You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Aku Cemburu!


__ADS_3

Happy Reading!😁


_


POV Kana


Aku mengikuti langkah Mas Addan sampai kekamar kami. Ketika masuk, atmosfer didalam ruangan itu terasa dingin, pengap, dan bikin bulu kudukku merinding, hampir saja diriku merasakan sesak nafas.


Melihat Mas Addan yang berdiri mematung membelakangiku, dengan ragu-ragu kudekati dia. Kuraih tangannya, untungnya dia tidak menolak lagi seperti tadi, saat kami didepan gedung perusahaannya.


Akupun mulai membuka suara, menjelaskan semua kejadian yang sebenarnya, agar tidak ada lagi kesalah pahaman diantara kami. “Mas
aku_”


Sayangnya belum sempatku jelaskan peristiswa tadi, dia sudah lebih dulu memotong ucapanku.


“Apa kamu sudah tidak menganggapku sebagai suamimu lagi, Kana?”ucapnya dingin sambil menoleh dan menatapku dengan kilatan mata nan tajam.


Dada kiriku terasa berdenyut mendengar ucapan sang suami. Ya Allah...sedih sekali rasanya hatiku...


Tentu saja aku menganggapmu suamiku Mas, walaupun hatiku masih ragu-ragu terhadapmu.


“Kok kamu ngomong gitu Mas...? Kamu itu tetap suamiku
”Ucapku sendu.


Kubalikkan tubuhnya hingga menghadap diriku. Namun, bukannya menatapku, ia malah mengalihkan tatapannya kearah lain.


"Mas...?"Panggilku.


“Kalau memang kamu menganggapku suamimu, lalu mengapa kamu diam saja ketika dipeluk oleh pria itu...”Lirihnya. Tatapannya berubah, yang tadinya tajam, dingin dan tak tersentuh, berubah menjadi tatapan sendu dan rasa terluka yang terpancar dari matanya.


Apa kamu tau, apa yang aku rasakan saat menyaksikan adegan pelukan kalian itu? Sakit
sakit sekali
”Sambungnya seraya meremas kemejanya tepat disisi dada kirinya. Buliran bening mengalir disudut matanya.


Menangis, Mas Addan menangis...?Aku tidak menyangka pria yang terkenal galak dan dingin ini menangis dihadapanku. Apa aku sebegitu berharga dimatanya?


Kalau begitu, sungguh sangat berdosa diriku telah melukai hatinya, meski diriku tak sengaja.


“Maaf Mas...jika kejadian tadi sangat melukai perasaanmu, tapi kamu harus percaya padaku. Tadi itu, aku hanya kaget dan syok ketika Brian memelukku. Lagipula... aku tidak membalas pelukannya.”Ucapku memberi penjelasan, dan tanpa sadar juga meneteskan air mata pada saat itu. Entahlah, sepertinya diriku terlalu terbawa suasana.


Kutatap dirinya, yang semakin maju kedepan. Melihat hal itu, sontak diriku mundur kebelakang hingga terpentok ke tembok disamping pintu. Tangan besarnya terangkat. Apa dia akan menamparku?, batinku ketakutan.


Kupicingkan mataku kuat-kuat, tubuhku bergetar, dan tanganku pun meremas dressku dengan kuat. kuberdoa dalam hati, semoga diriku tidak terpental jauh akibat tamparan pria kekar dihadapanku ini. Namun nyatanya....


Set...


Tangannya mengelus lembut pipiku, menghapus air mataku. Dia menatapku dengan lembut dan tersenyum tipis. Tingkahnya itu membuatku lemas tak berdaya, jantungku pun berdetak hebat karenanya. Ya Allah...apa yang harus kulakukan...dia hampir saja menawan hatiku?, jerit batinku.


"...Berhentilah menangis, melihatmu menangis semakin membuat hati Mas sakit..."ujarnya yang semakin menggetarkan hatiku.


Aku tak kuat lagi menatap wajah, kupalingkan wajahku. Kupastikan wajahku saat ini sudah bewarna merah, semerah tomat.


“Kali ini Mas maafkan...Sekali lagi Mas ngelihat kamu bersama mantan brengsekmu itu, kamu tidak akan lagi Mas biarkan keluar rumah lagi.”Ucapnya penuh penekanan.


Segitunyakah rasa takutnya akan kehilangan diriku? Ya sudahlah...ku iyakan saja, toh besoknya pasti tidak bertemu lagi dengan Brian.

__ADS_1


"Iya Mas..."


Akupun tidak membantah ucapannya, karena tak ingin memperkeruh suasana. Setelah itu, kuberanjak pergi menuju kamar mandi, hendak menyiapkan air separuh panas untuknya mandi.


**


POV Addan


Melihat kebungkamannya, Aku beriniasiatif mengikuti langkahnya menuju kamar mandi. Setibanya dikamar mandi, kulihat dirinya sedang memutar kran, mengisi air kedalam bathtub. Mungkin untuknya mandi, pikirku.


Tak ingin ia semakin marah padaku, dan berujung aksinya yang mendiamiku, seperti hari yang sudah-sudah. Tanpa aba-aba kupeluk dirinya dari belakang, kurasakan dirinya terlonjak kaget, tetapi beruntung ia tidak memberontak dan memakiku.


"Maaf atas sikap Mas tadi. Mas takut kamu kembali kepadanya."


Masa bodoh jika Kana menganggapku lelaki cengeng, aku tidak peduli lagi.


Kana menoleh, lalu tersenyum padaku. Senyumannya itu berhasil membuat segala gundah gulanaku, hilang dengan sekejap.


"Aku yang seharusnya minta maaf Mas...seharusnya aku bersikap tegas terhadap Brian tadi..."


"...Hmm...Aku cemburu! Aku tidak suka kamu bersentuhan dengan pria lain, kamu milikku, istriku..."Ucapku mengeluarkan unek-unek yang sedari tadi kutahan.


"Iya...iya Mas...Aku milikmu..."Ucapnya mengalah, yang membuat hatiku menghangat karenanya.


Beberapa menit diriku memeluknya, akhirnya ia memintaku untuk melepaskannya.


"Mas...lepaskan... aku lagi ngisi air untukmu mandi."Ucapnya agak ketus. Tangannya menepuk-nepuk lembut tanganku yang melingkar dipinggangnya.


"Shhh...sakit dek..."keluhku padanya seraya mengelus lenganku, tepatnya bekas cubitannya tadi.


"Rasain!...Lihat tuh, air bathtubnya sampai melimpah karena kamu terus memelukku, Mas. Sudah dibilangin, lepaskan...."Omelnya.


Bertahun-tahun aku mengenalnya, aku tidak tau ia juga memiliki sifat cerewet.


"Kok malah senyum, Mas. Apanya yang lucu?"


"Tidak ada..."kilahku menahan senyum.


Kutatap dirinya dalam-dalam.


"Katakan, apa kamu mencintaiku?"Tanyaku yang kesekian kalinya.


Kana terdiam, iapun membalas tatapanku yang tak kalah dalamnya hingga menusuk relung hatiku.


"Mungkin..."balasnya.


Hening...


Berharap ini bukan mimpi. Kukedipkan mataku berkali-kali, dan kucubit pipiku dan rasa sakitlah yang kurasakan. Yeah....Ini bukan mimpi..., pekik batinku girang.


Tanpa pikir panjang lagi, kutarik dia kedalam pelukanku. Sangat bahagia kurasakan, rasa legapun membanjiri seluruh aliran darahku. Penantian panjangku akhirnya terbalaskan, meskipun belum ada ungkapan cinta yang terucap dari bibirnya. Tapi, kata 'mungkin' itu telah membuatku bahagia tak terhingga.

__ADS_1


...****************...


Malam harinya, pasangan suami istri yang sedang dimabuk asmara itu tiduran sambil berpelukan. Terpancar kebahagiaan dari pelupuk mata keduanya.


"Aku mencintaimu,"bisik Addan tepat ditelinga sang istri, hingga bumil itu meremang dan tersenyum malu-malu.


"Aku tau,"balasnya.


Addan mengernyitkan alisnya, ia tidak puas akan balasan sang istri. "Hanya itu?"


"Ya, lalu balasan yang seperti apakah yang Mas inginkan?"Kana pura-pura tidak mengerti maksud keinginan sang suami. Dalam hati ia tertawa geli melihat raut muka suaminya berubah lesu.


"Ya...seharusnya kamu juga bilang 'aku juga mencintaimu'..."ujarnya dengan bibir yang cemberut.


Bukannya kasihan, Kana malah menertawakan sang suami yang tampak konyol dimatanya. "Hihihihi...kamu lucu banget sih Mas. Ngak cocok tau...kamu memasangkan mimik wajah begitu."Ejek Kana.


Lagi-lagi Addan terpana melihat senyuman sang istri, Ia pun tersenyum simpul, biarlah Kana menertawakannya, asalkan istrinya itu bahagia.


"Apa kamu tidak bosan atau lelah Mas, mengejarku?"Kana tiba-tiba menanyakan pertanyaan yang tak terduga, membuatnya langsung terdiam.


....


"Aku tidak akan lelah mengejar cintamu, jikalau aku lelah, mungkin saat itu diriku sudah tidak ada lagi di dunia ini."Ucap Addan serius, bukan gombalan tapi itu murni dari lubuk hatinya yang terdalam.


Kana tersenyum malu-malu.


"Yaudah...tidur gih...besok lagi kita lanjutkan obrolannya..."Ucapnya sambil mengelus dagu sang suami yang menyender dibahunya, "Debaynya butuh istirahat..."lanjutnya.


"Iya sayang....Selamat tidur istriku...dan jagoan Papa..."balas Addan lalu mengecup kening Kana sedangkan tangannya mengelus perut buncit sang istri.


...****************...


Keesokan harinya...


Setelah sarapan, Addan selonjoran disofa sambil memainkan handphone. Karena sekarang hari weekend, Addan tidak berangkat kekantor. Sedangkan Kana berjibaku dengan setumpuk pakaian sang suami untuk disetrika. Addan tidak suka pakaiannya disentuh oleh orang lain kecuali Kana, dulu yang menyiapkan pakaiannya adalah Bi Murni, tapi semenjak diusirnya Bi Murni, pekerjaan menyetrika baju miliknya berpindah ketangan sang istri.


Sebentar lagi, pekerjaan Kana akan segera beralih ke dapur untuk membuat kue pertamanya untuk Addan.


"Dek...kamu ada kegiatan ngak hari ini?"


Kana sejenak menghentikan kegiatan menyetrikanya, kemudian melirik Addan. "Ngak ada...memangnya kenapa?"tanyanya.


"Mas mau ngajak kamu keapartemen Bang Lano. Mau ngak?"


"Jam berapa, Mas?" tanyanya lagi sambil menyelesaikan dan membereskan alat setrika.


"Setelah shalat dzuhur..."


Kana mengiyakan ajakan sang suami. Kebetulan dirinya pengen membuat kue, jadi kekalian saja ia tambah satu loyang kue lagi untuk ia bawa keapartemen Lano dan Nena.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2