
Pandangan Addan tidak lepas ke arah istrinya yang sedang mondar-mondir. Setelah menerima panggilan dari adik sepupunya, Raya. Kana bergegas mandi dan berganti pakaian, namun aksi buru-burunya itu membuatnya kesulitan. Ia baru sadar, kalau dress yang dikenakannya telihat sangat ketat dan susah untuk di lepaskan.
"Ada apa?"tanya Addan yang saat itu duduk di sofa.
"Ini loh Mas, dressnya terlalu ketat, nanti baby girlnya sesak. Susah kali bukaknya..."gerutunya, jari jemarinya sibuk menggapai resleting dressnya yang terletak dibelakang.
Addan berdiri. "Sini, Mas bantu,"tawar Addan sembari melangkahkan kaki ke arah istrinya.
Mata Kana melotot ketika mendengar tawaran suaminya."Ah?...ti..tidak usah Mas."Ucap Kana gugup, seraya menghindar.
Addan pun berhenti mendekati istrinya itu, tapi tak lama kemudian ia mulai merasa jenuh melihat istrinya yang tak kunjung bisa menarik kebawah resleting dressnya.
"Ishh....gimana sih ini..."gerutunya lagi, kakinya pun dihentak-hentakkan ke lantai, karena kesabarannya yang sudah hampir habis. Addan yang melihat tingkah istrinya yang menggemaskan menurutnya itu, terkekeh dan geleng-geleng kepala.
"Makanya...jangan keras kepala, biar Mas bantu membukanya. Jangan menghindar lagi, nanti Mas robek paksa bajumu. Mau?"Ujarnya dan sedikit mengancam.
Tangan kiri Addan mencengkram pinggang istrinya, sedangkan tangan kanannya menarik resleting dress Kana kebawah. Kana sedikit memberontak, namun tenaganya kalah kuatnya dengan tenaga Addan, hingga akhirnya ia pasrah.
Merasa resleting dressnya sudah turun, Kana langsung berjalan cepat menuju ruang ganti.
~
"Mau pergi kemana?"tanya Addan. Saat itu Kana sudah mengganti dreesnya yang tadi dengan dress yang lebih longgar.
Kana menoleh ke arah Addan."Ke toko kueku Mas. Tadi Raya nelfon, dia bilang terjadi kekacauan disana."ujarnya.
"Pergi dengan Ghani. Mas tidak akan mengizinkan, kalau kamu pergi sendirian ke toko."
"Tokoku ngak jauh kok Mas."protesnya, bibirnya pun manyun beberapa centi.
"Mas yang temani atau Ghani?"tegas Addan memberi pilihan.
"Sasha aja Mas."balas Kana cepat. Sungguh ia tidak mau di antar oleh salah satu pria itu. Ketika bersama suaminya, Addan. Yang ada, ia malah tidak dapat bergerak leluasa, tidak boleh kesanalah, tidak boleh kesitulah, suaminya itu terlalu posesif padanya, jadi tidak cocok dibawa kemana-mana. Sedangkan dengan Ghani, ia akan selalu bertengkar dengan pemuda itu. Entah kenapa, beberapa hari ini Ghani sangat menyebalkan menurutnya. Melihat wajahnya saja, tangan Kana terasa gatal ingin memukulnya.
"Maaf, Mas lupa memberi tahumu suatu hal. Mulai sekarang, Sasha tidak bisa menjadi bodyguarmu lagi."ungkap Addan.
Kana kaget,"loh, kenapa Mas? Selama jadi bodyguardku, Sasha tidak pernah melakukan kesalahan kok Mas."jelasnya.
"Bukan karena dia melakukan kesalahan, makanya dia berhenti menjadi bodyguardmu. Tapi karena sekarang, dia lagi berbadan dua. Sama sepertimu."
Kana menutup mulutnya, menahan diri supaya tidak berteriak, dirinya ikut bahagia mendengar berita kehamilan bodyguardnya itu."Beneran Mas?" Tanyanya memastikan.
"Iya, mulai sekarang Ghani yang akan menggantikan posisi Sasha sebagai bodyguarmu."
Kana mau protes lagi namun dengan cepat Addan menyela."Oke, Mas yang antar."
Kana tidak membalas ucapan suaminya itu, hanya cemberut dan sesekali bergumam tak jelas. Addan yang tahu bahwa istrinya itu tidak akan memilihnya, langsung meraih handphonenya diatas nakas lalu menghubungi Ghani.
...****************...
Dalam perjalanan ke toko kuenya, Kana menggerutu kesal. Ia begitu kesal akan keposesifan suaminya itu, mau protes tapi selalu saja ia kalah berdebat dengan pria pemarah itu.
"Kak, jangan ngambek melulu, jelek tau."ejek Ghani yang duduk dibangku depan bersama Pak sopir. Akhir-akhir ini ia begitu senang menjahili bumil yang sensitif itu.
Kana cemberut, "hish Ghani, Aku ngak mau lagi ngomong sama kamu!"Ujarnya kesal sambil memalingkan wajahnya ke jendela mobil. Setiap Ghani menjahilinya, Kana pasti akan merajuk dan mengacuhkan Ghani berjam-jam lamanya.
"Hahahaha...Jangan ngambek dong...nanti ikan buntalnya Bang Addan, makin jelek..."Ejeknya lagi, dan dengan beraninya mencolek-colek dagu kakak iparnya itu. Coba kalau Addan ada disana, mana berani Ghani berbuat seperti itu, yang ada dia dijadikan samsak oleh Addan, si tuan pemarah.
__ADS_1
Hehehe...kapan lagi kan...nyolek cewek cakep, mumpung Mr. Gorilla tidak ada, batin Ghani.
"Iiih..."Kana menepis kasar tangan Ghani di dagunya lalu menatap Ghani tajam.
"Galak amat sih...sama kayak lakinya. Hahahah..."Ucap Ghani dan terkekeh. Kana memilih diam, tidak meladeni Ghani yang terus mengejeknya.
Sesampainya di toko kue, Kana keluar dari mobilnya dan disusul oleh Ghani. Namun sebelum Ghani mengikuti langkahnya, Kana berpesan kepada Ghani untuk tidak mengikutinya kedalam. Dan Ghani pun menuruti permintaannya itu.
Di dalam toko, Kana menghampiri Raya dan Feni yang tampak sedang menunggu kedatangannya.
"Kak!"Raya langsung berdiri ketika melihat kedatangan kakak sepupunya itu.
"Ada apa ya Ray? Kamu bilang ada masalah besar di toko,"tanya Kana. "kok sepi ya Ray."sambungnya dan celingak celinguk memperhatikan keadaan toko kuenya yang minim pelanggan. Jumlah pembeli hanya dapat dihitung jari, biasanya jumlah pembelinya lebih banyak, bahkan para pembeli itu sampai antri panjang hingga keteras toko.
"Kita rugi besar kak, aku tidak tau harus gimana lagi. Bahkan kue yang gunanya untuk pajangan saja, juga ikut ludes."ujar Raya lemas.
"Bagus dong, kue kita banyak yang beli. Dimana ruginya coba?"
"Mereka ngak beli kak. Mereka mendapatkan kuenya secara cuma-cuma."
"Maksudnya gratis gitu?"
"Iya Kak! dan ini semua gara-gara Mbak Feni. Dia ngasih gitu aja kuenya ke semua pelanggan tanpa sepengetahuan aku."rasa geram Raya kembali timbul, mengingat kelakuan Feni pagi tadi.
"Benar begitu Mbak?"tanya Kana memastikan, dia terlihat tidak marah sekalipun. Kalau memang benar apa yang dikatakan Raya, mungkin dia hanya kecewa saja lalu memberhentikan Feni secara baik-baik.
Feni menundukkan kepalanya."Maafkan saya Bu, saya khilaf. Awalnya saya berpikir, dengan adanya promo jum'at gratis, bisa menarik pelanggan lebih banyak lagi. Sekarang saya sadar, bahwa tindakan saya itu membuat Ibuk mengalami banyak kerugian, saya sangat menyesal Bu. Tolong jangan pecat saya..."Ucapnya memelas, keduanya tangannya ia katupkan.
"Tindakanmu itu ngak bisa dimaafkan Mbak. Toko Kak Kana mengalami kerugian yang besar, akibat ulah kamu yang berbuat seenaknya."timpal Raya mengebu-ngebu.
"Buk...tolong jangan pecat saya...Saya memiliki seorang putri. Dia membutuhkan banyak biaya, baik keperluan sekolah maupun keperluan sehari-hari. Susah payah saya mencari pekerjaan, cuman ibuk yang pada saat itu mau menerima saya."Ucap Feni mengiba sambil meneteskan air mata. Kana yang melihat Feni yang seperti itu merasa tidak tega memecatnya.
"Butuh pekerjaan tapi berulah, ngak satu atau dua kali. Ini malah terhitung sangat sering."Sindir Raya.
"Raya..."tegur Kana,"kamu ngak boleh berkata seperti itu kepada orang yang lebih tua"
Sejenak Raya terdiam setelah ditegur oleh Kana.
"Fiuhh...Baiklah Kak, maafkan aku."Sahut Raya dengan jutek, lalu melirik Feni tak suka. Sedangkan Feni yang dilirik tersenyum miring, sehingga hal itu membuat Raya bertambah geram dibuatnya.
"Grrr....Gue benci banget sama senyumannya yang menyebalkan itu"gumam Raya.
Kana melirik etalase kue, matanya melotot melihat kue yang berada disana tidak ada satupun yang tersisa. Kue yang rencananya, ia hadiah untuk Lani, kini pun sudah lenyap pula. Padahal satu hari yang lalu, ia sudah menyampaikan kepada Raya dan Feni untuk tidak menjual kue itu. Tiba-tiba kepalanya terasa sedikit pusing, ia memijit pangkal hidungnya.
"Ku...kue...yang aku sisihkan, Mbak beri juga kepada pelanggan?"Tanyanya pelan-pelan, ia berharap kue itu disimpan oleh mereka berdua ditempat lain seperti di kulkas atau di etalase didapur.
"Ah, kue coklat itu sudah saya potong-potong Buk. lalu saya bagi-bagikan kepada mereka."jawab Feni sambil menunjuk kepada para pelanggan yang tengah menikmati potongan kue itu.
"Astagfirullahaladzim...Ya Allah..."Kana syok melihat kue itu tengah di santap para pelanggan, dia pun terduduk lemas dilantai.
~
"Kak minum dulu Kak"Ucap Raya dan menyodorkan segelas air putih kepada Kana yang sedang duduk bersandar di sofa dalam kamarnya, lantai dua.
"Terimakasih Ray..."Ujar Kana dengan suara parau dan menerima gelas yang berisi air putih yang disodorkan Raya.
"Buk...Maafkan saya...tolong maafkan saya, saya janji tidak akan mengulanginya."Feni berlutut didepan Kana.
__ADS_1
"Mbak...jangan begini Mbak, tolong berdiri."pinta Kana yang tak enak hati, kedua tangannya menyentuh pundak Feni.
Raya bertambah geram menyaksikan kepura-puraan Feni itu."Sebaiknya Mbak tidak usah lagi bekerja disini. Keluar Mbak dari toko ini."Bentaknya, jari telunjuknya menunjuk ke arah pintu keluar, mengintruksikan agar Feni segera pergi dari toko kue.
......................
Malam harinya, Kana sedang duduk bermenung di tepi ranjang. Ia memikirkan keputusannya tadi siang, yang seenaknya menerima Feni bekerja dikediaman Nicolas, dan juga memikirkan Raya yang sedang merajuk kepadanya. Tiba-tiba sebuah tepukan dipundaknya mengejutkannya.
"Ah!"Pekiknya karena kaget.
"Kamu kenapa Dek? Apa ada yang mau kamu makan?"
"Mmm...itu..."
"Ya?"
"Mas, apa kamu keberatan kalau aku mempekerjakan seseorang dikediaman ini sebagai pembantu."
"Siapa?"
"Dia pegawai di toko kueku, tapi karena ia berbuat ulah di toko, Raya tidak mau lagi bekerja sama dengannya. Jadi dengan terpaksa aku mengajaknya bekerja dikediaman."
"Kenapa tidak pecat saja dia?"
"Aku...tidak tega memecatnya Mas, dia memiliki seorang putri yang harus dinafkahinya. Dia dan suaminya pun sudah bercerai, katanya."
"Kalau dia bisa dipercaya, tidak masalah memperkerjakannya. Tapi, bagimana kalau dia punya niat buruk terhadapmu dan anak kita?"
"Ak...aku yakin dia bisa dipercaya Mas. Mbak Feni orangnya baik kok Mas."
"Hufh...Baiklah."
"Makasi Mas."Ujar Kana dan tersenyum manis.
"Iya sama-sama."Addan membalas senyuman istrinya dengan senyuman manis pula.
Beberapa menit kemudian, mereka menyelesaikan percakapannya. Kana memutuskan berbaring dikasur, matanya menatap langit-langit kamar. Sedangkan Addan ke kamar mandi, membasuh muka dan gosok gigi.
Tak membutuhkan waktu lama, Kana pun terlelap dan kini sudah menjelajah ke alam mimpi. Addan yang baru keluar dari kamar mandi, menghela nafas ketika menyaksikan istrinya yang sudah terlelap. Padahal dia berniat menanyakan sesuatu kepada istrinya itu, namun sudah keburu ditinggal tidur. "Cepat sekali tidurnya, baru sebentar ku tinggal ke kamar mandi. Besok sajalah ku tanyakan."Gumam Addan.
Ia pun segera berbaring disamping Kana. Ia memandang istrinya yang telah tertidur dengan pulas, kemudian membelai rambut sang istri dan mengecup keningnya dengan penuh cinta.Addan tersenyum tatkala melihat istrinya yang menggeliat karena terusik oleh sentuhannya.
"Rasanya sangat bahagia sekali, tiap kali diriku memandang wajahmu sebelum aku tidur. Ku harap perasaanmu kepadaku sudah ada, dan tidak akan pernah lagi kata perpisahan yang terucap dari bibir mungilmu ini."Ucapnya lirih, tangannya mengusap bibir merah merona milik istrinya dengan lembut. Tak lama kemudian, ia ikut menyusul istrinya ke alam mimpi.
Bersambung...
_
_
_
~Maaf ya readers..., lagi-lagi author terlambat update episode selanjutnya. Pekerjaan author menumpuk banget, ditambah lagi mood author kadang-kadang baik dan kadang-kadang buruk. Kalau udah buruk moodnya, pas ngarang cerita itu susah banget. Harap maklumi ya...🙏
Semoga karya author ini dapat menghibur dan ngak bikin bosan. Terimakasih buat kalian semua yang tetap setia menunggu. Love you All...🥰
Assalammu'alaikum...
__ADS_1