You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Perlakuan Manis


__ADS_3

Keesokan harinya, sinar matahari dipagi hari menerobos masuk melalui sela-sela gorden jendela bewarna abu-abu. Sinar itu menyinari wajah Kana hingga ia terbangun dari tidurnya yang lelap. Dengan mata yang sayu, ia mengerjapkan matanya berkali-kali, penglihatannya yang tadinya buram kini sudah melihat dengan jelas.


Matanya membulat ketika melihat siapa yang tidur berhadapannya dengannya sambil memeluknya.


"Ah, Mas Addan?"Kagetnya lalu menutup mulutnya dengan cepat agar tidur Addan tidak terganggu oleh suaranya.


"Hm"Addan sedikit menggeliat, dan ia pun semakin mengeratkan pelukannya, bibirnya menyentuh dahi Kana.


"Eh? Mmas..."Kana hendak mendorong tubuh Addan, namun niatnya itu segera ia hentikan sebab teringat akan kondisi dada suaminya itu yang terluka.


Kana menggerak-gerakkan tubuhnya, karena gelisah. Hingga akhirnya ia pasrah, suaminya itu bukannya melepaskannya tapi malah memeluknya semakin erat, dan ia pun tak tega membangunkannya.


Kana memandang wajah suaminya itu lekat-lekat. Kini ia baru menyadari kalau suaminya itu sangatlah tampan, memiliki alis mata yang tebal, bulu mata yang panjang, hidung yang mancung, bibir yang agak tipis dan rahang yang tegas.


"Sangat tampan..."Gumamnya, jari lentiknya hendak menggapai rahang Addan yang tegas. Namun, beberapa detik kemudian, ia tersadar akan tindakannya itu, dengan cepat menarik tangannya yang terulur.


"Apa yang kamu lakukan Kana..."Gerutu Kana pada dirinya sendiri. Wajahnya memerah karena malu, untung suaminya tidak terbangun dan melihat dirinya yang hampir memegang wajahnya tanpa izin.


Pelan-pelan Kana memindahkan tangan Addan dari tubuhnya, meskipun sedikit susah karena suaminya itu memeluknya dengan begitu erat, tapi akhirnya ia berhasil melepaskan diri.


Kana menyibakkan selimutnya, kemudian duduk dipinggir ranjang dengan kaki yang sedikit terjuntai.


"Kenapa aku tidur disini?โ€ Pertanyaan itu sebenarnya sudah menyerangnya beberapa kali sejak ia bangun tidur.


Kana melihat ke arah jam dinding yang ada di kamar Addan. Seketika itu juga ia terkejut, sebab jam telah menunjukan pukul 07. 30 WIB. Dengan cepat ia melompat dari tempat tidur dan langsung melangkah cepat menuju kamar mandi.


"Aduh...Aku ada janji dengan Bu Sofi, gimana ini. Pasti Bu Sofi udah lama menungguku."Ujarnya dan terus berjalan tergesa-gesa kekamar mandi.


Ketika sampai di pintu kamar mandi, Kana terpeleset karena lantai yang basah dan licin.


"Aaahhhh..."Pekiknya keras, dan refleks berpegangan pada gagang pintu. Beruntung ia tidak jatuh dan mencederai anak yang ada didalam perutnya. Nafasnya naik turun, tangannya dengan bergetar memeluk perutnya. Ia pun berangsur-angsur melorot hingga terduduk diatas lantai kamar mandi yang dingin.


Ia tidak peduli bagaimana rasa sakit pada kakinya yang terkilir, yang ia cemaskan adalah buah hatinya yang ada didalam perutnya. Air matanya pun mengalir deras dan tubuhnya bergetar hebat, karena saking takutnya akan kehilangan anaknya.


Addan yang tidurnya nyenyak, matanya seketika terbuka lebar. Ia tersentak ketika mendengar teriakan istrinya dari kamar mandi. Dengan terburu-buru ia bangkit dari tidurnya, hingga lupa kalau saat itu betisnya terluka.


"Kana..."Panggil Addan khawatir dengan raut wajah gelisah dan cemas, ia menyeret sebelah kakinya yang terluka dan melangkahkan kakinya dengan lebar.


Setibanya dikamar mandi, betapa terkejutnya Addan melihat istrinya yang menangis sesenggukan sambil membekap erat perutnya, dan bersandar pada pintu kamar mandi.


"Dek...apa kamu terluka?apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"Tanya Addan sambil membelai pipi istrinya dan menatap tubuh istrinya itu dari atas hingga bawah.


Mendengar suara suaminya, Kana mendongakkan kepalanya.


"...Mas...hiks hiks hiks"Kana menangis tersedu-sedu.


Melihat Kana yang semakin menangis, Addan menjadi semakin cemas dan takut terjadi apa-apa kepada istri dan anaknya.


Addan memeluk Kana."Syutt...Bilang sama Mas, bagian mana yang sakit?"Tanya Addan dengan nada lembut sambil mengelus-ngelus punggung Kana.


Kana menggeleng-gelengkan kepalanya dalam pelukan Addan, dan meremas baju kaos yang dikenakan suaminya.


"Lalu kenapa kamu berteriak tadi, kamu jatuh? Apa anak kita baik-baik saja?"Tanya Addan lagi, dan Kana kembali membalas pertanyaannya dengan menggeleng-gelengkan kepala.


"Terus, kenapa kamu menangis dan terduduk dilantai dingin seperti ini?"


"Anak kita baik-baik saja kok Mas...Aku tadi cuman kaget dan takut terjadi apa-apa sama anak kita, hiks hiks... makanya aku nangis.... Aku tadi terpeleset dan hampir jatuh, untung aku dengan cepat menggapai gagang pintu."Jelas Kana dan sedikit sesenggukan.


"Oh, syukurlah..."Ujar Addan yang begitu lega mendengar istri dan anak yang dicintainya baik-baik saja.


Kana melerai pelukan mereka, ia merasa sesak karena dipeluk erat oleh Addan.


"Mas...aku sesak..."Ucapnya, dan dengan pelan-pelan mendorong tubuh Addan untuk sedikit menjauh darinya.


Dengan terpaksa Addan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah istrinya sejenak yang memerah entah karena apa. Kemudian memegang pipi Kana dan tanpa aba-aba memajukan bibirnya, hingga bibirnya menyentuh kening Kana. Ia menempelkan bibirnya disana cukup lama, menyalurkan rasa sayang dan cintanya kepada istrinya itu. Kana dengan refleks menutup kedua matanya, ia tidak menolak perlakuan manis dari suaminya itu. Hatinya berdesir, ada sesuatu disana yang sudah membeku kini mengalir perlahan-lahan.


Beberapa detik kemudian, Addan menjauhkan bibirnya dari kening Kana lalu menatap kedua bola mata Kana dengan dalam.

__ADS_1


"Ayo berdiri, tidak baik duduk terlalu lama dilantai. Nanti Mas akan minta beberapa pembantu membantumu mandi."Ucap Addan sambil memegang kedua tangan istrinya, ia ingin membantu Kana berdiri.


"Akh..."Jerit Kana kesakitan, ia merasakan sakit pada pergelangan kakinya yang sebelah kiri.


Dengan sigap Addan memeluk istrinya agar tidak melorot kelantai."Kakimu terkilir?"Tanya Addan dan dibalas anggukan oleh Kana.


Tanpa babibu, Addan langsung menggendong Kana ala bridal style.


"Mas.."


"Diamlah...jangan banyak gerak. Kamu harus segera diurut."Ujar Addan. Lalu berjalan pelan-pelan, dan sesekali meringis karena merasakan nyeri pada bagian betisnya yang terluka.


"Mas...turunkan saja aku, biar aku ngesot saja."Pinta Kana yang tidak ingin merepotkan suaminya. Namun bukannya malah menjawab pertanyaan istrinya, Addan malah tersenyum menatap istrinya.


Addan membaringkan Kana diatas kasurnya dengan lembut dan pelan-pelan.


"Terimakasih"Ucap Kana dan memalingkan wajahnya.


CUP


Addan membalas ucapan terimakasih Kana dengan mengecup keningnya lagi.


Blush...Pipi Kana memerah, ia memegang pipinya yang terasa panas.


"Apaan sih, main cium- cium lagi tanpa izin."Ujar Kana yang pura-pura kesal, sebenarnya dalam hatinya senang diperlukan manis oleh sang suami.


"Apa perlu izin kalau mencium istri sendiri?"


"Ya perlulah..."Balasnya dan cemberut.


...****************...


Ditempat lain dan diwaktu bersamaan.


TRING! (bunyi lonceng sebagai tanda ada yang masuk ketoko kue)


"Ck ck...seksi Cok."Seorang pemuda berkulit hitam , ia berdecak kagum menatap kemolekan tubuh Feni.


Pemuda itu sedang mengantri membeli kue bersama temannya.Temannya yang berdiri dibelakangnya hanya memutar bola mata malas melihat tingkah temannya itu, ia pun tidak berselera sama sekali melihat Feni.


"Huh!" Sambil mengibaskan rambutnya yang sebahu terurai, Feni tersenyum dengan bangganya ketika dikatakan seksi.


Heleh! bentuk boneka Annabele bangga lu, batin Raya dan mencibir Feni yang berlagak sok cantik.


"Mbak! Kenapa sih mbak tidak pernah datang tepat waktu?"Ucap Raya sambil berkacak pinggang, ia begitu kesal, karena setiap hari mendapati Feni datang terlambat ke toko kue.


Feni memutar bola matanya malas.


"Mengapa kamu tidak mengerti? Kan sudah berkali-kali saya katakan, kalau saya ini punya seorang putri, saya juga harus menyiapkan keperluan sekolahnya, sarapannya, lalu mengantarnya kesekolah terlebih dahulu sebelum kesini untuk bekerja."Ucap Feni beralasan, namun Raya tetap tidak percaya seperti biasanya.


"Berapa lama Mbak menyiapkan keperluan putri Mbak, dan seberapa jauh jarak dari rumah Mbak kesekolah anak Mbak hm...? Masak jam sepuluh lewat, Mbak baru tiba ditoko. Mbak ada niat ngak sih buat kerja?"Ketus Raya yang sudah begitu kesal mendengar alasan dari Feni yang sama setiap hari.


"Kamu tidak merasakan apa yang saya rasakan, coba kamu beranak dan menikah. Pasti mengalami hal yang sama seperti saya."Balas Feni yang juga ikut marah.


Pengenku jambak nih wanita jablay, batin Raya.


"GRRR...."Raya begitu geram dibuatnya.


Hingga perhatiannya beralih kepada kedua pemuda yang terlihat seumuran dengannya, sedang berdebat.


"Kenapa kamu terus memandangnya, apa menyukai wanita tua itu?"Ucap si pemuda berkulit putih, berambut ikal, dan berbadan sedikit kekar. Ia berbicara dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh Raya dan Feni.


"Tua? Kamu ini bagiamana sih! kamu buta ya? wanita itu masih muda dan cantik. Aku akan mencoba mendekatinya lalu mengajaknya berkencan."Balas sipemuda berkulit gelap, dan berbadan cungkring.


"Cantik? wajah yang keriput dan bibirnya yang tebal itu dibilang cantik?"Ejek sipemuda berkulit putih.


Sialan..., batin Feni kesal, ia menatap pemuda berambut ikal dengan penuh kebencian sambil mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Raya yang mendengarkan percakapan keduanya terkikik geli, bahkan tanpa basa-basi menyenggol bahu Feni yang berdiri disampingnya.


Bunyi gemeletuk gigi Feni terdengar jelas di indera pendengar Raya, namun Raya tetap saja mengejek Feni dan tidak sedikit pun takut kepada wanita yang memiliki badan lebih berisi dari dirinya itu.


"Ah terserahlah, itu kan persepsi kau sendiri. Kalau tidak suka, tidak usah dicaci."Ucap Sipemuda berkulit hitam kesal.


"Oh ayolah...kau pasti berguraukan? Usianya pasti sudah hampir mendekati kepala empat, sedangkan kau masih berumur 20 tahun."Ucap si pemuda berkulit putih, yang berusaha menyadarkan si pemuda berkulit gelap.


"Dia pasti janda beranak banyak, hahahaha..."Sambungnya lagi dan tertawa mengejek sedangkan pria berkulit gelap cemberut mendengar ejekannya, dan tidak berani lagi membuka mulut.


Doeng!


"Bocah brengsek ini...."Geram Feni sambil mengepalkan tangannya kuat.


"Pfftt...Hahahaha, Wanita tua...Bekerja sekarang wanita tua, jangan melamun."Ujar Raya dan tertawa mengejek Feni. Dan berlalu pergi kedapur, meninggalkan Feni yang setengah mati menahan kesal.


Tak lama kemudian masuklah beberapa pria berpakaian hitam dan berkaca mata hitam pula. Entah apa tujuan mereka datang ke toko kue secara beramai-ramai.


"Siapa diantara kalian disini yang bernama Kana?"Tanya seorang pria berambut pirang.


"Orangnya lagi ngak ada ditempat."Saut Feni ketus.


"Owh...kau lupa siapa aku Nona? beraninya kau berbicara tidak sopan kepadaku."Ujar pria itu dengan dinginnya lalu membuka kaca mata hitam yang dikenakannya.


Feni membekap mulutnya sendiri, ia tidak percaya siapa yang berdiri dihadapannya itu.


"Gipson!"


"Hm..."Deheman pria itu.


"Tolong ikut aku sebentar."Ujar Feni lalu menarik tangan Gipson keluar dari toko kue, dan Gipson menuruti langkah Feni.


Mendengar suara keributan, Raya segera berjalan menuju kesumber suara. Namun setibanya disana, ia tidak mendapati apa-apa.


Eh kosong...Yang ada cuman para pelanggan yang sedang menikmati kue dengan tenang, batinnya


"Apa aku salah dengar kali ya..."Gumamnya.


"Eh! Tante Jablay mana ya?"Sambungnya, ketika tidak melihat sosok Feni didepan etalase kue.


~


Feni menarik Gipson, hingga mereka tiba digang sempit yang terletak tidak terlalu jauh dari toko kue.


"Kenapa anda datang langsung kemari?"


"Aku ingin secara langsung menculik istri dari Tuan Nicolas, lalu membiarkan Nona Belinda menghabisinya."


"Bukannya itu tugasku! Kenapa menjadi anda yang turun tangan?"Kagetnya.


"Kau terlalu lamban, ini sudah hampir satu bulan. Tapi belum ada perkembangan dari laporan yang kau sampaikan."


"Kalau...kalau bukan aku yang menuntaskan misi ini, berarti uang yang diberikan Belinda harus ku kembalikan begitu?"


"Ya tentu saja, karena kau sama sekali tidak ada berperan dalam misi ini. Kau malah membuat Nona Belinda rugi. Dan kaulah penyebab kematian Marco, mata-mata profesional yang selama lima tahun ini diandalkan oleh Nona Belinda."Ucapnya meremehkan Feni.


Feni menelan saliva dengan susah. "...Iiitu...salahnya sendiri, siapa suruh dia bertindak dengan tergesa-gesa."


Lagipula dia pantas mati, karena dia benar-benar melakukan kekerasan terhadapku waktu itu, batin Feni.


"Terserah kau saja, lagipula dia sudah mati. Intinya mulai sekarang kau mundur dari misi ini, biar saya saja yang menuntaskannya."


Tidak, Itu tidak boleh! Aku tidak mau uang 10 miliar ditanganku harus dikembalikan. Aku harus membujuk pria ini, agar misi itu dikembalikan kepadaku. HARUS!, batin Feni.


Bersambung...


~Gipson merupakan tangan kanan Belinda, baca kembali di chapter 25 siapa Gipson ini ya. Terimakasih ๐Ÿ™๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2