
Kesokan harinya Kana sedang termenung di balkon kamar yang ia tempati di kediaman Nicolas, ia merenungkan tentang pernikahannya yang akan diadakan besok.
Kana takut jika pamannya tau, kalau ia menikah mendadak karena hamil diluar nikah, meskipun perutnya belum besar, ia takut pamanya membenci dirinya.
Nanti siang paman dan bibinya datang, ia tak tau bagaimana cara menghadapi pamanya.Tiba-tiba Kana terkejut karena mendengar suara ketukan pintu kamarnya.
Tok, tok tok
“Kana! kamu udah bangun? Kalau udah, ayo keluar dan ikut sarapan bersama.” Teriak Lani memanggil Kana.
“Iya… tunggu sebentar” Teriak Kana dari dalam kamar.
“Cepatan ya?” saut Lani lagi.
”Hmmm iya” teriak Kana lagi dari kamar sambil berlari kecil menuju kamar mandi.
Selesai mandi Kana segera turun kebawah untuk sarapan bersama, meskipun ragu untuk turun karena disana ia akan bertemu Addan. Tapi apalah daya, bukan hari ini saja ia akan bertemu Addan, tapi seterusnya karena Addan akan menjadi suaminya.
Setibanya di meja makan Kana hanya berdiri saja, sehingga ditegur Lani.
“Kana, ayo duduk! malah bengong, duduk disamping Addan ya? Gak usah canggung, besok ia akan jadi suami kamu kok hehehe” ucap Lani cengegesan.
”Tapi…….” Ucap Kana.
“Udah….. duduk aja kak gak usah canggung.” Ucap Nena pada Kana.
Dan dengan terpaksa Kana duduk bersebelahan dengan Addan, ia merasa cemas dan sedikit takut. Tapi Kana berusaha mengontrol diri, mengganggap kalau Addan tidak ada di sampingnya.
Setelah sarapan bersama selesai, Kana beranjak pergi tapi tiba-tiba ada sebuah tangan menahannya.
”Kamu mau kemana?” Tanya Addan padanya sambil mengeggam erat lengannya.
”Aku.. aku mau ke kamar..” jawab Kana sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Addan pada pergelangan tanganya, tapi Addan tak melepaskan genggaman tanganya tapi malah menarik Kana hingga duduk di pangkuannya.
“Ehhhh, ngapain kamu. Lepasin!” ucap Kana kalang kabut menahan malu di pangkuan Addan, karena dilihat semua orang yang ada di meja makan.
Kana yang terduduk diatas paha addan berusaha melepaskan diri, addan bukan melepaskan tapi malah mempererat pelukannya yang membuat semua yang ada di meja makan melongo.
Tangan kekar addan mengusap perut Kana dengan lembut dan sayang.
”Sayangnya Papa. Apa kabar kamu disana, kamu sehat?” Ucap Addan menatap perut Kana sambil mengelusnya, Kana tak meronta lagi karena ia merasa sangat nyaman atas perlakuan Addan tersebut.
Entah setan apa yang hinggap dipikiran Kana, ia malah menjawab pertanyaan Addan yang menanyakan kedaan bayi yang dikandungnya.
”Sehat Papa. Ehhh...” Ucap Kana yang tak sadar langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
'Betapa bodohnya kamu Kana...pasti pipiku sudah memerah.' Teriak batin Kana.
“Anak papa sehat ya sayang?” Ucap Addan bahagia sambil menatap mata Kana penuh cinta.
Kana yang ditatap malah memalingkan wajah agar Addan tak melihat pipinya yg merah merona.
“Udah deh….. ngak usah sayang-sayangan dulu, disini masih ada kita-kita, nantinya aja kalau udah nikah.” Ucap Raya dan disambut tawa oleh semuanya kecuali Kana yang mukanya makin memerah padam.
Kana yang tak tahan lagi menahan malunya langsung melepaskan diri dari pangkuan Addan yang sedang asik bercanda, lalu langsung lari ke kamarnya.
“Sayang kamu kemana? Jangan lari-lari” Teriak Addan khawatir karena Kana yang berlari menjauh dari pandangannya.
“Hahahahaha…… itu mangkanya jangan mesum didepan banyak orang ngak tau malu. Ngambek kan Kananya?” seru Lani tertawa.
Addan yang mendengar ledekan Lani langsung memberikan tatapan elang yang siap menyantap mangsanya, Lani yang ditatap langsung ciut.
”Ngak dan… kakak bercanda kok” ucap Lani takut.
Di dalam kamar.
__ADS_1
”Apa yang terjadi padaku? kenapa aku merasa nyaman ketika dia mengusap lembut perutku.” Gumam Kana merasa heran.
“Mungkin saja karena ia merupakan ayah dari bayi ini. Ya Allah apa hamba sanggup menjalani pernikahan tanpa cinta ini? Hamba hanya menginginkan pernikahan sekali seumur hidup. Tapi apalah daya hamba tengah mengandung benih pria itu.” Ucap Kana sendu sambil mengusap pelan perutnya.
¤¤¤
Beberapa menit kemudian...
Paman dan bibi Kana tiba dikediaman Nicolas dan disambut baik disana. Kana yang tengah termenung tak tahu jika pamannya Danu dan bibi Lili sudah tiba.
To,tok, tok
”Kak… Ayah dan ibu udah tiba ayo turun kebawah. Mereka menanyai kakak..” Teriak Raya menghimbau Kana.
Mendengar teriakan Raya, Kana tersadar dari lamunannya.
“Iya…. Aku segera menyusul” Saut Kana dan langsung berdiri dari atas kasur.
Di ruang tamu.
”Paman…., bibi. Kalian udah tiba? Apa perjalanannya lancar paman.” Seru Kana bahagia dan langsung memeluk pamannya.
”Alhamdulillah lancar, paman kemarin pulang dari bisnis paman, dan baru sekarang menghampiri kamu karena Raya mengatakan bahwa kamu besok akan menikah. Apa benar?” Ucap Paman Danu sambil membalas pelukan keponakannya itu.
”Iiya paman, maaf ngak ngasih tau paman duluan.” Saut Kana dengan rasa bersalah.
”Ngak papa nak, lagipula kamu kan nikah dadakan dan ditambah lagi kamu lagi hamil. Jadi harus buru-buru menikah sebelum perut kamu membesar.” Ucap Paman Danu tenang.
Sontak Kana terkejut mendengar tuturan pamannya.
”Paman…, udah tau semuanya?” Tanya Kana dengan kepala tertunduk.
Paman Danu hanya menganggukkan kepalanya, sedangkan Bibi Lili hanya memutar bola matanya malas dan tersenyum sinis ke arah Kana.
” Iya. Paman taunya dari Raya lewat telepon.” Jawab Paman Danu.
”Ya... awalnya paman kecewa dan marah mendengar itu semua. Tapi setelah dijelaskan Raya, paman udah ngak marah lagi. Nasi udah jadi bubur apa mau dikata..”Ucap Paman Danu.
”Paman ingin tau. Yang mana pria yang telah menghamaili kamu?” Tanya Paman Danu pada Kana.
”Saya, yang telah menghamili keponakan anda” Ucap Addan
“Tuannn Addan? Jadi anda yang akan menikahi keponakan saya?” Tanya Paman Danu lalu diangguki Addan
“Pamann…. Kenal Addan?” Tanya Kana.
“Iya… beliau adalah bos serta pemilik perusahaan tempat paman bekerja.” Ucap Paman Danu menjelaskan.
”Bagaimana paman? Apakah anda mengizinkan saya untuk menikahi Kana?” Tanya Addan dengan serius dan penuh wibawa seperti bicara pada karyawan saja.
”Tentu saja tuan, tapi saya mohon tolong jaga Kana dan jangan sakiti dia. Dia adalah keponakan yang paling saya sayangi.” Mohon Paman Danu.
”Tenang saja paman, tanpa anda minta saya pasti akan melakukannya, karena saya sangat mencintai Kana. Mulai sekarang paman tak usah panggil saya Tuan lagi, panggil saja Addan.” Ucap addan.
”Baiklah nak Addan.” Ucap Paman Danu dan tersenyum ramah kepada Addan.
Bibi lili mendekati Kana dan menariknya ke ujung ruangan.
”Ayo ikut bibi sebentar. Penting!”Ucap Bibi Lili sambil menarik tangan Kana.
"Iiiya Bi...” Saut Kana.
Di ujung ruangan.
”Dasar wanita yang ngak benar, kamu udah buat keluarga malu. Pakai hamil lagi, mau ditaroh mana muka bibi dan paman mu ini. Di luar paman kamu memang baik-baik saja tapi kenyataannya pamanmu itu kecewa dan marah sama kamu. Dasar tak tahu malu, pastikan kamu yang menggoda bos pamanmu itu, dasar jalang. Kalau tidak, mana mau orang terkaya se-Asia sama kamu yang kayak gini.” Sinis bibi Lili pada Kana sambil mendorong-dorong pelan bahu Kana.
__ADS_1
Mendengar ucapan Bibi Lili, Kana merasa sangat sedih sehingga ia tanpa sengaja meneteskan air matanya.
“Itu tidak seperti yang bibi fikirkan. Bibi salah paham.” Ucap Kana
“Salah paham? Dasar jalang yang tak mau ngaku! Padahal aku berniat menjodohkan Raya dengannya, tapi malah kau yang akan menikah dengan Tuan Addan”Ucap Bibi Lili marah lalu mendorong Kana dengan kuat, sehingga Kana tak bisa menyeimbangi, ia terhuyung huyung dan hampir terjatuh. Untung ada sebuah tangan yang menahannya.
”Kau! Berani sekali mendorong istriku? Tak akan Ku ampuni kau. Hampir saja kau mencelakai anakku dan istriku.”Teriak Addan marah sehingga mengundang perhatian semua orang yang ada di ruang tamu yang luas itu.
“Itu….. nak addan bibi ngak sengaja. Maafin bibi ya Kana?” Ucap bibi lili memegang tangan Kana sambil menatap Kana dengan penuh ancaman.
”Iya ngak papa bibi. Addan, bibi ngak sengaja kok dorong aku..” Ucap Kana berbohong.
”Yasudah, lebih baik sekarang kamu duduk di sofa dekat Lani.” Ucap Addan lembut dan dituruti oleh Kana.
Kana pun berjalan ke tempat dimana Lani berada.
'Kenapa kamu berbohong padaku, asal kamu tahu saja. Aku melihat semua kejadian itu' Ucap Addan membatin sambil menatap Kana yang sudah berjalan menjauh darinya.
”Jika bukan karena Kana, kau pasti sudah ku buat menderita. Kalau terulang kembali, kau akan tahu akibatnya.”Ancamnya dan menatap Bibi Lili dengan dingin.
”Iiya… nak Addan. Itu ngak akan terjadi lagi.” Ucap Bibi lili gemetar.
Addan pun pergi menyusul Kana yang duduk bersama saudaranya disana.
Melihat kejadian itu, Paman Danu menghampiri istrinya.
“Ada apa Li? Kenapa Addan terlihat marah padamu. Kau apakan Kana?”Ucap Paman Danu marah pada istrinya.
”Aku ngak sengaja kok mas dorong Kana.” Kata Bibi Lili santai.
“Ngak sengaja? Aku tau kau berbuat begitu memang niatmu, padahal kau tau Kana lagi hamil. Kan sudah ku bilang jika kau melakukan hal yang macam-macam pada keponakanku aku akan menceraikanmu.” Sinis Paman Danu.
“Bagaimana jika raya tau bahwa kau telah mengancamku dengan menceraikanku. Dia pasti akan marah padamu.” Ucap Bibi Lili yang tak mau kalah.
”Apa kau sadar dengan perkataanmu itu? Kau itu hanya ibu pengganti untuk Raya. Jika bukan karena kau Ibunya Raya tidak akan meninggal, kalau aku katakan pada Raya, kau bukanlah siapa-siapa baginya lagi, apa kau mengerti?Jadi menurutlah padaku, jika kau ingin terus bersamaku..”Geram Paman Danu kemudian pergi meninggalkan Bibi Lili yang diam membeku.
“Dasar brengsek…….beraninya dia mengamcamku. Lihat saja nanti akan ku buat kau bertekuk lutut padaku.” Geram Bibi Lili sambil mengepalkan tangannya.
Tak lama berbincang Paman dan Bibi Kana pun pamit.
“Kalau begitu kami pamit dulu, besok paman dan bibi akan datang ke acara pernikahan kalian.” Ucap Paman Danu.
“Iya paman. Hati-hati dijalan!” Ucap Kana lalu menyalimi tangan Paman dan bibinya secara bergantian, dan juga diikuti oleh Addan, tapi Addan tak menyalimi tangan bibi Lili.
“Raya kamu tetap disini atau pulang?” Tanya paman Danu.
“Raya disini aja yah. Ayah sama ibu pulang duluan saja.” Jawab Raya.
“Baiklah, ayah balik dulu. Jangan merepotkan kakak-kakakmu dan yang lainnya disini ya?” Tegas paman Danu.
“Iya ayahku sayang, tenang saja. Aku disini Cuman numpang makan dan tidur doang kok, ngak akan macam- macam. Palingan Cuma minta dibuatin makanan kesukaanku sama Kak Kana.”Canda Raya yang membuat semua orang geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah Raya, kecuali Addan ia hanya menatap datar tingkah keduanya
“Itu sama saja kamu merepotkan mereka bocil...” Ucap Paman danu sambil mengacak- acak rambut Raya, karena merasa gemas.
"Ayah....rambutku berantakan nih!" Ucap Raya manja, sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
Tak lama kemudian Paman Danu dan bibi Lili pun pergi dari kediaman Nicolas.
Dan setelah kepergian Paman dan Bibi Kana, Addan pun juga pergi, ia pergi ke kantor untuk membagikan sesuatu kepada karyawannya.
Bersambung....
Author~ Maaf ya readers author lambat updatenya, karena author lagi sibuk akhir-akhir ini. IsyaAllah aku akan update hari senin lagi ya!
Semoga kalian sehat selalu, dan makin senang membaca karya autor ini. Pantengi terus karya author ya? Love you All🥰
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan favoritnya. gratis kok ngak bayar Hehehe🤭