You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~Firasat Buruk


__ADS_3

Setelah selesai meeting bersama klien penting dari Polandia, Addan kembali keruangannya dan diikuti oleh Hobby dan Soka dari belakang.


Sesampainya diruangannya, Addan mendudukkan bokongnya agak kasar ke kursi kebesarannya seraya menghela nafas panjang.


"Oi Dan. Kau Kenapa sih hah? Dari tadi sering ngak fokus saat menjelaskan proyek kerjasama kita ke klien."Tegur Hobby pada Addan.


Jabatan Hobby hanyalah sebagai sekretaris Addan, tetapi ia tidak akan segan-segan menegur bosnya itu, apabila lalai mengemban tugas. Mungkin karena mereka sedari kecil sudah menjadi teman dekat, sehingga sedikitpun ia tidak takut menegur bahkan mememarahi Addan, yang notabene-nya adalah atasannya saat ini.


"...Cuman sedikit ngak enak badan..."Jawab Addan sambil memijit batang hidungnya untuk menghilangkan sedikit rasa resahnya.


Mimpinya yang semalam masih saja menghantuinya, berulang kali ia mencoba untuk fokus pada pekerjaanya, namun tetap saja mimpi itu kembali terngiang ketika dirinya memejamkan mata.


"Kalau tidak enak badan, seharusnya kau tidak usah datang keperusahaan. Mending istirahat saja dirumah tadi..."


"Semua materi harus diriku yang mempresentasekan. Jika tidak, mereka (klien) akan kecewa dan menganggap perusahaan kita tidaklah berkompeten."


Jika Addan sudah berkata seperti itu, Hobby tidak akan bisa lagi membantahnya.


"Huffh baiklah...lebih baik sekarang kau pulang dan istirahat saja dirumah. “


Addan menyugarkan rambutnya kebelakang. "Ya... sebentar lagi Aku bakal pulang."


Kemudian melirik Soka yang tengah fokus menatap layar laptopnya.


"Soka, tolong kau hubungi Ghani untukku. Tanyakan dimana keberadaannya sekarang."


"Baik Bos..."Sahut Soka cepat.


Sokapun langsung menghubungi Ghani. Dan beberapa menit kemudian obrolan singkat antara Soka dengan Ghani akhirnya selesai.


"Dimana dia?" tanya Addan


"Di toko kue milik Nyonya, Bos."


"Bersama istriku?"


"Sepertinya tidak Bos. Karena para bodyguard pasti akan melapor kepada saya, kalau Nyonya keluar dari Vila."


"Lalu ngapain dia disana ?!Seharusnya saat ini dia berada disisi istriku!" Geram Addan sambil mengebrak meja kerjanya.


Hobby hanya diam. Sebenarnya pria itu mengetahui tujuan Ghani ke toko kue Kana, tapi ia memilih untuk tidak memberitahukannya kepada Addan. Sebab Addan pasti akan sangat marah jika ia mengetahuinya.


“Hob, aku pulang dulu. Perasaanku mendadak cemas, aku ingin melihat istriku.”


“Ok…”


Addan membereskan beberapa berkas penting untuk dibawa pulang karena ia akan melanjutkan pekerjaannya dirumah. Tanpa sengaja ia menyenggol bingkai foto , dan kaca dari bingkai foto itu pecah berderai.


Prang!

__ADS_1


Addan reflek membungkuk dan dengan hati-hati ia mengambil lembar foto yang terlepas dari bingkainya. Namun tangannya tidak sengaja menyenggol pecahan kaca, dan kaca itu membuat salah satu jemarinya terluka. Darah segar yang keluar dari ujung jari telunjuknya tak sengaja menetes dan mengenai lembar foto itu.


“Dan, jari kau berdarah tuh!”ucap Hobby sambil menunjuk tangan Addan.


DEG


Perasaan Addan mulai tak karuan, tiba-tiba saja dadanya terasa sesak. Bukan karena jarinya yang sudah mengeluarkan banyak darah, melainkan selembar foto ditangannya yang merupakan potret Kana yang sedang tersenyum ceria. Tetapi kini foto itu sudah dilumuri oleh darahnya.


Ya Tuhan pertanda apa ini? Semoga istriku baik-baik saja, ucapnya dalam hati seraya mendekap foto itu dada.


“Bos…”Panggil Soka, namun Addan tetap tidak bergeming.


“Hei, kau kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan?”Sentak Hobby sedikit berteriak. Tangannya menepuk bahu sang sahabat agak kasar.


Addan tersentak, sejenak ditatapnya Hobby yang juga menatapnya.


“Entahlah…perasaanku tidak enak saja, sebenarnya sedari tadi yang memenuhi pikiranku adalah Kana. Semalam aku bermimpi buruk…mimpi itu…”


“Ya sudah, jangan diceritakan kalau kau tak sanggup…”Potong Hobby. Melihat raut wajah sedih sang sahabat, ia mengerti kalau sahabatnya itu pasti bertambah sedih jika mimpinya diungkit.


“Sebaiknya kau hubungi istrimu, agar dirimu tidak terus kepikiran.”Tambahnya.


“Baiklah...”


Berkali-kali Addan menelfon Kana, namun bukan suara lembut sang istri yang menyambutnya melainkan suara operator yang menjengkelkan diindera pendengarannya.


“Aaarrrgghh…kenapa suara operator sialan yang terdengar?…Kana, kumohon angkatlah...”Ucap Addan frustasi seraya menjambak rambutnya sendiri.


“Bagaimana, bisa?” Addan menggeleng lemah sebagai balasan atas pertanyaan Hobby.


“Mungkin Kana sedang sibuk, istrimu kan suka berkebun bunga. Terkadang perasaan itu menipu kita...”Ujar Hobby menghiburnya agar rasa gundahnya berkurang.


“Aku harap apa yang kau katakan benar.”Addan menghela nafas.


“Bos, jari telunjuk Anda banyak mengeluarkan darah. Lebih baik lukanya segera diobati dan ditutupi.”


Addan menatap sekilas jarinya yang masih mengeluarkan darah, ia sama sekali tidak merasakan perih ataupun sakit pada jari telunjuknya yang robeknya cukup dalam.


“Nanti saja kuobati, dimobilku ada plester.”


“Aku harus pulang. Semakin dibiarkan semakin menjadi pula firasat buruk yang kurasakan.”


Setelah meraih kasar tas kantor dan jasnya, Addan langsung berlari menuju pintu keluar, tanpa memperdulikan Hobby dan Soka yang memanggilnya.


Sekarang yang ada dipikirannya hanya Kana, dan Kana. Ia harus sampai dirumah, ia tidak akan tenang sebelum melihat keadaan istrinya yang baik-baik saja.


“Apa sebaiknya kususul saja dirinya, Hob? Aku mengkhawatirkannya.”


“Iya sebaiknya kau susul saja dia, biar sisa pekerjaan disini aku yang hundle.”

__ADS_1


“Terimakasih, kupercayakan semuanya padamu, Hob." Soka menepuk bahu Hobby, kemudian beranjak pergi, menyusul Addan yang mungkin sekarang sudah berada diarea parkiran.


...****************...


Hampir satu jam lamanya Feni memantau kegiatan Kana yang sedang menyiram bunga. Dan selama itu pula wanita itu mencari-cari kesempatan yang tepat untuk melancarkan aksinya. Namun sayangnya Kana selalu dikelilingi oleh pria berbadan kekar dan berjas hitam, yang mana mereka merupakan bodyguard yang disediakan oleh Addan khusus untuk istrinya yang tercinta.


"Bagaimana kalau nanti saja, kutunggu wanita itu masuk kedalam baru kuhabisi dia."Gumam Feni.


Feni berniat melancarkan aksinya didalam Vila. Karena pada saat itu para bodyguard yang melindungi Kana tidak akan ikut serta masuk kedalam Vila, mereka hanya ditugaskan menjaga Kana apabila diluar Vila.


"Mama...Mama ngapain disini?"suara Alika yang sedikit bass, membuat semua orang disekitar taman mengalihkan pandangannya kearah mereka berdua.


"Sssttt....dasar bocah sialan. Bisa tidak kau bicara pelan-pelan....?"Geram Feni lalu melabuhkan cubitan kecil dilengan putrinya itu.


"Ah! sakit...Ma...."Rengek gadis kecil itu dengan mata yang mulai berembun.


"Halah...dasar cengeng. Masuk kekamar!"Ucap Feni ketus sambil mendorong kasar bahu putrinya itu.


"Tapi Ma...aku...hiks hiks..."Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu ketika ia kembali dilabuhkan cubitan oleh Feni. Tangan mungilnya mengucek-ngucek matanya.


"Saya bilang masuk!"


Melihat putrinya yang belum beranjak pergi, Feni pun bertambah kesal. Ditariknya tangan mungil putrinya masuk keVila dengan kasar. Sementara dari kejauhan Kana hanya bisa melihat interaksi keduanya, ia ingin sekali menegur Feni yang kasar pada Alika, tetapi ia tidak ingin dikira ikut campur urusan orang lain.


"Huffhh...semoga Mbak Feni tidak kasar lagi kepada Alika..."


Kana kembali memfokuskan diri menyiram bunga-bunganya sambil bersenandung ria.


...****************...


“Shit!”Umpat Addan sembari memukul dashboard mobil dengan cukup kuat. Dirinya yang terburu-buru ingin pulang namun terjebak macet yang panjang.


Sementara Soka yang sedang mengendalikan laju mobil, hanya melirik atasannya itu tanpa menegurnya sama sekali, ia sangat paham bagaimana suasana hati Addan saat ini.


Melihat ada orang yang lewat, Addan sedikit terburu-buru menuruni kaca mobilnya dan memanggil orang itu untuk bertanya. Ternyata orang itu adalah seorang bapak penjual koran yang usianya sekitar enam puluh tahun keatas.


Bapak penjual koran itu sedikit melongokkan kepalanya kearah jendela mobil.


“Mau beli koran, Nak?”tanya Bapak penjual koran itu seraya menyodorkan lembaran korannya kehadapan Addan.


Sebelum melontarkan sebuah pertanyaan, Addan menyempatkan diri untuk mengatur pernafasan supaya suasana hatinya yang sedang buruk tidak terbawa-bawa.


“Ah bukan Pak, saya cuman numpang tanya. Kok macetnya sepanjang ini, apa yang terjadi Pak?”


“Ohh itu, Nak. Di depan terjadi kecelakaan tunggal, sebuah mobil tronton terguling dan barang-barang bawaannya berceceran dijalanan. Jadi saat ini petugas sedang membersihkan area jalanan dari barang-barang itu."


“Begitu ya Pak, terimakasih Pak.”


“Iya...sama-sama, Nak.”Balas Bapak itu ramah.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2