
Dedaunan yang berhamburan diudara, karena diterpa angin yang cukup kencang. Entah kenapa, mulai sekarang pemandangan itu begitu memanjakan mata Kana. Baginya, duduk menyendiri ditaman belakang rumah lebih baik, ketimbang berkumpul diruang keluarga bersama Nenek Suci dan Belinda, yang mana keduanya selalu memusuhinya.
Tiadanya Lani disisinya saat ini, membuat Kana merasa sangat kesepian. Lani yang notabenenya adalah sahabatnya sendiri, sekarang sudah berada di Jepang. Dan entah kapan gadis itu akan kembali ke Indonesia.
Feni, Asisten rumah tangga yang baru dua hari ini ia pekerjakan. Sering menemaninya, namun tetap saja hal itu tidak mengobati kesepian yang dirasakannya.
Kehadiran Feni awalnya ditentang keras oleh Nenek Suci, namun ketika dibujuk oleh Belinda, hati Nenek Suci melunak dan mau menerima kehadiran Feni.
Kana sungguh sangat sedih dan iri ketika Nenek Suci bersikap sangat baik terhadap Belinda. Selama beberapa hari ini, ia berusaha menjadi menantu yang baik untuk Nenek Suci, tapi tetap saja dimata wanita tua itu ia selalu buruk.
Untuk sekarang, ia tidak akan memikirkan hal itu. Ia harus tenang dan rileks, tidak boleh memikirkan hal-hal yang nantinya membuatnya stress sehingga mempengaruhi bayinya.
......................
Di ruang belajarnya, Addan memantau kegiatan istrinya sedari tadi. Matanya tidak lepas memandang sang istri di layar monitor. Begitulah kegiatan yang dilakukannya dalam beberapa hari ini, selain memantau perusahaannya dari rumah, ia pun juga memantau setiap kegiatan istrinya. Meskipun keadaannya saat ini yang tidak begitu leluasa berjalan kesana kemari, ia tetap menjadi suami dan calon ayah yang siap siaga untuk keluarga kecilnya.
Dilayar monitor, tampak istrinya itu sedang mengangkat sebuah panggilan. Tak lama kemudian, setelah selesai mengobrol dengan seseorang melalui handphone, istrinya itu bangkit, kemudian berjalan masuk kedalam rumah.
Kring-kring!
Sebuah pesan masuk, Addan menatap sudut layar komputernya. Ternyata yang mengirim pesan adalah Asisten pribadinya, Soka. Addan membuka pesan itu satu persatu dan membacanya hingga selesai.
Setelah membaca pesan itu sampai selesai, Addan merasa lega. Karena semua karyawannya yang diracuni oleh Jane sudah berhasil disembuhkan oleh pihak medis. Selain itu, rumor buruk tentang perusahaannya sudah diredakan oleh Soka dan Hobby. Namun sayang, mereka belum menemukan siapa pelaku yang sesungguhnya, mereka masih mencari tahu siapa pria bertopeng itu.
"Apa aku harus meminta tolong kepada Damian untuk mencari pelakunya?...tidak, tidak... Damian saat ini, juga mempunyai masalah, aku tidak mungkin menambah bebannya lagi."Gumamnya sambil memijat pelipisnya. Tak lama kemudian terlintas sebuah nama, Quan Han Lee, sahabatnya waktu kuliah.
"Kenapa nama dia yang terlintas dibenakku? Sial!"Umpatnya kesal sambil memukul kecil meja belajarnya.
Sejenak Addan termenung, seingatnya hanya Quan lah yang memiliki detektif terhebat. Detektif itu selalu berhasil memecahkan kasus dalam kurun waktu yang relatif cepat, berbeda dengan detektif lainnya yang begitu lambat menurut penilaiannya.
"Apa dia bisa dipercaya? Apa dia tidak akan mengkhianatiku lagi?"gumamnya.
Tok tok tok
Addan mengalihkan tatapannya kearah pintu.
"Mas, apa aku boleh masuk?"
Addan sangat mengenal suara lembut itu. Sebelum menjawab, ia menyempatkan diri menyisir rambutnya dengan jarinya, kemudian merapikan kertas yang berantakan diatas meja. Karena ia tidak ingin melihat wajah cemberut istrinya lagi.
"Mas, kamu didalam kan?"tanyanya lagi sambil mengetuk-ngetuk pintu sebanyak dua kali.
"Ehkhem! Masuk saja Dek, pintunya tidak dikunci,"balas Addan.
Ceklek!
Kana masuk sambil membawa secangkir kopi untuk Addan. Secangkir kopi itu ia taruh diatas meja, perutnya yang buncit membuatnya sedikit kesulitan ketika membungkukkan badan.
"Hufh...diminum kopinya Mas,"ujarnya.
Addan menggagukkan kepalanya dan tersenyum senang."Iya, terimakasih Dek!" ia meraih cangkir itu, lalu meniup pelan-pelan air kopinya, sebelum diseruputnya.
"Sama-sama Mas,"balas Kana.
Kana masih berdiri dihadapan Addan, ia sepertinya menunggu sesuatu. Addan yang mengira kalau istrinya itu sedang menunggu sebuah pujian darinya. 'Apakah kopinya enak atau tidak' pertanyaan itulah yang biasanya dilontarkan oleh sang istri, ketika Addan sudah meminum dan memakan makanan buatannya.
__ADS_1
"Enak Dek!"Pujinya.
Namun nyatanya salah, ternyata Kana tidak menunggu Addan untuk memuji kopi buatannya.
"Mas, aku izin keluar ya"
Eh, ternyataa bukan itu tujuannya, batin Addan, wajahnya memerah karena malu.
"Mau kemana?"tanyanya serius.
"Aku ingin berjumpa dengan teman lamaku, Mas. Izinkan aku ya Mas? aku janji ngak bakalan lama."
"Pergi dengan Ghani."Sahut Addan cepat, ia tidak akan membiarkan istrinya bepergian sendirian.
"Aku pergi dengan Raya dan Maya kok Mas. Aku janji, bakalan jaga diri baik-baik. Aku merasa risih, ketika diikuti kemanapun aku pergi, Mas."
"Mas yang akan pergi denganmu."tegasnya.
"Tapi Mas, disana cewek semua loh Mas. Kamu ngak malu ngumpul bersama cewek yang banyak?"
Addan mengernyitkan dahinya."Kenapa harus malu, aku kan pergi menemani istriku. Tidak ada niat sama sekalipun untuk berkumpul bersama mereka."jawabnya enteng.
Kana tidak habis akal, ia terus memberikan alasan kepada suaminya itu."Mas...aku mohon..sekali ini... saja! Lagipula ada Raya dan Maya bersamaku. Aku pergi tidak sendiri, Mas."bujuknya, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Kalau kamu tidak mengizinkanku Mas, aku bakal nangis, batinnya.
Addan terdiam cukup lama, bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia tidak bisa membiarkan Kana pergi tanpa adanya pengawasan, akan tetapi jika tidak diizinkan, istrinya itu pasti bakalan menangis dan ujung-ujungnya mogok makan.
Pada akhirnya Addan pun memberikan izin kepada istrinya, dengan syarat Kana harus selalu berada didekat Raya dan Maya.
Akibat tindakan istrinya yang tak terduga itu, Addan terdiam mematung. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, sungguh tidak menyangka Kana akan berinisiatif melakukan itu kepadanya.
"Aku pergi dulu ya Mas, "Pamitnya, kemudian keluar dari ruang belajar Addan dan menutup pintu dengan cukup keras.
Blam!
Addan tersentak ketika mendengar suara pintu tertutup, ia mengusap wajahnya dengan kasar."Dasar jantung, mudah banget syoknya."ujarnya sambil mengelus-ngelus dada kirinya, dan sejurus kemudian dia tersenyum-senyum sendiri tak menentu. Sungguh orang yang begitu dimabuk cinta.
......................
Kana yang sudah tiba ditempat tujuan, tengah menunggu kedatangan seseorang. Ia tidak pergi bersama Raya maupun Maya, bahkan mereka berdua tidak tahu menahu sama sekali kemana dia pergi.
Kana terpaksa berbohong kepada suaminya, karena orang yang ditemuinya tidak memperbolehkan dirinya membawa siapapun. Beberapa detik kemudian, orang yang ditunggu pun datang.
"Apa anda, yang bernama Nona Kanata Diane?"tanya seorang pria tampan berkemeja biru muda itu, yang kini sudah berdiri dihadapannya.
"Ah, iya Tuan."jawabnya sedikit gugup,"silahkan duduk Tuan."sambungnya.
"Terimakasih"Pria itupun duduk berhadapan dengan Kana.
Seorang pelayan wanita menghampiri meja mereka, dan menawarkan beberapa menu kepada mereka. "Mau pesan apa Nona dan Tuan?"tanyanya sambil memberikan dua buah buku menu.
"Saya mau nasi bakar ayam dan minumannya teh manis saja."ucap Kana.
"Baik Nona. Kalau Anda Tuan?"tanya si pelayan kepada pria berkemeja biru.
__ADS_1
"Samakan saja."jawabnya dan tersenyum manis.
"Baik Tuan dan Nona, sebentar lagi pesanan kalian akan tiba."ujarnya, kemudian berlalu.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, pesanan mereka sekarang sudah tersaji dihadapan mereka masing-masing. Sebelum membicarakan hal penting, mereka memutuskan untuk menyantap makanan diatas meja terlebih dahulu.
15 menit kemudian, mereka telah selesai makan. Pria berkemeja biru sedang mengelap mulutnya dengan tisu, sedangkan Kana menunggunya memulai obrolan.
"Apa kamu begitu ingin mengetahui fakta kebakaran toko kue milik kedua orang tuamu pada 20 tahun yang lalu?"tanyanya, sambil menupang dagunya dengan sebelah tangannya.
"Iya, saya ingin mendengarnya langsung dari mulut Anda beserta buktinya. Anda bilang, kalau Anda mengetahui semua kejadian itu. Tolong katakan kepada saya sekarang, siapa yang menyebabkan kebakaran itu."Desaknya.
Pria itu terkekeh,"wow-wow...Hahaha...jangan terburu-buru Nona, saya langsung saja menunjukkan buktinya."
"Coba saya lihat buktinya Tuan."Desaknya lagi.
"Buktinya tidak saya bawa kemari, mari ikuti saya kesuatu tempat."ujarnya.
Kana berdiri, lalu mengebraknya meja restoran dengan cukup keras."Apa Anda mau menipu saya?"tanya Kana dengan suara sedikit meninggi,
Pria itu berdiri, kemudian memegang lengan Kana dan hendak menariknya."Ayo ikut saya, saya jamin Anda akan tau kebenarannya."
Kana menghempas tangannya sehingga tangan pria itu terlepas dari lengannya."Ti...tidak...saya tidak mau!"Teriaknya.
Di pertengahan aksi pemberontakannya, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, tubuhnya terasa lemas dan panas. "Apa yang terjadi padaku, kenapa kepalaku terasa sangat pusing?"
Pria berkemeja biru itu memalingkan wajahnya kearah pelayan yang menyajikan makanan untuknya dan Kana tadi. Mereka saling membalas senyuman dan pria itu mengacungkan jempolnya kearah pelayan itu.
"Kerja bagus!"bisiknya dari kejauhan, si pelayan pun tersenyum malu-malu karena dipuji.
Melihat Kana yang sudah tidak mampu menopang tubuhnya sendiri, Pria berkemeja biru itu langsung merangkulnya dan membawanya pergi ke hotel yang terletak disebrang jalan restoran, tempat mereka makan tadi.
Cekrek!!
Seseorang memotret foto keduanya dari belakang.
"Jepretan yang bagus dan meyakinkan. Setelah kau melihat foto ini, semoga kau langsung menendang istrimu itu keluar dari kediaman Nicolas. Hahahaha..."ujar orang itu dan tertawa bangga, kemudian ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari sana.
...****************...
Tring!!
Sebuah notif pesan dari nomor yang tidak kenal masuk ke handphonennya Addan. Awalnya ia ragu-ragu untuk membuka pesan tersebut, namun pada akhirnya ia merasa sangat penasaran akan isi dari pesan itu.
Betapa terkejutnya Addan, setelah membuka pesan itu, ia melihat sebuah potret istrinya bersama dengan seorang pria yang tidak dikenalnya. Mereka terlihat sedang berjalan menuju ke sebuah hotel sambil saling berangkulan mesra. Addan tidak salah mengenali sosok wanita di foto itu, bajunya, bahkan wajah dan perutnya yang buncit, sangat jelas bahwa sosok itu adalah istrinya sendiri.
Hatinya terasa panas, dadanya naik turun dengan intonasi yang cepat, matanya menyala membara, tangannya pun terkepal sangat kuat. Namun, sesaat kemudian nafasnya mulai teratur. Ia percaya bahwa istrinya tidak akan mengkhianatinya, Kana bukan wanita yang seperti itu. Kana tidak akan tega melukai anak yang dikandungnya, karena Addan melihat kalau istrinya itu amat sangat menyayangi bayi mereka.
"Aku yakin, pasti ada seseorang yang menjebak istriku."Gerutunya dengan raut wajah yang sudah memerah terbakar amarah.
Addan dengan cepat menyambar kunci mobilnya yang tergeletak diatas nakas, kemudian berlari menuju ke garasi mobilnya. Karena rasa khawatirnya yang sangat besar kepada Kana, sampai-sampai ia melupakan rasa sakit pada betisnya, bahkan darah sudah melebar membasahi perbannya.
Nenek Suci yang melihat cucunya dilanda panik, berniat menyusul Addan. Namun, langkah kakinya kurang cepat dengan mesin mobil. Sebelum tiba digarasi, ternyata mobil cucunya itu sudah melesat lumayan jauh.
"Pergi kemana dia, bukankah seharusnya hari ini libur?"gumamnya.
__ADS_1
Bersambung...