You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Kenapa Melihat Dirimu yang Seperti ini, Hatiku Terasa Sakit?


__ADS_3

Ghani yang masih berada di gedung tua bersama anak buah Addan yang masih tersisa untuk mencari keberadaan Hoby. Ia pun memperhatikan sekeliling ruangan ternyata...


"Eh itu Bang Hoby"Ghani melihat Hoby yang pingsan di sudut ruangan.


"Bang Hob, Bang Hob..., Bang Hoby, bangun woii.... "Teriak Ghani sambil mengguncang kasar tubuh Hoby.


"Apa dia sudah mati?"Cemas Ghani, ia pun memeriksa nadi Hoby."Eh! Ternyata dia masih hidup. syukurlah..."ucapnya lagi sambil mengelus-ngelus dadanya.


"Ayo bantu aku mengangkatnya, kita bawa kerumah sakit, lukanya terlihat lumayan parah."Ucap Ghani kepada anak buah Addan.


...----------------...


Di RUSD Nicolas Hospital (Salah satu rumah sakit terbaik dan tebesar di dunia, rumah sakit milik keluarga Nicolas)...


Setibanya dirumah sakit Nicolas Hospital, Addan langsung dibawa keruang operasi untuk mengangkat peluru yang tertanam dipunggungnya. Sambil menggenggam tangan Addan, Kana terus mengikuti kemana arah brankar Addan di dorong oleh para perawat. Hingga tiba di pintu operasi, Kana dicegat dokter Sammy untuk tidak ikut masuk kedalam.


“Maaf Nyonya…anda tidak boleh masuk.”Ujar dokter Sammy yang menangani Addan di dalam ruang operasi.


“Tapi dok…”Sebelum Kana menyelesaikan kalimatnya, dokter Sammy sudah keburu menutup pintu ruang operasi.


“Kana…”Ujar Sasha sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sebaiknya anda dirawat pula, sebab wajah anda kelihatan sangat pucat, dan anda pasti syok sekali. Jadi anda juga harus dirawat.”Ujar Soka yang berdiri disamping Sasha.


“Tapi…aku baik-baik saja Kak.”Ujar Kana.


“Baik apanya, wajahmu pucat sekali Kana. Lihat bajumu banyak terkena darahnya Bos. Ayo ikut aku. ”Ucap Sasha, dengan pasrah Kana menuruti ucapan Sasha.


Sesudah operasi, Addan dipindahkan keruang transisi. Addan yang terluka parah, hanya terbaring lemah dengan selang oksigen dan jarum infus yang terpasang ditubuhnya, ia hanya bisa menutup mata tanpa bisa mengelurkan satu patah katapun dari mulutnya.


Bagian-bagian tubuhnya seperti Wajah, lengan, kaki dan dadanya yang terluka akibat sayatan pisau harus diperban tebal, agar darahnya tidak mengalir lagi. Addan yang mengalami banyak luka sayatan yang cukup dalam, tentu kehilangan banyak darah.


Pihak rumah sakit juga sempat panik karena stok golongan darah yang sama dengan Addan hanya tersedia 3 kantong darah saja dirumah sakit itu, sedangkan yang dibutuhkan adalah 7 kantong darah. Golongan darah Addan sangat langka, hanya beberapa orang saja yang memiliki golongan darah tersebut, jadi tak mengapa begitu sulit mencari orang yang memiliki golongan darah yang sama seperti Addan yang memiliki golongan darah AB.


Hingga Lani dan Lano datang dan mengatakan bahwa mereka memiliki golongan darah yang sama dengan Addan. Mereka pun bersedia mendonorkan darahnya untuk sang adik, berkat donoran darah dari keduanya, Addan dapat melewati masa kritisnya.


Sebelumnya pihak rumah sakit sempat mengabarkan bahwa dilihat dari kondisinya sangat tidak memungkinkan kalau Addan akan bertahan, sebab tranfusi darah yang sedikit terlambat ditambah lagi peluru yang hampir mengenai jantungnya. Namun, keinginannya yang begitu besar untuk bertahan hidup dan berkat doa orang-orang yang menyayanginya, atas izin dari Allah SWT nyawanya dapat terselamatkan dan dinyatakan telah melewati masa kritis oleh dokter Sammy.


Kana yang dirawat dikamar pasien yang letaknya lumayan jauh dari ruang inap Addan, merasa sangat khawatir dan berkali-kali memohon kepada Raya dan Nena untuk membiarkannya melihat keadaan sang suami, tapi mereka berdua mencegahnya, karena kondisi Kana dan janinnya yang masih lemah, maka harus banyak istirahat.


......................


Ghani yang baru tiba dirumah sakit.


"Bang! Bagaimana keadaannya Bang Addan?"Tanya Ghani yang terlihat sangat mengkhawatirkan Addan.


"Syukurlah, Bos sudah melewati masa kritisnya."Jawab Soka.


"Syukurlah..."Ghani lega mendengarnya sambil mengusap dadanya pelan.


"Hoby, bagaimana kabarnya? Dikamar mana dia dirawat?"


"Alhamdulillah keadaannya baik-baik saja, sekarang dia sudah siuman. Dia dirawat diruang inap VVIP dilantai tiga."Jawab Ghani, dan Soka menanggapi ucapan Ghani hanya dengan mengangguk-anggukkan kepala.


"Siapa yang menemaninya disana Ghan?"

__ADS_1


"Seorang bocah yang berusia sekitar belasan tahunan lah, yang mengaku sebagai adeknya Bang Hoby."


"Oh begitu..."Soka manggut-manggut.


"Kalau Kak Kana bagaimana Bang? Apa dia dan janinnya baik-baik saja?"Tanya Ghani diselingi raut wajah cemas.


"Nyonya dan janinnya baik-baik saja, beliau dirawat di ruang inap president suite lantai tiga."


"Lega rasanya setelah mendengar kabar mereka berdua yang baik-baik saja. Sekarang temani aku ke ruang Bang Addan, ya Bang?"Ucap Ghani kemudian memangku bahu Soka.


"Hmmm"


...****************...


Keesokan harinya, Kana berkunjung keruang inap Addan dilantai 4 bersama Nena dan Raya. Sedangkan Sasha belum kembali kerumah sakit setelah ia pulang tadi malam, begitupun juga dengan Soka.


Sebelum Kana masuk, ia memperhatikan keadaan Addan dari luar.Tanpa sadar, Kana meneteskan air mata melihat kondisi Addan yang memprihatinkan.


Pipi, lengan, dada dan kakinya yang diperban serta wajahnya yang pucat. Sungguh, melihat kondisi pria itu, Kana tak tega untuk terus-terusan menaruh rasa benci kepadanya.


Entah kenapa melihat dirimu yang seperti ini, hatiku terasa sakit. Apa yang telah kau lakukan padaku hingga membuatku luluh seperti ini? batin Kana.


"Kak...! Kak Kana!"Panggil Raya sedikit berteriak, Kana pun tersadar dari lamunannya.


"Ah ya?"


"Ayo masuk...malah melamun."Kata Raya.


Raya membukakan pintu lalu memberikan sedikit celah untuk Kana masuk, ia ingin membiarkan Kana yang masuk terlebih dahulu.


"Aku.... Aku sudah begitu berusaha untuk menjauh dan membencimu semampu yang kubisa. Tapi kau selalu berusaha menarik dan menjeratku agar aku tak mampu jauh darimu. Aku memang tipe orang yang tidak bisa begitu lama membenci seseorang, tapi tentu saja rasa kecewaku padamu masih ada. Dan sekarang kamu malah semakin menjeratku dengan membuatku.... "Ucap Kana tertahan, tanpa ia kehendaki air matanya jatuh kembali, mengalir membasahi pipi.


"Merasa bersalah seperti ini."Sambungnya sambil meremas celana pasien yang saat itu ia kenakan.


Raya dan Nena memilih keluar, membiarkan Kana mengungkapkan isi hatinya meski Addan belum tentu mendengar apa yang Kana katakan kepadanya.


...----------------...


Dilain tempat...


Disebuah markas tempat berkumpulnya anak buah Soka.


"Kyaaaa....!!! Akhhhh...!!"Jane menjerit kesakitan disebuah ruang gelap yang merupakan tempat anak buahnya Soka menyiksa orang-orang yang mereka kehendaki.


Berjam-jam lamanya wanita itu disiksa tanpa jeda sama sekali, anak buah Soka terlihat amat menikmati penyiksaan yang mereka lakukan. Bahkan ada bagian tubuh Jane yang sudah mereka pisahkan, seperti kuku Jane yang telah dicabut paksa dan jemari tangannya yang sudah teriris semua.


"Huuuu...."Jane menangis menahan sakit dikedua tangannya, begitupun juga rasa nyeri diseluruh tubuhnya akibat dari cambukan.


"Sekali lagi aku bertanya padamu, siapa dalang dibalik semua ini?"Tanya Soka.


"Aku tidak akan memberitahumu! Cuih" Jane memberontak lalu meludahi wajah Soka.


Soka yang diludahi meradang, dengan kasar mengelap air liur yang tertempel dipipinya dengan sapu tangan. Kemudian secara kasar langsung menjambak rambut Jane hingga Jane memekik kesakitan.


"AHHHHH!!!"Pekik Jane yang melengking.

__ADS_1


"Sakit? Ternyata wanita iblis sepertimu juga merasakan sakit."


"Kau yang iblis!" Teriak Jane.


Soka tersenyum miring, wanita dihadapannya itu sepertinya tidak perduli lagi pada nyawanya, memohon saja tidak, agar nyawanya diampuni. Untuk apa introgasi terus berlanjut, tidak ada gunanya bertanya panjang lebar padanya karena itu sia-sia saja.


Soka menghempaskan tubuh Jane.


"Akhh....shhh!"Jane yang kesakitan karena wajahnya terbentur kelantai.


"Huffhh...Lanjutkan...terserah mau kalian apakan dia. Jangan lupa setelah kalian mainkan, lempar dia kekandang tigris."


"Baik Bos!"Saut mereka.


"Kau bunuh saja aku langsung brengsek!!" Teriak Jane.


"Membunuhmu? Itu hanya hukuman ringan untukmu. Kau terima saja apa yang akan mereka lakukan padamu, nanti ujung-ujungnya kau akan mati juga."Ucap Soka dengan santai, kemudian berjalan keluar dari ruangan gelap itu.


KYAAAA!!!!! (Teriakan Jane dari dalam ruang penyiksaan hingga sampai ketelinga Ghani dan Soka yang berada diluar markas)


"Bang, kau mengerikan sekali. Mendengar teriakan wanita itu membuatku merinding. Benaran kau ketua klan keji itu?"


"Hmmm"


"Wah...mulai sekarang aku harus sopan kepadamu bang. Salah berkata sedikit saja, nanti kau suruh anak buahmu menyiksaku sampai mati."


"Ya, berhati-hatilah kau kedepannya. Hahahaha"canda Soka dan terkekeh.


................


Dalam perjalanan menuju kerumah sakit tempat Addan dirawat


"Bang...sepertinya ada satu orang yang kita lupakan."Ujar Ghani yang tiba-tiba teringat akan sosok seseorang yang pada saat itu berdiri berhadapan dengan Bang Addan.


"Maksudmu?"


"Apa Abang ingat dengan sosok berjubah hitam dan bertopeng joker? Aku yakin Abang pasti melihatnya dari kejauhan."


Soka mencoba mengingat-ngingat sosok itu, hingga tak lama kemudian ia pun teringat akan sosok berjubah hitam dan bertopeng joker yang dikatakan oleh Ghani.


"Astaga! Kenapa kita sampai melupakan pria bertopeng itu?"Gerutu Soka kesal pada dirinya sendiri karena telah melupakan dalang dibalik semua kejadian itu.


"Bagaimana kalau kita balik ke markasmu Bang? Introgasi balik si Jane itu, tanyai dia dengan pertanyaan yang menjebak. Mungkin saja kita menemui sedikit informasi siapa sebenarnya pria bertopeng itu."


"Percuma!"Ujar Soka singkat dan tetap fokus mengendarai mobil dan menatap jalanan.


"Kenapa?"


"Sesampainya kita dimarkas, wanita itu pasti sudah mati."Ujar Soka.


"Ck!"Ghani berdecik kesal."Lalu apa yang kita lakukan selanjutnya? Kita tidak mungkin membiarkannya bebas berkeliaran diluar sana, Pasti kedepannya orang itu bertindak lagi."Ujarnya


"Kita tunggu Bos sadar, semoga saja dari Bos ada petunjuk. Jika tidak ada petunjuk, terpaksa kita harus meminta bantuan kepada Damian atau lebih tepatnya memanfaatkannya."


"Baik Bang!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2