap Addan menggendong Kana masuk ke dalam rumah.


"Ahhhh...Addan...Turunkan aku!!"Ucap Kana sambil memukul-mukul dada Addan.


Addan yang di pukul, tidak merasakan apa- apa, karena otot dadanya yang tebal. Ia hanya diam dan terus berjalan masuk ke dalam rumah.


Setibanya di ruang tamu, Addan mendudukkan Kana di atas Sofa dengan hati-hati.


"Bi Murni, tolong panggil semua pekerja di rumah ini, kemari." Ucap Addan dengan nada datarnya dan memancarkan aura kemarahan.


"Ba..baik Tuan Muda."Saut Bi Murni gugup, karena takut melihat tampang Addan yang terlihat sangar.


Semua para pekerja datang menghadap kepada Addan dengan perasaan cemas. Mereka semua duduk bersimpuh dan bersila di atas lantai menghadap ke arah Addan.


"Apa kalian menganggap ucapan saya angin lalu? Sudah berkali-kali saya katakan, jangan biarkan istri saya bekerja keras. Tapi kalian malah diam dan membiarkannya melakukan pekerjaan berat seperti itu."Teriak Addan menggema, sehingga Kana yang berada di sampingnya terkejut dan merasa takut.


Semua pekerja hanya diam dan menundukkan kepala, mereka pun tak berani membantah.


"Sepertinya kalian memang sudah tidak menginginkan pekerjaan kalian. Kalian yang ada di hadapan saya sekarang ini, berjumlah 53 Orang. Bagaimana kalau mulai hari ini, kalian semua tidak usah bekerja lagi disini. Kalian akan saya gantikan dengan orang- orang yang terbaik!" Ucap Addan.


Mereka semua terkejut lalu mengangkat kepalanya dengan raut wajah kasihan.


Kana yang mendengar itu, mengalihkan pandangan ke arah Addan,yang duduk di sampingnya. Ia tidak menyangka, karena ulahnya semua pekerja mendapatkan imbasnya.


Tanpa pikir panjang, Kana meraih lengan Addan.


"Dan. Jangan....kasihan mereka. Ini semua salahku."Ucap Kana memohon dan memegang lengan Addan yang keras nan berotot itu.


Addan memutar kepalanya kesamping dan menatap Kana dengan tajam.


"Diam." Ucap Addan dengan dinginnya.


Kana yang di tatap Addan seperti itu menjadi ciut, ia meremas rok yang ia kenakan dengan perasan cemas akan nasib semua para pekerja di kediaman Nicolas.


"Tuan...Mohon maafkan kami...kami gagal melaksanakan amanah anda. Tolong jangan pecat kami... Keluarga kami membutuhkan biaya hidup."Ucap salah satu pekerja.


Addan mengabaikan ucapan pekerja itu, lalu berkata.

__ADS_1


"Yang mengurus taman siapa?" Tanya Addan.


"Sa...Saya Tuan muda."jawab Pak Sunan gugup sambil mengangkat tangan kanannya.


"Ok...Kalian semua kali ini saya maafkan."Ucap Addan, membuat semua pekerja rumah bernafas lega dan tersenyum bahagia.


"Tapi... untuk Pak Sunan. Silahkan tinggalkan kediaman Nicolas. Anda saya pecat."Tegas Addan sambil menyilangkan kakinya.


Mendengar hal itu semua pekerja terdiam dan memandang Pak sunan dengan tatapan kasihan.


Pak Sunan hanya bisa pasrah, lalu mengangkat kelapanya dan tersenyum lemah.


"Baik Tuan muda. Saya Mohon maaf...atas kelalaian saya. Kalau begitu saya pamit Tuan dan Nyonya muda."Ucap Pak Sunan dan membungkuk badannya kemudian membalikkan badannya dan melangkah pergi.


"Tunggu Pak!" Ucap Kana dengan sedikit berteriak


Mendengar ucapan Kana, Pak sunan menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menghadap ke kedua majikannya itu.


"Add...Eh! Mmmmass....Ad..dek mohon jangan, jangan pecat Pak sunan."Ucap Kana terbata-bata dan menghadapkan badannya ke arah Addan.


Kana sengaja memanggil Addan dengan sebutan Mas, supaya Addan luluh.


Addan menyunggingkan sedikit senyuman, setelah mendengar panggilan Kana terhadapnya.


"Ternyata kamu pintar sekali merayu ya, sayang."batin Addan.


"Keputusanku sudah bulat, sayang."Ucap Addan dan menekan kata sayang sambil menatap Kana dan mengangkat sebelah alisnya.


Kana menjadi sedih mendengar jawaban dari Addan.


"Mmassss....aadek mohon jangan pecat Pak Sunan. Ini semua kesalahanku, Pak Sunan sudah berkali-kali menasehati, tapi aku tidak mendengarkannya. Hiks...hiks."Ucap Kana memohon dan menangis sambil meremas jas Addan.


Addan yang melihat Kana menangis, menjadi iba dan langsung menarik Kana ke dalam pelukannya.


"Baiklah, Mas tidak akan memecat Pak Sunan. Tapi sebagai tebusannya apa?"Ucap Addan lembut dan mengusap kepala Kana dengan sayang.


Kana mengangkat kepalanya, lalu berkata.


Addan merenggangkan pelukannya, ia menatap Kana dengan tajam dan berusaha menahan amarah di dalam hati agar tidak meledak.


"Apa kamu bilang? Coba ulangi sekali lagi!"Ucap Addan dengan nada tinggi dan mendekatkan telinganya ke wajah Kana.


Kana berkeringat dingin melihat ekpresi Addan yang menakutkan menurutnya.


"Maksudku...kau ceraikan aku..."Ucap Kana pelan.


Addan yang sudah sangat kesal, tanpa izin menggendong Kana.


"Ahhh....Addan..., apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku!"Pekik Kana sambil memukul-mukul dada Addan.


"Menghukummu."jawab Addan serius.


Addan berjalan menaiki tangga sambil menggendong Kana, dan tak menghiraukan rengekan Kana yang berusaha melepaskan diri. Sedangkan semua pekerja rumah, hanya menatap kepergian pasangan suami istri itu.


Setibanya di kamar, Addan meletakkan Kana pelan-pelan di atas ranjangnya.


Kana yang melihat gelagat mencurigakan dan ekpresi mesum yang ditunjukkan oleh Addan, langsung menutup kedua buah dadanya dengan kedua tangannya.


"Ke..kenapa kamu menatapku seperti itu?"Ucap Kana dengan gemetar karena takut.


"Menurutmu. Apa yang aku inginkan saat ini, untuk menghukummu?"Ucap Addan dengan ekpresi wajah yang sulit di artikan.


Addan semakin mendekatkan wajahnya, sehingga hanya tinggal beberapa centi lagi bibir mereka akan saling beradu. Kana yang merasakan nafas hangat Addan yang menerpa wajahnya, menjadi gugup dan refleks memalingkan wajahnya.


"Hmmm?Menurutmu apa yang akan suamimu ini lakukan kepada istrinya yang keras kepala ini?" Tanya Addan lagi sambil memegang dagu dan memutar kepala Kana dengan pelan sehingga mereka bertatapan lagi.


Kana yang sempat terpesona akan tatapan Addan. Namun ketika sadar, ia langsung menepis tangan Addan yang memegang dagunya.


"Jangan menyentuhku!"Kana yang marah dan sedikit membentak.

__ADS_1


Addan yang di bentak merasa geram, ia langsung menjatuhkan Kana ke kasurnya dan mengukungnya dengan kedua tangan Addan yang kekar.


"Apa yang kamu lakukan? Lepas!!"Bentak Kana dan meronta-ronta karena takut akan di lecehkan oleh Addan lagi.


Melihat Kana yang meronta- ronta di atas ranjang, membuat gairahnya bangkit. Addan yang tidak tahan merapatkan tubuhnya ke tubuh Kana sehingga tidak ada jarak di antara mereka.


Kana dengan takut-takut memejamkan kedua matanya, wajahnya menjadi pucat dan tubuhnya pun ikut bergetar.


"Jangan lakukan itu...a, aku mmohonnnn..."pinta Kana dengan suaranya yang gemetar, tangannya pun berusaha mendorong tubuh Addan yang menindihnya


Addan yang mendengar suara Kana yang gemetar, ia pun tersadar atas tindakannya. Addan bangkit dari tubuh Kana dan berjalan mundur ke belakang beberapa langkah.


"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud membuatmu takut."Ucap Addan dengan rasa bersalah.


Kana membuka kedua matanya, dan tampak cairan bening mengalir dari kedua matanya itu.


Kana merasa trauma, ia takut Addan akan melecehkannya lagi, seperti yang Addan lakukan beberapa bulan yang lalu.


Melihat Kana menangis, Addan semakin merasa bersalah. Padahal dia hanya bercanda, tapi tak menyangka ia terbawa suasana.


"Aku..." Addan sambil meraih tangan Kana.


Namun Kana menepis tangan Addan, lalu pergi dengan berjalan cepat dari kamar Addan dalam kedaaan menangis.


~~


Keesokan harinya.


"Hei! Kau kenapa lagi? kemaren kau bekerja dengan wajah bahagia, kenapa sekarang masam sekali seperti mau lenyap dari muka bumi saja."Tanya Hoby dan memperhatikan raut wajah Addan yang murung.


"Aku di acuhkan lagi oleh istriku, dia menghindariku."jawab Addan tak semangat.


"Nah coba kau curhat sedikit tentang masalahmu dengan istrimu, nanti aku beri saran yang bagus."Ucap Hoby dan mengacungkan jempol tangannnya.


Addan menatap Hoby dengan alisnya yang terangkat sebelah, menandakan bahwa ia tak percaya lagi kepada Hoby.


"Tatapan macam apa itu?"Ucap Hoby yang jengkel dengan cara Addan menatapnya.


"Aku tidak mau saranmu lagi. Saranmu akan berakibat fatal, jika di terapkan lagi. "Ucap Addan, dan Hoby hanya menggaruk tengkuk yang tak gatal.


Addan mengalihkan pandangannya lagi ke berkasnya, dengan lemas Addan memegang pena dan menanda tangani berkas-berkas itu.


Soka yang berdiri di samping Addan menegurnya.


"Bos! Tanda tangan anda, kenapa hancur sekali."Ucap Soka dan menunjuk berkas penting yang sedang Addan bubuhkan dengan tanda tangan.


Addan kaget setelah melihat bentuk tanda tangannya, karena kesal Addan langsung melempar map berisi berkas itu ke sembarang arah.


Berkas itu melayang ke arah Sofa, tempat dimana Hoby berada.


"Aduh!"Teriak Hoby yang merasakan sakit di puncak kepalanya, karena berkas itu yang sangat tebal dan mapnya yang keras.


Sambil mengelus-ngelus kepalanya Hoby menatap Addan kesal.


"Kalau melempar itu, lihat dulu kemana arah kau melempar. Jangan sembarangan melempar."Hoby yang kesal.


Mendengar keluhan Hoby, Addan tidak mengubrisnya. Sehingga membuat Hoby mendesis karena kesal.


"Soka, tolong perbaiki berkas tadi, dan perbaiki juga berkas ini, karena terdapat banyak kesalahan."Perintah Addan sambil melemparkan dua buah berkas ke hadapan Soka.


Soka mengambil kedua berkas itu.


"Baik Bos."Saut Soka dengan lemasnya dan berjalan lunglai ke ruangannya.


Gimana tidak lemas, berkas yang akan ia perbaiki sangat tebal di tambah lagi jumlahnya pun juga dua.


"Dia yang galau, aku yang sengsara." Kesal Soka membatin.


"Oh!my Sasha, kapan kita akan cepat punya anak, kalau seperti ini terus ceritanya." Soka berdialog sendiri ketika akan memasuki ruangannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2