You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Kencan Dipasar


__ADS_3

Nenek Suci menatap heran Belinda beserta koper bewarna kuning dipangkuannya. Mau pergi kemana gadis itu? Itulah kira-kira isi pikiran wanita tua itu.


"Mau pergi kemana kamu?"tanya Nenek Suci pada Belinda.


"Hari ini aku harus balik ke Berlin, Nek. Ada masalah diperusahaanku, "jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan pakaiannya. Dan dengan asal-asalan memasukkan pakaiannya itu kedalam koper.


"Oh ya sudah. Hati-hati dijalan, biar Pak Lolo yang antar kamu ke Bandara,"Belinda mengangkat kepalanya, menatap Nenek Suci dan tersenyum.


"Makasih Nek"


Setelah mengemasi barang-barangnya, Belinda menghampiri Nenek Suci untuk sekedar berpamitan.


"Aku balik ya Nek. Jaga selalu kesehatan Nenek, aku sudah tidak ada waktu lagi untuk berpamitan kepada Kakek. Sampaikan salamku kepada beliau ya Nek?"ujarnya sekedar berbasa-basi sambil memeluk erat Nenek Suci. Sebenarnya dalam hati, ia tidak peduli sama sekali akan kondisi wanita tua itu.


~~


Nenek Suci menatap kepergian Belinda hingga mobil yang dinaiki gadis itu benar-benar tak nampak lagi dipenglihatannya.


"Ada kelegaan dihatiku saat kau pergi, Nak. Tapi sebenarnya dihatiku yang terdalam, aku masih berharap kau menjadi cucu mantuku, Belinda. Karena kau adalah cucu dari sahabatku."gumam Nenek Suci sendu.


Nenek Suci tidak menyukai sikap Belinda yang terlalu berlebihan terhadap Kana. Ia memang ingin Kana pergi dari kediaman Nicolas, tapi tak ada sedikitpun ia berniat membunuh janin dikandungannya. Karena bagaimanapun juga anak yang ada diperut Kana merupakan cicitnya.


...****************...


Tok tok tok


"Siapa?"


"Aku Mas,"sahut Kana dari balik pintu.


Addan yang mendengar suara istrinya, langsung merapikan rambutnya dengan tangannya.


"Hekhem-hekhem! Masuk Dek!"


Ceklek


Addan mengernyitkan alisnya ketika mendapati sebuah keranjang berukuran sedang di tangan sang istri.


"Itu untuk apa, Dek?"tanyanya sambil menunjuk keranjang tersebut.


Kana pun spontan mengikuti arah tatapan suaminya itu.


"Oh...ini Mas. Keranjangnya berguna sebagai tempat menaruh bahan-bahan yang akan dimasak untuk makan siang kita nanti." Addan manggut-manggut mendengar ucapan sang istri.


"Aku pun juga pengen beli Susu ibu hamil, dan juga seblak."sambungnya.


Addan berhenti menatap layar laptopnya, dan kini tatapannya hanya fokus kepada Kana seorang.


"Kamu berniat belanja kemana?"


"Kepasar Mas"


"Biar pembantu atau pelayan saja yang pergi kepasar membeli keperluan dapur."Tegas Addan.


Dek, kamu sebagai Nyonya rumah tidak perlu melakukan itu. Ditambah lagi kamu sedang hamil, nanti kamu kecapean,"lanjutnya.


Mendengar ucapan sang suami, Kana seketika cemberut.


"Apa kamu lupa Mas, kalau semua pelayan sudah diberhentikan oleh Nenekmu?"sindirnya.


Beberapa jam setelah kepindahan mereka ke Vila, Nenek Suci menyusul mereka. Lalu tanpa tau apa penyebabnya, beliau langsung memecat semua pelayan dan pembantu. Namun, beruntung Kana berhasil membujuknya melalui Addan, agar tidak memecat Feni dan mengusir anaknya.


Addan mengusap wajahnya kasar, saat mengingat perbuatan semena-mena Neneknya kemaren siang. Ia tak tau alasan Neneknya itu memecat para pekerja di Vila. Tidak mungkin karena masalah tak sanggup menggaji mereka, lagipula uang milik keluarganya sangat banyak. Bahkan mereka sanggup menggandakan gaji para pekerja itu.


"Suruh Feni saja Feni yang pergi kepasar,"usulnya.


"Tidak bisa Mas."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Anak Mbak Feni lagi sakit, aku tidak bisa nyuruh Mbak Feni pergi kepasar, disaat sibuk mengurusi anaknya."


Addan menghela nafas panjang, kalau mata istrinya itu sudah berkaca-kaca. Ia sungguh tak sanggup untuk menolak keinginan istri tercintanya itu.


"Hufhh...Baiklah."


"Yee...makasi, Mas!"ujarnya sambil berjingkrak-jingkrak bahagia.


Hanya perihal diizinkan kepasar, Kana sudah sesenang itu. Addan yang menyaksikan raut kebahagiaan sang istri, merasa puas dan bangga pada dirinya sendiri karena berhasil menyenangkan hati sang istri.


"Tunggu bentar ya sayang? Mas selesaiin dulu menandatangani berkas-berkas ini, baru kita pergi kepasar sama-sama."


Addan mengira, kalau tujuan Kana menghampirinya selain ingin minta izin kepadanya, pasti istri cantiknya itu juga ingin mengajaknya kepasar.


"Aku pergi sendiri Mas. Tidak perlu kamu temani."


Mendengar ucapan Kana, membuat Addan kehilangan semangatnya.


"Pergi dengan Mas, atau tidak sama sekali? Anggap saja ini kencan pertama kita,"ucap Addan penuh penekan dan tak ingin dibantah.


"Lucu, kencan kok dipasar,"cibirnya.


"Bagaimana kalau kita kepantai, kekebun binatang, atau kerestoran termahal mengadakan makan romantis."


"Ngak mau. Aku maunya kita kepasar sekarang, bahan-bahan makanan di Vila sudah habis,"tolaknya.


"Baiklah...terserah Nyonya Nicolas saja, tapi ini tetap kencan ya?"


"Terserah kamu Mas!"


Kana dan Addan menuruni anak tangga sambil bergandengan tangan. Addan terlihat sangat bahagia ketika berjalan sambil menggandeng Kana, namun berbanding terbalik dengan Kana yang berwajah masam.


Di garasi mobil.


"Jangan cemberut dong Yang...Katanya mau kepasar. Atau kita balik saja kedalam?"pancingnya.


"Ngak, Ngak. Rencana kepasarnya ngak bisa ditunda."


Kana memutar bola matanya malas.


"Aku tidak cemberut lagi nih..."Kana memaksakan senyumannya. Lagi-lagi Addan mencubitnya, kali ini dibagian dagu.


"Ishh...apaan sih Mas. Jangan buat aku kesal lagi! Kesalahan kamu yg kemaren malam, belom aku maafkan loh..."protesnya.


"Ok...Ok...Maaf ya sayang..."ucap Addan penuh kelembutan seraya mengelus rambut sang istri.


"Jangan pegang-pegang kepalaku!"Kana menepis tangan Addan yang bertengger dikepalanya. Lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil, agar Addan tidak melihat wajahnya yang memerah atas perlakuan manis dari suaminya itu.


Addan melajukan mobilnya, melewati pagar hingga kendaraan itu membelah jalan raya yang minim kendaraan.


Sementara, Feni memperhatikan kepergian mereka berdua dari balik jendela. Setelah dirasa mobil yang dinaiki pasangan suami istri itu sudah menjauh, Feni menghampiri putrinya yang terbaring diranjang.


Dia menyibakkan selimut gadis kecil itu dengan kasar. "Mereka sudah pergi, kamu tidak usah acting lagi."ketusnya.


Feni menarik tangan gadis kecil itu, memintanya agar segera bangkit dari ranjangnya. Mau tak mau gadis itu menuruti keinginan Mamanya itu, padahal sebenarnya tubuhnya memang terasa lemah, letih dan lesu. Namun Feni menganggapnya berpura-pura sakit.


"Pergi sana kedapur, kamu belum makan kan?"Gadis kecil yang bernama Alika itu hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah.


"Yaudah pergi sana. Makan didapur, habis itu cuci piring. Jangan mengeluh, kan kamu sendiri yang menyusul saya kemari."Perintah Feni pada putrinya itu.


"Iya Ma..."


"Sekalian bawakan makanan kemari, saya juga lapar!"


Tanpa menjawab ucapan Feni, Alika langsung keluar dari kamar. Setelah pintu kamar Feni tertutup sepenuhnya, tiba-tiba air mata merembes membasahi pipi tirus gadis kecil itu.


"Mama..."lirihnya dan sesenggukan. Tangan mungilnya beberapa kali mengusap kasar air matanya.


Feni adalah ibu kandungnya, wanita yang telah melahirkannya. Akan tetapi, perlakuan wanita itu kepadanya tak seperti perlakuan seorang ibu kandung pada umumnya. Ia ingin dimanja seperti teman-teman seusianya, ia butuh kasih sayang dan perhatian.

__ADS_1


Tak satupun kenangan indah yang tersimpan dimemori gadis kecil itu, karena memang hanya penderitaan yang diberikan Feni padanya selama ini.


......................


Dua jam lamanya Addan mengekori sang istri. Baju kemejanya pun sudah bermandi keringat, tapi bumil yang satu itu belum juga selesai membeli kebutuhan.


"Dek...udah selesai belum?"tanya Addan lesu. Tangannya sudah kebas akibat memegangi banyak kantong belanjaan yang beratnya kiloan.


Kana tersentak saat mendapati wajah lelah suaminya, ia tak tega lagi menyiksa suaminya dengan banyak berbelanja.


"Ya sudah. Yok kita pulang."


"Yakin sudah selesai belanjanya?"tanya Addan memastikan, kalau istrinya itu benar-benar sudah selesai berbelanja.


"Sudah Mas. Yok kita pulang."


"Baiklah!"


Ketika akan mau pulang, pasangan suami istri itu berpapasan dengan Ghani dan Hobby.


Addan menatap aneh keduanya. "Apa yang kalian lakukan disini?"


"Itu, si Ghani. Dia lagi ngintilin calon gebetannya,"ujar Hobby sambil terkekeh.


"Apasih? Ngak benar kok, Bang Hobby cuman mengada-ngada saja."Ghani berkilah.


"Ngada-ngada lu bilang? Kalian__"


Sebelum Hobby menyelesaikan kalimatnya, Ghani lebih dulu memotong kalimatnya dengan mengalihkan topik obrolan. Yang membuat Hobby mendengus kesal.


"Apa saja yang Kakak beli di pasar?” Ghani memeriksa belanjaan Kana, mencari apakah ada makanan favoritnya.


"Ada seblak tuh, tapi jangan ambil lebih dari satu bungkus,"tawar Kana sambil menunjuk salah satu plastik belanjaan ditangan sang suami.


"Aku ngak serakus itu juga kali...Ngak sama kayak seseorang,"sindir Ghani seraya melirik Kana.


Kana berkacak pinggang, matanya menatap nyalang adik iparnya itu.


"Sekarang kamu sudah terang-terangan ya, bilang kakak rakus?"


"Aku ngak ada ya, bilang kakak rakus,"elaknya, sambil mengambil ancang-ancang mau kabur dari hadapan Kana.


...****************...


Berlin


Setibanya ia dikota kelahirannya. Belinda tak mampir dulu kekediamannya untuk sekedar menyapa orang tuanya. Ia langsung saja menyuruh sopirnya tancap gas menuju perusahaan milik kakak tirinya yang merupakan tersangka utama.


Belinda melangkah cepat ke sebuah ruangan, yang mana dipintu ruangan itu bertuliskan nama seseorang yang amat sangat dibencinya.


Tanpa permisi dan mengetuk pintu terlebih dahulu, Belinda langsung menyerobot masuk. Seorang pria yang sedang melabuhkan tanda tangan ke sebuah dokumen, spontan menghentikan kegiatannya. Matanya menatap nyalang ke arah Belinda.


“Apa kau tidak tau tata krama. Hah?!!”Bentak pria itu.


Tanpa menjawab pertanyaan kakak tirinya itu, Belinda langsung mengatakan kekesalannya kepada pria itu.


“Maksud kamu apa, menghasut para investorku hah?! Kurang apalagi kamu? Sudah merebut kepercayaan Ayah, dan sekarang kamu mau berebut kekuasaan denganku?. Sadar…kau itu hanya anak selingkuhan Ayah.“


Hening…


Tap! Tap!


Pria itu melangkah cepat kearah Belinda dengan dipenuhi emosi. Ia sangat tidak suka ucapan wanita itu.


“Mau apa kau!?”tanya Belinda yang sedikit ketakutan sambil beringsut mundur kebelakang.


Plak!!


Tamparan keras mendarat dipipi kanannya, Belinda refleks memegang pipinya yang terasa panas, matanya pun berkaca-kaca karena saking sakitnya tamparan sang kakak tiri di pipinya.

__ADS_1


“Ka-kau. Apa yang kau lakukan?! sshhhh....”Ringisnya.


Bersambung...


__ADS_2