You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Perhatian


__ADS_3

Aku tau, aku memaksakan kehendakku padamu. Tapi anehnya aku tak pernah menyesal. Demi terwujudnya cinta yang selama ini kutunggu darimu, aku malah senantiasa membenarkan segala tindakanku itu. ~ Addan.


...----------------...


Di malam harinya, Kana berkutat didapur. Ia berencana memasak bubur untuk suaminya.


“Nyonya mau masak apa?”Tanya Bi Murni.


“Kana mau buat bubur Bi, untuk Mas Addan.”Jawab Kana dan tersenyum manis.


Bi Murni melirik empat pembantu yang berdiri dipojok dapur.


"Hei! kalian kenapa diam saja sedari tadi? Kenapa tidak membantu Nyonya?"Tegur Bi Murni yang marah akan sikap para pembantu itu, mereka hanya diam tanpa berniat membantu.


Para pembantu hanya menundukkan kepala, mereka seperti mengalami dilema. Mau membantu tapi dilarang oleh sang Nyonya muda.


"Bi...tadi, mereka sudah menawari untuk membantuku, tapi aku tidak mau. Soalnya mereka tadi sudah bantu memasak menu makan malam yang banyak. Dan juga mereka pasti sudah capek, karena membersihkan semua ruangan dirumah yang besar ini."Ujar Kana menenangkan Bi Murni yang terlihat marah kepada para pembantu junior.


"Tapi itu sudah pekerjaan mereka Nyonya."


"Tidak apa-apa Bi, kasihan mereka yang tidak istirahat sedari pagi tadi."


"Pak Awan dan dua koki lainnya mana? mereka kan koki yang bertugas memasak makanan sehat untuk Nyonya."Tanya Bi Murni kepada keempat pembantu itu.


"Maaf Bu...Pak Awan sedang izin pulang kampung sedangkan dua koki lainnya dipindahkan keapartemen Tuan Lano dan Vila di Puncak."Saut salah satu pembantu.


“Hufff...baiklah, sebaiknya kalian istirahat saja."Ujar Bi Murni.


Keempat pembantu itupun pamit undur diri.


"Kami pamit ya Nyonya?"Ucap mereka serempak sambil membungkukkan badan.


"Ya"Balas Kana dan tersenyum ramah.


~


"Biar Bibi yang bantu ya?”Ucap Bi Murni, ia pun segera memposisikan diri disamping Kana.


"Tapi Bibi pasti juga lelah...,aku coba buat sendiri saja."Ucap Kana yang tak enak hati. Ia tidak tega menggangu waktu istirahat Bi Murni.


"Nyonya tidak bisa bikin bubur kan?" Tebak Bi Murni, ketika melihat gelagat Kana yang terlihat kebingungan memilih bahan-bahan membuat bubur.


Kana menoleh kearah Bi Murni dan tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Hehehe, sedikit."Ujarnya.


"Bibi bantu ya? Sekalian Bibi kasih resep cara bikin bubur enak. Bibi dulu jual bubur loh, sebelum kerja dikediaman Nicolas. Bibi bantu ya?"Tawar Bi Murni.


Kana menganggukkan kepalanya dengan semangat. Ia belum pernah membuat bubur, biasanya kalau dia yang sakit ataupun sang adik, Nena dan Raya. Mereka bertiga memilih membeli bubur yang sudah jadi diwarung ataupun bubur instan di mini market.


“Bi langkah pertamanya apa ya Bi?” Tanya Kana.


“Nyonya mau buat bubur apa?”Tanya Bi Murni balik.


“…Mau buat bubur ayam, Bi.”


“Sipp...Kita buat bubur ayam bulgogi aja ya Nyonya? Karena itu bubur kesukaan Tuan muda sewaktu kecil.”


“Iya Bi.” Balas Kana. “ Yap! Ayo mulai Bi, Mas Addan pasti sudah lapar”Sambungnya dengan semangat.


Bi Murni menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bubur ayam bulgogi seperti daging ayam, beras, 2 lembar daun salam, 1 batang serai, 1 liter kaldu ayam, lengkuas, bawang merah, bawang putih, ketumbar, kunyit, 2 butir kemiri dan tidak lupa pula garam.


“Nah! Ini bumbunya sudah bibi siapkan. Pertama-tama…”Sambil memegang kantong yang berisikan 1 liter beras, Bi Murni akan memperagakan cara membuat bubur ayam bulggogi, namun dengan cepat Kana menahan tangannya.


“Eitss….tunggu! tunggu dulu bi, biar Kana saja yang memasukkan bahan-bahannya ke teflon, bibi mengintruksikannya saja. Kalau Bibi yang lakuin, itu sama saja Bibi yang masak namanya.”Ucapnya dan terkekeh.


Bi Murni hanya manggut-manggut mengiyakan perkatan istri dari tuan mudanya itu.


“Pertama-tama kita rebus dulu berasnya dengan air kaldu dan daun salam..." Intruksi Bi Murni, dan Kana pun menuruti perkataan Bi Murni.


Mata Bi Murni membulat ketika Kana akan memasukkan semua beras."Eh...jangan semua berasnya dimasukkan Nyonya, masukkan sepertiganya saja."Tegur Bi Murni kemudian.


"Hehehehe...iya Bi, Maaf..."Ucapnya dan cengengesan.


"Beri garam, lalu aduk-aduk sampai merata dan menjadi bubur. Kemudian bla…bla….”Lanjut Bi Murni.


Kana menuruti ucapan Bi Murni dengan serius, dengan telaten ia memasukkan bahan-bahan untuk membuat bubur kedalam teflon. Namun sesekali Kana melakukan sedikit kesalahan, bahkan Bi Murni tak segan-segan menepuk pelan bahu Kana ketika ia menuangkan kaldu terlalu banyak kedalam teflon.


45 menit kemudian...


“Fiuh…akhirnya buburnya jadi Bi.”Ucap Kana dan tersenyum bangga.

__ADS_1


“Iya Nyonya…”Balas Bi Murni disertai senyuman manis, hingga matanya beralih kearah tangan Kana yang begitu dekat dengan teflon yang masih panas.”Ehh…Nyonya awas!”Teriak Bi Murni spontan karena kaget.


Kana pun terlonjak kaget mendengar teriakan Bi Murni, tangannya yang tadinya berjarak beberapa centi dari teflon kini sudah menyentuh teflon itu.


“Ah! Shhh…Aduhh…”Teriaknya ketika sadar menyentuh teflon panas itu, ia pun meringis merasakan perih pada telapak tangannya.


Sebagian pekerja dikediaman Nicolas, menggerubungi Kana dan Bi Murni, ketika mendengar suara teriakan dari dapur.


“Ya ampun Nyonya…hati-hati…”Ujar Bi Murni khawatir, lalu memegang tangan Kana yang sedikit melepuh akibat terkena besi panas dari teflon, ia pun meniup-niup pelan telapak tangan Kana.


“Nyonya apa anda baik-baik saja?”Tanya salah satu pembantu yang bernama Sari.


“Tidak apa-apa kok Bi Murni dan Mbak Sari.”


......................


Didalam Kamar


Addan kini tengah bermenung, memikirkan perkataan sang istri tadi siang. Ia harus mencari cara agar Kana membatalkan niatnya untuk bercerai.


Addan tidak akan pernah merelakan Kana, ia sudah melangkah sejauh ini dan sudah terlanjur mengambil jalan pintas untuk mendapatkan Kana dengan cara memperkosa dan menghamilinya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu menyadarkan Addan dari lamunannya, ia hanya memandangi pintu kamarnya tanpa berniat membukakan pintu, ditambah betisnya akan terasa sakit setiap kali digerakkan.


Tok tok tok (suara ketukan pintu lagi)


Tidak mungkin Kana mengetuk pintu. Biasanya kalau istrinya itu masuk, ia langsung menyelonong saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, pikirnya.


"Siapa?"Tanya Addan dengan nada ketus.


"Aku!"jawab dari balik pintu dengan ketus pula.


"Masuk"


Ceklek


Setelah diizinkan masuk, orang yang mengetuk pintu itupun masuk.


"Ada perlu apa mencariku? Kau main masuk saja seperti maling kedalam rumahku lagi seperti dahulu?"Ucap Addan dan menatap dingin orang itu.


"Hei...kali ini aku masuk ke kediamanmu yang megah ini, karena mendapat undangan dari kakakmu tau." Ucapnya kesal.


"Heh! Seharusnya yang koma itu kau, kan kau yang mengalami luka paling parah. Baru satu minggu dirawat dirumah sakit, tapi sudah diperbolehkan pulang."


"Apa kau lupa? kalau mantan komandanmu ini banyak mengalami luka tembakan saat dimedan perang lalu keesokan harinya aku baik-baik saja. Luka seperti ini bukan apa-apa bagiku."Ucap Addan lalu menundukkan kepalanya.


Hoby melihat raut wajah Addan yang terlihat murung. Ia yakin, kalau sahabatnya itu pasti memikirkan istrinya lagi. Siapa lagi kalau bukan istrinya yang membuatnya galau, pikirnya.


"Ya luka itu bukan apa-apa bagimu, tapi luka dihatimu bagaimana?"


Addan mengangkat kepalanya menatap Hoby yang berdiri dihadapannya, sejenak.


"Kau tau apa tentang luka dihatiku? huk huk huk."Ucap Addan dan terbatuk-batuk sambil memegang dadanya.


"Kau kenapa? Apa dadamu sakit?"Tanyanya lalu duduk ditepi ranjang Addan yang berukuran king size, ia pun menepuk-nepuk pelan bahu sahabatnya itu.


Ceklek


Kana masuk kedalam kamar Addan, sambil membawa bubur yang ia masak tadi beserta air putih diatas baki.


"Mas..."Kana dengan raut wajah cemas, berjalan cepat menghampiri Addan. Ia meletakkan bubur dan air putih diatas meja dengan sedikit kasar.


"Mas, apa dadamu sakit?"Tanya Kana khawatir.


"Aku..."


"Dadanya berdarah Na. tadi dia batuk mengeluarkan darah"Potong Hobby cepat.


"Hah?"Addan menatap Hobby tajam karena membohongi istrinya.


Dan Kana dengan mudahnya percaya. "Hah? Ya Allah Mas...hiks hiks, seharusnya kamu masih dirawat dirumah sakit. Tapi kamu tetap ngotot pulang."Ucap Kana dengan suara yang bergetar dan menangis.


Hah... Dia langsung nangis? Fiks! Istrimu sudah jatuh cinta padamu Dan, apalagi yang kau murungkan bocah...?, batin Hobby dan terperangah menatap Kana yang menangis.


Kana meraih tangan Addan, kemudian memeriksa telapak tangannya.


"Tidak ada darah..."


"Dek...Mas tidak apa-apa."

__ADS_1


"Memangnya kalau batuk berdarah, yang berdarah itu tangan?"Ujar Hobby.


"Bukan begitu. Biasanya kalau batuk, orangnya secara spontan memegang mulutnya. Jadi mungkin saja ada darah yang menempel ditangan Mas Addan."Ucap Kana dengan polosnya.


"Pfft...pasti karena melihat adegan disinetron."Ujar Hobby sambil menahan tawa.


Addan menatap tangan mungil Kana yang menggenggam tangannya, ia tersenyum senang didalam hati. Lalu balik menggenggam tangan Kana sedikit kuat.


"Shhh..."Kana meringis, ia merasakan perih ditelapak tangannya, dan dengan refleks menarik tangannya yang digenggam Addan.


"Dek, tanganmu sakit? Sini Mas lihat!"Addan khawatir lalu meraih tangan Kana.


"Mm...Mas?"


Addan melihat telapak tangan Kana yang sedikit melepuh dan memerah.


"Kenapa tanganmu sampai melepuh dan memerah seperti ini?" Tanya Addan, ia sangat khawatir terhadap istrinya itu.


"Mmm...itu tidak apa-apa kok Mas."


"Tidak apa-apa gimananya? Nanti tanganmu bisa bengkak. Ini pasti karena terkena benda panaskan?"Ucap Addan, kemudian meniup-niup telapak tangan Kana yang terluka.


"Mas...nanti tidak akan sakit lagi kok. Tadi sudah aku kasih pasta gigi."Ucap Kana sambil menarik tangannya dari pangkuan Addan, namun ditahan oleh Addan.


"Hob! Tolong kau ambilkan air dingin."Perintahnya, tanpa menghiraukan perkataan sang istri.


"Didalam kulkas kan?"


"Bukan! didalam celanamu. Sudah tau masih saja bertanya."Ucapnya dengan ketus.


"Wuw...Sensi amat sih lo!"Hobby yang kesal, namun tetap menuruti permintaan Addan. Ia pun pergi keluar, meninggalkan sepasang suami istri itu berdua saja didalam kamar.


"Mas...Kamu tidak marahkah kepadaku? Soal pembicaran kita tadi siang?"Tanya Kana memecah keheningan.


"...."Addan hanya diam.


"Kamu marah ya."Ucap Kana dan kepalanya pun tertunduk sedih.


"...Tidak, aku tidak bisa marah padamu?"Sahut Addan tak lama kemudian setelah beberapa menit terdiam. Kana mengangkat kepalanya lalu menatap sang suami yang begitu fokus meniup-niup telapak tangannya.


Sebegitu cintanya kah kamu Mas, kepadaku?, batin Kana tanpa melepaskan pandangannya kearah pria tampan yang lebih muda 2 tahun darinya itu.


Kana merasakan hatinya mulai goyah, ia tidak tega melukai pria dihadapannya itu. Haruskah ia memberitahukan perkataan Nenek Suci kepada Addan atau tetap diam dan tidak memberitahukan perihal kesepakatannya dengan Nenek Suci.


Ceklek


Hobby balik dari dapur dengan membawa sebaskom air dingin ditangannya.


"Nih!"Ucap Hobby dengan ketus, dan menyerahkan baskom yang berisikan air itu ketangan Addan.


Addan dengan telaten mengompres telapak tangan Kana dengan air dingin.


"Kalau terkena benda panas, jangan sesekali mengoleskannya dengan pasta gigi. Pasta gigi justru membuat kulit kita iritasi dan menciptakan daerah luka terinfeksi."Jelas Addan. "Mengerti?"Ujarnya lagi sambil menatap Kana yang terbengong menatap dirinya.


Addan juga membalut telapak tangan Kana dengan perban. Hobby yang memperhatikan mereka berdua hanya menggeleng-gelengkan kepala.


Menjadi obat nyamuk lebih menyakitkan, batin Hobby.


"Mas belum makan malam kan? itu aku sudah masakin bubur ayam bulgogi untukmu."Ucap Kana sambil menunjuk bubur ayam diatas meja.


"Iya, makasi ya sayang..."


Blush...pipi Kana memerah, ketika mendengar panggilan 'sayang' dari Addan.


"Iiya...sama-sama Mas. Aku suapin ya?"Ucap Kana sedikit terbata-bata, dan diangguki oleh Addan dengan semangat.


"Ekhem...Itu...aku lapar Na."Ujar Hobby tak tahu malu sambil tersenyum dan mengerling-ngerlingkan matanya.


"Kalau lapar ya makan, kenapa kau mengadu kepada istriku."Ucap Addan ketus.


"Ck"Hobby berdecih dan menatap pria bucin itu malas.


"Oh iya aku lupa! kamu ditunggu dimeja makan. Disana ada Kak Lano, Nena, Lani, Soka dan Ghani."


"Ok, makasi. Aku cabut dulu ya."Ujar Hobby semangat lalu berlari keluar dari kamar Addan.


Kana dan Addan hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Hobby.


"Kamu belum makan kan? Lebih baik kamu turun, dan makanlah."


"Aku bawa dua buah mangkok bubur kok Mas, yang satunya untukmu dan yang satunya lagi untukku. Kita makan sama-sama disini."Ucapnya dan tersenyum, Addan pun ikut tersenyum.

__ADS_1


Kana, sebenarnya perhatianmu kepadamu. Apa karena kamu sudah jatuh cinta kepadaku atau karena kamu merasa bersalah dan kasihan kepadaku?, batin Addan.


Bersambung...


__ADS_2