You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Gelisah


__ADS_3

Keesokan paginya Kana terbangun dari tidurnya dalam keadaan kepalanya yang terasa agak berat. Ia memukul-mukul kecil kepalanya, berharap rasa berat dikepalanya berkurang. Ketika membuka mata, hal pertama yang Kana lihat adalah punggung kokoh seorang pria, yang kini duduk dipinggir ranjang. Dapat Kana pastikan pria itu merupakan suaminya, karena saat ini ia berada dikamar mereka.


"Mmm....Mas...?"panggil Kana seraya mengucek-ngucek matanya.


Addan memiringkan badannya, dan melirik wajah istrinya sekilas."Sudah bangun Dek!"ujarnya, kemudian kembali sibuk membaluti luka di betisnya dengan perban.


Kana bangkit dari rebahannya dan hendak turun dari ranjang, namun ia merasakan ada sesuatu yang janggal, hembusan angin pagi kali ini, terasa langsung berhembus ke kulitnya.


Dan betapa kagetnya dia ketika melihat dirinya yang hanya berbalut selimut tebal bed cover.


"Mmm?...Ahhhh!!"pekiknya memenuhi kamar.


Mendengar pekikan istrinya, Addan menghentikan kegiatan membalut lukanya, kemudian menghampiri sang istri yang terlihat syok. "Dek..."panggilnya, sambil menyentuh bahu sang istri.


Kana mendongakkan kepalanya, hingga mata mereka bersibobrok. "Didi..dimana pa...pakaianku?"tanyanya tergagap-gagap sambil menarik selimutnya hingga kebatas leher, "Mas...aaapa yang terjadi semalam? Kenapa...keadaan kita saat ini tanpa busana?"sambungnya dengan suara bergetar, ia baru menyadari bahwa Addan juga tidak mengenakan sehelai benangpun.


Addan yang ditanya menggaruk-garuk kecil pipinya, ia bingung bagaimana cara menjelaskan kejadian semalam kepada istrinya.


"Mas...?"Garis bibir Kana melengkung kebawah bersamaan dengan mata yang sudah berkaca-kaca, menahan tangis.


"Haih..."Addan menghela nafas panjang sambil memijat-mijat pelan pelipisnya.


"Mmm....kemaren kamu sudah dicecoki dengan obat perangsang oleh seorang pria yang kamu temui. Dan kamu sempat dibawa kehotel, untung pada saat itu Mas dengan cepat datang. Kalau tidak, saat ini kamu tidak akan berada disini bersamaku. "ungkapnya dan terselip sedikit emosi disela-sela perkataannya itu. Sempat terbesit dibenaknya memarahi sang istri yang telah membohonginya, namun Addan sungguh tidak tega melihat wajah sedih dan rasa bersalah dari istrinya itu.


Hening...


Kana menundukkan kepala. Tes...tes...tanpa dipinta air matanya menetes membasahi punggung tangannya. "Mas, Maafkan aku...karena telah membohongimu. Se-andainya...aku tidak keras kepala, pasti kejadian kemaren tidak akan terjadi...hiks hiks hiks"ujarnya dengan penuh rasa bersalah.


Addan merasakan kesedihan tengah meremas hatinya, ketika menyaksikan istrinya menangis sesenggukan dihadapannya.


Addan mengusap lembut pipi Kana, menghapus air matanya," Sttt....sudah...jangan menangis lagi ya Dek? Nanti anak kita juga ikut sedih..."ujarnya seraya merangkul pundak sang istri dengan tangan sebelah kiri, kemudian tangan kanannya mengelus sijabang bayi penuh kasih sayang.


"Mas..."Kana menatapkan sang suami dengan tatapan penuh haru.


"Perutmu ada merasakan sakit tidak?"tanyanya, tangannya masih betah mengelus-ngelus perut sang istri.


Kana yang ditanya menjawabnya dengan menggeleng-gelengkan kepala. Bibirnya sedikit terangkat keatas, ia begitu tersentuh ketika begitu diperhatikan oleh Addan.


"Syukurlah...Mas takut kamu akan merasakan sakit dibagian perutmu, setelah bangun."ucapnya dengan perasaan lega.


"Kami baik-baik saja kok Mas"


"Mmm....tentang kejadian semalam, Mas minta maaf ya, Mas benar-benar tidak bisa menahannya... "ujarnya hati-hati.


Mendengar pernyataan Addan, Kana tersentak, "Oh iya, kenapa aku sampai melupakannya!" Mata yang tadinya menatap Addan dengan tatapan bahagia dan terharu, berubah menjadi tatapan sangar.


Ia mengacungkan jari telunjuknya kehidung sang suami, seraya berkata,"Kamu....dasar mesum! Se enaknya mengambil kesempatan dalam kesimpitan. Apa kamu tidak bisa menahannya Mas...Aku lagi hamil Mas...huuuuu..."pekiknya kesal, kemudian memukul-mukul dada bidang sang suami.


"Aa..anu...Dek.."


Suara tangis Kana makin lama makin menjadi, "Huaaa...."


"Shhh...sakit sayang..."Addan menahan tangan sang istri didadanya agar berhenti memukulinya.

__ADS_1


Cepat sekali berubah suasana hatinya, batin Addan heran.


"...Rasain pria mesum! hiks hiks..."ujarnya kesal dan meronta-ronta agar Addan melepaskan tangannya.


"Kamu yang menyerang Mas lebih dulu, kenapa malah kamu yang marah-marah. Lihat! kamu sudah memberikan banyak tanda di area dada dan perut Mas. Coba pikirkan kembali, siapa yang sebenarnya mesum diantara kita?"ucap Addan yang tak mau kalah sambil menunjuk-nunjuk bekas c*****an Kana yang berserakan didada dan diperutnya.


Suara tangisan Kana seketika berhenti, ia mengusap air matanya dengan kasar."Haaa....apa?"kagetnya.


Pipinya merah merona melihat banyak sekali kissmark ditubuh Addan, "Iii..itu benarkah perbuatanku?"tanyanya lirih dan terbata-bata, sambil menggigit jari jemarinya.


"Iya, Mas bahkan kewalahan tadi malam menghadapi kebrutalanmu diatas ranjang..."balas Addan sambil mengedipkan sebelah matanya, lalu tertawa renyah.


Kana melebarkan pupil matanya, menatap tak percaya suaminya yang tertawa mengejek dirinya.


"Hah...? Aku tidak mungkin seganas itu Mas...kamu jangan mengada-ngada."pekiknya tak terima. Kemudian kembali melayangkan pukulan ke dada Addan berkali-kali hingga Addan terbatuk-batuk dibuatnya.


"Uhuk-uhuk! sakit sayang..."ringisnya.


......................


Blam! Kana keluar dan menutup pintu kamar cukup kuat. Addan yang masih berada didalam kamar pasti terperanjat kaget mendengarnya.


"Aku kesal banget sama kamu Mas..."gerutunya, seraya melangkah cepat menuruti anak tangga, sesekali ia menghentak-hentakkan kakinya.


Sepanjang jalan Kana terus menggerutu kesal, hingga tidak sadar, kini ia sudah berada didepan kolam ikan yang terletak dihalaman belakang rumah.


"Eh, udah sampai saja disini"gumamnya, pandangannya beralih ke arah perutnya yang buncit,"Kita disini saja dulu ya sayang, nanti baru sarapan."


Disana Kana memutuskan menyendiri seraya mencelupkan kedua kakinya kedalam kolam ikan itu, sesekali ia tertawa geli ketika ikan-ikan kecil menggigit jari-jari kakinya.


Tap...Tap...Mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, Kana spontan menolehkan kepalanya kebelakang,"Mbak Feni?"


Feni tersenyum dan sedikit membungkuk hormat dihadapan Kana. Lalu berdiri tegak kembali."Nyonya, ini susu hangat untuk Anda."ujarnya, seraya meletakkan susu disamping Kana, sebelah kanan.


"Mas Addan yang buat?"


"...Iiya Nyonya"


"Oh, baiklah. Terimakasih Mbak."


"Sama-sama Nyonya. Silahkan diminum Nyonya selagi hangat, kalau sudah dingin rasanya kurang enak."ujarnya sedikit memaksa.


"Nanti saja Mbak, saat ini aku lagi ngak ***** minum susu. Bawaanya mual terus kalau minum susu dipagi hari."


Feni yang tadinya sumringah menantikan Kana meminum susu yang ia sajikan, berubah menjadi masam ketika Kana menolak untuk meminumnya.


"Tap__tapi Nyonya. Susu ini Tuan loh yang buat..."


"Nah..., justru karena Mas Addan lah yang buat moodku semakin rusak untuk meminum susu itu Mbak..."


Apasih maunya si ja***g ini, batin Feni dan menatap Kana penuh kekesalahan.


"Anda beruntung dicintai oleh Tuan Addan. Jangan menyia-nyiakannya, masih banyak perempuan di luaran sana yang bersedia menjadi pendampingnya. Anda..."ujar Feni dengan nada ketus.

__ADS_1


"Hm?"Kana menoleh kearah Feni yang berdiri disampingnya. Dirinya merasa begitu tersinggung akan perkataan Feni, "maksud Mbak apa?" tanyanya dengan nada bicara yang agak ketus.


Feni mendadak ciut, Kana yang disangkanya wanita lemah lembut, ternyata menakutkan ketika marah. "Aa...mmmm ma...maaf Nyonya, saya begitu lancang. Tolong ampuni saya."


"Hufhh..."Kana menghela nafas panjang menetralkan emosinya yang sempat meledak. "Ngak papa Mbak, duduklah didekat saya. Temani saya sebentar. Saya juga minta maaf karena terbawa emosi..."ujarnya dan tersenyum ramah.


"Baik Nyonya."Feni duduk disisi Kana sebelah kiri, ia pun ikut mencelupkan kakinya ke dalam kolam ikan.


Hening...


Beberapa detik kemudian...


"Saya sangat iri melihat Anda dan Tuan Addan."Feni membuka obrolan.


"Kenapa?"tanya Kana sambil memalingkan wajahnya, menatap Feni.


"Selama ini saya bersama putri saya menjalani kehidupan dengan penuh perjuangan dan rintangan. Pria yang saya cintai tidak mau bertanggung jawab terhadap hidup kami. Dia lebih memilih mengabaikan saya dan anaknya demi wanita yang dia cintai."ujar Feni dengan raut wajah sedih.


"Pria yang Anda maksud adalah mantan suami Anda?"


"Bukan"


"Ehhh...Lalu siapa Mbak?"


"Pria itu merupakan sahabat dari kakak sepupu saya, Nyonya."


"Jadi..jadi putri Mbak bukan anak hasil pernikahan Mbak dengan suaminya Mbak?"Feni menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Kana "Kalau boleh saya tau..."ujar Kana ragu-ragu.


Feni melirik Kana yang terlihat begitu penasaran akan kisah cintanya, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas. Baiklah...tidak masalah kalau yang tadi gagal, dengan cara ini boleh juga untuk menghancurkanmu perlahan-lahan....,batin Feni, didalam hati ia menertawakan kepolosan Kana.


"Empat tahun yang lalu, di acara pernikahan kakak sepupu saya. Saya bertemu dengannya. Di malam pertama pertemuan kami, saya sudah jatuh cinta kepadanya karena dia pria yang sangat tampan dan mapan, dia pun juga menunjukkan ketertarikannya kepada saya." Kana menyimak sambil memperhatikan gerakan bibir Feni.


"Malam itu kami mengobrol berjam-jam lamanya, dan saya semakin nyaman ketika berada didekatnya. Didalam obrolan kami, pria itu sesekali merayu saya dan alhasil saya termakan rayuannya, kemudian kami memutuskan menghabiskan waktu bersama disebuah kamar hotel hingga keesokan paginya. Beberapa minggu kemudian perut saya terasa kram dan sering mual-mual, setelah di cek ke dokter ternyata saya dinyatakan positif hamil. Mendapat kabar itu, saya pergi menemui ayah dari sicabang bayi, meminta pertanggung jawabannya. Namun... dia malah menyuruh saya melakukan aborsi...hiks hiks..."


Mata Kana berkaca-kaca, mendengar kisah Feni, "Mbak..."Kana mengelus-ngelus pelan bahu Feni.


Mata Feni berkaca-kaca.


"Tidak hanya itu saja, saat dalam kondisi dicampakkan oleh pria yang menghamili saya, tentunya saya membutuhkan sosok orang terdekat atau keluarga untuk menenangkan dan menghibur saya. Namun kenyataannya tidak sesuai dengan yang diharapkan, keluarga saya malah tega mengusir saya yang dianggap sebagi aib keluarga ini. Sejak saat itu hidup saya luntang lantung diluar kota tanpa ditemani oleh siapapun. "lanjutnya, kemudian menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis sesenggukan.


Kana menarik tubuh Feni kedalam pelukannya dan mengelus-ngelus punggung Feni untuk menenangkan dan memberikannya kekuatan.


"Yang sabar ya Mbak. Saya yakin, bahwa Mbak bisa menghadapi semuanya. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan ya Mbak, tetap semangat!...Kalau Mbak mengalami kesulitan bilang saja ke saya. InsyaAllah kalau mampu pasti saya bantu. "


"Terimakasih Nyonya..."Feni membalas pelukan Kana.


"Ya sama-sama Mbak"balas Kana, kemudian ia melerai pelukan mereka,"Pria itu sekarang berada dimana Mbak?"


Sekilas Feni tersenyum menatap Kana, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah jejeran pohon topan topiary yang letaknya tak jauh dari kolam ikan. "Dia berada tidak jauh dari saya. Hampir setiap hari kami bertemu,"jawabnya.


Kana tersenyum ringan, entah kenapa setelah mendengar kalimat yang kali ini dilontarkan oleh Feni, membuatnya merasa terusik dan tidak tenang.


"Ada apa denganku, kenapa diriku merasa amat gelisah? padahal aku tidak tahu hal apa yang membuatku gelisah..."gumamnya, seraya mengusap dadanya yang berdebar-debar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2