You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Disekap Di Gedung Tua


__ADS_3

"Beraninya kau menghina istriku, setelah ini kau akan kuberi pelajaran yang lebih dari sebelumnya."Ucap Addan dengan nada meninggi.


"Hahahaha, kamu pikir aku takut? Aku sudah kebal, ancamanmu itu sudah tidak berpengaruh padaku."Ucapnya menantang dan tersenyum sinis.


"Aku akan membuatmu merasakan kehilangan orang yang kau cintai seperti diriku kehilangan papa dan mamaku."batin Jane dan menatap Addan benci dengan penuh dendam dalam hati.


Addan sangat geram mendengar perkataan Jane, ia tidak akan mengasihani perempuan yang tidak tahu malu dihadapannya itu.


"Besar juga nyalimu. Soka! Jadikan dia santapan tigris. Kelihatannya dia sudah tidak peduli lagi dengan nyawanya."Addan yang sudah tidak bisa menahan amarahnya, baru kali ini ada seorang wanita menantangnya dengan angkuhnya.


"Puffhhh....Hahahaha...Sebelum kau menjadikanku santapan peliharaanmu, jangan harap kau akan hidup bahagia setelahnya."Jane tertawa dan mengejek.


Setelah itu ia langsung melempar tabung kecil kelantai, dan... keluarlah asap berwarna hijau hingga memenuhi ruangan.


Addan yang menyadari bahwa asap itu merupakan asap yang dapat membius siapa saja yang menghirupnya, ia sempat menyuruh Kana, Ghani, Hoby dan Soka untuk menutup hidung mereka. Namun sudah terlambat untuk menyadari karena mereka sudah terlanjur menghirup asap itu, mereka semua pingsan seketika. Kecuali Jane, karena sebelum melempar tabung itu, ia memakai masker respirator anti asap terlebih dahulu, agar ia tidak ikut pingsan.


“Hahahaha…Kalau kau sudah begini, kau tidak akan bisa berbuat apa-apa padaku.” Jane tertawa puas melihat musuhnya yang tergelatak tak sadarkan diri dilantai.


Tak lama kemudian, Dret…Dret…Handphone dalam tasnya bergetar, ia mengambil handphonenya lalu mengangkat panggilan yang ternyata dari orang suruhannya.


“…”


"Disini sudah dilumpuhkan, kalian cepat kemari."Jane yang sedang melakukan panggilan dengan orang suruhannya.


“…”


“Kalau karyawan-karyawan itu menghalangi, lumpuhkan saja mereka semua.”


“…”


“Jangan banyak omong, cepat kemari sebelum mereka sadar.”


“…”


Tut tut tut (memutuskan panggilan)


Setelah melakukan panggilan, ia memasukkan kembali handphonenya kedalam tas.


"Kali ini kau akan hancur, kau akan kehilangan istri yang kau cintai sekaligus calon anakmu. "Gumam Jane dan menatap benci Addan, yang kini tergelatak tak berdaya di lantai.


~~


1 jam kemudian, Addan, Hoby, Ghani dan Soka tersadar dari pingsannya, namun sosok Kana sudah tidak ada diantara mereka.


Addan yang tidak menemukan istrinya, rasa takut dan cemas melanda dirinya.


"Kana? Sayang....."Addan yang panik memanggil-manggil Kana.


Soka yang sedang memandang sekeliling ruangan, melihat sepucuk surat di atas meja kerja Addan.


"Bos! Ini ada pesan Bos."


Soka mengambil surat itu lalu menyerahkannya kepada Addan, dan Addan pun menerimanya. Kemudian membaca tulisan yang tertulis di kertas itu.


Isi surat:


"Nyawa istri dan anakmu ditanganku Addan. Jika kau ingin keduanya hidup, maka kau harus merelakan semua harta dan perusahaanmu ke tanganku. Bawa kepadaku surat-surat tanda pengalihan harta dan Perusahaanmu kepadaku.


Tapi jika kau tidak mau, maka nyawa istri dan anakmu taruhannya. Hahahaha...


Untuk lokasi, kau cari tau sendiri. Aku tau itu bukanlah hal yang sulit bagimu untuk mencari tahu keberadaanku"


"Sial! Perempuan itu ingin bermain-main denganku rupanya."Geramnya lalu meremas surat itu hingga remuk tak berbentuk.


"Soka bawakan sertifikat tanah kediaman Nicolas, lalu buat surat pengalihan perusahaan dan semua harta kekayaanku, ubah namanya menjadi nama Jane."Perintah Addan dengan suara lantangnya.


"Bos, apa anda bercanda? Jika anda melakukan itu, anda tidak memiliki apapun. Tuan Besar pasti akan marah besar pada anda."Soka yang kaget dengan apa yang Addan katakan.


"Tidak masalah, asalkan istri dan anakku baik-baik saja. Aku rela memberikan semua yang aku punya termasuk nyawa. Masalah kakek, tidak usah dipikirkan, beliau masih memiliki banyak harta yang tidak akan habis sampai tujuh turunan."


"Bos...apa anda serius? Saya khawatir, walaupun anda menyerahkan semua yang anda punya kepada wanita itu. Ia tetap tidak akan melepaskan Nyonya."Soka meyakinkan Addan.


"Kalau begitu, kerahkan semua bawahanmu."

__ADS_1


"Tapi Bos...Itu sama saja kita mengantarkannya ke lembah kematian, perempuan itu akan disiksa secara perlahan-lahan hingga meregang nyawa oleh mereka."


"Aku tidak peduli, dia sudah berani mengusik hidupku dan istriku. Aku tak segan-segan mencabut nyawanya jika dia berani melukai Kana dan anakku walau hanya seujung kuku.”


Mendengar ucapan Addan semua orang yang diruang itu bergidik ngeri, mereka tau kalau Addan tidak pernah main-main dengan ucapannya.


~


Mereka berempat turun kelantai dasar, namun disana banyak karyawan kantor pingsan dan ada pula yang babak belur seperti habis dipukuli.


"Pak! Ibuk tadi dibawa pergi oleh sekelompok orang berbadan tinggi dan besar. Maafkan kami yang tidak bisa mencegat mereka, mereka membius dan memukul kami semua."Ucap Satpam yang merasa bersalah.


Addan hanya menghela nafas, ia tidak mungkin marah kepada mereka yang tidak bisa mencegat mereka membawa istrinya pergi.


"Bagi kalian yang baik-baik saja, bawa yang terluka ke rumah sakit."Ucap Addan.


"Pak Saya sudah melaporkan para penjahat itu ke kantor polisi, nomor plat mobilnya pun sudah saya catat. Ini nomor platnya Pak."Ucap salah satu cleaning servis laki-laki yang mengalami luka ringan , ia pun menyodorkan selembar kertas kecil yang berisi nomor plat kepada Addan.


Addan menerima kertas kecil itu, lalu menyerahkannya kepada Soka.


"Bagus. Soka tolong kamu lacak nomor plat mobil ini."


"Siap Bos!"


Addan mengerahkan semua bawahannya dengan dibantu Soka yang melacak keberadaan Kana. Sedangkan Hoby dan Ghani juga ikut membantu, masing-masing dari mereka membawa senjata api yang biasa mereka gunakan di medan perang.


"Kenapa kita membawa perlengkapan seperti mau berperang ya bang? kita kan hanya menangkap seorang wanita saja."Ucap Ghani yang heran akan banyak peralatan senjata.


"Kau jangan meremehkan wanita itu Ghan, dia sangatlah berbahaya. Aku yakin dia dibantu oleh James, pemilik rumah bordil di AS."Saut Soka.


"Bang Hoby pasti lebih tahu tentang Jane, kan?Bang Hoby juga pasti tahu tempat dia bersembunyi."Ucap Ghani.


"Jane siapa sih? Gue ngak kenal."Hoby yang benar-benar lupa dengan Jane.


"Jangan pura-pura tidak ingat, dia kan pernah menjadi partner ranjangmu."Ghani yang ngegas.


"Oh iya. Astaga lupa gue sama cewek yang satu itu. Tapi sungguh, gue benar-benar tidak tahu dimana keberadaannya, soalnya gue hanya satu kali tidur dengannya itupun di hotel milik keluarganya."


"Heh! Sok-sok an lupa segala lu bang"Ejek Ghani.


Ghani mencebik, setelah mendengar perkataan Hoby.


"Gimana Soka, sudah dapat dimana posisi mereka sekarang?"Tanya Addan.


"Sudah Bos. Posisi mereka sekarang di jembatan Biru, sepertinya mereka menuju ke hutan bakau.


"Mereka pasti ke gedung tua yang terletak di tengah hutan itu. Sekarang kita harus bergerak menyusul mereka kesana."


"Baik Bos."


~


Di lain tempat.


BYUR...!!!


Jane menyiram Kana dengan seember air yang bercampur es.


Kana yang merasakan basah di sekujur tubuhnya, tersadar dari pingsannya.


"Ya Allah, dingin sekali...."lirihnya, badannya pun menggigil karena kedinginan.


"Sudah sadar Heh?"Jane tersenyum sinis lalu melempar ember yang dipegangnya ke sembarang arah.


"Kamu, Lepaskan aku! Apa yang kamu inginkan dariku?"Ucap Kana sambil meronta-ronta diatas kursi dengan keadaan tangan dan kakinya yang terikat.


"Aku menginginkan nyawamu, dan juga...nyawa anakmu."Ucap Jane sambil mengeluarkan sebilah pisau tajam dari tasnya.


Kana terkejut melihat pisau ditangan Jane.


"Ya Allah. Kyaa....Jangan.....Aku salah aaaapa sama kamu? Men...menjauh dari kami!"Teriak Kana dengan suara bergetar karena takut melihat Jane yang mengacungkan pisau tajam ke arah perutnya.


"Kamu bertanya, salah kamu apa? Letak salah kamu itu pada dirimu sendiri, kamu wanita yang dinikahi Addan dan bahkan dengan beraninya kamu mengandung anaknya. Aku tidak akan membiarkan kalian berdua bahagia diatas penderitaanku."Ucapnya membentak, Kemudian menjambak kasar rambut Kana sehingga, Kana merintih kesakitan.

__ADS_1


"KYAAAA....SAKIT!!!"Pekik Kana dan merintih kesakitan.


"BERISIK JALANG!!"Teriak Jane lalu menampar Kana dengan keras hingga Kana tersungkur bersama kursi yang terikat dengannya. Kana pun jatuh pingsan karena saking kerasnya tamparan Jane pada wajahnya.


~


2 Jam Kemudian....


2 jam lamanya mereka (Addan, Soka, Ghani dan Hoby, beserta anak buah Addan dan Soka) menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai di sebuah gedung tua yang masih berdiri kokoh ditengah hutan tembakau.


Addan memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk masuk duluan kedalam gedung itu.


"kalian masuklah,jangan sampai ketahuan, lumpuhkan penjaganya satu persatu."


"Baik Bos!"Saut semua anak buah Addan serempak.


"Kita juga masuk, kita berpencar saja. Kamu dengan Ghani dan saya dengan Hoby." Ucap Addan.


"Baik Bos."Saut Soka.


Mereka berempat juga ikut masuk kedalam gedung tua itu dengan mengendap-endap. Gedung yang minim cahaya itu menghambat penglihatan mereka


Di gelapnya ruang dalam gedung, terdengar sayup-sayup suara wanita yang dikenal oleh Addan, yang tak lain adalah suara lembut istrinya, Kana.


Addan yang hendak menghampiri suara itu dihentikan oleh Hoby.


"Jangan gegabah dulu Dan, kalau kau tidak ingin istrimu terluka."Bisik Hoby.


Dengan terpaksa Addan menuruti ucapan Hoby. Kali ini ia harus bersabar, ia tidak boleh terburu-buru menghadang Jane, karena wanita itu sudah separuh gila, bisa-bisa dia nekat menghabisi nyawa istrinya saat itu juga.


"Lepaskan aku....hiks hiks hiks"Ucap Kana dengan suara lemah dan menangis.


Addan yang mendengar suara tangis Kana, merasakan hatinya ditusuk beribu jarum. Sambil mengepalkan tangan ia mencoba menahan keinginan untuk menghampiri Jane lalu membunuhnya ditempat.


"Aku akan melepaskanmu, kalau kau sudah mati.Hahahhaha"Ucap Jane dan tertawa.


Kana sudah tidak memohon lagi karena ia sudah lelah, suaranya hampir habis, badannya pun terasa sakit semua.


"Ya Allah...selamatkan lah hamba dan anak hamba ya Allah...hiks hiks."Batin Kana memohon pertolongan sambil mengusap pelan perutnya.


"Kenapa kau diam? Sudah lelahkah menangis? Atau kau sudah memasrahkan nyawamu padaku?."Ucap Jane dan tersenyum miring.


Kana hanya diam memandang kosong ke depan. Jane yang tak dihiraukan, kembali menjambak rambut Kana.


"Shhh..."Kana meringis kesakitan, ia mencoba kuat dan menatap tajam kearah Jane .


"Beraninya kau memelototiku seperti itu, dasar jalang!"Bentak Jane lalu menampar Kana lagi.


"Akhh....hiks hiks..."Teriak Kana dan menangis sesenggukan.


Addan yang mendengarnya sudah tidak tahan lagi, ia pun keluar dari persembunyian.


"Beraninya kau melukai istriku."Teriak Addan, dengan amarah yang tak terkendali menghampiri Jane dan Kana yang terikat dengan kursi.


KLIK (bunyi saklar lampu)


Seketika ruangan yang keadaannya yang lumayan gelap, menjadi terang benderang.


Prok prok prok (suara tepuk tangan Jane)


"Hahahahaha...kau masuk kedalam perangkapku."Jane tertawa dan mengedipkan matanya kearah Addan.


Addan yang sadar telah masuk perangkap memperhatikan keadaan di sekelilingnya, ternyata ia sudah dikelilingi oleh beberapa pria berbadan kekar.


"Ternyata tuan Nicolas yang terkenal akan kekejaman, kepandaian dan kecerdikannya, hanya karena cinta ia bisa berubah menjadi pria bodoh. Kenapa kau tidak teliti sama sekali...ck ck ck."Ucap Jane dengan raut wajah yang sok prihatin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Seret dia kemari!"Ucapnya lagi.


Tiba-tiba seorang pria berbadan kekar suruhan Jane menyeret Hoby yang telah dipukuli hingga babak belur.


"Hoby..."gumam Addan menatap iba kearah Hoby. Ia tidak menyangka kalau persembunyian diketahui.


"Dan..."Hoby dengan suara lemah, wajahnya dipenuhi luka dan darah.

__ADS_1


"Ternyata sedari tadi mereka menyadari kehadiran kami."Addan membatin.


Bersambung...


__ADS_2