You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
Kehamilan


__ADS_3

1 bulan kemudian


Sudah hampir satu bulan Kana bekerja di perusahaan Koran dan majalah, kana memang bukan sarjana tapi, ia bisa bekerja disana sebagai karyawan biasa, ia diterima diperusahaan itu karena Kana lumayan memiliki potensi dalam bidang percetakan Koran bukan sebagai wartawan.


Beberapa hari Kana bekerja disana, ia berhadapan dengan sosok bos tampan yang selalu meminta nomor handphonenya.


Di kantor Kana banyak digilai oleh kaum adam, alhasil ia dibenci dan dikucilkan oleh para kaum hawa yang bekerja disana, tapi Kana tak ambil pusing, yang terpenting baginya adalah ia bisa bekerja dan di gaji lalu kebutuhan hidupnya pun terpenuhi.


“Kana. Kamu saya angkat menjadi sekretaris saya. Kamu mau kan?” Tawar Hans Dikra Mahendra, direktur perusahaan tempat Kana bekerja.


”Ehhhh…… apa bapak ngak salah, saya kan hanya lulusan SMA. Lalu bagaimana dengan Tita selaku sekretaris Bapak."


"Ah! Itu bisa diatur." Jawab Hans enteng.


"Maaf pak saya ngak bisa, saya nyaman dengan bidang yang sedang saya pegang.” Ucap Kana menolak.


Kana takut kalau nanti musuhnya malah bertambah di kantor, takut Tita juga ikut memusuhinya.


”Aneh! Saya beri kamu jabatan yang tinggi, tapi malah kamu nolak. Soal Tita saya bisa pindahkan dia ke bidang lain. Kamu mau kan?” Ucap Hans sedikit memaksa.


Kana bingung, ia sih mau- mau saja, gaji sebagai sekretaris itu kan gede. Tapi itu kan ngak wajar menurutnya, ia saja baru bekerja di perusahaan itu belum genap 1 bulan ditambah lagi ia hanya tamatan SMA.


Aduh bisa berabe nantinya bisa- bisa seluruh dunia bisa memusuhinya yang dikira wanita penggoda~ pikirnya.


”Sekali lagi saya minta maaf Pak. Kalau bapak mau ganti sekretaris cari yang lain aja. Saya ngak mau jadi sekretaris Bapak, saya senang dan suka dengan bidang yang saya tekuni sekarang.” Tegas Kana yang tak mau dipaksa.


”Yaudah terserah kamu. Tapi kalau kamu mau kamu bisa katakan pada saya.” Ucap Hans agak ketus lalu beranjak pergi menuju ruangannya.


Tak lama setelah kepergian Hans, Kana melihat kearah semua karyawan yang sedang menatapnya benci dan jijik.


”Heh! dasar wanita jalang, dasar penggoda. Apa bagusnya sih dia, mungkin udah banyak tuh pria yang ngajak dia untuk tidur bersama, mungkin setelah ini direktur kita yang termakan oleh rayuannya.” Ucap salah satu karyawati disana dengan sinis.


Dan diikuti dengan yang lainnya sambil berbisik dan melihat kearah Kana dengan sinis. Para kaum adam yang ada disana hanya diam saja, meski ada beberapa pria yang kesal mendengar cacian para karyawati menghina Kana.


Kana yang mendengar cacian mereka hanya bisa menunduk, ia harus bertahan demi kelangsungan hidupnya. Mungkin jika ada lowongan kerja lain Kana pasti akan mendaftar disana nantinya, tapi sekarang ia harus bersabar dulu.


Beberapa jam kemudian, jam kerja Kana sudah habis, kini waktunya Kana untuk pulang. Ia ingin mengistirahatkan badannya yang terasa sangat pegal ketika sampai di rumah nanti.


......................


Kana kini sudah berada di rumah, ia benar benar merasa mudah lelah akhir-akhir ini. Padahal pekerjaan di perusahahan tidak terlalu memberatkan menurutnya.


Kepalanya terasa pusing dan berkunang- kunang. Ia pun duduk sambil memijit mijit kepalanya agar rasa pening di kepalanya berkurang, tak lama kemudian perutnya terasa di aduk-aduk. Kana merasa mual, ia pun berlari ke kamar mandi.


”Hoek, hoek. hoek” Kana yang sedang muntah sambil memegang perutnya, ternyata yang keluar hanya cairan yang berwarna bening.

__ADS_1


Muka Kana terlihat pucat, tubuhnya terasa lemas. ia pun kembali ke kamarnya dan berbaring di kasurnya sambil memijat kepalanya yang masih terasa pusing.


Keesokan harinya, Kana tak berangkat kerja karena ia merasa kurang enak badan dan sering mual-mual. Ia pun menghubungi Raya untuk datang ke rumah Bu Sofi, untuk menemaninya sementara.


Dua jam kemudian suara ketukan pintu pun berbunyi, Kana pun langsung membuka pintu. Disana terlihatlah Raya yang sedang menjinjing keranjang buah-buahan dan menatapnya khawatir.


Setelah ia mendengar kabar bahwa Kana sedang sakit. Dengan terburu-buru Raya menutup toko kue dan bergegas pergi ke rumah Bu Sofi yang di tempati Kana sekarang.


“Raya!” Pekik Kana gembira dan langsung memeluk Raya kemudian menarik Raya masuk dan menyuruhnya untuk duduk di sofa.


”Kakak sakit apa? Kakak pucat banget”Tanya Raya khawatir kemudian memegang pelipis Kana.


”Ngak panas. Memangnya kakak sakit apa?” ucap Raya lagi.


”Aku ngak tau Ray, badan kakak lemes rasanya. Kakak sering mual-mual, dari semalam kakak mual-mual sampai sekarang masih.” Ucap Kana lemes.


”Hah? Mual-mual”Saut Raya terkejut.


” Apa jangan-jangan kakak hamil!” Saut Raya lagi dan sukses membuat Kana terkejut dan membolakan Mata.


”Ngak mungkin Ray, aku…” Ucap Kana pun terhenti.


”Ya Allah, jadwal bulananku kan seharusnya udah lewat… gimana ini raya. Bagaiman jika aku benar-benar hamil..” Saut Kana cemas dan meneteskan airmata karena teringat jadwal tamu bulanannya.


”Yaudah kak, sekarang kita pergi ke dokter kandungan, untuk cek kakak hamil atau ngak. Semoga saja kakak ngak hamil.” Ucap Raya menenangkan Kana, kemudian diangguki Kana.


Didalam ruangan dokter kandungan yaitu dr. Bianka, dokter itu sedang memeriksa dan menanyakan gejala-gejala yang dialami Kana.


”Apa saja gejala yang mbak alami, beberapa hari ini” Tanya dr.bianka.


”Mmm saya sering pusing dan kecapean serta mual-mual dokter.” Saut Kana, dan diangguki sang dokter.


”Baiklah, silahkan mbak berbaring.. biar saya periksa.” Ucap dr.Bianka.


Kana pun segera berbaring di brangkar, dr. Bianka pun langsung mengoleskan sebuah gel bewarna biru ke perut Kana dan meletak suatu benda ke perut Kana(USG) dan setelah itu dokter itu melihat kearah monitor.


“Hmmm baiklah silahkan mbak lihat, ukuran janin Mbak sebesar biji wijen atau 0,12 cm. Yang perlu Mbak perhatikan adalah jangan sampai strees, sangat penting bagi ibu hamil untuk tetap rileks dan beristirahat yang cukup. Periksakan juga kehamilan Mbak secara rutin ke dokter kandungan dan jalani pola hidup yang sehat.”Terang dr. Bianka lalu berjalan menuju tempat duduknya.


Kana pun beranjak dari brankar lalu berjalan ke arah tempat duduk pasien. Ia merasa syok mendengar berita kehamilannya dari dokter, yang dia lakukan hanya diam membisu, menatap kosong ke arah depan.


dr. Bianka pun memberikan hasil laporan tes kehamilan Kana.


”Ini hasil laporan mbak. Selamat, mbak dinyatakan hamil. Usia kandungan mbak memasuki usia 5 minggu.. dijaga ya janinnya.” Ucap dr. Bianka memberi selamat kepada Kana dan tersenyum ramah.


Kana yang mendengar penuturan sang dokter menganggukkan kepala, ia tak bisa berkata apa-apa dan tak tahu apa yang ia rasakan sekarang. Apakah senang atau sedih setelah mendengar berita kehamilannya. Begitu pula dengan Raya yang tak kalah terkejutnya.

__ADS_1


”Kalau begitu terima kasih dokter. Kami permisi dulu.” Ucap Raya pamit dan membawa Kana keluar dari ruangan dokter tersebut.


”Ya Mbak, sama-sama.” Saut dokter Bianka.


Kana sedari tadi termenung setelah keluar dari ruangan dokter kandungan tersebut.


Kini mereka sedang duduk di taman depan rumah sakit.


”Kak, yang sabar ya. “ ucap Raya mengusap punggung Kana.


”Kenapa hal ini terjadi padaku? Aku tak ingin punya anak di luar nikah, ditambah lagi ini anak dari pria yang tak aku cintai.Akuu….. hiks, hiks, hiks, hiks.” Ucap Kana menangis terisak dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


”Lalu apa yang akan kakak lakukan , apa kakak akan mencoba menyingkirkan anak ini?”Tanya Raya.


”Aku tak sekejam itu Ray, anak ini tak bersalah. Ia juga berhak untuk ada didunia ini. Tapi aku tak tega jika nantinya, anak ini lahir tanpa sosok seorang ayah, dan aku juga akan menanggung banyak malu.” Ucap Kana sambil menangis dan menutup wajahnya.


”Kalau begitu kakak minta pertanggung jawaban pria itu saja, minta dia untuk menikahi kakak.” Ucap Raya memberi solusi.


”Tapi Raya, aku tak mau lagi bertemu dengannya.”Ucap Kana sambil menangis sesenggukan.


”Kakak soal itu tolong dikesampingkan.. sekarang pikirkanlah masa depan anak yang kakak kandung nantinya, aku mohon….” Ucap Raya memohon.


Mendengar penuturan Raya, Kana terdiam.


”Baiklah nanti akan kakak pikirkan, tapi bagaimana jika nanti Addan tak mau bertanggung jawab. Meskipun dia sudah pernah mengajakku untuk menikah.” Ucap Kana menunduk.


”Kakak tenang saja dia pasti mau bertanggung jawab, karena ia pernah mendatangiku toko kue. Aku minta maaf kak karena tak memberitahumu."


“Kapan Ray?”Tanya Kana.


”Itu… sehari setelah kakak mengatakan insiden pemerkosaan itu padaku. Kak Nena, Kak Lani dan Kak Lano juga datang ke toko kue, mereka menanyakan dimana kak Kana berada. Kemudian aku jawab aku tak tau, karena sudah 2 hari kak Kana tak datang ke toko, lalu setelah itu aku pura-pura bertanya kepada mereka seakan-akan aku tak tau keberadaanmu.” Ucap Raya.


”Lalu mereka percaya?” ucap Kana penasaran.


”Iya… tapi tidak dengan si Addan itu, ia malah sering menyuruh suruhannya untuk datang ke toko setiap hari, ia terlihat begitu curiga padaku, kadang- kadang ia juga datang mengecek isi toko untuk mencari keberadaanmu. Sampai sekarang ia tidak berhenti untuk mencarimu”Jelas Raya.


”Kak, aku benar-benar jujur deh sama kamu. Si addan itu sangat tampan ya dan maco lagi. Tapi kenapa kakak ngak suka sama dia, bingung aku sama selera kakak.” Ucap raya yang tiba-tiba memuji Addan.


”Kak Lano memang tampan, tapi jauh lebih tampan si Addan itu, mungkin karena gaya coolnya kali ya” ucap Raya lagi yang membuat Kana geram.


”Kamu sadar ngak sih memuji-muji dia secara tiba-tiba. Di depan aku lagi.” Geram Kana.


”Ihhh kakak cemburu ya? Kalau cemburu bilang aja, aku ngak akan rebut tuh si Addannya kalau kakak ngaku.” Ucap Raya menggoda.


”Ihhh kamu menyebalkan…..” Teriak Kana mendengar candaan yang dilontarkan Raya, membuat Kana sejenak melupakan kesedihannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2