
“Aaarrghh…brengsek!”
Sraakk…
Bruk
Bruk
Brak
Dikamarnya, Feni melampiaskan kekesalannya kesemua alat kecantikannya yang tadinya tertata rapi diatas meja rias. Mengingat ucapan Kana tadi, membuat dirinya meradang. Ia benar-benar merasa terhina walapun apa yang dikatakan Kana tidaklah salah.
“Ja**** Sialan! Berani-beraninya dia berkata seperti itu kepadaku..!”Umpatnya kesal. Dadanya naik turun, nafasnya memburu tak beraturan dengan sekuat tenaga ia menahan emosi.
Ting!
Ditengah kekesalannya, tiba-tiba ada notif pesan masuk diponselnya.
“Siapa pula sih yang mengganggu! Ngak tau apa gue lagi bad mood.”Diraihnya ponsel yang tergeletak diatas kasurnya dengan kasar.
“Gipson?”gumamnya ketika mendapati nama sipengirim pesan.
Ketika isi pesan itu dibuka, betapa kagetnya dirinya mendapati foto ibunya yang tengah terikat dikursi dengan mulut yang disumpal lakban. Kemudian dibawah foto itu terdapat sebuah pesan yang bertuliskan...
“Semua tergantung padamu Feni, ku doakan kau berhasil. Kalau gagal, kau tenang saja, Nona Belinda tidak akan meminta uangnya dikembalikan. Tetapi...sebagai ganti rugi atas kegagalanmu itu, nyawa ibumu yang tercinta sebagai jaminannya.”
DEG
Wajah Feni berubah pucat pasi. Ibunya adalah kelemahannya. Demi ibunya ia rela mengorbankan apapun itu termasuk mengorbankan putri semata wayangnya yakni Alika, karena sosok sang Ibu segalanya baginya didunia ini.
“Ibu…”lirihnya sambil menatap foto Ibunya dengan mata yang berkaca-kaca.
Ting!
“Lebih cepat lebih baik, karena seharian ini Ibumu belum makan. Kau tak mau kan....ibumu mati kelaparan dikeesokan harinya.” Lagi-lagi pesan ancaman dari Gipson membuat kakinya semakin terasa lemas, sehingga tubuhnya merosot kelantai.
“Shit! Dasar sekumpulan orang-orang sampah! yang bisa kalian lakukan hanyalah mengancam saja.”Geramnya seraya meremas kuat ponsel ditangannya.
...****************...
Addan yang sedang membayar jajanan sang istri, seketika dibuat terkejut saat mendengar sorakan beberapa orang entah kepada siapa mereka berseru. Saat ia toleh kepalanya kearah jalan raya, betapa kagetnya dia mendapati sebuah mobil pick up melaju kencang kearah Kana yang hendak menyebrang.
“Kana!!”Pekik Addan.
“Mbak, awas…ada mobil Mbak…”
“Astaga! Neng awas…ada mobil mendekat!”
Dan pada saat itu sedikitpun Kana tidak bergeming, Addan dan para pejalan kaki bersahut-sahutan menyorakinya, tetapi tetap saja wanita itu terus melangkah seperti orang linglung yang hilang arah tujuan.
__ADS_1
“Ti-tidak…Kana Awas!!!”Pekiknya yang kesekian kalinya.
Namun sudah terlambat, kecelakaan itu sudah tidak dapat dihindari lagi.
Brakkk…
Swuss
Bruk! Bruk!
Tubuh Kana terpental cukup jauh dan berguling bebas diatas aspal. Kepala dan selangkangannya banyak mengeluarkan darah segar, nafasnya tersenggal-senggal. Mobil yang menabraknya kabur begitu saja.
Sorakan dan histeris para pejalan kaki meramaikan kejadian na'as itu.
Lemas sudah raga Addan, seakan semua kebahagiaannya lenyap saat itu jua.
“KANA…!!”Teriak Addan dengan kencangnya sembari berlari menuju kearah Kana.
Sesampainya disana, Addan terduduk dan menaruh kepala Kana dipangkuannya. Tubuh lelaki itu bergetar hebat bersamaan dengan air mata yang sudah terjun bebas dari pelupuk matanya. Sangat sesak didada rasanya melihat orang yang sangat dikasihi dan dicintai tergelatak tak berdaya dengan bersimbah darah.
“Hiks…Sayang…Mas mo-mohon buka matamu…bangunlah..hiks hiks hiks..”Ucap Addan sambil menepuk-nepuk pelan pipi sang istri.
Mendengar tangisan pilu seseorang, kelopak mata Kana perlahan-lahan terbuka.
"M-Mas...
“M-Mas..ma-maafkan aku…a-aku tidak bisa me-ne-manimu…la-a-gi..”Ucap Kana lirih dan terbata-bata. Tangannya menggenggam erat tangan Addan yang bertengger dipipinya.
“A-aku ti-tidak k-ku-kuat lagi…Mas…”ucapnya putus asa, sebagian tubuhnya sudah mati rasa. Jiwanya seakan sudah terangkat separuh badan.
Addan kembali menepuk-nepuk pipi Kana, meminta istrinya itu membuka mata lagi. “Tidak, tidak, buka kembali matamu sayang…Kumohon bertahanlah. Jika bukan demi diriku kau bertahan, setidaknya demi anak kita…please…”
Kana menggeleng-geleng lemah, dirinya sudah tidak yakin lagi untuk mampu bertahan. Lagipula anak yang ada didalam perutnya pasti sudah meninggal dunia, mengingat mobil pick up yang menabraknya menghantam kuat tepat mengenai perutnya.
“Ma-afkan aku...Se-selamat tinggal Mas, k-kami, kami…men-cin__” Belum sempat Kana menyelesaikan kalimat terakhirnya, ia sudah lebih dulu menghembuskan nafas terakhirnya. Tangannya terlukai lemas diaspal, dari sudut matanya mengalir air mata bercampur dengan darah.
“Tidak, jangan tinggalkan Mas, sayang…”Addan mengguncang tubuh istrinya, berharap istrinya itu kembali membuka mata dan bernafas kembali.
Namun nihil, tubuh wanita itu sudah mulai mendingin, seperti tidak ada lagi tanda-tanda ia akan bangun.
Addan mengelengkan kepalanya kuat, ia tidak menerima kenyataan bahwa istri dan anaknya telah tiada. Ia belum siap ditinggalkan oleh orangnya yang terkasih.
Tidak…
Tidak…
“TIDAAAKK!! Pekik Addan histeris sambil menengadahkan wajahnya kelangit.
🍂
__ADS_1
“M-mas…”Samar-samar dia mendengar suara lembut memanggil dirinya.
“Mas…bangun Mas? Kamu kenapa? Mas…”Kana menguncang-guncang tubuh Addan yang tengah mengigau.
Addan yang merasa tubuhnya digoncang keras. Seketika matanya terbuka lebar dengan nafas yang tersenggal-senggal, dan tubuh yang dibanjiri peluh.
"Hah...hah...hah...hah..."
Setelah diperhatikan, ternyata dirinya berada dikamarnya, ia bersyukur kejadian tadi hanyalah mimpi. Iapun menghela nafas kasar, mimpi itu terasa sangat nyata seperti benar-benar terjadi.
Ditolehnya kepalanya kesamping, nampaklah sosok bidadari yang menjadi objek mimpinya barusan. Ia bernafas lega sambil menarik sang istri kedalam pelukannya.
Semakin lama pelukannya itu semakin kuat, dan tanpa ia sadari buliran bening lolos dari sudut matanya hingga menetes diatas bahu Kana yang terbuka.
Kana sedikit tersentak. “Mas…Kamu nangis?”tanyanya.
Addan tidak menjawab pertanyaan Kana. Ia melerai pelukannya lalu meraih kedua tangan mungil istrinya itu, mengecupnya berkali-kali, mencurahkan semua perasaan cinta dan sesak yang muncul secara bersamaan.
"To-long jangan tinggalkan Aku, jangan pergi....Mas tidak bisa menjalani hidup tanpa adanya kamu disisiku..."Ucap Addan lirih disertai isakan tangis. Tubuhnya pun bergetar.
Mengingat mimpinya tadi, membuat Addan tidak sanggup menahan sesak didadanya. Itu baru hanya sebuah mimpi, namun mampu membuat dirinya sangat terpukul. Bagaimana kalau kejadian itu benar-benar terjadi. Entahlah...mungkin saja saat itu dirinya menggila.
Hati Kana mencelos mendengar isak tangis Addan. Ia seperti turut merasakan apa yang dirasakan oleh suaminya itu, meskipun sebenarnya ia tidak tau apa yang telah Addan alami.
"Mas...kamu kenapa sih? Siapa yang mau pergi ? Aku tidak pergi kemana-mana kok..." Sahut Kana khawatir seraya sedikit mendorong bahu Addan agar ia bisa melihat wajah sang suami.
Addan menatap sayu sang istri, lelehan air mata masih setia menemani. "Aku mimpi buruk...aku..."
"Ssstt...Kamu mimpi apa Mas?"Tangan mungil Kana mengusap lembut pipi Addan untuk menghapus air matanya
Addan menggeleng. “Maaf…Mas tidak bisa mengatakannya padamu. Mengingat kejadian dimimpi tadi membuat dada Mas sangat sesak....”ujarnya seraya memukul dada kirinya ringan.
Kana menahan tangan Addan supaya pria itu berhenti menyakiti dada kirinya sendiri. "Hentikan Mas, nanti dadamu sakit. Baiklah…Aku tidak akan menanyakannya lagi Mas.”
~~
“Mas…katanya kamu ada meeting penting dengan klien dari luar Negeri, kan?” Addan menggangguk tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh sang istri. Hidungnya bisa mencium aroma jasmine yang melekat ditubuh istrinya, dan hal tersebut yang membuatnya betah dalam posisi seperti itu.
"Kalau gitu siap-siap gih! Nanti kamu terlambat loh, Mas. Tuh lihat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh."Ucap Kana lembut sambil mengelus sayang rambut Addan.
Entah darimana keberaniannya itu datang, namun ia sudah tidak memperdulikan itu, yang penting ia bisa menenangkan suaminya.
Mendapati perlakuan lembut dari sang istri. Addan merasakan beban pikirannya mulai redup. Pikirannya yang kalut tadi berangsur-angsur membaik.
"Iya...terimakasih..."balas Addan lirih.
Tak lama kemudian, Addan bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Kana menyiapkan setelan jas yang akan dikenakan suaminya untuk pergi bekerja hari ini.
__ADS_1
Bersambung...