You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
#Y A M P L~ Apa Kamu Mencintaiku?


__ADS_3

Tak peduli, kamu mencintaiku atau tidak. Perasaanku kepadamu akan tetap sama. Aku akan selalu menunggumu istriku~ Addan.


...----------------...


Nenek menatap Kana dengan penuh kebencian.


"Pasti kamu, pasti kamukan...yang mempengaruhi cucu saya hingga ia bersikap kurang ajar seperti ini, dasar wanita tak tau diri."sambung Nenek Suci dan menunjuk-nunjuk wajah Kana yang tertunduk.


"Cukup!"Kakek Vino menghentikan perdebatan itu. Nenek Suci seketika bungkam setelah mendengar suara keras suaminya.


Sedari tadi, Kakek Vino berdiri di ambang pintu, menyaksikan perdebatan antara cucunya dengan istrinya. Tapi sekarang, ia sudah tidak tahan lagi melihat tingkah istrinya yang amat keterlaluan.


Si Kakek melangkah pelan masuk kerumah, ditemani tongkat ditangannya. Menatap sang istri dengan tatapan tajam, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.


"Katakan pada Papa, kenapa Mama memarahi cucu menantu kita? Dia salah apa?"tanyanya.


Mata Nenek Suci berlari kesana kemari, ia sedang memikirkan perkataan yang pas agar suaminya percaya. Dan Kakek Vino dengan sabar menunggu jawaban dari istrinya itu.


Kebohongan apalagi yang akan Nenek katakan kepada Kakek, batin Addan.


"Dia...dia mempengaruhi Addan sehingga bersikap kurang ajar pada Mama Pah...Addan dulunya tidak pernah memarahi Mama."Adunya kepada sang suami, sambil memasang wajah seperti orang yang tersakiti.


"Apa?"Sentak Addan, "Nenek, jangan mengatakan sesuatu yang tidak ada buktinya. Kana tidak pernah memepengaruhiku."Geramnya dan matanya memelotot tajam ke arah Nenek Suci.


Nenek Suci kaget."Addan..."Nenek Suci menatap cucu kesayangannya itu dengan raut wajah amat sedih. Seumur hidup, baru kali ini Addan memberinya tatapan seperti melihat musuh.


Segitu cintanya kamu kepada wanita kampungan itu, sehingga kamu membelanya sampai segitunya...Ck sialan!, batin Belinda kesal.


Belinda memeluk Nenek Suci dan menepuk-nepuk pelan punggung si Nenek, menunjukkan sikap seperti orang yang benar-benar peduli. Kakek Vino melirik Belinda, dia bertanya-tanya dalam hati, siapa gadis itu? Apa teman Kana atau cucu dari sahabat istrinya, lalu apa tujuannya kemari, pikir si Kakek.


"Sudahlah Nek...bagiku, tidak masalah kalau perjodohan ini dibatalkan."timpal Belinda dan pura-pura bersedih.


Nenek Suci menggenggam tangan Belinda yang bertengger dipundaknya, seraya berkata.


"Tidak...perjodohan ini akan tetap berlanjut, cuman kamu yang pantas menjadi istrinya Addan."Cicitnya.


Kakek Vino tersentak mendengar pernyataan itu.


"Tunggu! dijodohkan? Mama ingin menjodohkan Addan yang sudah beristri ini, dengan wanita lain?"tanya Kakek Vino. Ia menatap istrinya tidak percaya, bagaimana bisa istrinya ini tega menghancurkan rumah tangga cucunya sendiri.


Addan yang mendengar penuturan Neneknya itu, memijit pelipisnya dan berusaha mengontrol amarahanya agar tidak membentak wanita tua itu lagi. "Tidak akan ada seorang pun yang pantas menjadi istriku selain Kana."Tegasnya.


Belinda begitu geram mendengar perkataan Addan, mana bisa Kana yang tidak sederajatnya dengannya lebih pantas bersanding dengan Addan, baginya perkataan itu membuatnya merasa terhina.


"Aku tidak bisa dibandingkan dengan istrimu, istrimu itu hanya bisa mengandung saja. Dia tidak akan bisa membantumu mengurus perusahaan, sedangkan aku, tentu bisa. Dan bahkan punya segalanya."protes Belinda tidak tahu malunya.


Kepala Kana semakin tertunduk, matanya berembun. Ia sangat tersinggung, perkataan Belinda membuatnya semakin tidak percaya diri bersanding dengan Addan untuk ke depannya.


Addan mengetatkan rahangnya, tangannya terkepal kuat. "Sekali lagi aku mendengar dari mulutmu atau siapapun itu yang menjelek-jelekkan istriku. Aku tidak akan tinggal diam."Ucap Addan dengan penuh penekanan dan menatap Belinda tajam.


Seandainya kau laki-laki, pasti wajahmu sudah ku buat lecet, namun sayang kau adalah perempuan bermulut sampah, batin Addan.

__ADS_1


"Dan kuharap, besok pagi kau sudah minggat dari kediamanku. Orang seperti dirimu, tidak disambut


disini."Sambungnya, kemudian merangkul Kana dan membawanya ke kamar yang kini telah menjadi kamar mereka berdua.


~


Sepeninggalan Kana dan Addan...


"Papa sungguh kecewa pada Mama, dulu sikap Mama tidaklah seperti ini. Yang Papa tau, Mama adalah wanita yang lembut, ramah dan baik kepada siapapun. Dan itulah alasan utama Papa menikahimu."Ujar Kakek Vino dan matanya menatap istrinya sedih dan kecewa.


Kakek Vino melirik Belinda, seraya berkata.


"Dan kamu Nona, jika ingin mencari pendamping hidup. Jangan mencari pria yang sudah beristri. Anda cantik, pasti banyak pria di luaran sana, yang bersedia menjadi pendamping hidup Anda."sarkastis Kakek Vino.


Tampak Belinda mengepalkan kedua tangannya erat, buku-buku jarinya pun terlihat jelas. Tadi dia sudah dipermalukan oleh Addan, sekarang gantian, Kakek Addan yang mempermalukannya.


Tua bangka sialan...!, batin Belinda.


"Saya harap Anda pergi dari sini, karena saya tidak suka orang lain yang memiliki niat buruk. Berada di kediaman saya."cibir Kakek Vino, matanya selalu menatap Belinda dengan tatapan tak suka.


Setelah mengatakan kalimat itu, Kakek Vino pergi ke kamarnya. meninggalkan istrinya yang terdiam seribu bahasa. Dan Belinda yang tampak menahan rasa kesal, ia menatap kepergian Kakek Vino sambil mengucapkan sumpah serapah didalam hati.


...****************...


Keesokan harinya...


Didalam kamar, Kana menatap bayangan dirinya di cermin. Tangannya mengelus-ngelus perutnya yang buncit, sebuah senyuman terbit di bibirnya. Bahagia, tentu dia sangat bahagia, tiga bulan lebih lagi bayinya akan lahir.


"Perutku semakin besar, tapi kok aku ngak gemuk-gemuk ya, seperti ibu hamil pada umumnya."Kana bermonolog sendiri, matanya tanpa henti memandang tubuhnya di cermin. Dia memutar-mutar badannya, memperhatikan bentuk tubuhnya dari segala arah.


"Aku pun juga banyak makan. Tiap malam, Mas Addan meminta Pak lolo pergi membelikanku makanan. Apa aku tanya saja sama Nenek, Nenek kan berpengala...man."Setelah ucapan yang terakhir, Kana terdiam. Senyumannya yang secerah mentari tadi, luntur seketika. Karena tiba-tiba, dia teringat kembali akan ucapan Nenek Suci beberapa hari yang lalu, beserta peringatannya kemaren siang.


Air matanya mengalir cukup deras."Nak...Mama tidak sanggup berpisah darimu, Mama rela meninggalkan semuanya, asalkan kamu bersama Mama."


Ceklek!


Mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, Kana buru-buru menghapus air matanya dan mengatur nafasnya yang sesak, agar netral kembali.


Addan yang baru selesai mandi, perlahan-lahan berjalan menghampiri Kana. Dia menghempaskan alat bantu berjalannya ke lantai, lalu bersimpuh dan sedikit meringis kesakitan saat itu. Berniat menyetarakan wajahnya dengan perut Kana yang buncit.


"Ah Mas...apa yang kamu lakukan...? Nanti jahitan pada betismu terbuka."Kagetnya, tangannya pun bertumpu pada kedua sisi pundak Addan.


"Tidak apa-apa..."Ujarnya, "apakah boleh?"Addan mendongakkan kepalanya ke atas, meminta persetujuan Kana untuk mencium perutnya.


"Bo...boleh."Balas Kana yang sedikit ragu-ragu.


Addan mengelus perut yang buncit itu, perlahan tapi pasti bibirnya menyentuh, mencium perut itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Anaknya didalam sana, hasil buah cinta mereka, tidak menyangka sebentar lagi akan hadir kedunia. Ia tak sabar akan dipanggil Papa oleh bayi mungil yang masih bersemayam di rahim istrinya itu.


Setelah puas mencium, Addan melingkarkan tangannya pada pinggang Kana, lalu menempelkan telinganya pada perut Kana. Ia ingin merasakan pergerakan dan detak jantung si jabang bayi. Karena begitu terharu, Addan tidak sadar meneteskan air mata.


Kana merasakan perutnya sedikit basah. Mas...apa kamu menangis?, batinnya.

__ADS_1


Bermaksud untuk menenangkan sang suami, tangannya yang mungil mengusap rambut suaminya yang tebal dengan lembut.


Addan mendonggakkan kepalanya keatas, menatap wajah cantik istrinya yang beberapa hari ini selalu bersemu merah ketika berada di dekatnya.


Apakah mungkin...? ...kali ini aku harus berani bertanya ,batin Addan.


"Apa...Apa kamu mencintaiku?"Mata Addan menatap penasaran ke arah Kana.


Kana kaget mendengar pertanyaan dari sang suami


"...Kenapa..kamu mempertanyakan hal itu, Mas?"Kana malah balik bertanya, matanya menatap kesembarang arah. Ia tidak mau Addan melihat pipinya yang pastinya sudah berwarna merah muda.


"Apa aku sudah mencintainya?"Kana bergumam, bertanya pada dirinya sendiri.


"Mas hanya ingin...tau saja."


Sejenak Kana terdiam, kemudian sedikit ragu-ragu membalas pertanyaan Addan. "Aku...tidak tau. Apa yang aku rasakan kepadamu saat ini."Balasnya.


Addan berdiri dibantu dengan alat bantu berjalan (walker), lalu menatap mata istrinya cukup lama. Mencari tau kenyataan perasaan sang istri terhadapnya, melalui tatapan matanya. Tapi sayang, ia tidak kunjung menemukan jawabannya.


"Apaan sih, jangan menatapku seperti itu, Mas..."Ujar Kana yang salah tingkah, dan memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Addan tersenyum, kemudian perlahan dikecupnya kening Kana, kecupan yang lama hingga membuat jantung Kana berdetak tak karuan. Dan suara itu terdengar jelas di indera pendengar Addan, dan detak jantung keduanya pun saling bersautan. Namun, Addan diam saja karena tidak mau membuat istrinya itu tambah malu.


Apakah arti dari detakan jantungmu itu adalah cinta? Aku sangat berharap iya. Meskipun rasa itu sedikit saja, diriku tetap bahagia, batin Addan.


......................


Di waktu bersamaan...


Di toko kue Kana terjadi keributan, antara Raya dengan Feni. Mereka terlihat sedang cekcok, para langganan hanya diam menyaksikan pertengkaran keduanya, dan tidak ada satupun yang berniat melerai.


"Saya tidak mau tau, Mbak harus ganti rugi atas semua kue yang Mbak bagi-bagikan secara cuma-cuma. Mbak pikir, untuk membeli bahan kue itu pakai daun, Mbak pikir ngak capek buat kue sebanyak itu, Hah?!"Bentak Raya, emosinya sudah di ubun-ubun. Ia tidak peduli, aksinya menjadi tontonan para pelanggannya.


"Jangan berlebihan....,cuman rugi sedikit kok. Kue itu sebagai promosi, nanti pelanggan kamu pasti akan bertambah."Ucap Feni dengan santai.


Wajah Raya memerah, matanya melotot tajam ke arah Feni. "Cuman rugi sedikit? Wah....wanita jablay ini...benar-benar pengen gue smackdown rasanya."Gerutu Raya yang amat sangat kesal. Ia seperti akan mengambil ancang-ancang, dan hendak melayangkan sebuah bogeman mentah ke wajah Feni yang penuh dengan foundation dan bedak.


"Sini kau!"Raya berjalan mendekat ke arah Feni sambil melipat lengan bajunya keatas. Bunyi gemeletuk giginya terdengar jelas, matanya memerah menyala seakan ingin memangsa Feni hidup-hidup.


"Hei...kau mau apa? jangan macam-macam ya bocah. Mau saya laporkan ke polisi kamu!"Pekik Feni ketakutan melihat raut wajah Raya yang menakutkan, ia pun berjalan mundur agar terhindar dari mode amukan Raya yang sudah on.


Krek-krek!! (bunyi gemeretak jari tangan Raya)


"Kau sudah terlalu jauh menguji kesabaranku, Mbak jablay...,sekarang terimalah roti rasa kentang dariku."Ujar Raya sambil mengusap-ngusap kepalan tangannya, yang ia anggap roti kentang.


"Kita...kita bisa bicarakan baik-baik Ray...."Ucap Feni dan tersenyum lemah. Badannya dibanjiri lumayan banyak keringat dingin.


Raya berhenti melangkah mendekati Feni. Sebuah senyuman licik, terbit dari bibirnya yang mungil.


"Okay..."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2