
Keesokan harinya Kana berangkat lebih pagi, untuk menghindari Addan, setibanya di toko Kana langsung membuka toko kuenya dan mengeluarkan semua kuenya, lalu membersihkan toko kuenya. Setelah membersihkan toko kue, Kana duduk-duduk sambil menunggu Raya, sepupunya.
Ia dan Raya sekarang mengurus toko kue, karena Nena tidak bekerja lagi, jadi hanya mereka berdua yang mengurus. Raya yang sudah lulus SMA tidak ingin kuliah, ia hanya ingin bekerja di toko kue Kana , dan membantu Kana mengurus toko kue.
“Pagi Kak Kana, tumben cepat tiba. Biasanya kan aku yang buka toko kue”Sapa Raya sambil menguap, ia tidur di toko. Lebih tepatnya di kamar Kana.
”Kakak kok ngak tinggal di toko sih sama aku. Kakak memangnya tidur dimana sih?” sambung Raya.
”Kakak tinggal di kediaman Nicolas sementara, Ray”Balas Kana.
”Lah kok tinggal disana sih? Ngak mau ya bobok sama aku. Aku ngak panuan atu kudisan kok kak” Canda Raya.
“Bukan gitu Ray, kakak dipaksa tinggal disana dan kakak juga udah terlanjur janji sama Lani” ucap Kana lesu.
”Terus sekarang alasan kakak cepat-cepat tiba ke toko apa? Jangan bilang kakak bertengkar disana atau membuat masalah.” Ucap Raya penuh introgasi.
”Ih! ya enggaklah Ray. Kakak mu ini ngak pernah buat masalah ditempat orang. Dan alasan kakak cepat datang ke toko ngak bisa kakak beri tahu sama kamu, dasar kepo.” Ucap Kana lalu beranjak pergi masuk ke toilet.
Saat di toilet tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di handphonenya. Ternyata Lani yang kirim pesan, ia meminta Kana menunggunya di depan toko Kue nanti sore. Lani dan Kana sudah janjian nonton konser musik kesukaan Kana. Saat Kana keluar dari toliet, raut wajah Kana tampak cerah dan bahagia, padahal sebenarnya ia lupa bahwa sekarang jadwal konsernya.
Raya yang melihat raut wajah bahagia Kana menegurnya.
"Dapat undian emas ya di toilet, bahagia amat kayaknya." ejek Raya.
"Ya ngak lah, itu mah kotoran bukan undian." Ucap Kana kesal. "Kakak diajak Lani pergi konser musik Rosa. Senang banget rasanya..." Ucap nya lagi dengan bahagia dan tersenyum.
"Kok aku ngak diajak?" Ucap Raya pura-pura cemberut.
"Sorry Ya. Tiketnya cuman ada 2, satu untukku dan satu untuk Lani. Kami hanya berdua saja." Ucap Kana dan terkekeh.
"Dasar pelit!" Saut Raya pura-pura kesal.
"Bukannya Kakak yang pelit. Kakak aja di kasih sama Lani."
"Iyadeh...ngak papa. Aku cuman becanda saja. Selamat bersenang-senang Kakak. Nanti biar aku yang tutup toko." Ucap Raya tersenyum kearah Kana.
"Makasi ya Adekku..." Ucap Kana dan memeluk Raya.
Sore harinya kana pun dijemput oleh Lani, untuk pergi ke konser bersama. Mereka naik mobil Lani, Kana dari tadi tersenyum terus.
"Bahagia amat kamu. ngefans banget ya?" Ucap Lani sambil mengemudi dan memperhatikan Kana yang duduk disampingnya sesekali.
__ADS_1
"Iya. Semua lagunya tu bagus-bagus, apalagi suaranya enak banget di dengar, tau ngak? lagunya, hampir memenuhi galeri musikku, Bla....Bla..." Celotehnya tanpa henti sambil tersenyum, senyumannya sedari tadi tak pernah luntur. Membuat Lani juga ikut senang, melihat raut wajah bahagia sahabatnya itu.
Setibanya di tempat konser, Kana langsung menarik Lani, setelah memberikan tiketnya.
Banyak orang yang hadir melihat konser tersebut, Kana dan Lani berdiri di barisan depan. Kana bahagia , ia melihat idolanya tersebut bernyanyi dan menikmati lagu yang dinyanyikan Rosa sang idola. Sambil memejamkan mata, dan mengenggam erat tangan Lani.
Lani tak menatap ke arah sang penyanyi, dia hanya menatap Kana yang disampingnya. Ia senang bisa membuat sahabat terbaiknya bahagia seperti ini, ia sangat menyayangi Kana, seperti ia menyayangi adiknya.
3 jam kemudian, konser musik tersebut pun selesai, semua orang bubar. Begitu juga Kana dan Lani yang pergi meninggalkan konser yang selesai tersebut, lau Lani pun mengajak Kana singgah di kafe.
Di kafe, Lani dan Kana langsung memesan minuman mereka masing-masing.
"Ni. Makasi banyak ya. Aku bahagia hari ini, udah lama aku ingin bertemu sama idola aku itu. Dan kamu mengabulkannya." Ucap Kana dan memeluk Lani yang duduk disampingnya.
"Sama-sama Kana. Aku juga bahagia kalau kamu bahagia. Aku sayang sama kamu." Ucap Lani membalas pelukan Kana. Kana yang mendengar ucapan Lani berlinang air matanya, ia bahagia dan terharu memiliki sahabat seperti Lani.
Tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara seseorang yang sangat Kana kenal, sedang berbicara dengan seorang wanita. Posisi duduk Kana dan Lani membelakangi orang tersebut, begitu juga dengan orang itu, posisinya juga membelakangi Kana dan Lani. Kana mendengar ucapan mereka dengan seksama, tanpa menoleh ke belakang.
"Sayang....Kapan kamu nikahin aku? Aku lagi hamil anak kamu loh...Aku rela jadi istri kedua." Ucap wanita tersebut dengan nada manja.
"Tunggu dulu ya. Aku minta izin dulu sama istriku, kalau udah diizinin, aku pasti bakalan nikahin kamu." Ucap pria itu.
Kana yang mendengar suara yang amat sangat ia kenal, langsung membekap mulutnya tak percaya, ia kenal betul dengan pemilik suara tersebut. Air matanya sudah mengenak di pelupuk matanya. Lani yang berada disampingnya terkejut melihat reaksi Kana.
"Ngak usah minta izin dulu, aku yakin istri kamu ngak bakalan setuju. Lebih baik nikah siri aja dulu, kalau terus-terusan ditunda, perut aku nantinya akan semakin besar. Dan aku ngak mau menanggung malu." Ucap wanita itu lagi.
"Baiklah. Besok kita akan menikah secara siri." Ucap pria tersebut.
Kana yang tak tahan menahan air matanya sedari tadi, akhirnya lolos juga dan disertai sesenggukkan. Lani yang melihat Kana yang menangis, langsung berdiri dan menggebrak meja kedua manusia yang ada dibelakangnya, membuat mereka terkejut begitu juga Kana, ia juga ikut terkejut dengan aksi Lani.
Lani tak tau siapa keduanya dan tak tau apa hubungannya dengan Kana. Yang Lani tau pasti, mereka berdualah sumber kesedihan Kana, baru tadi ia membuat Kana bahagia. Dan sekarang Kana bersedih, Lani benar-benar marah di buatnya.
"Hei, siapa kau? tiba-tiba langsung menggebrak meja kami." Ucap wanita itu marah dan berdiri sambil menunjuk-nunjuk ke arah wajah Lani.
"Kita memang tak saling mengenal, saya tak tau kalian siapa. Tapi kalian sudah membuat sahabat saya bersedih. Kalian benar-benar membuat saya marah." Ucap Lani dengan nada marah dan mata yang menatap tajam kearah keduanya.
"Maaf Nona. Siapa sahabat anda yang kami buat sedih?" Tanya pria tersebut kepada Lani.
Lani pun langsung menarik Kana yang duduk membelakangi mereka, sehingga menjadi berhadapan dengan mereka.
Laki-laki tersebut tersebut sangat terkejut, melihat siapa yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Ka...na?Aaaku...."Ucap pria tersebut dan tercekat, ia tak tau harus berkata apa. Ia gelisah, peluh sudah membanjiri wajah dan tubuhnya.
"Sayang, Kamu kenal wanita ini?" Tanya wanita yang bersama pria tersebut.
"Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini padaku Brian!" Teriak Kana sambil menangis sesenggukan.
Ya pria tersebut adalah Brian, pria yang selama 4 tahun Kana pacari. Pria yang ia anggap setia, baik dan menyayanginya. Tapi malah menipu dan mengkhiantinya.
Air matanya tanpa henti mengalir, sungguh sangat sakit hatinya, ia sangat kecewa. Ia benar-benar sangat salah sudah memberikan cintanya kepada laki-laki brengsek seperti Brian.
"Apa salahku....Kenapa kamu mengkhianti dan membohongiku? Hiks...hiks...hiks." Ucap Kana dengan suara bergetar, dan menangis sambil sesenggukan.
"Sudah berapa lama kamu menikah? Hik, hiks..." Ucapnya lagi.
"E...namm tahun." jawab Brian terbata-tiba.
Kana yang mendengarnya bertambah sesenggukan, air matanya bertambah mengalir deras.
" Jadi selama empat tahun ini, aku adalah selingkuhanmu? Kau benar-benar pria brengsek yang menjijikkan." Teriak Kana sambil sesenggukan dan menghapus kasar air matanya, lalu mendorong tubuh Brian hingga hampir saja jatuh, jika Brian tak bisa mengimbangi tubuhnya.
Lani yang tak tahan melihat Kana yang seperti itu langsung menarik Kana dan memeluknya erat.
"Bajingan!" Teriak Lani pada Brian." Beraninya kau menyakiti sahabatku. Dasar sampah! sudah memiliki istri tapi masih saja matamu jelalatan. Kana benar-benar sial telah menjalin hubungan denganmu, dan sekarang kau malah punya selingkuhan lagi. Pria sepertimu seharusnya dimusnahkan saja dari muka bumi ini." Ucap Lani menggebu-gebu sambil memeluk erat Kana yang sesenggukan di pelukannya. Brian hanya diam saja, karena ia tahu, ia salah.
"Hey wanita sialan. Jaga ucapanmu, beraninya kau memaki ayah dari anakku. Bagiku dia pria terbaik sedunia. Sahabatmu itu saja yang sial dan mau di bodohi." Teriak Wanita itu.
"Hahahahaha....Kalian memang pasangan yang sangat cocok. Jalang dan bajingan memang pantas bersanding sampai mati. Pintu gerbang neraka siap menyambut kalian dan malaikat malik menunggu kalian disana." Ucap Lani sambil tertawa remeh kearah mereka berdua.
"KAU..." Ucap Wanita tersebut sambil menunjuk Lani dengan tangan kirinya.
Author~ wanita itu ngak bisa berkata-kata lagi, mungkin karena apa yang dibicarakan Lani benar, K.O sudah....😂🤭Hidup Lani!✊
"Sudahlah Lani, lebih baik kita pergi saja. Aku benar-benar tak sanggup lagi berhadapan dengannya." Ucap Kana yang masih sesenggukan sambil menarik tangan Lani.
"Baiklah, kita pulang." Ucap Lani dan menggenggam erat tangan Kana. Kemudian menunjuk kedua pasangan yang ia anggap makhluk astral.
"Kalian berdua selamat sekarang. Hari ini kalian hanya menerima cecaran dari mulutku yang berbisa ini. Jika suatu saat nanti aku melihat kedua wajah kalian ini, terutama kau (menujuk kearah Brian). Akan ku buat menyesal seumur hidup, dan kalian akan lebih memilih cepat-cepat menyusul nenek moyang kalian." Ucap Lani dengan tajam dan mata yang seakan mengisyaratkan ancaman.
Membuat kedua pasangan tersebut bergidik ngeri, Lani memang sangat menakutkan sekarang. Kana baru kali ini melihat sisi lain dari Lani, selama ini ia tak pernah melihat Lani sesemarah sekarang.
"Ayo! kita pulang. Nanti mata mu sakit, melihat kedua makhluk astral yang memiliki rupa seperti mereka." Ucap Lani menatap sinis ke arah kedua pasangan tersebut, lalu menarik Kana keluar dari cafe.
__ADS_1
Mereka pun pulang ke kediaman Nicolas dalam keadaan mata Kana yang bengkak, dan emosi Lani yang belum padam.
Bersambung...