You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Flashdisk yang Tertinggal


__ADS_3

Cuit Cuit Cuit (Suara kicauan burung di pagi hari).


Kana yang masih bergelumun dengan selimut masih tertidur nyenyak dia atas kasur. Sedangkan Addan yang sedari tadi menunggu kedatangan Kana , memutuskan untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Karena jika menunggu Kana bangun, ia pasti akan terlambat datang ke perusahaan.


Tak perlu memakan waktu yang lama, kini Addan sudah rapi dengan setelan jasnya.


Tak lama kemudian Handphonenya pun berdering, menandakan ada panggilan masuk. Tanpa pikir panjang addan langsung mengangkat panggilan itu.


“….”Soka.


“Ok. Oh iya, Tolong kau siapkan berkas-berkas yang kita perlukan untuk rapat hari ini. Dan jangan lupa, minta Ghani untuk datang ke kantor.”


“….”


“Katakan saja padanya, ada hal penting yang ingin kusampaikan padanya.”


“….”


“Hmmm”


TUT


Setelah melakukan panggilan dengan Soka, sang asisten pribadi. Addan memasukkan handphone ke dalam saku celananya kembali.


~~


Sekitar pukul 09.00 pagi, Kana terbangun dari tidurnya sambil menggeliat.


“Hmmm…huahhhh”Kana yang menggeliat diatas kasur dan menguap.


Ia pun menyibakkan selimutnya dan turun dari ranjangnya. Kana berjalan ke arah tirai jendela lalu menyibakkan tirai tersebut. Betapa terkejutnya Kana, ternyata matahari sudah hampir meninggi, diliriknya jam dinding ternyata sudah pukul Sembilan pagi.


“Astagfirullah… ternyata aku bangun kesiangan. Mas Addan pasti terlambat, aku harus buru-buru ke kamarnya untuk menyiapkan pakaian kantornya.”Ucapnya dengan sedikit teriak.


Dengan tergesa-gesa Kana pergi ke kamar Addan, tanpa mencuci muka dan merapikan rambut terlebih dahulu. Sesampainya Kana di kamar Addan, ternyata Addan sudah tidak berada di kamarnya lagi. Kana pun memutuskan turun ke bawah menuju ke ruang makan, disana Kana berjumpa dengan Lani yang sedang mengoleskan slai kacang ke roti tawar.


Melihat Kana yang menghampirinya, Lani pun menyapa Kana.


“Hai…Bumil, kesiangan lagi? Sini, cepat sarapan. Tadi Addan sudah membuatkanmu susu tapi sekarang sudah dingin, jadi aku minta Bi Murni membuatkannya lagi.”Ucap Lani dan menunjuk segelas susu hangat di atas meja makan.


“Mas Addan sudah berangkat ke kantor Lan?”Tanya Kana karena ia tidak melihat wujud suaminya disana.


“Sudah! Suamimu tadi berangkat jam tujuh lewat. Biasanya kan Addan berangkat jam segitu, masak kamu mengira Addan masih dirumah.”Jawab Lani lalu memakan roti yang sudah ia beri slai kacang.


“Maaf.... aku ketiduran, soalnya aku tadi malam begadang.”Dengan perasaan tak enak.


“Hah? Ngapain kamu begadang? kamu lagi hamil loh, ngak baik untuk kesehatanmu dan janin kamu. Memangnya apa yang kamu lakukan hingga bergadang tadi malam?”Ucap Lani dan sedikit terkejut.


Mendengar pertanyaan Lani, Kana menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan tersenyum malu-malu. Sebenarnya malam tadi ia susah tidur karena memikirkan percakapannya tadi malam dengan Addan.


“Ngak ngapa-ngapain kok lan, mata ku ngak mau ketutup. Susah banget tidurnya, menghadap ke kiri ngak nyaman ke kanan pun begitu, aku bawa tidur terlentang juga tidak mau. Entah kenapa ketika mau tidur, merasa ada yang kurang gitu.”


“Kamu tidur saja sama Addan. Anak kalian mungkin ngak mau kedua orang tuanya tidur berjauhan.”


“Masak sih Lan. Kamu sok tau…Apa hubungannya coba?”Ucap Kana tidak percaya.


“Ya mana tahukan…”Balas Lani sambil mengangkat kedua bahunya.


Kana terdiam, ia memikirkan ucapan Lani yang mungkin saja ada benarnya. Karena entah kenapa selama ia tidur terpisah dengan Addan, tidurnya merasa tidak nyaman, ia membutuhkan sebuah pelukan hangat dan elusan lembut tangan Addan di perutnya.


“Eh! Ada Flashdisk. Kamu tau ini Flashdisk siapa?”Ucap Lani yang menemukan sebuah Flashdisk bewarna hitam di atas meja makan.


“Itu bukannya flashdisknya mas Addan ya?”


“Kalau ini milik addan, pasti ini flashdisk penting banget. Soalnya hari ini Addan ada meeting dengan klien pentingnya yang merupakan pengusaha tersukses di Jerman.”


“Yasudah berikan padaku.”


“Hah! Untuk apa Na? Jangan bilang kamu yang mengantarkan flasdisk ini.”

__ADS_1


“Iya. Emangnya kenapa?" Saut Kana dengan santai.


“Ngak boleh! Biar Pak Lolo saja yang mengantarkan, kamu di rumah saja. Aku takut kamu kenapa-kenapa.”Lani yang sedikit jengkel dengan sikap acuh Kana.


“Aku baik-baik saja kok Lan…Jangan khawatir. Aku kesana sekalian mau mengantarkan makan siang untuk Mas Addan. Lalu aku mampir ke toko kueku.”Ucap Kana meyakinkan Lani dan tersenyum.


“Biar Pak Lolo yang memberikan kotak makannya kepada Addan. Kalau mau pergi ke toko kue besok-besok saja.”


“Tapi aku maunya, aku sendiri yang mengantarkan. Aku bosan dirumah terus Na…Lagian di toko kueku banyak pelanggan, kasihan Raya yang sendirian mengurusnya.”Ucap Kana memasang muka memelas.


“Huffhhh ya sudah, kamu pergi dengan sasha kan? Kalau sendirian tidak aku beri izin.” Ucap Lani yang akhirnya pasrah.


“Iya..iya sayangku…Bukan kamu doang yang tidak akan mengizinkan, adikmu pun juga…”Ucap Kana dengan raut senang dan memeluk leher Lani dengan erat.


“ Uhuk, uhuk…Kamu mau membunuh kakak iparmu ya?”Protes Lani yang merasa lehernya tercekik.


“Hihihi…Sorry Lani…”Ucap Kana lalu melepaskan pelukannya pada leher Lani.


Pukul sebelas siang, Kana sudah sampai di perusahaan keluarga Nicolas dengan ditemani Sasha.


“Nyonya. Silahkan…”Ucap Sasha membukakan pintu untuk Kana.


“Sa, jangan lakukan itu lagi ya. Aku ngak enak sama kamu yang lebih tua dariku. Besok-besok biar aku sendiri yang membukakan pintu ya.”


“Jangan sungkan Nyonya, itu merupakan tugas saya.”


“Hufhhh…pliss…jangan panggil nyonya lagi…panggil Kana saja.”


“Tapi, anda istrinya bos saya..saya...”


“Plissss….Aku sudah berkali-kali loh mengingatkan.”


“Hmm…ya sudah, Nyonya."


“Kana!”tekan Kana.


“Iya Kana. Galak amat sih.”Canda Sasha dan terkekeh pelan.


Kana berjalan menghampiri resepsionis.


"Permisi Mbak saya mau berjumpa dengan CEO perusahaan ini yaitu Addandra Nicolas."Ucap Kana dan tersenyum ramah.


"Ni cewek pasti sama kayak cewek-cewek gatel yang suka menggoda Tuan Addan. Harus disingkirkan ini."batin si resepsionis.


"Apa mbak sudah buat janji dengan beliau atau dengan asistennya, Pak Soka?" Si resepsionis dengan sedikit ketus dan menatap sinis Kana.


"Tidak mbak."jawab Kana dengan ramah dan tersenyum.


"Kalau begitu, mbak harus buat janji terlebih dahulu baru bisa menjumpai CEO kami. Kalau tidak ada janji, lebih baik mbak pergi dari sini." Usirnya.


"Tapi Saya...."Kana ragu mau mengatakan bahwa ia istri dari Addan, CEO perusahaan tersebut.


"Tidak perlu membuat janji di perusahaan ini, karena Nyonya ini adalah istri Bos Addan."Ucap Sasha yang tiba-tiba datang menghampiri Kana.


Awalnya Sasha memutuskan untuk menunggu Kana di luar perusahaan, tapi karena melihat Kana yang masih berdiri di depan meja resepsionis. Ia pun menghampiri Kana.


"Aaa...apa? Istri CEO?"Wajah resepsionis itu langsung berubah menjadi pucat seketika.


"Ya! Tolong kamu tunjukkan rasa hormatmu itu, kalau tidak. Lebih baik keluar saja dari perusahaan ini, perusahaan tidak membutuhkan karyawan yang tidak memiliki sopan santun sepertimu." Ketus Sasha dan menatap tajam si resepsionis.


Karena merasa bersalah dan rasa takut pastinya, resepsionis itu membungkukkan badannya ke arah Kana dan meminta maaf.


"Mmm...Maaf Nyonya ..saya benar-benar tidak tau kalau anda istri CEO kami. Saya mohon maafkan saya Nyonya..."Ucap Resepsionis itu tergagap-gagap dan matanya pun berkaca-kaca karena takut kalau Kana akan mengadukannya kepada Addan.


"Iya Mbak. Tidak apa-apa, kalau begitu ruangan suami saya dimana ya mbak?"


"Ruang Tuan Addan terletak di lantai paling atas Nyonya. Mari Nyonya, biar saya antar anda ke ruang CEO."Resepsionis itu berdiri tegak kembali dan mempersilahkan Kana berjalan mendahuluinya.


"Mmm...Ba.."Belum selesai Kana membalas perkataan resepsionis, Sasha dengan cepat memotongnya.

__ADS_1


"Tidak usah! Biar saya saja yang membawa Nyonya ke lantai atas, kamu kerjakan saja pekerjaanmu dengan baik."Potong Sasha dengan nada ketus.


"Ba...baik Mbak."Ucap Resepsionis yang sedikit ketakutan.


Kana dan Sasha memasuki lift dan menekan lantai 56.


"Sa, kamu kok ketus amat sama resepsionis tadi. Kasihan....dia ketakutan loh."


"Dia itu penjilat Nyonya, ngak pantas untuk di kasihani dan dibaik-baikin."


Setibanya di lantai 56, mereka berdua berjalan ke arah pintu yang bertuliskan Ruang CEO. Namun sebelum mengetuk pintu, Soka berjalan menghampiri keduanya.


"Nyonya. Sasha?" Tegur Soka.


Mendengar seseorang memanggil mereka, Sasha dan Kana pun membalikkan badannya.


Sasha yang melihat sang suami, langsung tersenyum lebar lalu berjalan cepat ke arah Soka.


"Mas!" Sasha dengan gembira dan langsung menghambur ke pelukan Soka.


"Sayang...Kamu tidak malu apa? Ada Nyonya loh."Ucap Soka sambil membalas pelukan Sasha dan mengelus kepalanya dengan Sayang.


Sasha pun tersadar, ia langsung melerai pelukannya dengan Soka dan tersenyum malu-malu ke arah Kana. Sedangkan Kana yang menyaksikan kemesraan mereka, ada perasaan iri yang terselip di hatinya. Bukan karena Addan yang tidak pernah memperlakukannya seperti itu tapi, ia iri melihat Soka dan Sasha yang saling mencintai.


"Apakah aku dan Mas Addan akan seperti itu nantinya?"Batin Kana.


"Nyonya...Nyonya....Kana...!"Ucap Sasha membuyarkan lamunan Kana.


"Eh iya!"Kana yang kaget.


"Lamun lagi deh...Nanti kesambet loh."Canda Sasha , dan Kana hanya menanggapi ucapan Sasha dengan senyuman.


"Kak Soka, Mas Addan ada di dalam?"Tanya Kana dan menunjuk pintu yang dihadapannya.


"Tidak Nyonya. Bos sedang meeting di ruang rapat dengan kliennya."


"Oh iya! Ini flashdisk Mas Addan yang ketinggalan, jadi aku mengantarkannya kesini."Kana memperlihatkan sebuah flasdisk kecil bewarna hitam.


"Syukurlah Nyonya...padahal saya mau ke kediaman Nicolas menjemput flashdisk itu, tapi untung Nyonya mengantarkannya dengan tepat waktu. Terimakasih Nyonya"


"Iya sama-sama Kak, ini flashdisknya kak. Dan Ini kotak makan siang, tolong diberikan ke Mas Addan ya Kak."


Sasha dan Soka terdiam, dan mereka saling pandang seperti memberikan kode.


"Bagaimana kalau anda saja yang memberikannya langsung kepada Bos? Pagi tadi saya tidak sarapan , jadi sekarang saya dan sasha berencana makan di restoran "Ucapnya beralasan. Padahal tujuan Soka menolak, karena dia ingin Kana dan Addan bisa makan berdua-duaan di ruang rapat setelah rapat selesai.


"Makan sama-sama saja Kak dengan Mas Addan. Aku membawa makanan yang banyak, tidak mungkin Mas Addan bisa menghabiskannya sendiri."


Soka dan Sasha saling pandang sejenak, lalu Soka kembali menatap Kana lalu berkata.


"Nyonya saja yang makan dengan Bos, Saya ingin berduaan dengan Sasha, melepaskan kerinduan. Kami sudah satu minggu tidak bertemu karena Sasha menginap di kediaman Nicolas. Jadi Tolong ya Nyonya."Ucap Soka dengan memohon sambil mengatup kedua tangannya.


"Tapi...Aku..."


"Aku mohon Na. Aku kangen banget sama Mas Soka."Mohon Sasha dan bergelayut manja di lengan Soka.


Melihat ekpresi Sasha yang mengiba itu, dengan terpaksa Kana menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan Soka dan Sasha.


"Yes! Terimakasih Nyonya."Ucap Sasha dan Soka bersamaan dengan raut wajah gembira.


"Oh iya Nyonya, lebih baik anda masuk saja ke ruang rapat. Takutnya nanti anda menunggu terlalu lama di ruang Bos, karena rapatnya tidak tau kapan selesainya. Lebih baik anda langsung saja menghampirinya ke ruang rapat."


"Nanti aku menganggu Mas Addan dan kliennya yang sedang rapat."


"Tidak akan... Malah dengan kehadiran anda, Bos menjadi lebih semangat dan energik ketika melakukan rapat dengan kliennya."


"Hmmm...Baiklah. Kalau begitu aku permisi dulu Kak, Sasha."Pamit Kana sambil menenteng kotak yang berisi makanan. Ia pun berjalan ke arah ruang rapat tanpa ditemani Sasha dan Soka.


"Disini dulu saya membantu anda untuk hari ini, Jangan sampai anda menyia-nyiakan kesempatan ini, Bos."batin Soka sambil menatap punggung Kana yang mulai menjauh.

__ADS_1


Bersambung...


Hai readers...Maaf ya author sudah lama tidak up, karena author sibuk. Tapi insyaallah dalam beberapa hari ini author usahan untuk Up setiap hari. Tetap pantau terus ya kelanjutan YAMPL, selamat membaca🥰


__ADS_2