
Ting… tong… ting…tong…
Suara bel beberapa kali berbunyi dikediaman apartemen milik Lano. Nena yang sedang memasak untuknya dan sang suami, terpaksa menghentikan kegiatannya itu. Ia tanggalkan celemek yang melekat ditubuhnya, kemudian bergegas pergi menuju pintu.
"Ya...tunggu sebentar..."Teriaknya, menyahuti suara bel apartemennya.
Ting...tong...ting...tong...
"Ngak sabaran banget sih."Gerutunya kesal. Tangannya memegang hundle pintu.
Ceklek!
Setelah pintu terbuka, nampaklah sepasang suami istri muda, siapa lagi kalau bukan Kana dan Addan.
Sejenak mereka saling terdiam...
“K-kak...Kana?"Nena terkejut saat mendapati sang kakak berdiri didepan pintu apartemennya.
"Hai, Nena." Sapa Kana seraya melambaikan tangannya pada sang adik. Senyuman pun terbit dibibir cantiknya. Kemudian ia maju, memeluk adik satu-satunya itu, mereka berangkulan cukup erat.
"Sudah lama ya kak, kita ngak ketemu. Aku kangen banget.... loh."Ucap Nena setelah melerai pelukannya. Sedangkan Addan yang berdiri disamping Kana hanya diam sambil berpangku tangan, menatap interaksi keduanya.
"Iya...kakak juga kangen kamu."balas Kana dengan wajah yang tak kalah berbinarnya.
"Keponakanku ini sehat-sehat saja kan Kak...?"tanya Raya sambil mengelus perut kakaknya.
“Alhamdulillah…bayi kami sehat...”
"Hekhem!"Deheman Addan, sontak kedua kakak adik itu menoleh kearahnya, "kami ngak disuruh masuk nih? Asik aja ngobrol dari tadi, udah pegal nih kaki."Sindirnya.
Nena menepuk jidatnya dan nyengir kuda."Hehehe...sampai lupa aku. Yok masuk...."
Kana dan Nena masuk beriringan, sedangkan Addan mengekori keduanya. Tatapan Kana menjelajahi interior apartemen mewah yang dipenuhi oleh beberapa jenis lukisan terkenal.
"Wah...bagus banget apartemenmu, adem pula..."Pujinya dan berdecak kagum.
Nena hanya tersenyum menanggapi ucapan sang kakak.
Mendengar ucapan sang istri, Addan menjadi terpancing untuk memberikannya apartemen mewah seperti apartemen kakaknya. Jangankan apartmen, rumah mewah seperti kediaman Nicolaspun sanggup Addan bangunkan untuk istrinya itu.
"Kamu mau apartemen yang seperti ini? besok Mas carikan ya?"Timpal Addan.
"Jangan ngadi-ngadi kamu, Mas. Aku hanya sekedar mengagumi, ngak ada niat minta apartemen."Kana memberenggut, dan memutar bola matanya malas.
Setibanya diruang tamu.
"Bang Lano ada, Na?"tanya Addan pada Nena. Matanya mencari-cari sosok kakak laki-lakinya itu.
"Ada...Mas Lano lagi tidur dikamar. Bentar, Aku bangunin dulu... Silahkan duduk kak, atau…pengen lihat-lihat isi apartemen kami juga boleh. Anggap saja seperti rumah sendiri."
Sebelum pergi kekamarnya, Nena menyuruh asisten rumah tangganya menyuguhkan minuman untuk kakak dan iparnya.
"Silahkan diminum Tuan, Nona..."ucap seorang asisten rumah tangga setelah menyuguhkan dua cangkir teh dihadapan pasangan suami istri itu.
"Terimakasih Mbak..."Kana tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama Nona...Kalau begitu saya permisi..."ujarnya sambil menunduk, dan Kana membalasnya dengan anggukan kepala.
Tak lama berselang setelah pamitnya ART, Lano dan Nena keluar dari kamar mereka. Lano menghampiri Kana dan Addan yang sedang duduk diruang tamu, sementara Nena kembali kedapur, melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi.
“Tumben kau kemari, ada apa? Kemarin-kemarin, pas kami ajak panggang barbekyu bersama kau selalu saja ada alasan untuk menolaknya..”ucap Lano sedikit ketus pada sang adik.
Adiknya itu setiap diajak berkumpul selalu menolak, alasannya sibuklah, lelahlah, berbagai macam alasan yang Addan berikan untuk menolak setiap ajakannya
“Kana lagi hamil. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di Vila, kalau membawanya bersamaku, aku takut istriku sakit akibat bergadang dan terkena angin malam…”ucap Addan serius. Tanganya merangkul posesif pinggang sang istri.
"Ishh...Mas, lepasin."Protes Kana sambil berusaha menyingkirkan tangan Addan dari pinggangnya. Namun tak dihiraukan oleh Addan sehingga membuatnya dongkol didalam hati.
Lano yang melihat tingkah adik dan iparnya itu hanya geleng-geleng kepala. Dia turut senang melihat hubungan pasangan suami istri itu semakin berkembang.
"Huffhhh...baiklah. Alasanmu yang ini baru kuterima,"
"Mari kita makan siang, hentikan obrolan kalian dulu... Nanti dilanjutkan..."Ajak Raya yang baru balik setelah menata makanan diatas meja makan.
**
Mata Kana berbinar-binar melihat menu yang tertata diatas meja makan.
"Makanannya banyak banget...Nena."
"Iya...Aku juga masak martabak telor kesukaan kakak. Dihabisin ya..."Ujar Nena sambil mendorong sepiring martabak telur kehadapan Kana.
"Wahh...makasi ya adekku...makin sayang deh..." Kana mengedip-ngedipkan matanya kearah adiknya.
"Ihh...kok aku geli ya dapat kedipan dari Kakak."Ucap Nena dan pura-pura bergidik. Mereka berdua tertawa sesudahnya.
Beberapa menit kemudian...
Addan melihat jam ditangannya, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga siang. Yang berarti sudah waktunya mereka menghentikan obrolan itu, sebab ia dan sang istri sudah buat janji dengan dokter obgym untuk memeriksa kesehatan buah hati mereka.
Sekarang mereka sudah berdiri diluar apartemen.
“Cepat banget sih baliknya, belum juga dua jam kita ngobrol.”ucap Nena sedih, ia belum puas kangen-kangenan dengan kakaknya.
"Maaf ya...Kakak sudah buat janji sama dokter obgym...Tidak mungkin dong ditunda, dokternya pasti sudah menunggu kami."
"Periksa kandungan ya, kak?"
"Iya..."
"Yaudah deh...kapan-kapan main lagi kesini ya?"Nena memeluk Kana singkat, kemudian melerai pelukannya.
"Siap...!"
Addan meraih pundak istrinya dan berpamitan kepada Lano dan iparnya.
"Hati-hati dijalan...jangan ngebut-ngebut kamu, Dan. Ingat, Kana lagi hamil..."ucap Lano.
Addan menatap jengah kakaknya itu, entah yang keberapa kalinya Lano mengingatkannya, dan entah berapa kali pula iya mengiyakan.
"Hmm..."
__ADS_1
"Ham-hum-ham-hum...Ngak ada tanggapanmu yang selain itu?"Lano selalu kesal mendengar tanggapan singkat dari adiknya itu.
Addan tak mengubris ucapan kakaknya itu, ia malah menarik Kana dan berjalan menjauh dari apartemen Lano.
"Dasar adik durhaka!"Maki Lano.
"Nena...Kak Lano kami balik dulu ya...dah..."pamit Kana dengan sedikit berteriak, karena dirinya sudah berada didepan lift.
...****************...
Addan dan Kana memasuki ruangan dokter.
"Selamat siang Tuan, Nyonya.."sapa seorang dokter perempuan dengan ramah, dan dibalas anggukan dan senyuman manis oleh Kana.
Kemudian si dokter menyalami Addan dan Kana bergantian. Tak lupa pula mempersilahkan mereka berdua duduk, setelahnya.
"Sudah besar ya Nyonya, perutnya. Kapan terakhir kalinya Nyonya periksa kandungan?"
"Kalau tidak salah...tiga bulan yang lalu, dokter."
Dokter wanita itu hanya manggut-manggut mendengar ucapan Kana. Kemudian meminta Kana untuk berbaring diatas ranjang periksa dan menyingkapkan dress bumil itu keatas agar menampakkan bagian perutnya, tentu sebelum itu ia izin dulu kepada Kana.
Dioleskannyalah gel ultrasonik kepermukaan kulit perut Kana dan mulai menggerak-gerakkan alat USG disana.
"Silahkan dilihat Tuan, Nyonya, layar monitornya. Bayinya sehat, bentuk janinnya hampir sempurna. "Dokter itu menggerakkan jarinya pada permukaan layar,
detak jantung bayinya pun sudah mulai terdengar, coba Anda dengarkan Tuan, Nyonya."tambahnya.
Kana terharu saat melihat sosok bayinya di layar monitor itu, dan mendengar bunyi detakan jantung dari Doppler USG yang saling bersahutan.
Kana tidak bisa lagi menahan tangisnya. "A-anakku..."gumamnya lirih, ia tidak menyangka janinnya sudah sebesar itu.
Addan yang berdiri disisinya tak kalah bahagianya, ia sangat antusias memperhatikan sang anak yang beberapa minggu lagi akan segera hadir kedunia. Ia tautkan jari-jemarinya ke jemari Kana, dan ia cium kening sang istri cukup lama. Sebagai tanda bahwa ia sangat sangat sangat bahagia dan berterimasih kepada sang istri.
Sebelum sang dokter membereskan peralatan USG-nya. Addan lebih dulu mengajukan sebuah pertanyaan.
"Hmm...Sudah bisakah kami melihat jenis kelaminnya sekarang?"tanya Addan penasaran.
"Bisa Tuan. Tapi...sepertinya bayi Anda dan Nyonya, malu-malu memperlihatkannya."Balas sang dokter dan terkekeh kecil.
"Hm Ok..." Addan sedikit kecewa mendengar ucapan sang dokter. Tapi tidak apa-apa, bulan depan masih ada kesempatan untuk melihat jenis kelamin bayinya.
Dokter itu memberikan kantung plastik berisi vitamin ketangan Kana. "Ini vitamin untuk penguat kandungan, Nyonya."
"Baik, dok."
"Kandungannya harus tetap dijaga ya, Nyonya?...jangan melakukan pekerjaan yang terlalu berat, ngak boleh stres-stres, karena bayi itu juga dapat merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya. Usahakan pula berjalan-jalan setiap pagi, karena kegiatan tersebut dapat meningkatkan fleksibilitas dan mengencangkan otot-otot pinggul Anda. Sehingga dapat mempermudah Anda saat persalinan nanti..."Ujar sang dokter memberi nasehat.
"Siap Dokter!...kalau begitu kami permisi dulu, terimakasih banyak ya Dokter..."ucap Kana, lalu berdiri dari duduknya dengan bantuan Addan.
"Sama-sama Nyonya..."balas dokter tersenyum. Dokter itu membungkukkan badannya setelah berdiri. "Hati-hati dijalan...Tuan dan Nyonya."
Addan dan Kana pun keluar dari ruangan.
Bersambung...
__ADS_1