You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
Bertekad


__ADS_3

Keciauan burung di pagi hari menjelang siang telah menganggu Kana yang tidur nyenyak. Ia bangun terlambat karena semalaman memikirkan perkataan Addan kepadanya, bayangan setiap kata yang dilontarkan oleh Addan melayang-layang di otaknya begitu pula bayangan wajah tampan Addan. Ia bingung dengan perasaannya, jelas-jelas ia telah menolak Addan tapi mengapa ia merasa sedih.


Pagi itu Kana melangkah kemeja makan tapi tak ada satupun orang disana, kemudian diapun melangkah keruang keluarga, disana ia melihat Lani, Lano, dan Nena yang sedang mengobrol.


”Hai semua! lagi omongin apaan tu?” ucap kana kepada semua orang yang ada disana.


”Ini lagi ngumpul-ngumpul aja Na sambil membahas sesuatu. Kamu udah sarapan ?” ucap Lani.


“Belum, aku belum sarapan Ni. Oh iya sejak kapan kak lano dan Nena datang, kok ngak ngomong kalau mau datang.”


“Kami datang jam tujuh lewat tadi.Oh iya! jangan panggil aku kakak lagi, Kakak ipar. Sekarang aku adalah adik iparmu” Ucap Lano tersenyum ramah kepada kakak iparnya.


"Hehehehe... oke deh.... Lano!" Ucap Kana sambil memegang tengkuknya.


“Sorry aku ngak ngabarin ke Kakak kalau aku sama Mas Lano akan pulang ke sini.” ucap Nena


"Ngak papa Na, kakak lihat kamu dan Lano disini aja udah senang."


"Kak! Sekarang udah jam Sembilan, tumben lambat bangun, nyaman ya tidurnya."


“Aduh...., udah jam Sembilan gimana mau ke toko?" Ucap Kana terkejut dan melirik ke arah jam dinding di ruangan itu.


"Ah biarlah, hari ini aku libur dulu ke toko. Aku hubungi aja Raya untuk jaga toko untuk hari ini aja” Ucap Kana lagi, dan menghela nafas.


“Yaudah kamu sarapan aja dulu Na” ucap Lani dan kemudian diangguki oleh Kana.


Kemudian Kana pun pergi keruang makan. Sedang asiknya makan Kana mendengar obrolan pembantu di dapur.


“Tuan muda Addan kenapa ya? Mau berangkat aja pasang tampang garang, dan ngak ikut sarapan, main pergi gitu aja. Biasanya kan dia itu berangkat ke kantor jam setengah delapan, ini sekarang jam 6 lewat udah berangkat, dan aku juga dimarahi lagian kan aku nyuruh dia sarapan.” Ucap Bi Isah.


“Kamu ini. Tuan muda itu lagi buru-buru mungkin, tadi saya dengar tuan muda addan mau urus anak cabang perusahaanya yang di Amsterdam, mungkin 2 bulan lamanya. Karena tuan besar lagi kesusahan urus perusahaan di Italy . Tapi saya juga bingung dengan sikap tuan muda biasanya kan ngak akan marah tanpa sebab, mungkin masalah yang di Amsterdam berat mungkin. Jadi maklumi aja ya”Ucap bi Murni lembut dan diangguki Bi Isah.


Kana yang sedari tadi mendengar juga bingung dengan sikap Addan, apa Addan marah- marah karenanya atau memang soal perusahaan. Tapi Kana pun tak ambil pusing.


”Jadi ia ke Amsterdam ya? Kalau begitu bagus deh jadi ngak ada yang gangguin aku lagi.” Gumam Kana pelan, lalu berdiri karena udah selesai sarapan dan kembali keruang keluarga, ikutan ngobrol disana dengan adik dan iparnya serta Lani.


Setelah asik mengobrol Lano dan Nena pamit untuk balik ke apartemen mereka.


“Hmmm kok sepi ya Lan?”Tanya kana.


Lani yang salah mengartikan ucapan Kana pun angkat bicara.


”Addan ia pergi ke Amsterdam sama Soka Na” ucap Lani menimpali.


”Ihhh siapa yang nanya tuh orang aku kan ngomong sepi, bukan nanya dia” Ucap Kana kesal.


”Maksud kamu Addan? emangnya aku ngomongin Addan aja, kan aku nyebut Soka juga.” Ucap Lani.


“Ohhh....Hehehehe” ucap Kana tak enak dengan ucapan Lani. Lani pun menggeleng-geleng kepala dengan tingkah sahabatnya ini.


Keesokan harinya, Kana pergi ke toko untuk menghabiskan waktunya disana tapi hanya sampai jam 4 sore saja, karena jarak toko kuenya ke kediaman Nicolas lumayan jauh kalau jalan kaki. Dan biasanya Kana pulang jam 5 sore


Kana hari ini ingin jalan kaki. Entah apa yang membuatnya berpikiran untuk jalan kaki menuju rumah yang pasti ia tak ambil pusing dengan tingkahnya itu.


Kana dengan asiknya mendengar music memakai headset sambil menyebrang, namun tiba tiba ia tak mendengar suara klakson mobil yang meneriakinya, tiba tiba mobil tersebut berhenti mendadak sehingga Kana seketika terkejut Karena cahaya lampu mobil menyoroti matanya.

__ADS_1


Kana menutupi wajahnya dengan tas sandangnya. Kemudian si pemilik mobil pun keluar.


”Mbak ngak papakan? Kalau jalan hati hati ya Mbak. Untung saya mengerem dengan cepat kalau tidak Mbak bisa kena tabrak.” Ucap pria tersebut tanpa embel embel membentak atau marah.


Ia hanya berucap baik baik dan menegur Kana. Seketika Kana pun menurunkan tasnya dari wajahnya.


”Maaf Pak, saya ngak dengar suara klakson mobil bapak soalnya saya pakai headset tadi, sekali lagi saya minta maaf atas kelalaian Saya” ucap Kana merasa bersalah dan mengatupkan keduanya tangannya.


Laki- laki tersebut seketika terpesona akan kecantikan yang dimiliki Kana 'sungguh cantik dan manis’ ucap pria tersebut dalam hati mengagumi Kana.


”Eh Iya. Lain kali Mbak harus hati hati ya? Jangan pakai headset lagi kalau jalan di jalan raya, bisa berakibat fatal nantinya.” Terang pria tersebut tanpa henti menatap wajah cantik Kana.


”Iya, sekali lagi saya minta maaf Pak.” Ucap Kana. Tanpa basa basi pria tersebut menanyakan nama kana.


”Nama kamu siapa ya?” ucap pria tersebut tanpa embel-embel Mbak.


” Hmm saya Kana pak.” Ucap kana lembut.


”Kana? Nama yang cantik seperti orangnya. Saya Giorgino Andreas Arata, panggil saja saya Gio”Ucap Gio sambil tersenyum ramah pada Kana.


”Oh baiklah Kak Gio”Balas Kana sambil melihat penampilan Gio seperti pria kantoran.


”Kok Pak sih, panggil saja Gio. Kalau panggil Pak, saya keliatan ketuaan”Candanya.


”Hmmm baiklah, Gio”Ucap Kana dan tersenyum.


”Kalau begitu bolehkah saya antar kamu pulang?”Tanya Gio dengan penuh harap.


“Ngak usah Gio, saya pengen jalan kaki saja” Ucap Kana menolak.


Suara klakson mobil mengejutkan mereka.


”Woiii cepat minggir udah macet ini, di tengah jalan malah asik pacaran, cepat minggir” Teriak pengendara di belakang mobil Gio yang marah-marah.


”Ah Iya maaf pak." Ucap Gio kepada pemilik mobil itu.


"Ayo Kana kamu ngak boleh nolak Saya.” Ucap Gio lagi dengan memaksa, dengan terpaksa Kana pun mengiyakan ajakan Gio untuk mengantarnya pulang.


Semenjak kejadian itu Kana dan Gio semakin dekat, hampir setiap hari Gio mengunjungi Kana di toko kuenya dan mengantar jemput Kana.


Hal tersebut terjadi tanpa sepengetahuan Addan , karena Sasha tidak mengawasi Kana, ia sibuk merawat Ibunya dirumah sakit dan lupa mengabari sang suami serta Bos yang lagi mengurus anak cabang perusahaan di Amsterdam.


Lalu bagaimana dengan Ghani, kemana dia? Ghani saat ini balik ke Jepang karena ada sesuatu yang ia urus.


Hanya Lani yang mengetahui bahwa Kana selalu pergi bersama Gio, tapi ia tak mungkin memberitahu Addan, karena melihat sahabatnya bahagia, ia pun turut bahagia meskipun bukan bersama adiknya.


Malam itu saat Addan menyatakan Cinta dan mengajak Kana menikah, diketahui oleh Lani. Lani saat itu mendengar semua obrolan mereka di depan pintu kamar Kana, Lani tentu saja mendengar semuanya karena kamarnya tidak kedap suara, dan keberadaan kamarnya juga terletak di samping kamar Kana.


...----------------...


Sudah satu bulan lebih Addan pergi mengurus perusahaannya, begitu pula hubungan Kana dan Gio, mereka saat ini telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih, sudah 1 minggu lamanya.


Di Amsterdam Addan begitu stress memikirkan sesuatu. Selama ini yang dia pikirkan bukan perusahaan tapi Kanalah yang ia pikirkan, hatinya begitu sakit atas penolakan Kana terhadapnya.


Urusan perusahaan sudah selesai 2 minggu yang lalu, dan Kana lah alasannya menunda untuk pulang, ia memikirkan bagaimana cara menghadapi Kana agar Kana mau menikah dengannya.

__ADS_1


Tak lama kemudian handphone Addan pun bergetar menandakan ada yang menghubunginya, Addan pun menggesernya ke tombol hijau.


”Halo” ucap Addan.


“Halo bos. Gawat, gawat bos” Ucap Sasha tergesa-gesa.


”Ada apa? Coba kamu ngomong yang baik-baik dan jelas.” Bentak Addan emosi dan marah, lalu berdiri dari tempat duduknya.


”Maafkan saya bos, saya ngak ngawasi Nona Kana.” Ucap Sasha dengan nada gusar.


” Ada apa dengannya?” ucap Addan agak teriak.


”Iiii....itu bos, Nona…, Nona Kana memiliki kekasih dan sudah 1 minggu mereka menjalin hubungan.” Ucap Sasha melemah dan merasa takut akan dimarahi Addan.


“ Apa? Bagaimana bisa ia menjalin hubungan dengan pria lain, sementara Saya ia tolak begitu saja. Beraninya dia melakukan hal itu .”Bentak Addan dengan emosi yang memuncak dan megepalkan tangan.


"Lalu kenapa kau tak memberi tahu saya sebelumnya, dan malah baru sekarang kau memberitahukannya." Bentak Addan, ia benar-benar sangat marah. Emosinya sudah menggunung.


”Maaf bos, beberapa hari ini saya mengurus Ibu saya di rumah sakit. Jadi saya tak bisa fokus mengawasi Nona Kana. Saya benar benar minta maaf bos.” Ucap Sasha memohon.


"Kenapa kau tidak memberitahukan hal itu pada Soka dan pada Saya?" Bentak Addan benar-benar marah.


"Saat itu saya panik dan gelisah Bos mendengar ibu saya masuk rumah sakit, sehingga saya lupa mengabari Mas Soka dan Anda. Sekali lagi maafkan Saya, anda boleh menghukum Saya atas kelalaian dan kecerobohan yang saya lakukan." Ucap Sasha menyesal dan rasa bersalah.


"Kau benar-benar membuatku kecewa Sasha, aku mempercayaimu untuk mengawasinya. Aku pasti tidak akan melarangmu merawat Ibumu, seharusnya kau memberitahuku terutama suamimu. Apa kau sudah tak menganggap Soka lagi sebagai suamimu?" Bentak Addan lagi.


"Saya benar-benar menyesal Bos. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi, Saya mohon beri Saya kesempatan dan tolong sampaikan permintaan maaf Saya kepada Mas Soka, Bos..." Ucap Sasha sambil menangis.


”Baiklah karena kamu sudah bekerja dengan saya selama 7 tahun, kali ini saya maafkan. Awasi dia disana jangan sampai kejadian yang lebih buruk terjadi lagi, nanti saya akan bilang kepada Soka."


"Oh iya Saya besok akan pulang ke Indonesia, jangan beritahu siapapun yang ada di kediaman Nicolas.” Ucap Addan sedikit tenang.


”Baik bos , dan terimakasih banyak bos, Saya...” Ucap Sasha dan kemudian panggilan diputuskan oleh Addan secara sepihak.


Addan langsung menghempaskan badannya ke kursi kebesarannya.


"Kana...kenapa kamu melakukan hal itu padaku, begitu sulitkah kau untuk menerimaku. Sedangkan pria lain yang baru beberapa hari hadir di hidupmu, dengan mudah kau terima."Gumam Addan sendu dengan mata yang memerah.


"Aku tidak terima! Kau hanya milikku Kana, hanya milikku." Teriak Addan tak terima di dalam ruangannya, sambil memukul dengan keras meja kerjanya.


"Kali ini aku tidak akan diam begitu saja, aku tidak akan bertindak lemah lagi seperti pria yang pada umumnya yang hanya menunggu cintanya sampai terbalas, mulai hari ini Aku akan memaksa mu untuk mencintaiku dengan caraku sendiri, besok aku akan menemuimu." Ucap Addan dengan wajah dingin dan memancarkan aura kemarahan.


Bersambung...


_


_


Author~ Wah...! nampaknya babang Addan udah emosi banget tuh. Apa yang akan terjadi pada Kana ya, ketika Addan sampai nanti?


Yuk! pantau terus kelanjutannya.


Jangan lupa like kalau suka dan commentnya ya readers 🥰


Selamat membaca!

__ADS_1


__ADS_2