
Sudah tiga bulan lebih Kana tidak datang ke toko kuenya, sekarang Kana berencana untuk pergi kesana. Tapi sebelum itu, ia berkunjung terlebih dahulu kepanti asuhan, memberikan bungkusan kue yang telah ia buat tadi pagi.
“Wah….banyak sekali Nyonya buat kuenya, mau di berikan kemana ini Nyonya?” Tanya Bi Isah dengan mata berbinar-binar melihat bermacam - macam kue yang ada di dalam bungkusan.
“Buat anak-anak panti asuhan Bi.”Jawab Kana dan tersenyum manis.
“Pasti Ngiler kan lihatnya. Nyonya muda memang hebat banget bikin kue, saya saja sampai ileran setelah melihat kuenya, makanya sekarang saya mencoba menahan untuk tidak tergoda lagi.”Canda Pak Awan, salah satu koki rumah yang membantu Kana membuat kue sambil menenteng loyang yang berisi kue kering.
“Hahahahaha….Terimakasih Pak. Ini tolong Bibi dan Pak Awan icip kue buatan Kana dulu.”Ucap Kana lalu memberikan kuenya kepada Awan dan Bi Murni.
Bi Isah dan Pak Awan pun mencoba kue yang di sodorkan Kana kepada mereka yang sebesar kepalan tangan itu. Mereka pun memakannya,
“Hmmm….enak banget Nyonya.”Puji Bi Isah lalu mengacungkan jempolnya ke arah Kana.
“Iya Nyonya, Enak sekali. Saya saja belum tentu bisa buat kue seenak ini Nyonya.”Ucap Pak Awan.
“Pak Awan bisa aja….Terimakasih Bi Isah dan Pak Awan.”Ucap Kana dan tersenyum malu-malu.
Bi Murni datang menghampiri ketiganya dengan membawa sebuah kue ulang tahun rasa stroberi yang bertoping bunga mawar.
"Nyonya muda, kue ini di taroh dimana ya?"Tanya Bi Murni kepada Kana.
"Taroh saja di situ Bi, terimakasih Bi."Ucap Kana sambil menunjuk ke arah sisi meja yang kosong.
"Baik Nya, sama-sama."Saut Bi Murni dan tersenyum ala keibuan.
Tiba-tiba datang tamu yang tak di undang...
"Widihhhhhh.....Semua kue ini di bawa kemana nih Kak?Boleh cicip ngak?" Ucap Ghani yang tiba-tiba datang.
"Eh Ghani!Kamu udah balik dari jepang. Kalau mau kue, sini!."Ucap Kana dan tersenyum.
Ghani menghampiri Kana, dan duduk di samping Kana.
"Iya Kak. Aku ambil yang ini ya?"Ucap Ghani lalu mengambil salah satu kue yang berlebih dan diangguki oleh Kana.
"Enyak...kakak webat." Puji Ghani yang masih mengunyah kue, lalu mengacungkan jempol tangannya ke arah Kana.
"Terimakasih."Ucap Kana dan tersenyum senang.
Lumayan lama Kana dan Ghani berbincang, akhirnya Kana pergi membawa kue yang tadi sudah dia siapkan, ia pun diantar oleh supir kepercayaan keluarga Nicolas ke panti asuhan.
Sesampainya disana, Kana di sambut gembira oleh anak-anak panti asuhan. Mereka secara bergerombolan menghampiri dan memeluk Kana secara bergantian.
"Nah...ini kakak bawa kue buat adik-adik semua."Ucap Kana lalu mengangkat kedua tangannya, memperlihatkan dua kantong besar yang berisi kue buatannya.
"Terimakasih kakak cantik..."Sorak mereka senang lalu mengambil kue yang sebesar kepalan tangan, masing-masing mereka mendapatkan dua kue.
"Mana nih Rosa? Kakak mau kasih kejutan buat kamu."Ucap Kana dan tersenyum lalu mengeluarkan sebuah kotak.
"Aku, aku, aku kakak cantik."Ucap seorang gadis cantik yang diyakini bernama Rossa, ia melompat-lompat di tengah gerombolan anak panti asuhan untuk menunjukkan bahwa dia ada disana.
__ADS_1
"Sini sayang....Kakak ada kejutan buat kamu."
Gadis kecil itu menghampiri Kana. Kana pun jongkok menyamakan tinggi mereka, lalu membuka kotak yang ia pegang tadi, maka tampaklah sebuah kue yang cantik yang bertuliskan "Happy Birthday Rosa" yang bertoping bunga mawar.
"Nah ini kue ulang tahun buat kamu. Selamat ulang tahun Rosa."Ucap Kana lalu tersenyum manis kepada gadis kecil yang bernama Rosa itu.
Melihat hal itu gadis itu meneteskan air mata dan tersenyum ceria, saking senangnya tanpa aba-aba ia memeluk Kana dan mencium pipi Kana yang sedang memegang kue ulang tahun sehingga Kana terkejut di buatnya
"Hiks, hiks, hiks. terimakasih Kakak cantik....."
"Eh! Sama-sama Rosa."Ucap Kana membalas pelukan Rosa hanya dengan sebelah tangan, sedangkan tangannya yang sebelah lagi memegang kue.
Mereka semua amat senang dengan kehadiran Kana, terutama bagi Rosa yang telah diberi kejutan.
Tiba-tiba seorang bocah laki-laki berumur 5 thn menghampiri Kana dengan ekpresi cemberut.
"Ada apa ganteng?Kok cemberut gitu." Tanya Kana sambil mengelus pipi tembem milik bocah itu.
"Jeje (dede) penyen di beli kue besal sepelti kakak Losa uga."protes bocah yang bernama Josh itu dengan ekpresi lucu, menurut Kana.
Mendengar ucapan bocah itu membuat Kana terkekeh, lalu mengusap pucuk kepala bocah itu dengan sayang.
"Hahahaha....sayangku. Tunggu nanti kamu ulang tahun ya?Kakak pasti beri kue yang besar pula untuk my little josy. Begitu pula dengan yang lainnya, Kalian pasti ada gilirannya Ok?"Ucap Kana lalu memberikan isyarat ok melalui jari tangannya.
"Ok Kakak Cantik!!!" Sorak mereka semua gembira.
Kana yang teringat akan toko kuenya pun pamit kepada semua anak panti asuhan, begitu pula kepada Ibu Sofi dan kepada penjaga panti asuhan lainnya.
~~
“Sudah lama aku tidak ke toko. Aku melihat banyak perubahan pada toko ini, terlihat dari dekor toko yang lebih elegan, bentuk- bentuk dan rasa kuenya pun bertambah, tak lupa pula pelanggan kita juga bertambah berkat dirimu Raya” Ucap Kana kepada Raya sambil memperhatikan area dalam toko.
“Aku sungguh minta maaf kak, kalau aku merubah toko ini tanpa izin dari kakak."Ucap Raya yang merasa bersalah.
"Hahahah, kakak enggak marah, Ray. Malah kakak senang.... banget, toko kita menjadi lebih enak di pandang."Puji Kana lalu tersenyum lembut ke arah Raya.
"Benarkah? Terimakasih Kakak!"Raya yang senang atas tuturan dari Kana.
Lumayan lama Kana dan Raya mengobrol, akhirnya Kana memutuskan untuk istirahat di kamarnya yang terletak di lantai 2 toko kue, karena merasa lelah ditambah lagi ia membawa bayi yang ada di perutnya kemana-mana, tentu saja hal itu membuatnya lelah.
~~
Malam harinya, Addan menunggu istrinya di depan pintu yang tak kunjung pulang. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 20.43, ia sangat khawatir kalau suatu hal buruk menimpa istrinya itu.
Meskipun istrinya itu tidak memberikan kabar kepadanya bahwa ia pergi ke panti asuhan, tapi Addan mengetahui tujuan Kana dari Ghani yang datang ke perusahaan.
Addan merasa kecewa terhadap Kana karena ia seperti tidak di anggap sebagai suami oleh Kana, seharusnya ketika Kana akan pergi, Kana memberi tahu Addan terlebih dahulu bukan pergi begitu saja.
Addan juga mencoba menghubungi Kana beberapa kali, tapi handpone Kana tidak aktif. Dengan sabar Addan menunggu Kana di depan pintu rumah dengan berpangku tangan, hingga terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti di halaman rumahnya.
Keluarlah Kana dari mobil yang bewarna silver itu bersama dengan seorang pria yang terasa familiar bagi Addan.
__ADS_1
"Terimakasih Zora. Telah mengantarku pulang."Ucap Kana.
"Sama-sama Na, yasudah aku balik dulu ya? sampai jumpa besok"Ucap Zora dengan tersenyum dan melambaikan tangannya, lalu masuk ke dalam mobilnya, dan tancap gas pulang ke rumahnya.
Addan yang melihat pemandangan itu menjadi geram, matanya memanas dan tangannya terkepal kuat menahan cemburu dalam hati.
Setelah melihat mobil Zora sudah menjauh dari pandangan, Kana pun membalikkan badannya. Betapa terkejutnya Kana ketika bertatapan dengan mata elang milik Addan yang tajam.
Kana yang di tatap Addan seperti itu, berusaha tenang dan bersikap santai seperti tidak ada sesuatu yang terjadi. Ia berjalan masuk ke dalam rumah, menghiraukan Addan yang berdiri di pintu besar rumah keluarga Nicolas.
Addan yang merasa di abaikan, dengan sigap menahan tangan Kana.
"Kamu darimana? Kenapa kamu bisa bersamanya?" Tanya Addan dengan penuh penekanan.
"Aku dari panti asuhan, setelah itu aku pergi ke toko kue."Ucap Kana yang mencoba santai meski dalam hati ia takut akan tatapan suaminya itu.
"Lalu pria itu, bagaimana kamu bisa bersamanya?" Tanya Addan yang tampak menahan amarah dengan menguatkan genggamannya pada pergelangan tangan Kana.
"Shhhh...aduh! Addan sakit. Aku tadi tidak sengaja bertemu dengannya."Ringis Kana dan sedikit membentak.
"Lalu apa maksudnya 'sampai jumpa besok' hah?"Tanya Addan lagi yang merasa tidak puas akan jawaban dari Kana.
"Mana aku tau! Lepaskan aku!!"Ronta Kana yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman kuat Addan.
"Aku tidak akan melepaskan, sebelum kamu mengatakan yang sejujurnya."
"Apaan sih! Aku sudah berkata yang sejujurnya."
"Baiklah, kali ini aku maafkan. Lalu kenapa saat kamu pergi kamu tidak izin padaku terlebih dahulu?"Tanya Addan dengan nada rendah karena berusaha mengontrol amarahnya.
Kana yang sudah tidak tahan di tanya terus, ia pun berkata.
"Emangnya kamu siapa hah bagiku? kamu tidak berhak mengatur-mengatur hidupku, kamu memang suamiku, tapi aku tidak mencintaimu"Bentak Kana sambil menghentak-hentakkan sebelah kakinya dan memejam kedua matanya.
Mendengar hal itu, mata Addan membola besar. Hatinya terasa sakit setelah mendengar tuturan dari wanita yang amat sangat ia cintai itu.
"Tak bisakah kamu belajar untuk mencintaiku Na? Dan memaafkan kesalahanku?"Ucap dengan suara yang mulai melemah.
"Hahaha...Apa kamu pantas untuk aku cintai Dan, setelah apa yang kamu lakukan padaku? Tidak, tidak pantas!! Setelah anak ini lahir, mari kita bercerai dan jalani hidup kita masing-masing."Ucap Kana dengan suara serak dan meneteskan air mata lalu berjalan meninggalkan Addan yang diam membeku.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapanpun. Kamu istriku, milikku selamanya."Ucap Addan lantang.
Kana yang mendengar ucapan Addan pun berhenti, lalu membalikkan badannya dan berkata.
"Terserah apa katamu, satu hal yang harus kamu tau bahwa Aku tidak akan pernah mencintaimu, karena aku MEMBENCIMU!!"Kata Kana yang berhasil mengoyak-ngoyakkan hati Addan yang penuh dengan harapan.
Addan jatuh tertuduk, dan pandangannya tak lepas dari Kana yang sudah berjalan menjauh dari hadapannya.
"Tolong berhentilah menolakku, terimalah aku.Ku mohon balaslah cintaku. Jangan benci aku Kana." Ucap Addan dengan suara lemah sambil menundukkan kepalanya.
Bi Murni dan Bi Isah menyaksikan pertengkaran keduanya, mereka terlihat prihatin akan semua itu, mereka menatap Addan kasihan. Mereka berharap Kana mau memaafkan kesalahan Tuan Muda mereka dan tidak akan berpisah.
__ADS_1
Bersambung....