You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Dua Masalah Baru


__ADS_3

Hobby dan Addan berbarengan menuruni anak tangga sambil berbincang-berbincang ringan.


Saat itu hari sudah menjelang sore, entah sudah berapa jam mereka menghabiskan waktu membahas permasalahan yang terjadi beberapa hari yang lalu.


Dan Kana yang ditunggu pun tak kunjung menghampirinya diruang kerja, sehingga Addan memutuskan untuk turun kebawah, menghampiri sang istri.


"Sepertinya semua informasi sudah ku sampaikan kepadamu. Akan ku usahakan dalam minggu ini, semuanya sudah terpecahkan."ujar Hobby.


"Hm, ya"balas Addan singkat disertai senyuman tipis, matanya terus fokus kearah anak tangga.


Hobby celengak-celinguk memperhatikan kondisi kediaman yang terlihat sepi.


"Sepi sekali rumahmu, pada pergi kemana yang lainnya?"tanyanya.


"Kana ditaman belakang, dia suka sekali menyendiri disana. Sedangkan Nenek dan Kakek pergi berkunjung ke apartemen Lano."


"Oh gitu..."Hobby menganggukkan kepalanya paham,"ngomong-ngomong kakakmu kemana ya Dan? Aku kangen sekali padanya."sambungnya seraya membayangkan wajah cantik Lani. Sepertinya dia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama kepada kakak dari sahabatnya itu.


Addan mengangkat kepalanya yang tertunduk, lalu menatap Hobby yang tengah mengamati isi rumahnya."Kakakku yang mana, Lani atau Lano?"tanyanya dengan nada malas.


"Ya Lanilah...,masak Lano! Tadi kau bilang Kakek dan Nenekmu pergi ke apartemennya Lano, ya jelaslah kakak laki-lakimu itu tidak disini, untuk apa aku mencarinya sampai kesini?"jawabnya dengan sedikit candaan, sambil memamerkan deretan giginya nan putih.


Addan mengerutkan dahinya, menatap Hobby penuh selidik"untuk apa kau mencari Lani? Ada urusan apa?" tanyanya to the point.


Mendapati tatapan menghunus dari sang sahabat, senyuman Hobby seketika luntur. Wajahnya pun sudah dipenuhi oleh butiran-butiran keringat. Dengan ragu-ragu ia menjawab,"mmm...i-itu...Dan. Aku tertarik kepadanya, bisakah__"


"Tidak bisa! Jangan berani-beraninya kau mendekati Lani, kau itu adalah seorang penjelajah. Sedangkan kakakku wanita yang polos."potong Addan cepat dengan suara lantang.


Selama ini Addan memang tampak bersikap acuh tak acuh terhadap Lani, tapi sebenarnya ia sangat peduli terhadap kakak perempuannya itu. Meskipun Hobby adalah sahabatnya, bukan berarti kenyataan itu akan menjamin kesetiaannya terhadap Kakaknya, jadi ia tidak akan tinggal diam kalau sang sahabat memiliki rasa terhadap kakaknya.


"Seorang penjelajah, apa masalahnya?__kan aku dengannya bisa menikmati alam yang asri. Membawanya berkeliling dunia, boleh juga tuh! Kalau buat dia, uangku pasti ada..."ujar Hobby enteng dan ngelantur sambil menghayalkan dirinya bersama Lani pergi menjelajahi dunia bersama.


Addan menepuk jidat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Sepertinya sahabatnya itu pura-pura tidak mengerti atau benar-benar tidak mengerti sama sekali akan maksud perkataannya barusan.


"...Bukan itu maksudku!..Kau itu seorang Casanova. Aku tidak bisa membiarkan kakakku jatuh ketangan buaya darat sepertimu.


"Pokoknya jangan kau dekati Lani, jauh-jauh darinya. Cari saja wanita yang lain, yang bisa kau ajak main sesuka hati."sambungnya dengan penuh penekanan.


Kata-kata Addan serta tatapannya nan tajam, seperti jarum pentul yang menancap ke ulu hati Hobby. Penolakan dari sang sahabat saja sudah membuatnya patah hati, apalagi nantinya Lani yang ikut menolaknya. Sungguh ia tak sanggup membayangkannya, mungkin hatinya yang bermekaran layu seketika.


"Oh ayolah....adik ipar...Jangan buat diriku patah hati untuk yang pertama kalinya."bujuknya dengan sorotan mata memohon.


"Grr...jangan panggil aku dengan panggilan yang menjijikkan seperti itu! Kau tidak akan pernah menjadi kakak iparku, "geram Addan.


"Kau tega Dan...pada sahabatmu sendiri? Sudah sepuluh tahun loh kita bersama."ujarnya mengiba.


"Tidak!__Aku mengenalmu melebihi siapapun, kau selama ini tidak pernah serius menjalin hubungan dengan wanita lain. Bagaimana nasib kakakku bila bersamamu, heh?"ujarnya serius. Kemudian lanjut melangkahkan kaki menuruni anak tangga, meninggalkan Hobby yang terdiam membisu ditempat.


Hobby menyusul Addan yang sudah berada di anak tangga terakhir.


"Aku sudah berubah Dan...sudah 2 minggu diriku tak datang ke Nightclub. Semenjak pertemuan pertamaku dengan kakakmu dan jatuh cinta kepadanya. Aku sudah memutuskan untuk berhenti menjadi pria brengsek,"imbuhnya berusaha meyakini calon adik iparnya. Eh calon adik ipar? Hehehe belum ya, pendekatan saja belum.


"Tidak! Cari saja wanita yang lain!"Addan tetap kokoh pada pendiriannya. Ia tidak akan memberi izin kepada orang yang berdiri disampingnya itu, sebab ia sudah tau kelakuannya selama ini.

__ADS_1


"Aku hanya cinta kepada Lani seorang, mana bisa kau menyuruhku mencari wanita yang lain..."


Addan menghentikan langkahnya seraya membalikkan badannya, menghadap kearah Hobby. Ia tertawa sumbang, mendengar ucapan Hobby yang terdengar konyol ditelinganya."Jangan membual kau, telingaku terasa sakit mendengar ucapanmu."


Tap! tap! Suara langkah kaki mendekat kearah keduanya.


"Loh Mas. Bukannya kamu tadi memintaku untuk menghampirimu? tapi kenapa sekarang kamu malah turun?"Kana tiba-tiba muncul dan menyela perdebatan antara keduanya. Ia menatap bingung sang suami, kemudian matanya beralih ke arah kaki suaminya itu,"eh Mas!...Dimana alat bantu berjalanmu?Apa betismu sudah baikan, Mas?"Kana kaget ketika mendapati suaminya berjalan normal tanpa dibantu oleh alat bantu berjalan.


Addan melangkah maju, mengikis jaraknya antara sang istri. "Dek. Sedari tadi Mas tunggu kenapa kamu ngak datang-datang keruang kerja Mas? Kamu masih marah?" bukannya menjawab pertanyaan sang istri, Addan malah balik bertanya.


"...Aku lupa Mas, tadi aku keasikan bikin kue."balas Kana dan cengengesan.


Addan tersenyum, lalu mengelus kepala sang istri dengan gemas.


Kana sedikit memiringkan kepalanya kesamping, untuk menatap Hobby yang berdiri dibelakang Addan, "Hai Hobby.."sapanya ramah sambil melambai ringan kearah Hobby.


"Hai Kana..."balas Hobby dan tersenyum manis.


Addan menatap Kana dan Hobby secara bergantian, hatinya terasa panas menyaksikan interaksi keduanya. "Ngak usah sok manis, kalau tidak urusan lagi lebih baik kau pulang sekarang!"ujar Addan ketus.


"Mas.."tegur Kana


"Ok deh...Aku tidak akan ganggu kalian!... Titip salamku buat my darling, Lani ya?"ujarnya kepada Addan yang sepertinya sudah tidak mau lagi mengubris omongannya.


Addan memangku bahu istrinya, kemudian membawanya pergi, meninggalkan Hobby yang terdiam ditempat.


"Mas, Hobby sama Lani ada hubungan apa ya Mas?"tanya Kana seraya melirik Hobby sekilas.


"Gue dikacangin, "gumam Hobby, "Ah sudahlah! besok gue kemari lagi."lanjutnya, kemudian berjalan lunglai menuju pintu keluar.


...****************...


Ditempat lain, diwaktu bersamaan. Tampak beberapa pria berseragam hitam, mengintai rumah Soka. Didalam rumah itu hanya ada Sasha seorang, sedangkan Soka sibuk diperusahaan, menggantikan Addan memimpin perusahaannya untuk sementara.


Sasha yang tengah asik menonton siaran berita, tiba-tiba dikejutkan oleh suara bising yang berasal dari pintu depan rumahnya.


Blam! Blam!__Brak!


"Astaga! Siapa itu yang menggedor pintu rumahku seperti itu?__Minta dihajar ya?!!"teriaknya lantang dan penuh emosi,"tak tau dia dirumah siapa bikin keributan,"sambungnya dengan suara pelan.


Dengan langkah besar, Sasha menghampiri pintu rumahnya bagian depan. Setibanya disana, betapa kagetnya dia ketika mendapati pintu rumahnya bolong dan sudah kupak, serta diambang pintu berdiri beberapa pria berbadan kekar yang berseragam hitam.


"Siapa kalian hah?"tanyanya ketus, sambil berkacak pinggang, tanpa ada rasa takut.


"Anda tidak perlu tau siapa kami, Nona. Sekarang juga Anda harus ikut kami. Kalau menolak, terpaksa kami melakukan kekerasan terhadap Anda."Ancam si pria yang berkepala plontos dan memiliki tindik dibibirnya. Sepertinya dia adalah pemimpin kelompok pria berseragam hitam itu, pikir Sasha.


"Siapa yang mengutus kalian? Saya akan ikut kalau mengetahui siapa tuan kalian."ujar Sasha.


"Ck! langsung saja Kalian sekap dia, lalu muat dia kedalam mobil."perintah si pria botak kepada bawahannya, dia tidak mengubris ucapan Sasha.


"Baik Bos!" sahut tiga bawahannya.


"Heh,lepas! Mau kau bawa kemana aku?"

__ADS_1


Dua orang memegangi tangan Sasha, sedangkan yang satunya membekap mulut Sasha dengan tisu yang sudah di olesi obat bius.


Sasha memberontak, kakinya yang nganggur menendang sana kemari. Namun sayang obat bius itu sudah mengikis kesadarannya, hingga ia tersungkur dilantai.


"Kalian angkat wanita ini dengan hati-hati, jangan sampai dia jatuh. Tuan muda tidak akan mentolelir, jika ia mendapati luka ditubuh wanita ini."


"Baik Bos!"sahut mereka seretak.


Sasha dibopong oleh tiga orang bawahan si botak kedalam mobil van bewarna abu-abu. Kemudian mereka tancap gas meninggalkan rumah Soka, dalam keadaan pintunya yang terbuka lebar.


...****************...


Dimalam harinya saat makan malam bersama. Kana dengan telaten mengambilkan nasi dan lauk untuk sang suami.Walau, saat itu ia agak kesulitan berjalan memutari meja makan. Awalnya Addan menolak untuk dilayani olehnya, karena takut istrinya itu kelelahan. Namun, Kana yang keras kepala, tetap bersikukuh.


Suasana pada saat itu hening, tidak ada satupun yang berani membuka suara, sebab Kakek Vino tidak suka kalau ada seseorang yang berbicara ketika makan. Kini, semua sudah mulai menyuapkan makanan kedalam mulut mereka masing-masing.


Pada suapan nasi yang ketiga, tiba-tiba Kana merasa mual."Ugh!"membekap mulutnya dengan kedua tangannya, agar makanan yang ada dimulutnya tidak menyembur keluar. Kemudian ia berlari menuju kamar mandi yang letaknya didekat dapur.


"Ihhh!"Belinda menatap Kana jijik, kemudian meletakkan sendok makannya agak kasar. Begitu pula Nenek Suci, ia mendorong kasar piring makannya kedepan.


"Ck! Selera makanku hilang gara-gara dia."Nenek Suci beranjak dari meja makan, kemudian pergi dari sana. Begitu juga Belinda, dia mengikuti langkah Nenek Suci.


"Suci!"tegur Kakek Vino, ketika mendapati istrinya sudah beranjak pergi dari meja makan, "habiskan makananmu,"sambungnya.


Sementara, Addan yang melihat istrinya berlari ke kamar mandi, panik seketika. Ia pun langsung menyusul Kana ke kamar mandi.


Di kamar mandi, Kana memuntahkan semua makanan dari perutnya.


Sedangkan dipintu kamar mandi, Addan menunggunya disana, "Dek...buka pintunya! Kamu baik-baik saja kan?"tanyanya khawatir, sambil menggedor-gedor kecil pintu kamar mandi itu. Namun, yang ditanya tak kunjung menyaut.


Tak lama kemudian, Kana keluar dari kamar mandi dalam keadaan lemas. Addan melihat wajah istrinya yang sudah pucat pasi, semakin panik.


"Dek...wajahmu pucat sekali, kita kerumah sakit ya?"ujarnya khawatir, dan dibalas gelengan lemah oleh Kana, sebagai tanda bahwa ia enggan untuk dibawa kerumah sakit.


"Astaga Dek! badanmu terasa panas. Kita harus kerumah sakit."


"Ngak usah Mas, dibawa istirahat saja, pasti panasnya hilang."balas Kana, suaranya terdengar serak ditelinga Addan.


"Jangan membantah!"Addan langsung menggendong Kana ala bridal style.


"Mas, aku tidak apa-apa kok."Addan tidak mengubris perkataan sang istri, ia terus melangkahkan kaki.


Kakek Vino yang masih duduk dikursi makan, seketika berdiri setelah mendapati Addan melewatinya sembari menggendong Kana dipangkuannya.


"Dan, ada apa dengan cucu menantu?"tanya si kakek khawatir.


"Badan Kana panas Kek! Aku harus membawanya kerumah sakit."jawab Addan, wajahnya sudah dibanjiri keringat karena begitu mencemaskan sang istri.


"Iya, cepat bawa dia sekarang, wajahnya begitu pucat. Kakek ikut!"


"Baik, Ayo Kek!"sahut Addan cepat. Dengan sedikit berlari mereka menuju garasi mobil.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2