You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Hampir Saja Keguguran


__ADS_3

Di Rumah Sakit...


Sudah 30 menit lamanya Kana diperiksa diruang rawat inap, namun Dokter Sammy yang menanganinya tak kunjung keluar. Dengan diselimuti perasaan cemas, Addan tanpa henti mondar-mondar didepan pintu ruang itu.


"Ck! Lama sekali dia memeriksa istriku."ujarnya kesal seraya mendecis.


Melihat cucunya yang mondar-mandir seperti itu, membuat Kakek Vino kesal, tingkah cucunya itu hampir saja membuat pikirannya terbawa ke arah negatif.


"Kamu yang mondar-mandir ini, bikin Kakek pusing tau?! Tolong duduklah!"ujar Kakek Vino kesal.


Mendengar ucapan Kakeknya, membuat nyali Addan ciut. Ia pun menghentikan aksi mondar- mandirnya.


"Aku mengkhawatirkan istriku Kek..."ujarnya lirih dengan raut wajah amat gelisah.


"Iya, Kakek tau!__Mereka, istri dan anakmu pasti baik-baik saja. Duduklah, tenangkan dirimu! "perintah kakek Vino seraya menepuk-nepuk kecil bangku kosong disampingnya.


"Hufh..baiklah Kek. "Addan pasrah, kemudian ia


duduk dikursi tunggu, tepat disisi Kakeknya.


Tap! tap! Suara langkah kaki bergerak cepat kearah mereka berdua. Setelah diperhatikan baik-baik, ternyata itu adalah Ghani, adik angkatnya.


"Hosh... hosh__Bang! Kak...K-kana baik-baik saja kan?"tanyanya, nafasnya tersenggal-senggal akibat berlari dari lantai dasar ke lantai empat Rumah Sakit.


Addan menceritakan semua kejadian ketika dimeja makan kepada adik angkatnya itu, hingga ia berakhir membawa Kana ke Rumah Sakit. Raut wajahnya berubah sangat sedih dan takut, ketika ia mendapati istrinya meringis kesakitan dan mengalami pendarahan ringan saat masih dalam perjalanan menuju Rumah Sakit.


Ceklek! pintu ruang rawat inap Kana terbuka, mereka serentak menengok kearah pintu itu. Addan menghampiri Dokter Sammy, yang berdiri diambang pintu.


"Sam, bagaimana keadaan istriku? Apa dia baik-baik saja?"tanya Addan yang tak sabaran.


Dokter Sammy melirik Addan, Kakek Vino dan Ghani, bergantian. Mereka bertiga tampak menantikan dirinya membuka suara.


"Hufh..."Sammy menghela nafas panjang,"Untung saja Tuan membawa Nyonya kerumah sakit tepat waktu. Kalau tidak__bayi yang ada dirahim Nyonya, mungkin tidak dapat diselamatkan.


"...Mohon maaf sebelumnya. Apa__Nyonya muda sengaja meminum obat penggugur kandungan, Tuan?"lanjut Sammy hati-hati, ia takut perkataannya dapat menyinggung pria pemarah yang berdiri berhadapan dengannya itu.


Kedua alis Addan bertaut."Apa maksudmu Sam?"


"Begini Tuan. Nyawa bayi kalian hampir saja melayang, tapi itu bukan karena faktor kelelahan. Setelah saya periksa berulang kali, ternyata Nyonya mengonsumsi obat penggugur kandungan. Saya tidak tau apakah Nyonya sengaja melakukannya atau ada seseorang yang berniat mencelekai bayi kalian."jelas Dokter Sammy, sesekali matanya melirik kepintu ruang tempat Kana dirawat. Memastikan bahwa Kana belum siuman dan mendengar semua percakapannya dengan Addan.


Addan tersentak mendengar ucapan Dokter Sammy, "Istriku tidak mungkin mengonsumsi obat penggugur kandungan, karena dia amat sangat menyayangi bayi kami."ujarnya penuh keyakinan. Wanita lemah lembut itu tidak akan mungkin tega membunuh bayinya sendiri. Makanan? ya pasti masalahnya ada pada makanan yang dikonsumsi oleh istrinya tadi, pikirnya.


Kilatan amarah terpancar dari matanya, ia tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah mencampurkan obat penggugur kandungan kedalam makanan istrinya, meskipun orang itu memohon ampun, berlutut di atas lantai yang berpaku dan berduri.


Addan melirik Ghani, seraya berkata,"Ghan, tolong kamu hubungi salah satu asisten rumah tangga di kediaman Nicolas. Kemudian minta dia untuk datang kerumah sakit dengan membawa makanan yang belum habis dimakan oleh Kana. Aku curiga makanan itu sudah dicampur dengan obat penggugur kandungan..."


"Baik bang!"sahut Ghani. Kemudian ia berjalan sedikit menjauh, lalu menelepon ke nomor telepon rumah. Pada detik yang ke-lima, panggilan diterima oleh Bi Isah. Tak membutuhkan waktu lama, Ghani telah menyampaikan permintaan kakak angkatnya itu kepada Bi Isah.


Beberapa menit kemudian, Bi Isah yang menerima panggilan Ghani tadi, sudah tiba dirumah sakit. Wanita paruh baya itu berlari tergopoh-gopoh menuju ruang rawat inap, tempat istri tuan mudanya dirawat.


Setibanya disana, Bi isah menghampiri Ghani yang sedang berdiri sambil menyandarkan punggungnya kedinding.


"Tuan...saya sudah membawa apa yang Anda perintahkan. Ini Tuan.."Bi Isah menyerahkan kantong kresek berisi makanan sisa Kana, ketangan Ghani.


"Terimakasih ya Bi."ujar Ghani sambil menerima kantong kresek itu, dan sempat mengecek isinya.


"Sama-sama Tuan Ghani."


"Bibi boleh pulang sekarang.__Apa perlu saya antar pulang Bi?"tawar Ghani.


"Eh!...tidak usah Tuan,"Bi Isah menolak halus tawaran Ghani untuk mengantarnya pulang ke kediaman Nicolas,"saya berniat disini dulu Tuan, menjenguk Nyonya muda,"sambungnya sambil tersenyum.


"Baiklah Bi."


"Berikan makanan itu kepada Sammy, Ghan!"perintah Addan dan diangguki oleh Ghani.

__ADS_1


"Ok Bang."Ghani menyerahkan kantong kresek itu ketangan Sammy.


"Sam, tolong kau uji makanan itu."ujar Addan sambil menunjuk kantong kresek ditangan Dokter Sammy.


"Baik Tuan, saya akan menguji makanan ini di laboratorium,"sahutnya.


"Terimakasih. Apa kami sudah bisa masuk? Aku igin sekali melihat istriku."tanya Addan sambil menunjuk pintu masuk ruang rawat inap Kana.


"Silahkan Tuan, saat ini Nyonya muda mungkin sudah siuman. Nanti saya akan menghampiri Anda, memberi tahu hasil uji laboratorium sampel makanan Nyonya."


"Hm."Addan menganggukkan kepalanya.


Sebelum pergi, Dokter Sammy membungkuk hormat kepada Kakek Vino dan Addan secara bergantian. "Kalau tidak ada lagi yang Tuan tanyakan, saya permisi dulu."


"Hm"


"Ya silahkan..."balas Kakek Vino.


......................


Ceklek! Addan masuk kedalam ruang rawat inap, tempat istrinya dirawat. Disana, istrinya terbaring lemah dengan posisi terlentang, pandangannya lurus menatap loteng ruang rawat.


"Dek..."panggil Addan. Nada suaranya terdengar begitu hangat dan lembut ditelinga Kana, sehingga Kana mengalihkan pandangannya kearah sumber suara.


"Mas..."sahutnya lirih.


Addan berjalan semakin dekat kearah sang istri, kemudian duduk ditepi ranjang pasien."Apa kamu masih merasa mual, atau ada bagian tubuhmu yang sakit?"tanyanya khawatir, tangannya membelai sayang rambut sang istri. Kana menggeleng lemah, dia menatap suaminya dengan tatapan sayu.


"Aku baik-baik saja Mas, sudah tidak lagi merasa mual."jawabnya disertai senyuman manis.


Wajahnya sudah tidak sepucat tadi, rona merah dipipinya sudah mulai terlihat.


"Syukurlah...Mas sangat mengkhawatirkan kalian berdua."Addan mengelus sayang perut sang istri, kemudian mencium keningnya dengan mesra.


"Sudah larut sayang, besok pagi kita pulang ya. Lagipula Dokter belum memperbolehkan kamu pulang."bujuk Addan, kemudian ia meraih kedua tangan Kana lalu mendaratkan sebuah ciuman singkat disana.


Kakek Vino tersenyum tipis menyaksikan adegan romantis kedua pasangan itu.


"Hekkhem...dunia milik berdua....yang lain ngontrak....!"ujar Kakek Vino, kemudian melirik Ghani yang terdiam mematung,"Kamu pasti iri kan Nak...?"canda si kakek seraya mengedipkan sebelah mata, kemudian terkekeh saat dipipi Ghani memerah karena malu.


"A-aa biasa saja Kek..."kilahnya sambil memalingkan mukanya kesamping, menghindari tatapan jahil Kakek Vino.


Ceklek! Dokter Sammy masuk bersama seorang suster, sambil membawa selembar kertas hasil uji sisa makanan Kana.


"Tuan, saya sud_"


"Kita bahas diluar saja, jangan disini."potong Addan cepat, ia berdiri dan berjalan mendekat kearah Dokter Sammy, "Untuk sementara, istriku tidak usah diberitahu dulu,"sambungnya dengan berbisik.


Addan melirik Kana yang menatapnya dengan tanda tanya. Dihampirilah istrinya itu sebelum pergi meninggalkannya diruang rawat inap pasien bersama Bi Isah. Tangannya mengelus sayang kepala istri tercintanya itu seraya berkata, "kamu istirahat lagi ya, Dek. Ada hal penting yang mau Mas bahas dengan Dokter Sammy. Mas tidak lama kok!"


"I-iya Mas"balasnya lesu. Baru beberapa menit yang lalu Addan masuk keruang rawatnya, sekarang sudah mau ditinggal pergi.


"Kami keluar sebentar Ya Nak?"


"Iya Kek"balas Kana dan tersenyum yang dipaksakan.


Kana menatap punggung mereka hingga menghilang dibalik pintu, "Apa yang ingin mereka bicarakan, aku begitu penasaran,"gumam Kana.


......................


Addan dengan Dokter Sammy berjalan melewati koridor Rumah Sakit, hingga mereka sampai diruang pribadi Dokter Sammy. Dan disanalah mereka mulai berbincang.


Lalu bagaimana dengan Kakek Vino dan Ghani? Kakek Vino terpaksa kembali ke kediaman Nicolas, karena istrinya meneleponnya dan memintanya untuk segera pulang. Hari yang sudah malam, Ghani tidak mungkin membiarkan pria tua itu pulang sendiri, sehingga ialah yang mengantar si Kakek pulang.


"Bagaimana hasilnya, Sam?"

__ADS_1


"Silahkan dilihat Tuan."Dokter Sammy menyerahkan selembar kertas kehadapan Addan.


"I-ini..."Addan menatap lembaran kertas itu tidak percaya. Dosis obat penggugur kandungan itu sangat tinggi. Entah berapa butir tablet yang sudah dihaluskan dan dimasukkan kedalam makanan istrinya.


"Tebakan Anda benar, Tuan. Di dalam makanan Nyonya terkandung obat misoprostol cytotec, yang merupakan obat yang dapat membunuh janin. Untung Nyonya mengonsumsi obatnya dalam jumlah sedikit, kalau ti_ "


Ceklek! Pintu terbuka, dan terlihatlah Kana yang berdiri diambang pintu.


"Mm...Mas..."potong Kana dengan suara bergetar. Ternyata Kana mengikuti mereka, dan menguping pembicaran mereka dari balik pintu.


"Kana/ Nyonya" Addan dan Sammy kaget bersamaan.


~


Sepanjang jalan menuju ruang rawat inapnya, Kana terus diam, tidak mempedulikan ocehan suaminya yang berusaha membujuknya.


"Dek...Maafkan Mas ya Sayang."


"..."


"Dek..."


"Udah Mas, aku capek, mau istirahat. Jangan ganggu aku dulu."


Blam! Kana menutup pintu ruang rawatnya cukup keras, sehingga Addan terperanjat kaget dibuatnya.


"Kenapa dia?"tanya Hobby yang baru saja sampai dirumah sakit. Ia meremas ujung pakaiannya yang basah kuyup karena diguyur hujan lebat saat dalam perjalanan ke Rumah Sakit.


"Ngambek!"jawabnya Addan lesu, "kau kemari dengan motor?"sambungnya sambil memperhatikan kondisi Hobby yang berantakan.


"Ya, mobilku mogok ditengah jalan, jadi terpaksa ku pesan ojek online."jawabnya dan dibalas anggukan ringan oleh Addan.


"Tampaknya istrimu baik-baik saja, Dan."ujar Hobby seraya menujuk pintu ruang rawat inap Kana.


"Alhamdulillah, sekarang dia sudah membaik. Besok dia sudah diperbolehkan pulang."balas Addan dan bernafas lega.


"Oh syukurlah..."Hobby juga ikut bernafas lega, setelah mendengarnya.


"Dan, ada hal penting yang inginkan ku sampaikan padamu. Ini tentang Sasha."


Dahi Addan berkerut."Sasha? Ada apa dengannya?"


"Sebelum ku ceritakan, lebih baik kita duduk terlebih dahulu. Kakiku kram rasanya kalau berdiri terus."


~~


"Haih...Kenapa kalian berdua mendapat musibah diwaktu yang bersamaan ya? Awalnya aku pergi kerumahmu untuk mengabarimu bahwa Sasha menghilang, lalu meminta bantuanmu untuk melacak keberadaannya. Namun, aku mendapat kabar dari asiten rumah tanggamu, bahwa Kana masuk rumah sakit. Jadi ya...aku menyusulmu kemari."


"Sasha menghilang?"ulang Addan, dan Hobby membalasnya dengan anggukan ringan.


"Sekarang Soka berada dimana? Kenapa dia tidak mengabariku?!"lanjutnya.


"Dia saat ini sedang mencari keberadaan istrinya, bersama para pengikutnya. Alasannya tidak mengabarimu, karena ia tidak ingin merepotkanmu."


"Pantas saja panggilanku tidak diangkat-angkat olehnya.__Hob, jelaskan kronologinya secara detail."


"Haih...Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi kepada Sasha. Begitupula dengan Soka, karena dia pulang setelah waktu magrib habis. Setibanya dirumah, pintu rumahnya ternganga lebar, bahkan pintu rumahnya rusak parah, itulah hal pertama yang dilihat Soka."


Sejenak Addan tampak berpikir dan menerka-nerka,


"Sepertinya__ada sekelompok orang mendobrak paksa rumah mereka."ujarnya.


"Hmm....Menurut kesaksian salah satu tetangganya. Sasha dibawa pergi oleh beberapa pria berbadan kekar dan berseragam hitam, sekitar pukul 11.00 WIB. Beberapa tetangganya hendak menolongnya, namun tidak ada yang berani, karena salah satu dari pria berseragam hitam itu menodongkan senjata ke arah mereka."jelas Hobby.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2