
Seekstrim apapun cobaan yang datang. Dengan mengatas namakan cinta dan kepercayaan, aku yakin kita bisa melaluinya~ Addan.
...----------------...
Addan memijat kepalanya yang terasa berat, Soka yang berdiri dihadapannya terus mengoceh tanpa henti, sedangkan Hobby dan Ghani hanya menyaksikan perbincangan keduanya, tidak berniat menyela.
"Lalu apa lagi yang terjadi?"Tanya Addan, tangan kirinya menupang kepalanya yang terasa berat.
"Ada beberapa karyawan kita yang dirawat dirumah sakit, dan di antaranya ada yang meninggal, akibat menghirup asap yang dilemparkan oleh Jane. Setelah saya selidiki bersama Dokter Grima yang merupakan dokter forensik. Asap yang dihirup oleh para karyawan itu, bukan hanya mengandung obat bius saja, tapi juga mengandung zat ricin."
"...Kudengar zat itu sangatlah berbahaya. Apakah ada cara alternatif untuk menyembuhkan beberapa karyawan yang masih bertahan hidup?" Tanya Addan.
"Kata Dokter Grima, keracunan ricin tidak ada obat penyembuh atau vaksin yang dapat mencegahnya. Namun, kita dapat mengelola gejalanya dan itu tergantung seberapa persen seseorang menghirup zat itu. Jika yang mereka hirup kurang dari 5% Zat, maka ada kemungkinan untuk mereka bertahan hidup 46%, itupun dengan bantuan intubasi atau menggunakan ventilator di rumah sakit. Jadi, tidak bisa dengan teknik pengobatan untuk menyembuhkan yang terkena racun ricin ini."
BRAK!!
Mendengar penjelasan Soka, membuat kepala Addan semakin terasa berat. Ia melampiaskan kekesalannya kepada sebuah meja, dengan menggebraknya sedikit keras.
Masalah ini benar-benar membuatnya sulit untuk berpikir, ia mengira setelah si pelaku mati maka, masalah pun selesai. Namun, dugaannya sangatlah salah, selain dirinya dan sang istri, karyawannya yang tak bersalah sama sekali pun, juga ikut terkena imbasnya.
"Berapa orang yang meninggal dunia Soka?"Tanya Addan. Ia memicingkan kedua matanya, menantikan jawaban dari Soka.
Soka mengecek selembar kertas yang dipegangnya, memeriksa jumlah karyawan yang meninggal dunia.
"...Empat orang Bos, tiga wanita dan satu pria."Ujarnya.
"Hufffh...Sit!"Sejenak Addan menghela nafas berat, kemudian mengumpat, menyuarakan isi hatinya yang terasa terbakar oleh api.
Addan menengadahkan kepalanya keatas, menatap langit-langit ruangannya. Merenungkan nasib karyawannya yang terbaring tak berdaya dirumah sakit dan keluarga yang ditinggalkan oleh karyawan yang meninggal dunia.
"Katakan kepada pihak rumah sakit, lakukan yang terbaik untuk semua karyawanku yang masih bertahan hidup. Sembuhkan mereka, berapapun biayanya akan ku tanggung. Kemudian sediakan 3 buah cek, masing-masing dari keluarga dari korban yang meninggal dunia, akan menerima uang sejumlah 3 Miliar."Perintahnya.
"Baik, Bos!"Sahut Soka.
Hobby teringat akan sesuatu, ia pun berdiri dari duduknya."Tunggu dulu, apa kalian tidak sadar? Kalau kita juga menghirup asap itu. Tapi kenapa sampai sekarang kita masih baik-baik saja?"Ujarnya.
Addan pun mengalihkan tatapannya ke arah Hobby, ia juga sempat berpikir seperti itu tapi ia lupa mengutarakannya tadi.
"Dari awal wanita itu sama sekali tidak ada niat untuk membunuh kita dan mencelakai beberapa karyawan. Tujuannya hanya satu yaitu membuatku menderita dengan menghabisi nyawa istri dan anakku."Sahut Addan.
"Menurut saya, apa yang Anda katakan Benar, Bos."Ucap Soka membenar tuturan dari Addan.
"Lalu kenapa karyawan kita keracunan, sedangkan kita tidak?"Timpal Ghani yang mulai angkat bicara, ia yang sedari tadi hanya diam, mulutnya terasa gatal ingin mulai berkoar.
"Para bawahan itu meracuni para karyawan bukanlah atas perintah Jane, tapi itu semua ...atas perintah dari si pria bertopeng."Jelas Soka.
"Dengan meracuni para karyawan, itu akan berdampak terhadap peforma perusahaan. Itulah tujuannya."Sambung Addan.
"Lalu apa rencanamu Dan?"Tanya Hobby.
"Memberantasnya hingga ke akarnya, siapapun yang berhubungan dengan kasus ini. Tidak akan pernah ku ampuni."Tegasnya dengan memancarkan guratan kemarahan dari wajahnya yang tampan. Soka, Hobby, dan Ghani menganggukkan kepala dengan semangat.
"Perketat penjagaan terhadap istriku. Kemana pun dia pergi dan dimana pun ia berada, istriku harus ada seseorang yang mengawasinya....Kali ini aku tidak boleh kecolongan lagi."Sambungnya, memerintah Soka.
"Baik Bos!"
Dert...dert...
Handphone dalam saku celana Soka bergetar, dengan cepat tangannya meraup handphonenya. Tertulis nama sang istri dari layar handphonennya. Sejenak, ia memandang Bosnya, meminta persetujuan mengangkat panggilan.
"Angkatlah!"Addan memberi izin sambil menganggukkan kepalanya.
Soka menggeser layar handphonennya ke ikon bewarna hijau.
Panggilan tersambung...
"Halo sayang...?"
"..."
"Kamu sudah pulang dari Singapore! Sekarang kamu berada dimana?"
__ADS_1
"..."
"Di Rumah Sakit? Apa kamu baik-baik saja?"Raut wajah Soka berubah pucat ketika mendengar istrinya masuk Rumah Sakit.
"..."
"Sekarang, Mas akan ke rumah sakit! Kamu berada dirumah sakit mana?"
"..."
"Ok, Mas akan segera tiba disana. Tunggu Mas."
Tut tut tut (Sasha mematikan sambungan panggilan)
"Ada apa dengannya?"Tanya Addan.
"Sasha masuk Rumah Sakit Bos. Saya harus segera kesana, tolong izinkan saya Bos!"
"Pergilah! Aku tidak akan menahanmu, istri lebih utama."
"Terimakasih Bos. Saya pamit dulu Bos."
"Hm"
"Ghani, Hobby. Aku pergi dulu."
"Ok. Semoga cepat sembuh istrimu/ istri Abang."Ujar Hobby dan Ghani bersamaan.
Setelah di izinkan oleh Addan, Soka langsung pergi dari kediaman Nicolas. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, agar cepat sampai di Rumah Sakit, tempat istrinya di rawat.
°°° Seminggu yang lalu, Sasha pergi ke Singapura menemani ibunya menjalani kemoterapi. Sekali sebulan Sasha lah yang menemani Ibunya berobat dan terkadang Soka ikut menemaninya ke Negara tetangga itu.
Lalu saudaranya? setahunya ia tidak memiliki saudara, meskipun ibunya adalah seorang janda dulunya. Sebelum menikah dengan ayahnya, Ibunya tidak pernah mengatakan kepadanya, kalau ia memiliki anak dari pernikahannya yang sebelumnya.
...****************...
Kediaman Nicolas kedua, di Italia...
"Pah, pokoknya kita harus kembali kerumah besar. Mama sudah merasa bosan tinggal disini."Ucap Nenek Suci kepada suaminya. Sambil mengemasi beberapa pakaiannya dari lemari bajunya.
"Tumben Mama bersikeras balik ke Indonesia? Bukankah Mama sangat suka tinggal disini, ada apa gerangan yang merasuki istri cantiknya Papa ini memutuskan tinggal di Indonesia lagi?"Tanya Kakek Vino kepada sang istri, sambil memandang istrinya itu dengan penuh selidik.
Nenek Suci terdiam, ia memikirkan alasan apa selanjutnya yang harus ia katakan, agar suaminya menyetujui keinginannya untuk balik ke Indonesia.
"Ya...Mama sudah jenuh dan bosan berada... di Italia terus. Disini pun Mama tidak ada teman wanita...untuk diajak mengobrol. "Ucap Nenek Suci dengan sedikit gugup dan ekpresinya pun terlihat sedikit cemas.
Kakek Vino mengernyitkan dahi, ketika melihat raut wajah dan cara bicara istrinya yang tidak terdengar santai.
"Memangnya kalau di Indonesia akan ada wanita yang menjadi teman mengobrol Mama?"
"...Hmm...Lani dan cucu mantu kita kan ada!"
"Lani? Papa ngak percaya kalau gadis kecil itu akan mau berbicara denganmu. Kalian berdua setiap bertemu kan selalu cekcok, ngak pernah akur."Ujar Kakek Vino dan terkekeh melihat wajah istrinya yang cemberut setelah mendengar perkataannya.
"Soal Cucu mantu, bukannya Mama kurang menyukainya? Papa tau, kalau Mama tidak akan mau mengobrol akrab dengan orang yang tidak Mama sukai. Jadi, Papa yakin tujuanmu balik ke Indonesia, bukanlah itu alasannya."Sambungnya.
Nenek Suci terdiam seketika, mendengar ucapan menohok dari sang suami. Sambil menggigit bibirnya, ia memikirkan alasan yang tepat agar suaminya percaya.
Baiklah...Ini serangan yang terakhir, aku yakin kamu tidak akan menolak, batin Nenek Suci.
"Mama mau menghabiskan masa tua Mama bersama Papa disana. Kita...kita sudah berpuluh-puluh tahun menetap di Italia, dan kini sudah saatnya kita balik ke kampung halamanku."Nenek Suci memberi alasan, menatap suaminya penuh harap.
Pas banget!, batin Nenek Suci, ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena begitu pandai berbohong.
"Baiklah. Besok kita pulang ke Indonesia."Balas Kakek Vino sambil tersenyum.
Kakek Vino percaya begitu saja akan perkataan istrinya. Tanpa menaruh curiga sedikit pun, ia menyetujui permintaan istrinya untuk tinggal di kediaman utama, di Indonesia.
Sebenarnya, Kakek Vino memutuskan kembali indonesia bukan hanya karena permintaan istrinya, tapi itu juga atas keinginannya sendiri. Ia begitu rindu kepada kediaman utamanya, yang merupakan rumah hasil jerih payahnya ketika dia sukses dimasa lalu, dan dirumah itu pulalah tempat ia menghabiskan masa mudanya. Hingga pada akhirnya ia menikah dengan Nenek Suci, lalu memutuskan pindah ke Italia atas keinginan sang istri.
"Makasi ya Pah..."Nenek Suci tersenyum bahagia, lalu memeluk suaminya dengan mesra.
__ADS_1
"Ya sama-sama sayang..."Balas Kakek Vino.
Tidak akan ku biarkan wanita rendahan dan kampungan itu menguasai kediaman utama. Hanya wanita yang sederajat dengan keluargaku yang pantas menjadi Nyonya dan pendamping cucuku, batin Nenek Suci dan tersenyum sinis.
"Pah! Papa belum makankan?"Tanya Nenek Suci.
"Belum. Sebenarnya Papa laper banget tadi, tapi tiba-tiba Papa melihat Mama sedang membereskan pakaian Mama kedalam koper, Papa pikir Mama mau kabur."
"Jadi Papa cemas dan takut nih ceritanya, kalau Mama pergi?"
"Ya iyalah Papa cemas. Ketika kita masih muda, Mama kan orangnya suka kabur-kaburan kalau lagi ngambek. Papa takut Mama pergi lagi kayak dulu."
"Papa iiish...masa lalu jangan dibahas lagi..."Ucap Nenek Suci dengan nada manja dan memukul-mukul ringan dada suaminya.
"Hahaha...walau sudah tua, manja kamu ke Papa ngak pernah hilang ya Ma? Tapi tidak apa-apa, Papa selalu suka Mama yang seperti ini."Ucap Kakek Vino dan terkekeh pelan, ia membelai kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
Meskipun sudah tua, wajah yang sudah mulai keriput dan kondisi fisik yang tidak sebaik dulu. Cinta antara keduanya tak pernah rapuh seiring berjalannya waktu.
......................
Berlin...
"Anda mau kemana Nona?"Tanya Gipson kepada Belinda. ia melihat Belinda keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah koper ditangannya.
Melihat kedatangan Gipson, Belinda tersenyum sumringah. Ia meletakkan koper yang ditangannya ke lantai dengan cukup kasar, lalu melangkah mendekat ke arah Gipson.
Belinda menepuk bahu Gipson, senyumannya yang tadi pun tidak luntur."Kau tau? Ini tak sesulit yang kita bayangkan. Keberuntungan sedang berpihak padaku, aku tidak perlu susah-susah menyewa banyak orang untuk melenyapkan istri dari pria itu."
Dahi Gipson berkerut, ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan atasannya itu."Maksud Nona apa? saya sungguh tidak mengerti."
Belinda menepuk jidatnya."Haish....kau ini!...Si Nenek tua, tadi malam menghubungiku. Dia memintaku untuk tinggal bersamanya dikediaman Nicolas, di Indonesia."
"Nenek tua? Maksud Anda Nyonya besar Nicolas?"
"Ya, siapa lagi?! Baguskan...?"Ujar Belinda dan tersenyum bangga, memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih. Gipson pun juga ikut tersenyum, ia bahagia kalau Belinda juga bahagia.
"Bagaimana dengan Feni, apa kita cabut saja misi itu darinya?"Tanya Gipson.
"Tidak usah, dia akan membantuku disana. Dengan kehadirannya akan mempermudah diriku dalam melancarkan aksi."Ujar Belinda dan tersenyum licik.
Sejenak Gipson terdiam, tapi tak lama kemudian dia mengerti maksud dari perkataan Belinda.
"Anda ingin menjadikannya kambing hitamkah?"Gipson memastikan ucapan tersembunyi dari atasannya itu, namun bukannya menjawab. Belinda malah tertawa tak jelas, seperti orang kesetanan.
"...Puft....Bwahahahaha...hihihihi...Kau selalu... ingin tau rencanaku Gipson.Hahahaha..."Suara tawa Belinda menggema memenuhi seluruh ruang dirumahnya.
Gipson hanya diam, dia menatap atasannya itu dengan perasaan iba. Sepertinya kau sudah tidak terlihat baik-baik saja Belinda, batin Gipson.
Setelah merasa puas tertawa, Belinda mengusap sudut matanya yang mengeluarkan air mata karena terlalu banyak tertawa.
"Kau lihat saja hasilnya nanti. Jadi, jangan banyak tanya. Yang harus kau lakukan adalah menuruti semua perintahku."Ucap Belinda datar, menatap Gipson tanpa ekpresi.
Gipson menundukkan kepalanya, tangannya pun terkepal kuat. Ia merasa kecewa atas perkataan Belinda yang terdengar kasar di telinganya."Baik Nona! Mohon maaf atas kelancangan saya."
Belinda membalikkan badannya, sehingga posisinya kini membelakangi Gipson.
"Selama aku pergi, bantu aku mengelola perusahaan. Laporkan padaku apa saja informasi yang kau dapatkan terkait masalah perusaanku ataupun perusahaan Addan. Terus hasut semua pengusaha yang bekerja sama dengannya, hingga mereka semua benar-benar berhenti bekerjasama dengannya."
Gipson menganggukkan kepala, sebagai tanda bahwa ia akan melaksanakan perintah atasannya itu.
"Dan... jangan lupa! sebarkan berita buruk yang terjadi tiga minggu lalu, buat seolah-olah pihak Addan lah yang menjadi penyebab terjadinya insiden keracunan terhadap beberapa karyawannya."Sambungnya.
"Baik Nona!"
"Oh ya, aku membutuhkan tiket pesawat, tujuan penerbangan ke Indonesia.Jadwal keberangkatannya besok, pukul sepuluh pagi. Tolong kamu siapkan!"Ucapnya memerintah.
"Baik Nona!"Saut Gipson lalu membungkuk hormat.
"Sekarang pergilah dari hadapanku."Tangannya terangkat ke udara, Belinda meminta Gipson untuk segera pergi dari hadapannya.
Gispson pergi dari hadapan Belinda dengan perasaan sedih. Entah apa yang membuatnya sedih, hanya dialah yang tahu.
__ADS_1
Bersambung...