You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Godaan


__ADS_3

BAGI PEMBACA YANG UMURNYA MASIH DIBAWAH 17 TAHUN. DI SKIP SAJA EPISODENYA, KARENA TERDAPAT SEDIKIT ADEGAN DEWASA! 🙏😁


...----------------...


Sesampaianya dihotel, pria berkemeja biru muda itu langsung berjalan menghampiri meja resepsionis sambil merangkul bahu Kana. Pada saat itu, Kana tidak sadar kalau dia sudah diboyong oleh pria yang dijumpainya tadi, ke sebuah hotel. Entah obat apa yang sudah dimasukkan oleh pelayan restoran tadi kedalam tehnya, hingga ia lemah tak bertenaga seperti itu.


Resepsionis menatap keduanya secara bergantian, pandangannya lebih lama ke arah Kana yang terlihat lesu. Resepsionis itu hendak bertanya, namun diurungkannya karena ia melihat perut Kana yang buncit. Jadi ia mengira kalau mereka berdua adalah pasangan suami istri yang ingin bermalam di hotel.


"Mau pesan berapa kamar Tuan?"tanyanya ramah disertai senyuman.


"Satu saja"jawab pria itu singkat.


"Satu kamar dengan single bed, Tuan?"tanya resepsionis itu lagi.


"Ya. Kamar yang VIP, "balasnya.


"Baik Tuan, ini kunci kamarnya. Nomor 377, password wifinya df****90."Resepsionis wanita itu memberikan sebuah kartu, sebagai kunci membuka kamar hotel.


Kana sayup-sayup mendengar obrolan keduanya. Ketika mendengar kata 'kamar' ia berusaha tersadar dan menggerakkan tangannya untuk menjauhkan diri dari pria itu. Namun usahanya sia-sia saja, ternyata ia tidak mampu mendorong pria itu menjauh, mau mengadu ke resepsionis, tapi mulutnya terasa kaku sehingga sulit untuk berkata-kata.


"Terimakasih,"Pria itu menerima kartu yang disodorkan si resepsionis, kemudian berlalu sambil merangkul Kana yang lemah dan tak berdaya di sampingnya.


Setibanya didalam kamar hotel, Pria berkemaja biru itu membaringkan Kana diatas kasur. Kemudian ia mengeluarkan sebuah kamera kecil dari saku celananya dan menaruhnya di atas meja, tak lupa pula ia menghidupkan kamera itu supaya aksi bejatnya terekam kamera. Kana yang terbaring diatas kasur, berusaha bangkit dan menyadarkan diri. Ia harus bisa bangkit dan melarikan diri.


Ya Allah...hamba mohon...selamatkan kami...,batin Kana, air matanya mengalir membasahi pipi.


Setelah memposisikan kameranya dengan tepat, pria itu berjalan kearah Kana dan naik keatas ranjang. Ia melihat Kana yang sudah bisa bergerak, walaupun sedikit.


"Sepertinya obat pelumpuh itu, sudah berhenti bekerja. Sekarang saatnya kau minum obat pembangkit gairah dariku. Malam ini kita akan bersenang-senang sayang..."ujarnya dan tersenyum mesum.


Pria itu merangkak maju mendekati Kana. Melihat pergerakan pria itu, Kana memundurkan tubuhnya, hingga dirinya tersudut dan tersandar pada kepala ranjang.


"Percuma saja kalau kau terus berusaha melawan. Kau tidak akan bisa keluar dari kamar ini, sebelum kita melakukan ritual memadu kasih,"imbuhnya.


Pria itu mengeluarkan sebuah obat tablet dari saku celananya, dan dengan kasar pria itu membuka mulut Kana. Lalu memasukkan obat itu kedalam mulutnya, dan memaksanya menelan obat itu dengan cara membekap mulutnya."Kau milikku dan aku milikmu malam ini...Hahahaha..."


"Ummm...."Kana memberontak, tangannya memukul-mukul tangan si pria yang membekap mulutnya.


"Diam!"bentaknya.


Pria itu melirik jam di tangannya."Ck! lama banget reaksi obatnya,"ujarnya kesal. Ia menantikan reaksi obat yang ditelan oleh Kana.


Beberapa menit kemudian, obat perangsang itu sudah bereaksi. Tubuh Kana terasa panas dan dibanjiri keringat, nafasnya tersenggal-senggal.


"Uh! Panas...panas....tolong..."Disela-sela ucapannya, Kana mendesah. Tangannya terulur menggapai si pria, "Apa...yang telah kau berikan kepadaku?"sambungnya.


Mendengar suara ******* Kana, pria itu menjadi terangsang. Ia yang tidak sabar menggagahi wanita bunting itu, dengan tergesa-gesa menanggalkan pakaiannya satu persatu, hingga menyisakan hanya CD-nya saja.

__ADS_1


Air liurnya menetes disudut bibirnya ketika menyingkap rok Kana ke atas. Paha Kana yang putih dan mulus, CD-nya pun terpampang jelas, sehingga menambah keinginan pria itu untuk segera menyetubuhinya.


"Benar-benar beruntung banget gue dapat cewek secakep ini, perutnya yang bunting membuatnya semakin terlihat seksi."ujar pria itu seraya memandang lapar tubuh Kana dari atas hingga bawah.


"Menjauh dariku!"Teriaknya, dengan kesadarannya yang masih tersisa, Kana berusaha memberontak. Ia memukul-mukul dada pria itu.


Karena kesal, pria itu menampar pipi Kana dengan cukup keras. Plak!


"Diam kau wanita! Jangan merusak kesenanganku. Atau anakmu akan kulukai, "bentaknya.


Mendengar ancaman pria itu, Kana berhenti memberontak, yang bisa ia lakukan hanya menangis dan berdoa didalam hati, ia berharap akan ada seseorang menolongnya.


Ku mohon...siapapun tolong aku...Maafkan aku Mas...Aku nyesel sudah membohongi kamu, Mas, batin Kana dan menangis terisak-isak.


"Nah...kan cantik kalau diam. Aku suka wanita patuh seperti ini."ujar si pria, ia memajukan wajahnya dan hendak mencium bibir Kana. Namun, belum sempat bibir mereka menyatu, pintu kamar hotel didobrak kuat oleh seseorang dari luar, hingga engsel pintu kamar hotel rusak dibuatnya.


Brak!!


Pintu kamar terbuka lebar seketika, tampak seorang pria tampan berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang amat menakutkan. Pria itu adalah Addandra Nicolas.


Addan berjalan cepat kearah ranjang, lalu menendang pria yang mengukung istrinya di atas ranjang itu, dengan tendangan yang sangat kuat, hingga pria itu terpental jatuh kelantai. Addan menghampiri pria itu dengan dipenuhi amarah yang membara.


Buk! Buk!


Addan melayangkan beberapa pukulan yang cukup keras kewajah pria itu, kemudian menendang perutnya hingga pria itu meringkuk kesakitan dilantai. Seraya terbatuk-batuk, darah dari mulut pria itu menyembur keluar dan menetes di sudut bibirnya.


Mata pria itu terbuka lebar, setelah mengetahui dengan siapa saat ini dia berhadapan.


Addan meraih kerah baju pria itu secara kasar."Siapa yang membayarmu untuk melakukan hal kotor kepada istriku?...Jawab!"bentak Addan dengan suara lantang dan matanya melotot tajam, tangannya semakin menarik kuat kerah baju pria itu keatas.


"..."


Bukannya menjawab, pria itu malah tertawa. Dari sudut matanya mengalir deras air mata. Tampaknya pria itu begitu putus asa, ia tidak menyangka akan mati ditangan pria berkuasa seperti Addan. Rasa sesal menggerogoti relung hatinya yang terdalam, sehahusnya ia tidak percaya akan perkataan wanita berambut emas itu. Dia pikir wanita yang akan dinodainya adalah istri dari pria biasa. Akan tetapi, kenyataannya adalah istri dari pria yang sangat berkuasa di Asia.


Uang yang sudah dia terima, tidak akan ada artinya lagi kalau dia sudah mati. Kini dia merasa nyawanya sudah terangkat separuh badan, pria kaya dihadapannya itu akan segera menghabisi nyawanya tanpa ampun. Jadi percuma saja dia memohon untuk dikasihani.


"Siapa, yang memberimu perintah untuk menodai istriku?!!"Teriak Addan menggema dalam kamar hotel. Pria itu tetap bungkam, dan dengan tergesa-gesa merogoh sesuatu dalam celananya. Addan yang melihat pergerakannya langsung menginjak tangan pria itu dengan kuat.


"Akh...!!"teriaknya kesakitan, lalu menengadahkan kepalanya, menatap si pelaku yang menginjak tangannya,"Aa...ampun...Tuan..."ujarnya mengiba, air mata mengalir deras.


Addan membungkukkan badannya, ia merogoh saku pria itu dan mendapati sebungkus plastik kecil yang berisi bubuk bewarna putih. Dan bisa dipastikan bahwa itu adalah racun.


"Kau tidak diizinkan mati dengan begitu mudahnya. Kau sudah berani menyentuh istriku, maka terimalah akibatnya."Ucapnya dingin dan menatap pria itu sangat tajam dan penuh kebencian.


Sebelum beranjak menghampiri istrinya. Sekali lagi, Addan melayangkan sebuah bogeman keras kewajah pria itu, hingga pria itu terkapar tak sadarkan diri dilantai.


Setelah membereskan pria yang hendak melecehkan istrinya, Addan menghampiri istrinya yang terbaring lemah diranjang."Dek...?"panggilnya sambil menepuk-nepuk pelan pipi Kana.

__ADS_1


Merasa kenal dengan suara serak itu, Kana membuka matanya perlahan-lahan.Tubuhnya bergetar, ketika melihat sosok suaminya didepan mata."Mas...panas Mas, tubuhku terasa panas...sakit Mas,"racaunya sambil meneteskan air mata, tangannya meremas tangan Addan yang bertengger di pipinya.


Melihat keadaan istrinya yang seperti itu, tangannya terkepal kuat. Rahangnya mengeras, ingin rasanya ia membunuh pria yang sudah terkapar tak berdaya diatas lantai itu.


"Mas...tolong aku...panas..."keluh Kana dan berusaha membuka bajunya.


Addan panik ketika Kana sudah mengangkat separuh bajunya keatas, cepat-cepat ia menghentikan aksi istrinya itu. "Dek, turunkan bajumu,"perintahnya, lalu menahan kedua tangan Kana.


~


Di dalam mobil, Kana sudah bertingkah diluar kendali. Ia mengerayangi tubuh Addan yang sedang menyetir, Addan beberapa kali menahan tangan Kana agar berhenti menggodanya. Alhasil, Kana makin bertingkah, ia dengan sengaja naik ke atas pangkuan Addan lalu meraba-raba dada bidangnya dengan sensual.


"Pria tampan...tolong aku..."ujarnya seraya mendesah tepat ditelinga Addan.


Addan menggigit bibirnya, menahan godaan sang istri. "Kana, ingat kamu lagi hamil sekarang! Kembali ke tempat dudukmu."Addan mendorong pelan tubuh Kana, menjauh darinya.


"Ngak mau! Aku mau kamu..."tolaknya, dan makin gencar mengelus dada suaminya. Bibirnya mengecup leher Addan dan meninggalkan bekas kemerahan disana.


"Akh!"desah Addan, ketika Kana menekankan pinggulnya pada kejantanannya.


"Pria tampan...cium akuh...tolong sentuh aku..."ucap Kana dengan nada sensual, kemudian mencium bibir Addan tanpa permisi.


Addan yang dicium, seketika matanya terbuka lebar. Supaya tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Addan menepikan mobilnya di pinggir jalan yang sepi.


Setelah menepikan mobilnya, Addan yang sudah tidak tahan digoda terus menerus. Membalas ciuman Kana, lalu melahap bibirnya dengan rakus. Tangan Addan pun tak tinggal diam, bergerilya kesana-kemari mencari kenyamanan.


Beberapa menit kemudian, Addan menyudahi sesi ciuman panas mereka. Ia tidak boleh melakukan hal lebih kepada Kana, sebab istrinya itu sedang mengandung.


"Kok berhenti? Pria tampan... lanjut...aku kurang puas..."bujuknya dan semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Addan.


Oh, Sial! Godaan iman yang sangat kuat, batin Addan sambil menggigit bibirnya kuat.


Beberapa menit kemudian...


"Akh...pria tampan...apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku..."Kana memberontak dan berusaha melepaskan ikat pinggang Addan yang melingkar dikedua pergelangan tangannya.


"Diamlah sayang, sebentar lagi kita akan sampai dirumah."ujar Addan


......................


Tin! Tin!


Bunyi klakson mobil yang nyaring, mengalihkan tatapan Feni yang masih terjaga, ke arah luar jendela. Senyuman yang lebar tercetak jelas dibibirnya yang berliptiks tebal, ketika mendapati mobil sport Addan sudah terparkir dihalaman.


"Calon suami pulang...Akan kusambut dia dengan mesra."Feni sengaja membuka dua buah kancing bajunya agar belahan dadanya terekspost, ia pun sengaja berjalan berlenggak-lenggok menuju pintu rumah.


Setelah pintu terbuka, betapa kagetnya dia ketika melihat Kana yang berada dipangkuan Addan. Tanpa menghiraukan Feni, Addan melewatinya begitu saja.

__ADS_1


Penampilannya tidak berantakan, apa pria suruhan itu tidak berhasil menidurinya?, batinnya kesal sambil menggigit-gigit kuku jarinya.


Bersambung...


__ADS_2