
Sudah satu jam lebih menempuh perjalanan, akhirnya mereka kini sudah sampai ditempat tujuan.
Sebuah Vila mewah yang asri, tertampang jelas dimata. Kana tak henti-hentinya berdecak kagum. Desain bangunan bergaya eropa klasik itu sungguh sangat memanjakan mata, kiri kanan bangunan Vila Itu terdapat hamparan berbagai jenis tanaman bunga.
“Suka?”tanya Addan sambil menatap punggung sang istri, yang berdiri didepannya.
Kana menoleh.
“Sangat suka Mas,”jawabnya antusias, sebuah senyuman terbit dari bibirnya. Rambut panjangnya yang tergerai, melambai-lambai karena tiupan angin.
DEG
DEG
DEG
Ibarat kuda yang lari terbirit-birit karena terkena cambukan, seperti itulah bunyi detak jantung Addan, ketika memandang sosok indah dihadapannya itu. Mata Addan masih betah memandangi Kana, hingga suara lembut mengejutkannya.
“Mas...”Panggil Kana.
“Maass...!?”panggilnya lagi, kali ini dengan suara yang agak keras dan terdengar kesal. Ia pun mengibas-ngibaskan tangannya tepat didepan wajah Addan.
Addan tersentak, “Ah..i-iya Dek?”sahutnya tergagap.
“Kamu kenapa Mas? Dari tadi dipanggil, tapi ngak nyaut-nyaut. Apa yang kamu pikirkan,”tanya Kana sedikit khawatir.
“A-ah tidak! Mas tadi tidak memikirkan apa-apa. Mas berharap kamu betah tinggal disini,"Addan berkilah,"setelah rumah kita jadi, kita tidak akan tinggal disini lagi,”sambungnya.
“Mas membangun rumah baru?! Tapi mengapa? Sepertinya…aku akan betah tinggal disini.”Kana sedikit kecewa mendengar tuturan sang suami.
Belum satu hari keberadaan mereka di Vila, Addan sudah berniat pindah. Padahal Kana sangat berharap ia dan sang suami menetap di Vila itu, bukan karena kemewahan bangunannya tapi karena keindahan alam disekitarnya.
“Jarak Vila ke perusahaan lumayan jauh sayang…Jadi kita tinggal disini hanya untuk sementara,”jelas Addan memberi pengertian.
“Hmm Baiklah Mas,"ujarnya pasrah.
Addan yang menangkap raut sedih Kana, mengulurkan tangannya untuk menyentuh pucuk kepala sang istri.
”Setelah kita pindah kerumah baru kita nanti. Saat weekend, sekali-sekali kita akan menginap disini,”bujuknya.
Mendengar hal itu, raut wajah Kana seketika berubah ceria kembali, walaupun di dalam hati masih tidak rela. Ia harus mengerti akan kondisi sang suami, ia tak mungkin selalu menuruti egonya sendiri. Suatu pernikahan akan berjalan harmonis dan lancar, apabila pasangan itu saling mengerti dan memahami, itulah nasehat penting yang selalu diucapkan oleh Ibu Sofi kepada dirinya.
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan menuju pintu masuk ke Vila. Tidak ada sedikitpun penolakan yang Kana lakukan ketika Addan meraih tangannya. Telapak tangan Addan yang besar memberikan kehangatan padanya, jadi dirinya pun enggan melepaskan tautan tangan itu.
Sebelum memasuki Vila, beberapa pelayan keluar. Kemudian berbaris menyambut kedatangan mereka.
“Selamat datang, Tuan muda dan Nyonya muda,”sambut mereka berbarengan seraya membungkuk hormat.
Mereka menyambut kedatangan pasangan suami istri muda itu dengan raut wajah bahagia. Bagaimana tidak bahagia, Vila mewah dan besar yang sudah lama ditinggalkan, kini sudah dihuni lagi oleh pemiliknya.
“Terima kasih,”sahut Kana lemah lembut,disertai senyuman manis menghiasi bibirnya.
Ia pandang satu-persatu pelayan itu, diantara mereka terlihat satu orang yang mengundang perhatiannya, yaitu seorang gadis kecil yang memakai bando bandana biru pulkadot.
Kana dibuat bertanya-tanya, “Siapa gadis kecil itu?Tidak mungkinkan, Addan mempekerjakan gadis kecil itu. Pasti dia masih berusia sekitar tiga sampai empat tahunan,”gumamnya pelan.
Tiba-tiba gadis itu berlari kearahnya, sambil menyeru,”Mama…!!”pekiknya girang.
Mama?, batin Kana bingung, entah kepada siapa gadis itu menyeru.
__ADS_1
“Sayang…”sahut seseorang.
Kana dan Addan sontak menoleh kebelakang. Terlihat Feni yang sedang merentangkan kedua tangannya, menyambut gadis itu masuk kedalam pelukannya.
“Mama…Alika kangen…”ucap gadis itu, ketika dirinya sudah berada dipelukan Feni, sang Mama.
“Kamu tau alamat Vila ini dari siapa?”tanya Feni, kemudian melerai pelukannya. Tangannya memegang erat kedua sisi bahu gadis kecil itu. Ia sengaja menanyakan hal itu supaya Addan tidak curiga padanya. Ia pun berharap putrinya itu mau bekerjasama.
“Bukannya Ma_”Sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya, mulutnya sudah lebih dulu dibekap oleh Feni.
“Ssstt…Kamu ingin berjumpa dengan Papamu, kan,”gadis itu menganguk, ” jadilah gadis yang patuh, lakukan apa yang sudah saya perintahkan kepadamu, kemaren. Kalau tidak…kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengan Papamu, ”bisik Feni dengan nada ancaman.
Tangannya semakin erat mencengkram bahu gadis itu,”mengerti!?”
“I-iya Ma...”balas gadis kecil dengan tubuh sedikit gemetar karena ketakutan.
Kana menghampiri Feni dan putrinya.
"Ini putri Mbak ya?"tanya Kana pada Feni. Dan tersenyum ketika gadis kecil itu mendongak menatap dirinya.
"Iya Nyonya...Maafkan saya....saya tidak tahu kalau anak saya ini akan datang kemari menyusul saya. Mungkin dia sudah tidak tahan lagi karena selalu saya tinggal bersama Neneknya."
"Apakah boleh anak saya juga ikut tinggal disini Nyonya?"tanyanya.
Kana melirik suaminya, "Mas boleh ya? kasihan gadis kecil ini, sepertinya dia tidak bisa jauh-jauh dari Ibunya."
Addan menatap datar Feni yang tertunduk, kemudian tatapannya beralih kearah gadis kecil disamping wanita itu.
"Terserah kamu,"ucap Addan agak ketus.
Kok kayak ngak ikhlas gitu ya?_Ah sudahlah nanti saja tanyakan lagi pada Mas Addan, batin Kana.
"Ayo Mbak. Anak perempuan Mbak boleh kok tinggal disini. Kasihan dia kalau terus-terusan jauh dari ibunya."
"Ya sama-sama Mbak."
_
_
Pasangan suami istri muda itu, berjalan menuju pintu masuk Vila, melewati semua pelayan itu, bak pangeran dan putri kerajaan yang memasuki istana.
Terdengar samar-samar kasak-kusuk para pelayan itu yang mengagumi kecantikan sang Nyonya muda.
“Cantik sekali,”puji pelayan 1
“Iya sangat cantik,”sahut pelayanan 2 menyetujui.
“Eh! coba kalian lihat. Sebentar lagi akan ada tuan muda kecil di Vila ini. Nyonya muda hamil..,”ujar pelayan 3 antusias, ketika melihat perut buncit Kana.
Mereka sangat gembira, sebentar lagi Vila itu akan dipenuhi oleh tangisan seorang bayi.
Feni yang berjalan dibelakang Kana, merasa dongkol. Ia sangat tidak suka mendengar pujian para pelayan itu.
Puji terus Nyonya muda kalian itu…Sebentar lagi kalian tidak akan melihat wajah cantiknya lagi, karena dia beserta anaknya akan mati, batinnya sambil menatap sinis punggung Kana.
......................
Malam harinya. Kana berkali-kali membolak-balikkan badannya, diatas ranjang. Ia merasa ada yang kurang, biasanya ada sebuah tangan kekar yang melingkari perutnya saat tidur. Tapi sekarang si pemilik tangan itu tidak ada disampingnya. Haruskah ia menjemput si pemilik tangan yang selalu membuat tidurnya nyenyak?, pikirnya.
__ADS_1
“Ngak mau ah!”
Kana memilih memicingkan matanya kembali. Akan tetapi lagi-lagi rasa kantuk tak menyerang dirinya.
Kana menegakkan tubuhnya lalu turun dari ranjangnya. Ia berjalan keluar dari kamar menuju ruang kerja Addan. Ia terpaksa harus menuruti keinginan sijabang bayi, yang minta dielus oleh sang Ayah.
“Harus ya selalu dielus Papa sebelum tidur?” Kana berdialog dengan anak yang masih didalam kandungannya, tangannya mengelus-ngelus lembut sijabang bayi agar berhenti menghujami rahimnya dengan tendangan keras.
_
_
Kana membuka sedikit pintu masuk ruang kerja Addan, kemudian mengintip sang suami dari celah pintu.
“Sudah tengah malam masih saja sibuk kerja,”gerutu Kana.
Ia sangat kesal kepada Addan, yang begitu lama meninggalkannya sendirian didalam kamar. Entah itu karena ia yang tidak mau jauh-jauh dari sang suami, atau karena anaknya yang tidak bisa jauh dari sang ayah.
Kana memberanikan diri masuk kedalam ruang kerja Addan, namun tampaknya sang suami tidak menyadari kehadirannya.
“Hekhem!!”Kana berdehem agak keras, agar suaminya yang super sibuk itu melihat kearahnya.
Mendengar suara deheman keras sang istri, jari jemari Addan detik itu juga berhenti menekan tombol keyboard laptopnya, kepalanya yang tertunduk pun langsung terangkat.
Senyuman manispun terbit dari bibir tipis Addan, ia sangat senang atas kehadiran sang istri diruang kerjanya.
Addan bangkit dari duduknya, lalu melangkah kedepan menghampiri istrinya yang terlihat bermuka masam. Dan itu menambah kebingungan dibenaknya, entah apa salahnya sehingga membuat raut wajah istrinya seperti itu.
“Kamu kenapa hm? Makanannya belum datang?”tanya Addan lembut, sebelah tanganya memangku bahu sang istri.
“Makanan apaan sih Mas? Aku lagi ngak mood makan!”ujarnya sedikit ketus, lalu menepis tangan Addan yang bertengger dibahunya. Bibirnya pun maju beberapa centi.
Addan tidak marah ataupun kesal melihat respon istrinya itu. Justru ia merasa istri cantiknya itu sangatlah menggemaskan. Andai saja dirinya sudah bertahta dihati wanita itu, pasti tanpa rasa malu, ia akan langsung menyerobot bibir seksi Kana yang sangat menggoda itu.
“Yakin ngak mau? Mas tadi udah pesan bakso tusuk, kripik kentang dan… martabak telor kesukaan kamu,”pancing Addan yang membuat pertahanan Kana mulai runtuh.
Dari sudut bibir Kana, sudah menampakkan tanda-tanda akan meluncurnya air liur dari sana.
Membayangkannya saja ia sudah ngeces, apalagi makanan itu sudah terpampang nyata didepan mata, mungkin tanpa basa-basi ia akan langsung melahap habis makanan itu hingga tak bersisa.
“Hapus dulu sayang…ilermu.”Addan mengelap sudut bibir Kana yang sudah banjir air liur dengan telapak tangannya.
”sabar…bang kurir bentar lagi datang,”lanjutnya dan terkekeh ketika Kana melayangkan sebuah pukulan ke dadanya. Bagi Kana itu merupakan pukulannya yang terkuat, tapi bagi Addan itu adalah pukulan manja yang membangkitkan gairah.
Hati dan pikiran Kana sangat memegang teguh pendiriannya. Akan tetapi berbeda dengan perutnya yang terus meronta-ronta minta diisi. Padahal sebelum berbaring diranjang tadi, ia sempat menghabiskan seporsi pangsit.
Addan meraih pergelangan tangan Kana, lalu menariknya ke sofa, dan mendudukkan istrinya itu dipangkuannya.
“Mas…kamu apa-apaan sih?! Lepasin aku.”Ujar Kana kesal. Namun tak dapat dipungkiri, dirinya sebenarnya merasa nyaman duduk dipangkuan Addan.
Kedua tangannnya bertumpu didada bidang Addan, agar mereka tidak terlalu lengket.
"Katakan. Ada apa gerangan menghampiri Mas kesini, hm?"tanya Addan, dan tanpa basa-basi mengendus leher Kana.
"Mmm i-itu..."Kana agak risih akibat perlakuan Addan.
"Ya?"Addan menjauhkan wajahnya dari ceruk leher Kana. Menantikan keinginan istri tercintanya itu.
Kana meraih tangan kekar Addan, lalu menempelkannya ke perutnya yang buncit.
__ADS_1
"Elusin!"pintanya. Wajahnya sengaja ia palingkan, agar Addan tidak melihat pipinya yang mungkin sudah memerah, karena malu.
Bersambung...