
"Lihat deh mas, cantik kan gadisnya. Gimana kalau kita jodohin saja dengan Addan Mas?" Ucap Kenny dengan raut bahagia sambil menunjukkan sebuah foto seorang gadis kepada suaminya.
"Mana mau dia, Addan itu takkan mau menuruti permintaanku. Dia itu keras kepala Ken." Saut Antoni, Papanya Addan sambil mengisap rokoknya.
"Tapi mas, kalau kita menikahkan mereka. Kita bakalan mendapatkan keuntungan yang besar, kita akan diberi sebuah cabang perusahaan milik ayah dari gadis itu. Sudah lama pria tua itu menginginkan Addan menjadi menantunya."
"Aku tidak bisa Kenny, ini menyangkut kebahagiaan putraku. Aku tidak ingin membuatnya tambah membenciku." Ucap Antoni menolak permintaan sang istri muda.
"Mas! Kamu ngak mau nurutin permintaanku lagi ya. Kamu bilang kamu akan menuruti apapun permintaanku." Ucap Kenny merajuk lalu memalingkan wajahnya dari hadapan Antoni.
"Mas bakalan nurutin apapun permintaanmu, tapi jangan yang ini. Jangan membuat hubungan Mas sama putra Mas menjadi makin buruk." Ucap Antoni dengan nada agak tinggi.
"Aku cuman ingin memberikan yang terbaik buat Addan, tapi kamu malah....hiks hiks hiks" Ucap Kenny nangis mengeluarkan air mata buaya sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Tapi sayang...."Ucap Antoni mengerutkan dahinya sambil memegang pundak Kenny.
"Percayalah Mas, apa yang aku lakukan. Itu semua demi Addan, Jane adalah gadis yang baik. Aku yakin Addan akan bahagia bersamanya." Bujuk Kenny
Antoni benar-benar tidak bisa jika tidak menuruti keinginan istri tercintanya itu. Dengan terpaksa ia pun menujui permintaan Kenny.
"Hufff...Baiklah sayang, nanti Mas bicarakan dan bujuk Addan lewat telepon. Tapi kalau dia masih menolak, maaf Mas ngak bisa memenuhimu keinginan kamu itu."
"Tenang saja Mas, kalau Addan menolak. Aku ada rencana agar Addan tidak bisa menolak saat itu juga." Ucap Kenny sambil tersenyum miring lalu masuk ke dalam pelukan Antoni.
Mendengar perkataan Kenny, Antoni sempat mengerutkan dahinya kembali, tapi tak lama kemudian ia menghilangkan rasa curiganya terhadap sang istri.
...****************...
Beberapa hari kemudian...
Pada malam harinya Kana sedang selunjur diatas karpet sambil menikmati siaran televisi kesayangannya, namun tiba-tiba Kana dikejutkan oleh berita mancanegara di televisi ketika ia tak sengaja menekan siaran berita luar negeri.
Berita pertunangan Addan dengan seorang wanita yang sedang diselenggarakan di Italy, membuat Kana tanpa sengaja meneteskan air matanya.
Kana merasakan hatinya sakit, ia merasa di permainkan oleh Addan. Begitu teganya pria itu setelah mengambil kesuciannya dan membuatnya hamil, dengan mudahnya ia bertunangan dengan wanita lain.
Belum selesai si pembawa berita menyampaikan berita, Kana lebih dulu mematikan televisinya.
Kana meneteskan airmatanya, terasa sesak didadanya.
”Nak…..Mama ngak bisa kasih kamu seorang Ayah, karena Mama ngak bisa maksa Papamu untuk bertanggung jawab terhadap kita. Lihat, Papamu sebentar lagi akan menikah dengan wanita lain. Maafkannn… Mama sayang.” Ucap Kana sesenggukan sambil mengelus perutnya yang masih rata.
”Kenapa? Kenapa ini sakit sekali. Jelas-jelas aku telah menolak pria itu hadir dalam hidupku. Apa sekarang aku menyesal ?" Ucap Kana menunduk kepalanya sambil menangis sesenggukan.
__ADS_1
Tak lama kemudian Kana pun mengangkat kepala, ia pun tersadar.
”Untuk apa? Untuk apa aku memikirkan pria itu,dia sama saja dengan pria lain yang selama ini aku kenal, tak ada satupun yang tulus.” Ucap Kana lalu menghapus kasar air matanya.
Baru kali ini hal yang paling menyakitkan yang ia rasakan selama dia hidup di dunia ini, ia tak tahu kenapa hatinya sesakit ini, mungkin karena ia sedang hamil anak pria itu.
”Ya Allah apa yang harus hamba lakukan, ayah dari janin ini akan segera menikah. Kenapa Engkau selalu memberi cobaan yang sulit seperti ini, hamba tak tega melihat anak hamba nantinya tumbuh tanpa seorang Ayah. Meskipun hamba tak mencintai pria itu, setidaknya anak ini mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya. Apa.. apa selama ini hamba salah mengambil keputusan, haruskah dari awal setelah kejadian malam itu hamba meminta pertanggung jawabannya?” Keluh Kana meneteskan air matanya lagi dan tertunduk lemas.
Kediaman Nicolas
“Kak Lani…,dimana kakak aku ingin bicara.Kakak…. Kak Lani….” Teriak Raya lantang.
“Iya tunggu sebentar…”Saut Lani turun dari tangga dengan lesu menuju sumber suara.
Lani benar-benar lesu karena semalaman menangis setelah melihat tayangan yang ada televisi tadi malam.
Tak lupa pula ia juga emosi setelah melihat tayangan di televisi yg mana Addan dan Jane sedang bertunangan. Ia benar-benar marah atas apa yang dilakukan Addan dan Papanya.
Setibanya diluar pintu, disana terlihat Raya yang sedang dihambat oleh satpam. Lani pun meminta Pak Lolo membiarkan Raya masuk.
”Ada apa Raya, kenapa kamu teriak-teriak?" Tanya Lani dengan cemas.
”Apa kakak sudah lihat berita di televisi?” Ujar Raya.
”Tenang! Ray, kakak juga syok mendengar berita itu, Kakak pikir Addan pergi ke Italy buat bantu Papa disana, tapi nyatanya ia malah bertunangan disana. Sungguh Kakak enggak tau Raya.” Ucap Lani dengan nada sedih dan suara bergetar.
”Terus bagaimana dengan Kak Kana? ia lagi HAMIL Kak… Kak Addan harus bertanggung jawab.” Ucap Raya emosi sambil menekankan kata hamil.
Raya yang keceplosan langsung menutup mulutnya, padahal ia sudah janji pada Kana untuk tidak memberitahu siapa pun.
Lani terkejut atas tuturan Raya, terlihat jelas dari raut wajahnya yang sudah memucat.
“Apa? Kana hamil. Darimana kamu tahu? Apa kamu tahu dimana keberadaan Kana?" Tanya Lani yang tak sabaran sambil mencengkram erat bahu Raya.
Raya hanya tertunduk, ia tak bisa menyela ataupun membantah perkataan Lani karena, ia memang tahu keberadaan Kana.
Lani yang melihat tingkah Raya, membenarkan apa yang ia tanyakan tadi.
"Oh jadi Kamu tau keberadaan Kana, kenapa kamu sembunyiin semua itu Raya?." Ucap Lani kecewa atas apa yang dilakukan Raya.
”Maaf kak Lani, itu semua ada alasanya…” saut Raya yang masih menundukkan kepalanya.
”Tapi aku ini sahabatnya dan Nena adik kandungnya sendiri. Apa pantas kalian nyembunyiin itu semua, apa kalian tak menganggap kami ini ada..”Teriak Lani yang sudah tersulut emosi.
__ADS_1
Lani tak habis pikir dengan jalan pikir Kana yang bisa-bisanya dia nyembunyiin kebenaran itu.
”Kak Kana punya alasan dalam hal itu. Ia bilang jika kakak dan kakak Nena tau , ia takut kalian akan memberitahu keberadaanya kepada Kak Addan. Ia benar benar benci dan tak ingin bertemu dengan Kak Addan.” Ucap Raya sedih.
”Dengar ya raya, jika pun kami memberitahu keberadaan Kana , itu semua kami lakukan demi kebaikannya dan masa depannya. Dan sekarang ditambah lagi ia tengah mengandung anaknya Addan, apa ia mau anaknya nanti tumbuh tanpa seorang Ayah?” Ucap Lani marah.
”Aku sangat menyayangi Kana, aku melakukan itu bukan karena Addan adalah adikku, makanya aku akan berpihak padanya?Bukan….., bukan itu. ” Ucap Lani meneteskan air mata.
”Sebenarnya kak, setelah kak kana mendengar tentang kehamilannya. Aku membujuknya untuk mau menikah dengan Kak Addan, jika nantinya kak Addan datang untuk bertanggung jawab. Ia pun menyetujui saranku, karena ia tak ingin jika nantinya anak yang ia kandung tak memiliki seorang ayah.”Saut Raya.
”Jadi Kana mau menikah dengan Addan jika Addan menemuinya?” Tanya Lani senang mendengarnya.
”Iya…, tapi aku sekarang tak tau gimana tanggapan Kak Kana, apakah ia masih mau menikah dengan Kak Addan setelah mendengar berita di televisi.” Ucap Raya lesu
“Sekarang kamu beritahu aku dimana Kana tinggal sekarang.”
“Baiklah kak, Kak Kana itu tinggal di rumah Bu Sofi yang terletak di sebuah desa terpencil” Saut Raya.
”Patutlah Addan sulit untuk mencari keberadaanya, sudah 2 bulan melakukan pencarian keseluruh kota, tapi tak terlacak”
”Mungkin karena rumah Bu Sofi terletak di pedesaan terpencil sehingga sulit untuk melacak keberadaan Kak Kana.” Ujar Raya menimpali.
Lani hanya mengangguk-anggukkan kepalanya membenarkan ucapan Raya.
"Oiya, sekarang Kana bekerja dimana, Ray?" Tanya Lani.
"Kak Kana bekerja di kota B kak sebagai karyawan perusahaan percetakan koran dan majalah."
"Jauh sekali tempat ia bekerja, jaraknya dari rumahnya ke perusahaan berapa jauh?"
"Ngak terlalu jauh kok Kak, Kak Kana biasanya menggunakan ojek dari rumahnya sampai ke gang desa lalu naik bus sampai tempat ia bekerja."
"Oh begitu. Aku pikir Kana tidak terlalu jauh dari kota ini, tapi ternyata membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai ke tempat tinggalnya." Ucap Lani kecewa, lalu menghembuskan napasnya.
"Ya begitulah...Tempat tinggal itupun atas tawaran dari Bu Sofi yang sudah lama tidak tinggal disana."
” Baiklah lebih baik hari ini kamu menginap disini, kita tunggu Addan pulang. Dan sekarang aku harus menghubungi Lano dan Nena untuk segera datang.
Addan harus menjelaskan kepada kita semua, apa maksud dari pertunangan yang telah dilakukannya di Italy." Ucap Lani dan diangguki Raya.
"Besok Addan pasti akan pulang, jadi menginaplah sampai Addan pulang kita akan membicarakan ini dengannya secara baik-baik..” Usul Lani.
“Mmm baiklah kak Lani.” Saut Raya menyetujui usulan Lani.
__ADS_1
Bersambung...