You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Mencintaimu Adalah Kebiasaanku


__ADS_3

Sedih memang. Ketika begitu berharap setelah kejadian itu, kau akan mengerti betapa aku tulus kepadamu lalu hubungan antara kita akan menjadi semakin baik. Namun, itu semua hanyalah angan-anganku semata. Kau memilih jalan untuk mengakhiri ini semua, tanpa perduli hatiku yang terluka karenanya~ Addan.


...----------------...


Kana berjalan gontai menuju ruang Addan. Dalam perjalanan, kata-kata Nenek Suci terus tergiang-ngiang di benaknya. Kata-kata itu sudah menjadi benalu didalam pikirannya, sampai-sampai ia tidak mendengar sapaan dari para perawat yang dilewatinya.


Lani yang saat itu duduk dikursi tunggu, lekas berdiri ketika melihat Kana yang berjalan lunglai kearahnya.


“Kana, kamu darimana saja? Kenapa begitu lama kamu berada ditoilet?Apa b****mu keras seperti batu dan susah dikeluarkan, sehingga memakan banyak waktu ditoilet?”Ujar Lani dengan sedikit bercanda.


Kana hanya diam, ia mengangkat kepalanya menatap Lani sejenak, kemudian kembali menundukkan kepalanya. Kening Lani berkerut ketika melihat mata Kana yang bengkak, ia pun menerka-nerka bahwa ada sesuatu yang terjadi pada sahabatnya itu.


Lani memegang kedua bahu Kana.“Kamu kenapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi? Ceritakan padaku”Tanya Lani yang penuh kekhawatiran.


Kana tetap saja diam, badannya terlihat bergetar seperti sedang menahan tangis disertai geram didalam hati.


Lani yang tidak tahan melihat diamnya Kana, ia pun memaksa Kana untuk mengangkat kepalanya yang tertunduk dengan memegang dagunya.


“Hm. Kamu habis menangis?”Lani kaget setelah melihat mata Kana yang berkaca-kaca.


“Aku tidak apa-apa Lan”Jawab Kana berbohong, diselingi senyuman yang dipaksakan.


"Tapi...mata kamu bengkak loh Na! Kamu ada masalah? atau... ada seseorang yang mengganggu dan menyakiti kamu?Jangan diam dong...jawab aku, bilang padaku siapa yang berani menyakiti kamu?"Tanya Lani bertubi-tubi sambil mencengkram erat bahu Kana, ia begitu khawatir terhadap sahabatnya itu.


"Tidak ada"Balas Kana singkat, kemudian melepaskan cengkraman erat tangan Lani dari kedua bahunya dengan pelan-pelan.


Setiap ditanya ataupun membalas ucapan Lani, Kana selalu mengalihkan tatapannya, agar Lani tidak bisa menangkap kesedihan yang tersirat dimatanya.


Dan hal itu membuat Lani curiga, dahinya pun berkerut. Ia menangkap sesuatu dibalik perkataan Kana, bahwa saat ini keadaan sahabat sekaligus adik iparnya itu tidaklah baik-baik saja.


Lani yakin kalau Kana ada masalah, dan ia berusaha menyembunyikannya darinya.


“Kana…”Belum selesai Lani menyelesaikan kalimatnya, tapi sudah keburu dipotong oleh Kana.


“Aku masuk ya Lan, mau lihat kondisi Mas Addan. Nanti saja kita lanjutkan. Ok?”Potongnya, kemudian masuk kedalam ruang rawat Addan, meninggalkan Lani yang terdiam mematung ditempat.


...----------------...


“...Mas?”Panggil Kana dengan suara yang tertahan. Ia yang tadinya murung dan bersedih, seketika ceria setelah melihat Addan yang kini telah duduk bersandar di kepala ranjang pasien.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Kana pun berjalan menghampiri Addan.


“Kana…”Sahut Addan dengan raut wajah yang tak kalah bahagianya setelah melihat kekasih hatinya itu.


"Syukurlah...kamu sudah sadar Mas."Ucap Kana dengan suara sedikit gemetar, lalu menggenggam tangan Addan.


Ia pun tidak mampu membendung air matanya lagi, karena saking bahagianya melihat sang suami yang tersenyum hangat menatap dirinya. Hingga akhirnya air matanya itu pun tumpah dan mengalir dipipinya nan mulus.


"Hiks hiks hiks...Maafkan aku...karena aku kamu...jadi begini Mas."Ucap Kana dan menangis sesenggukan.


"Tugas Mas adalah menjaga dan melindungi kalian berdua. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi."


"Ekhem..."Deheman keras Ghani membuat mereka mengalihkan pandangannya ke sumber suara.


Sebelum Kana masuk keruang rawat Addan, Addan tidaklah sendiri, ia ditemani oleh Soka dan Ghani.


“Nyonya/Kakak Ipar”Sapa Soka dan Ghani secara bersamaan.


“Hai Kak Soka, hai Ghani. Kalian dari tadi disini? Kok aku tadi ngak lihat mobil Kak Soka didepan gedung?”Ujar Kana.


"Hai Kak!"Balas Ghani.


"...Baru beberapa menit yang lalu kami disini Nyonya. Dan mobil saya terparkir ditempat parkir, dilantai dua Nyonya."Jawab Soka dan Kana hanya menganggukkan kepalanya saja.


Jiah...Mobil gue...hihihihi, batin Soka sambil tersenyum bangga dan cikikikan tak jelas.


"Mobil kau? kapan kau punya mobil sebagus itu, percaya diri sekali...Setelah ini gaji kau kupotong!"Ujar Addan dengan sinisnya.


Dan seketika khayalan Soka langsung buyar, ia yang tadinya tersenyum manis kini berubah masam dan pastinya mengomel didalam hati.


"Dek...itu mobil kita."Lanjutnya.


Addan yang begitu ingin berduaan dengan istrinya, memberi kode kepada Soka dan Ghani untuk segera keluar dari ruang rawatnya. Mereka berdua yang diberi kode keras dan sebuah tatapan peringatan.


Tanpa pikir panjang mereka pun menuruti kemauan Addan.


“Baiklah! Kami permisi dulu…Bos dan Nyonya.”Pamit Soka sedangkan Ghani hanya tersenyum memandang Kana dan Addan.


“Loh! Kok keluar,Apakah sudah selesai?”Tanya Kana bingung ketika Soka dan Ghani yang sudah berada diambang pintu.

__ADS_1


“Sudah. Sekarang waktunya kita yang mengobrol berdua.”Ucap Addan, lalu menarik tangan Kana dengan lembut, agar lebih dekat dengannya.


Addan mengusap-ngusap pelan perut Kana dan menciumnya.


“Apa anak kita baik-baik saja, Dek?”Tanya Addan sambil mendongakkan kepalanya menatap Kana yang berdiri disampingnya.


Kana hanya terdiam, entah apa yang saat ini ia pikirkan hingga, suara Addan yang lumayan keras mengagetkannya.


”Kana?”Addan dengan nada sedikit meninggi.


“Eh, ii..iya Mas?”Kana yang kaget.


“Aku tanya, apa anak kita baik-baik saja?”Tanya


Addan lagi, mengulang pertanyaannya yang tadi.


“…Hmm alhamdulilah anakku...eh, anak kita baik-baik saja Mas!"Jawab Kana terbata-bata, sambil menatap mata Addan yang juga menatapnya dengan serius.


Addan tersentak ketika melihat mata kana yang sembab.


“Dek…matamu bengkak, padahal tadi kamu menangisnya cuman sebentar. Apa sebelum kesini kamu juga menangis?”Tanyanya khawatir sambil membelai lembut pipi sang istri.


DEG!


Jantung Kana berdetak kencang ketika Addan menyentuh pipinya, ia merasakan kehangatan dari tangan Addan menjalar hingga kehatinya.


Kana, jangan sampai kamu mengkhianati dirimu sendiri dan juga janjimu pada Nenek Suci, batinnya.


Kana dengan pelan menepis tangan Addan yang bertengger dipipinya.


“Ah! Tidak...mataku... kemasukan debu tadi Mas! Iya kemasukan debu, terus aku kucek-kucek. Ja...jadinya begini deh, mataku bengkak dibuatnya."Balasnya berbohong.


Addan menarik Kana lagi dengan pelan hingga Kana terduduk ditepi ranjangnya.


"Ah! Mas...?"Kana yang kaget, tangannya pun spontan mendarat di dada Addan yang bidang.


Addan memegang kedua pipi Kana. "Apa debunya masih ada dimatamu? Sini, biar Mas tiup. Lain kali kalau kemasukan debu, jangan dikucek-kucek matanya, mengerti?"Ujar Addan dengan nada suara yang lembut, lalu mendekatkan bibirnya ke arah mata Kana.


DAG DIG DUG!


Jantung Kana berpacu kencang, pipinya semakin memerah.


Belum sempat meniup mata Kana, Addan dikagetkan oleh suara pintu ruang rawat terbuka.


Kriet...


Dokter Sammy masuk bersama Lano dan Lani.


Krik...krik...krik


Sejenak mereka saling pandang menyaksikan adegan yang membuat siapa saja yang melihatnya pasti salah paham.


"Ekhemmm..."Deheman keras dari Dokter Sammy.


Kana yang merasa malu, spontan mendorong dada Addan agak kasar.


"Aduh! Shhh..."Addan meringis kesakitan karena merasakan perih didadanya akibat dorongan Kana.


"Ah! Mas...Maaf...Maafkan aku, sakit banget ya Mas?"Ucap Kana khawatir, dengan rasa bersalah ia pun mengelus-ngelus pelan dada Addan.


"Tidak sakit lagi kok."Ujar Addan menenangkan Kana, lalu menggengam tangan mungil Kana yang bertengger didadanya.


Sebuah senyuman nakal terbit dari bibir kedua saudara kembar itu.


"Wah...Apa kami mengganggu?"Ucap Lano dan tersenyum menggoda.


"Dokter, sebaiknya kita kembali dulu. Sepertinya ada yang mau berkembang...Hihihihi."Ucap Lani dan tertawa cikikikan.


"Apanya yang berkembang?"Tanya Lano yang pura-pura tidak tau.


"Maksudku hubungannya yang berkembang....,Ingat! Hanya sebatas pegang tangan, jangan sampai ketahap perkembangbiakan...Ini Rumah Sakit loh Dan. Nanti saja dirumah dilakukan."Sindir Lani dan kedua saudara kembar itu pun tertawa cekikikan.


"Kalian berdua..."Geram Addan dan menatap tajam kedua saudaranya itu.


......................


Tiga hari kemudian...


Hari ini adalah hari dimana Addan diperbolehkan pulang, ia tidak mau terlalu lama dirawat dirumah sakit karena ia tidak suka bau obat-obatan yang begitu melekat dirumah sakit itu.

__ADS_1


Agar kepulangannya disetujui oleh pihak Rumah Sakit, ia pun beralasan luka didada, ditangan, dipunggung sudah hampir mengering. Bahkan sampai memaksa Dokter Sammy yang merupakan kepala Rumah Sakit menyetujui permintaannya.


☆~☆


Kini Kana dan Addan duduk saling berhadapan di atas kasur empuk dikamar Addan.


"Kamu tadi mau mengatakan sesuatu hal yang pentingkan? Katakanlah...Mas dengarkan."


Aku tidak tau apakah ini benar atau salah. Tapi inilah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan, batinnya.


“Mas…”


“Ya?”Sahut Addan dan tersenyum manis.


"Aku harap kamu tidak akan marah dan membenciku"


"...?"Addan menatap Kana bingung.


Kana menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan.


“Aku rasa….sulit bagiku untuk menerima...menerima pernikahan kita. Apa...apa lebih baik…”


Hening....Senyuman bahagia yang Addan tunjukkan tadi seketika luntur, wajahnya yang tadinya berseri-seri seketika berubah dingin dan diselimuti aura gelap.


"...Lebih baik apa? Lebih baik kita berpisah begitu?"Ujarnya sambil menahan gemuruh didada, rahangnya pun mengeras.


"Ii..iya...Kita akan saling menyakiti jika terus bersama."


"Apa selama usia pernikahan kita ini, aku pernah menyakitimu, baik fisik maupun batinmu? Jawablah dengan jujur."Tanya Addan dengan nada datar.


"...Tidak...Kamu selalu bersikap baik dan perhatian kepadaku. Kamu tidak pernah menyakitiku selama aku menjadi istrimu."Ucapnya dengan kepala tertunduk, ia takut menatap wajah suaminya yang menurutnya menyeramkan saat ini.


"Lantas, dimana letak kekurangan dan kesalahanku?"Tanyanya lagi, kali ini nada suaranya agak sedikit tinggi.


Kana sedikit kaget mendengar nada suara Addan.“Ah! Kam...Kamu tidak... ada ke...kurangan ataupun kesalahan selama kita menikah.”Ujarnya terbata-bata sambil meremas rok yang ia kenakan.


"...Jadi?"


“…Aku sudah berusaha tapi tetap saja tidak bisa… membuka hatiku untukmu.”Ujar Kana dengan kepala tertunduk, ia tak sanggup menatap sang suami yang terlihat terluka.


Addan saling menautkan kedua tangannya dengan kuat.“Apa begitu sukakah kamu menyakiti hatiku lagi Kana? Kemaren kamu memberikanku harapan, sekarang, kamu…kamu berkata demikian. ”Ucap Addan dengan dinginnya.


“Maksud Mas?”


“Kemaren, kamu bilang kamu ingin hidup bersamaku. Apa itu cuman palsu?”


"Kam...kamu mendengar apa yang aku katakan kemaren? Bukankah kamu belum siuman?"


"Aku sudah sadar sebelum kamu masuk, aku mendengar semua yang kamu katakan.


Kana memejamkan kedua matanya sejenak, kemudian menatap Addan serius."Huffh...lupakan! lupakan apa yang aku katakan. Sekarang aku baru sadar bahwa kita dapat menghabiskan waktu berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, namun tetap saja tidak ada artinya kalau dalam selama itu kita tidak saling mencintai dan mengerti."


Maafkan...Maafkan aku Mas...aku tidak bermaksud menyakitimu, batin Kana.


"Tapi bagiku waktu-waktu yang kita lewati sangatlah berarti. Apa kamu lupa, kalau aku mencintaimu?"Ujar Addan dengan nada sedikit membentak.


Kana seketika terperanjat karena kaget mendengar bentakan dari suaminya itu.


"Lupakan aku, jatuh cintalah dan alihkan perhatianmu kepada wanita lain.Berhentilah mencintaiku, aku...tidak pantas untukmu."Ucap Kana dengan suara yang bergetar.


"Apa? Kamu meminta suamimu sendiri jatuh cinta kepada wanita lain?"Ucap Addan dan menatap Kana tajam sambil mengepalkan tangannya kuat.


"...Iiyaa..."Ujarnya pelan dengan ekpresi takut dan kepala yang masih tertunduk.


Addan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan pola pikir istrinya itu.


Apa segala perjuanganku untuk membuatmu luluh dan mau menerimaku selama tiga bulan lebih kita membina rumah tangga, hanyalah sia-sia saja?, batin Addan.


Sambil memijit pelipisnya "Kamu tidak bisa memaksaku untuk berhenti mencintaimu, sebab mencintaimu adalah kebiasaanku."Tegas Addan.


"Tapi, itu..."


Aku tetap tidak akan menyerah, aku akan terus memperjuangkanmu sampai kapanpun, batin Addan.


"Apa kamu pikir aku tidak bisa membuatmu mencintaiku? Dalam waktu satu bulan.....dalam waktu satu bulan ku pastikan kau akan jatuh cinta padaku."Ucapnnya dengan penuh percaya diri.


Kana menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan menggeleng-gelengkan kepala, suaminya sungguh tidak mudah menyerah begitu saja.


Bagaimana ini? Mas...Kenapa kamu tidak menyerah saja terhadapku?, batinnya

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2