
Happy Reading! 😁
_
Bi Murni hanya bisa menangis sambil melangkah pelan ke pintu luar, hari ini ia terpaksa balik ke kampung halamannya. Sesekali ia menoleh kebelakang melihat rumah besar yang ia tinggali puluhan tahun lamanya. Segala kebersamannya dengan Addan dan semua anggota keluarga Nicolas, dari tuan mudanya itu kecil hingga dewasa terekam jelas dibenaknya. Namun kini hanya tinggal kenangan saja.
Tuan mudaku dan Nyonya kecilku. Semoga kalian sehat selalu, di limpahkan dengan kebahagiaan dan rezeki. Bibi akan terus mendoakan kalian, dimanapun Bibi berada, batin Bi Murni.
"Sampai jumpa kediaman Nicolas, yang berjuta kenangan. hiks hiks, "gumam Bi Murni, tangannya berkali-kali mengusap air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Kana menyaksikan kepergian Bi Murni, dari balik jendela dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya. Sungguh ingin sekali rasanya dirinya mencegah Bi Murni untuk tetap tinggal. Tapi, jika ia melakukan itu, berarti itu sama saja dia tidak menghormati keputusan Addan, sang suami.
"Mas...Bibi...."Kana menelusupkan wajahnya ke dada bidang Addan.
"Aku yakin, Bi Murni ngak mungkin tega melakukan itu, Mas...hiks hiks!"lanjutnya dan terisak.
Addan membalas pelukan Kana, dan mengelus punggung istrinya itu dengan lembut.
"Bukti sudah ada ditangan. Tidak ada lagi alasan bagi kita menahan Bi Murni untuk tetap disini."tegasnya.
"Tap-tapi Mas..."
"Syuut...sudahlah sayang. Itu ganjaran untuk Bi Murni yang telah berani mengkhianti kita."potong Addan, lalu membawa istrinya itu masuk ke tempat peristirahatan mereka.
......................
Di dekat pintu gerbang, Nenek Suci yang balik dari arisan. Berpapasan dengan Bi Murni.
“Nyonya besar,”sapa Bi Murni sambil membungkuk hormat.
Eh! Mau pergi kemana dia, pakai bawa tas besar segala, batin Nenek Suci.
“Bibi mau pergi kemana?_kalau mau pulang kampung kan belum waktunya, sekarang belum tanggal merah.”
Bi murni tertunduk,”saya_ti-tidak lagi bekerja disini Nyonya.”ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar.
“Loh ada apa?”kaget Nenek Suci. Dahinya mengernyit ketika melihat mata pembantunya itu yang bengkak.
“Saya...”
“Nyonya besar!”Bi Isah yang tiba-tiba datang dan memotong pembicaraan mereka,”Tuan muda meminta saya, mengabari Nyonya untuk segera menemuinya,”sambungnya.
“Dimana cucuku itu sekarang?”tanya Nenek Suci pada Bi Isah.
“Diruang tamu Nyonya,”jawab Bi Isah.
“Hm, baiklah”
Sebelum masuk, Nenek Suci melirik Bi Murni yang tertunduk, kemudian lanjut melangkahkan kakinya, masuk kedalam rumah.
Sepeninggalan Nenek Suci.
“Mbak…saya tidak percaya kalau mbak yang melakukannya. Saya yakin.... Mbak bukanlah orang yang seperti itu. “ujar Bi Isah kepada Bi Murni. Matanya berkaca-kaca.
Wanita paruh baya yang berusia tujuh tahun lebih tua darinya itu, sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Sekarang harus pergi, tidak tau kapan mereka akan berjumpa lagi.
__ADS_1
Bi Murni tersenyum miris, ia menepuk pelan bahu rekan kerjanya itu yang sama-sama sudah mengabdi dan menghabiskan waktu di kediaman Nicolas berpuluh tahun lamanya.
“Tolong jaga tuan muda ya, Sah? Terutama Nyonya muda dan bayinya, ”pintanya sambil menggenggam erat kedua tangan Bi Isah.
“Itu pasti mbak, tanpa mbak minta saya akan dengan senang hati melakukannya.”
“Dan tolong awasi gerak-gerak Feni, wanita itu sangat jahat dan licik. Kamu juga harus berhati-hati kepadanya.”
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Bi Murni menarik Bi Isah kedalam pelukannya.
“Baik mbak..”Bi Isah membalas pelukan Bi Murni dan semakin mempererat pelukan diantara keduanya.
......................
Di ruang tamu, kini Addan dan Nenek Suci duduk saling berhadapan. Tatapan Addan kepada sang nenek tidak seelok dulu, dirinya dilanda kecewa berat. Seandainya wanita tua yang duduk berhadapan dengannya ini, bukanlah Neneknya. Pasti saat itu juga ia menyeret wanita tua itu ke kantor polisi.
“Hal penting apa yang ingin kamu sampaikan kepada Nenek, Nak?” tanya Nenek Suci dengan nada suara yang lembut. Wajahnya tampak berseri-seri, mungkin efek perawatan yang dilakukannya bersama teman- teman arisannya tadi siang.
Addan menghela nafas panjang, menekan emosi supaya tidak membentak neneknya itu.
Namun, seberusaha apapun ia mencoba menenangkan diri, percapakan neneknya dengan Belinda di dalam video, selalu terlintas dibenaknya, sehingga membuatnya sangat sulit mengontrol emosi.
“Aku langsung saja keintinya Nek. Tolong jawab dengan jujur, apa Nenek yang menyuruh Bi Murni memasukkan obat penggugur kandungan kedalam makanan istriku?”ujar Addan dingin dan penuh penekanan dengan tatapan tak bersahabat.
Mendengar ucapan cucunya itu refleks Nenek Suci berdiri, ia kaget sekaligus tersinggung akan tuduhan itu.
"Jangan sembarangan menuduh kamu ya. Nenek memang tidak suka pada istrimu, tapi nenek tidak senekat itu sampai melukai anak kalian.”sergahnya.
Addan tersenyum kecut, tidak bisakah neneknya ini berkata jujur saja, kenapa dia suka sekali menipu dan berbohong. Sungguh miris sekali dirinya memiliki Nenek seperti Nenek Suci ini.
Tidak ada gunanya Neneknya itu menghindar, bukti kuat sudah ada ditangan. Yang Addan inginkan sekarang adalah pengakuan dan permintaan maaf dari Neneknya itu.
Addan meng-on kan rekaman CCTV tadi, kemudian memutar laptopnya hingga layarnya menghadap Nenek Suci.
”Lalu yang ada di video ini siapa? Apakah percakapan ini bohongankah?!”geram Addan dengan nada sedikit meninggi.
Rahangnya mengeras ketika melihat respon Nenek Suci yang biasa saja. Tak nampak sedikitpun rasa bersalah yang tergambar diwajahnya yang sudah berkeriput itu.
Sejenak Nenek Suci memejamkan mata sambil menghirup udara, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan.
“Jujur itu memang Nenek, tapi perkataan yang nenek lontarkan didalam video itu hanya pancingan, tidak ada sedikitpun niat didalam hati Nenek untuk melakukannya.”ucapnya hati-hati dan memberi pengertian. Sesekali matanya melirik ke kanan dan ke kiri, seperti waspada akan sesuatu.
“Ap-apa maksud Nenek?”
Nenek Suci mendekati Addan, kemudian berbisik,”bawa istrimu dari sini, ada banyak bahaya yang mengancam keselamatannya dan juga keselamatan anak kalian,"ucapnya serius.
Kening Addan berkerut akan pernyataan Neneknya itu. Bahaya. Bahaya apa yang harus ia waspadai, bukankah Bi Murni sudah ia usir. Siapa lagi musuh yang bernaung dikediamannya ini? pikirnya.
“Nenek jelaskan padaku, ba__.”
“Jangan banyak tanya, cepat bawa istrimu pindah dari sini”potongnya dengan penuh penekanan.
“dan akan ada saatnya, Nenek pasti akan mengatakan semuanya kepadamu, tanpa satupun yang kurang. Kali ini, tolong kamu turuti ucapan Nenek.”tambahnya memohon.
Addan yang mendengar ucapan dan melihat wajah serius Nenek Suci, langsung mengangukkan kepalanya patuh. Ia bahkan lupa mengintrogasi Neneknya itu.
__ADS_1
Tak jauh dari jarak keduanya, ada seseorang menguping pembicaraan mereka dari balik tembok.
”Sialan! Apa yang mereka katakan,”umpatnya kesal, karena tak ada satupun pembicaraan Nenek Suci bersama Addan yang terdengar jelas di telinganya.
“semoga saja, rencanaku berhasil,”lanjutnya, kemudian ia membalikkan badannya dan berlalu pergi.
...****************...
Kepergian Feni dari toko kue Kana, membuat hidup Raya tenang dan tentram, ia sangat bersyukur akan hal itu.
Namun, itu tak bertahan lama. Karena ia kembali merasakan kesal untuk yang kesekian kalinya. Dan kali ini dengan sosok yang berbeda.
“Kamu ini maunya apasih Bang? selalu saja datang kesini mengangguku. Seperti ngak ada kerjaan lain saja,”kesal Raya. Ingin sekali rasanya ia melempar kue ditangannya ke wajah pria muda tampan, yang berdiri sambil nyengir kuda dihadapannya itu.
“Kok kamu ngomongnya gitu ke Abang…”ujar Ghani sedih.
Ya. Pria itu adalah Ghani, adik angkat dari suami sepupunya. Sudah tiga hari ini Ghani selalu menganggunya. Bahkan, pria muda itu tak segan-segan menyatakan cinta dan melamarnya di depan umum, dan kejadian itu terjadi pada dua hari yang lalu. Hal itu pula membuat Raya malu bertemu dengan para pemilik ruko yang berjejer di samping toko kue.
Raya menepuk jidatnya. Ada apa dengan pria ini, biasanya dia bersikap dingin dan pendiam, tapi kenapa sekarang berubah seratus delapan puluh derajat, menjadi alay dan lebay.
“Apa abang ngak boleh lagi ya, kesini?”ujar Ghani sedih.
Raya mengacak rambutnya frustasi. Melihat kelakuan ajaib Ghani yang tak terduga. Raya pun memutuskan pergi ke dapur, meninggalkan Ghani sendirian yang masih berdiri didepan etalase kue dengan penuh kekecewaan.
“Yah…gagal lagi proses pdkt ku. Coba ku tanyakan lagi nanti ke Bang Hobby,”gumam Ghani seraya membalikkan tubuhnya. Kemudian berlalu pergi, ia terpaksa harus menunda niatnya untuk mengajak Raya kencan.
Raya yang memang sedang menantikan kepergian Ghani, kembali lagi ke etalase.
“Dari tadi kek pergi. Kalau masih saja dia ngotot tetap disini, rencananya kutampol mukanya pakai kue kadaluarsa ini untuk mengusirnya."
...****************...
Di perusahaan Nicolas. Ghani ditertawakan dan diejek habis-habisan oleh Hobby. Ingin rasanya dia menjitak kepala pria itu, dia yang memberikan masukan, tapi di pulalalah yang menyalahkannya.
Hobby menyeka air disudut matanya, akibat dari habis tertawa. “Kamu itu saat menggodanya pasti kaku. Tentu saja dia tidak akan percaya. Sikap kakumu itu terkesan tidak tulus.”ejeknya.
“Yang penting hatiku tulus padanya bang,”balas Ghani kesal sambil bersedekap di dada.
Hobby tertawa lagi seraya menepuk-nepuk pundak Ghani. “Hahahaha iya, iya deh… Terserah kau saja mau bilang apa, besok kau coba lagi ya.”
“Memang benar apa yang dikatakan bang Addan. Saranmu itu menyesatkan, bang!”cibirnya.
“Tapi tetap saja kalian pakaikan?”ledek Hobby yang tanpa henti mematahkan semangat Ghani.
Bersambung...
_
_
_
~ Maaf ya Readersku, lagi-lagi Author mengecewakan kalian. Author sudah begitu lama tidak update episode YAMPL yang baru.
Author yang begitu sibuk didunia nyata, sampai lupa update. 😔
__ADS_1
Sekali lagi Maaf ya....🙏terimakasih kepada kalian yang masih setia menunggu kelanjutan YAMPL ini.
Love you All...🥰