
Jatuh Cinta membuatku lebih gila dari pasien paling gila dirumah sakit jiwa. Tapi bagiku tak mengapa, asalkan gadis yang kugilai adalah dirimu~ Addan.
...----------------...
_
_
Hampir setengah jam Kana duduk dipangkuan Addan, ia sudah merasa gerah. Kini, bukan hanya tangan Addan saja yang aktif mengusap perutnya. Akan tetapi, bibir tipis pria itu juga ikut aktif mencium permukaan kulit lehernya. Entah karena disengaja, atau karena naluri kelakiannya yang tidak tahan akan godaan leher mulus istrinya yang tertampang jelas didepan mata.
“Ihh..geli Mas….Berhenti lakukan itu!”ucap Kana seraya memberontak. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh Addan agar menjauh.
Addan mendongak, menatap wajah Kana yang pastinya sudah bersemu merah merona. Ia pun mengulum senyum.
“Itu apa?”tanyanya pura-pura tidak mengerti maksud Kana. Bukannya berhenti, ia malah semakin menelusupkan wajahnya keceruk leher sang istri.
"Mas, lepasin!"bentaknya.
"Aku mencintaimu. Bagaimana denganmu?"tanyanya sambil menatap dalam kedua bola mata wanita pujaan hatinya itu.
Mendengar pertanyaan Addan yang kesekian kalinya, Kana terdiam. Memang dirinya sudah memaafkan dan mulai menerima Addan. Akan tetapi, ia tidak berani membuka hati lagi, karena takut dikecewakan dan kembali merasakan sakit hati.
Belum sempat Kana membalas ucapan Addan. Bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh pria itu dengan bibirnya.
Ciuman yang Addan berikan tanpa peringatan itu, merupakan sebuah pernyataan sederhana bahwa ia sangat mencintai wanita yang berada dipangkuannya saat ini.
"Mas, Aku..Hmmmp...!!"Kana memukul-mukul bahu serta dada Addan supaya menjauh.
Addan yang merasakan sakit akibat pukulan Kana, menahan tangan mungil itu didadanya. Lalu memperdalam ciumanannya, lidahnya dengan lincah menyusuri rongga mulut Kana.
Addan melepaskan penyatuan bibir mereka, ia menatap Kana dengan sorot penuh damba.
"Kamu harus bertanggungjawab. Karena sudah membangkit sesuatu yang seharusnya tertidur, dan kali ini aku tidak ingin lagi menahannya,"bisik Addan disertai geraman tepat ditelinga sang istri dengan suara yang sudah serak akibat tersulut n****.
"Be-bertanggungjawab, a-aapa...Mas?"balas Kana dengan nafas yang tersenggal-senggal akibat ulah ciuman panas suaminya.
Kana men***** panjang, ketika Addan menggigit gemas telinganya dan meninggalkan tanda cinta diarea sana.
Addan menyeringai saat ia sudah mendapati kelemahan istrinya itu, yaitu bagian telinga.
"Hmm..."hanya geraman yang menjadi tanggapan Addan. Bibir panasnya perlahan-lahan turun, hingga tiba dibelahan dada Kana.
Kana berusaha mati-matian dengan menggigit bibir bawahnya, agar suara laknat itu tak lagi keluar dan membuat predator dihadapannya itu semakin gelap mata memangsanya.
Tangannya sedikit gemetar saat berusaha mendorong tubuh kekar suaminya, nafasnya tersenggal-senggal. Sepertinya tubuhnya sudah mulai berkhianat, karena dengan suka rela digera***** oleh Addan dan tak mampu menolak.
Addan mendudukkannya diatas meja kerja, lalu kembali mencumbu dirinya. Baju tidur dasternya pun sudah terangkat keatas, sehingga tampaklah pakaian dalamnya.
Tubuh Kana semakin lemas saat tangan kekar Addan menangkup dan meremas dua bukit kembar miliknya dengan lembut. Tidak puas hanya meremasnya saja. Dengan tak sabaran, ia membuka pengait *** Kana lalu melemparnya kesembarang arah.
"Mas...hentikannn....!!!"Pekik Kana disertai d******, ketika Addan menghisap benda kenyal miliknya dengan begitu rakus. Namun, sipelaku tidak mengubris pekikannya.
Tok tok tok
"Bos..."
"Bos..."
"Oi Bos!"
Suara ketukan dan teriakan dari balik pintu, membuat Kana tersentak kaget. Dirinya yang lemas tadi seketika terisi daya, seperti handphone yang kehabisan daya yang apabila dicas langsung menyala. Hehehe...itulah ibaratnya.
Dengan sekuat tenaga Kana mendorong Addan hingga terjungkal, dan b*****nya pun mendarat cantik dilantai keramik yang keras dan dingin.
"Auuuuh sakit sayang! Kasar banget kamu dorongnya dek, bisa-bisa pantat Mas tepos nanti. "
"Bodo!"ujar Kana ketus. Kemudian berjalan keluar, meninggalkan Addan yang masih terduduk dilantai, sambil mengelus b*****nya yang terasa perih.
__ADS_1
Soka menghampirinya dan hendak membantunya berdiri. Namun, tangan pria itu lebih dulu ditepis kasar oleh Addan. Dan Bosnya itu malah memilih berdiri sendiri.
"Mmm...I-itu Bos..say__"
"SIALAN KAU!" Maki Addan menggema. Matanya melotot tajam.
Soka yang mendengar suara lengking sang Bos, telinganya terasa berdengung dan kotorannya pun terasa berhamburan keluar.
"Minggir kau sana!"Addan mendorong tubuh Asistennya itu kesamping dengan kasar. Lalu mengejar istrinya yang berjalan menuju kamar mereka.
"B-bos..."
Dengan langkah besar, Addan menyusul istrinya yang berjalan ke arah kamar mereka.
"Kamu marah?"tanya Addan gelisah setelah berhasil mencekal tangan istrinya itu. Pria itu tak sanggup didiamkan oleh istrinya.
Kana hanya menghembuskan nafas kesal. "Menurut Mas, bagaimana?"Addan menghela nafas nya, mendengar nada ketus Kana.
"Mas minta maaf. Lain kali tidak akan Mas ulangi lagi...,"ujarnya dengan rasa bersalah.
Kana tidak membalas ucapan suaminya itu, ia lebih memilih bungkam. Lalu ia tepis tangan Addan yang mencengkram lengannya hingga terlepas.
Langkah kaki yang sempat terhenti tadi, ia lanjutkan lagi hingga tiba didepan pintu kamar yang ditempatinya bersama Addan.
Addan tidak lagi menghalangi langkah istrinya itu, ia tidak ingin Kana semakin marah kepadanya.
Setelah melihat sosok istrinya itu menghilang dibalik pintu kamarnya. Addan membalikkan badannya, memutuskan kembali keruang kerjanya.
Ketika akan masuk keruang kerjanya, Addan berpapasan dengan Soka yang sedang nyengir kuda.
"Puas kau setelah mengganggu kesenanganku?!!"hardiknya pada Soka.
Hah?!
"Bu-bukannya Anda yang menyuruh saya malam-malam kemari Bos, tapi kenapa malah saya yang disalahkan?"Soka tidak terima dituduh sebagai pengganggu. Padahal Addan yang memaksanya datang ke kediaman Nicolas.
Anda pikir saya peramal, yang bisa membaca sesuatu yang tak nampak?, batin Soka bersungut-sungut.
"Jika bukan karena kau. Aku pasti mendapatkannya, padahal hampir saja_"Addan menggantung kalimat terakhirnya. Ia melirik Asistennya yang tampak penasaran.
Untuk apa juga ku katakan pada dia, haih..., batin Addan seraya menghela nafas panjang.
"Hampir saja. Apa Bos?"tanya Soka, mengulang kata terakhir atasannya itu.
"...tidak jadi!"ujar Addan ketus, lalu balik ke ruang kerjanya.
Soka terbengong.
"SOKA! Sampai kapan kau akan berdiri disitu? Bawa kemari dokumen yang kuminta."Teriak Addan dari ruang kerjanya.
Soka tersentak dari lamunannya.
"I-iiya Bos...OTW!"Sahutnya yang tak kalah lantang.
Mentang-mentang rumahnya gede, seenak jidatnya bersorak ria seperti orang utan, batin Soka kesal. Bibirnya pun maju beberapa centi.
......................
Didalam kamar, Kana berkali-kali mengutuki kebodohan dirinya. Awalnya berniat minta perutnya dielusin oleh Addan, tetapi malah berujung pelecehan yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Pria mesum itu, sudah mengambil keuntungan dariku,"gerutunya.
Kana melangkah kepintu kamar, tapi bukan untuk kembali keruang kerja suaminya. Ia berniat menguncinya dari dalam, agar Addan tidak bisa masuk kedalam kamar.
"Tidur diluar saja kamu Mas,"
...****************...
__ADS_1
Keesokan harinya...
Kana menatap satu persatu hidangan yang tersaji diatas meja makan. Awalnya ia sangat berselera, namun tiba-tiba seleranya mendadak lenyap saat mendapati Addan duduk berhadapan dengannya.
Saat itu hanya mereka berdua saja yang ada dimeja makan.
"Dek. Kok kamu kunci pintu kamar dari dalam semalam?"tanya Addan, namun tak mendapat respon.
"Terpaksa Mas tidur diruang kerja, kamu kok tega sayang? Badan Mas pegal semua..."keluhnya.
"Lihat nih! Mata Mas seperti mata Panda, karena Mas ngak bisa tidur diruang kerja "tambahnya sambil melingkari matanya dengan jarinya. Ia sangat berharap istrinya yang tercinta itu bersimpati kepadanya, dan memaafkan kejadian semalam.
Pandangan Kana mengikuti jari jemari suaminya itu, yang menunjuk area matanya yang memang bewarna gelap.
"Bodo!"balasnya acuh tak acuh akan keluh kesah sang suami. Ia pun kembali fokus pada makanannya.
"Haih..." Addan menghela nafas.
Ia pun kembali membuka obrolan, agar suasana sarapan tidak senyap seperti dikuburan.
"Dek. Kapan jadwal kamu cek kandungan lagi?"
"...Ngak tau!"jawab Kana ketus.
"Gimana kalau besok kita periksa kandunganmu? Mas pengen lihat perkembangan jagoan kita."ujar Addan dengan wajah yang berbinar-binar.
"Terserah"
"Haishh..."
Lagi-lagi Addan menghela nafas kekecewaan. Sungguh sangat sulit meredakan amarah wanita hamil itu.
...****************...
Di balkon kamarnya, Belinda memaki dan membentak Asistenya, melalui sambungan alat komunikasi yaitu handphone.
Sumpah serapah tak henti-hentinya ia lontarkan. Bagaimana bisa harga saham perusahaannya turun sangat drastis. Padahal selama ini, perusahaannya itu baik-baik saja dibawah kepemimpinannya. Namun semenjak perusahannya itu ia tinggalkan, banyak para investor tiba-tiba mencabut sahamnya, tanpa tau apa penyebabnya.
“Dasar tidak berguna! besok pagi aku akan berangkat ke Berlin.”Makinya.
“…”
“Kau jangan lagi-lagi membuatku marah, Gipson! Tentu saja rencananya kita terpaksa dihentikan sementara.”
“…”
“Kita percayakan saja kepada wanita itu,”
“…”
Tut tut tut
Setelah memutuskan sambungan panggilan, Belinda melempar kasar handphonenya ke sofa, dan menghempaskan tubuhnya ke kasur empuknya.
Belinda menyugarkan rambutnya keatas, matanya lurus menatap loteng kamarnya.
”Shit! Siapa sih yang menghasut para investor itu. Berani sekali dia..”Umpatnya.
Lumayan lama ia berkelana dengan pikirannya, tiba-tiba ada notif pesan masuk kehandphonennya.
Diliriknya layar handphonenya, ternyata yang mengirim pesan adalah Asistennya yaitu Gipson. Merasa pesan itu sangat penting, Belinda membaca pesan itu sampai selesai.
Wajahnya seketika memerah setelah membaca pesan singkat itu. Tangannya terkepal kuat, bunyi gemeletuk giginya terdengar jelas.
"Beraninya dia mengusikku lagi,"geramnya. Ponsel ditangannya, ia hempaskan begitu saja kelantai. Sehingga ponsel itu bercerai berai tak berbentuk lagi.
Dadanya terasa panas ketika mengingat sosok pelaku yang menghasut para investor perusahaannya itu.
__ADS_1
Bersambung...