
*Setiap Kata-kata itu dilontarkan, membuat hati ini sakit setelah kudengarkan, tapi apalah dayaku yang hanya bisa menerima kenyataan bahwa aku memang tidak pantas bersanding dengan**mu~ Kana*.
...----------------...
"Sam, bagaimana keadaan cucuku saat ini?"Tanya Baldovino Nicolas, Kakek dari Addan, Lani, dan Lano. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang sedikit keriput itu, bahwa ia saat ini sangat mengkhawatirkan keadaan cucunya.
"Alhamdulillah...Kondisi Tuan muda saat ini sudah stabil, Tuan."
"Syukurlah...Maafkan Kakek, karena Kakek begitu terlambat mengunjungimu. Kakekmu ini harus dirawat pula, lihat Kakekmu ini sudah seperti tengkorak berjalan, tulang dan kulitnya saja yang terlihat."Ujar Kakek Vino yang merasa bersalah sambil mengusap-ngusap pelan kepala Addan.
"Papa tidak ikut pulang ke Indonesia bersama Anda, Tuan?"Tanya Dokter Sammy yang sadar bahwa Papanya yang merupakan dokter pribadi Kakek Vino, tidak terlihat sedari tadi.
"Saya tidak membawanya pulang, dia bilang banyak pasien dirumah sakit sana yang harus ia tangani."Ujar Kakek Vino, dan Dokter Sammy hanya membalas ucapan Kakek dengan mengangguk-anggukan kepalanya saja.
“Kira-kira kapan putra saya akan sadar, Sam?"Tanya Antoni
“Ah! Kita...kita tunggu sampai jam...12 tengah malam nanti, Tu...tuan.”Dokter Sammy dengan terbata-bata menjawab ucapan Antoni.
Untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya, terpaksa harus berbohong lagi. Maafkan saya Tuan Besar dan Tuan Antoni…, batin Dokter Sammy dan menatap Kakek Vino dan Antoni secara bergantian dengan rasa bersalah.
“Baiklah…terimakasih Sam.”Ucap Kakek Vino.
“Sama-sama Tuan Besar. Kalau begitu kami permisi dulu Tuan Besar, Nyonya Besar, Tuan Antoni dan... Nyonya Kenny, karena masih ada pasien lain yang harus saya tangani.”
“Ya Silahkan…”Jawab Kakek Vino.
"Baik Sammy."Saut Antoni. Sedangkan Nenek Suci dan Kenny hanya diam saja tidak membalas sapaan Dokter Sammy.
Dokter Sammy bersama seorang suster keluar dari ruang inap Addan, kini yang tersisa disana Papa, ibu tiri, kakek dan Nenek Addan.
“Anton, kau bilang Addan sudah menikah. Yang manakah istrinya? Papa ingin melihatnya, gadis pilihan cucu kesayanganku.”Ujar Kakek Vino.
......................
Beberapa menit kemudian, Kakek, Nenek, Papa Antoni beserta istri mudanya, keluar dari ruang rawat Addan. Mereka menghampiri keempat orang yang sedang duduk dikursi tunggu, keempat orang itu ialah Kana, Nena, Lano dan Lani yang sedang asik mengobrol.
"Ehem!" Kakek Vino berdehem cukup keras, seketika keempat anak manusia itu mengalihkan pandangannya kearah pintu masuk ruang rawat Addan.
Kana dan Nena spontan berdiri setelah melihat siapa orang yang berdiri dihadapan mereka.
"Salam Kakek, Nenek, Papa, dan Mama."Sapa mereka secara bersamaan sambil tersenyum, dan dibalas senyuman dan anggukan oleh Kakek Vino dan Antoni. Kana dan Nena bergantian menyalami Kakek Vino, Nenek Suci, Papa Antoni dan istri mudanya.
"Kakek!" Saut Lani dengan raut wajah gembira, ia berjalan menghampiri Kakek Vino lalu memeluknya. "Kakek...Nini Kangen..."Ujar Lani dengan manja.
"Tadi didalam pura-pura tidak kenal sama Kakek, sekarang ngapain kamu nempel-nempel?"Ujar Kakek Vino yang pura-pura kesal sambil membalas pelukan cucu perempuannya satu-satunya itu.
Lani melepaskan pelukannya, kemudian menatap Kakeknya cemberut "Ya...habisnya tadi aku diusir tiba-tiba, mana sempatlah menyapa Kakek."Ucap Lani yang pura-pura kesal sambil melirik Neneknya yang berdiri disamping Kakeknya.
Nenek Suci yang tahu kalau Lani sedang menyindirnya hanya diam dan memutar bola matanya malas.
"Kakek dan Nenek kapan sampainya, kok ngak ngabari kami?" Tanya Lano tanpa menatap ataupun melirik Antoni dan Kenny yang berdiri disisi kiri Kakek Vino.
Lano begitu enggan melihat Papanya itu, karena ia beranggapan bahwa Papanya itu telah mengkhianati Mamanya. Apalagi Kenny, ia sangat membenci wanita itu, wanita yang ia anggap sebagai benalu dan perusak rumah tangga kedua orang tuanya. Wanita yang sempat menggodanya dulu dibangku kuliah, sekarang malah menggoda Papanya dan merangkak menjadi ibu tirinya.
"Kakek lupa, maaf ya...Soalnya Kakek dilanda cemas, Kakek ngak fokus hingga lupa mengabari kalian."
"Oh iya...diantara kedua gadis cantik ini, yang manakah cucu menantuku?"Tanya Kakek Vino sambil menatap Kana dan Nena secara bergantian.
"Kedua-duanya Kek, yang satunya istri Lano dan satunya lagi istrinya Addan."Sahut Lani.
"Oh ya? Pintar sekali kalian berdua mencari istri." Kakek Vino tersenyum senang dan menepuk-nepuk bahu Lano yang berdiri dihadapannya. Lano membalas ucapan Kakeknya dengan senyuman.
__ADS_1
"Tapi...Mereka berdua terlihat hampir mirip ya."Ujar Sang Kakek lagi.
"Tentu saja Kek, karena mereka berdua adalah kakak beradik."Ucap Lano.
"Benarkah?" Kakek Vino kaget, namun sesaat kemudian ia tersenyum memandang kedua saudari itu yang kini sudah menjadi anggota keluarga Nicolas.
Kakek Vino tidak masalah siapa yang akan menjadi pendamping hidup cucu-cucunya, baginya yang terpenting adalah orang itu bisa membahagiakan cucu-cucunya dan selalu setia pendampingi mereka. Berbeda halnya dengan Nenek Suci yang begitu pemilih, ia tidak mau memiliki cucu menantu yang memiliki status sosial yang rendah. Baginya yang pantas menjadi pendamping cucu-cucunya haruslah yang memiliki status sosial yang sama dengan keluarganya.
Lano merangkul bahu Nena."Perkenalkan Kek, ini istriku namanya Nena."Ucapnya dan tersenyum bangga.
"Salam Kakek, saya Nena istri Mas Lano. Senang berjumpa dengan Kakek."
"Senang juga berjumpa denganmu Nak..."balasnya, lalu mengelus kepala Nena dengan lembut."Hmmm...yang ini istrinya Addan?"Kakek menatap Kana dan tak lupa menunjukkan senyuman ramah yang selalu ia tampilkan kepada semua orang yang beliau suka.
"Iiya...Kakek. Salam...saya Kana, istrinya Mas Addan. Senang berjumpa dengan Kakek."Jawab Kana sedikit terbata-bata karena gugup.
Kakek membalas perkataannya dengan senyuman. Kakek menundukkan kepalanya sedikit, memperhatikan perut Kana yang buncit.
"Kamu hamil Nak?"Tanya Si Kakek.
"Iya Kek..."Jawab Kana dan tersenyum sambil mengelus-ngelus perutnya.
"Wahh...sebentar lagi kita punya cicit Mah."Ujar Kakek Vino dengan raut wajah yang amat bahagia sambil merangkul bahu istrinya.
"Berapa bulan usia kandunganmu?"Tanya Nenek Suci datar, menatap Kana dingin.
"Em...pat bulan 2 minggu Nek!"Balas Kana.
Bukannya kata Anton, kalau Addan menikah tiga bulan yang lalu? Tapi kok usia kehamilannya sudah empat bulan lebih?, batin Nenek Suci.
"Kamu hamil diluar nikah?"Ujar Nenek Suci dan menatap Kana dengan tatapan yang sulit diartikan seperti tatapan merendahkan.
"Itu..itu murni anaknya Addan kan? bayi itu cicit saya?"Nenek Suci bertanya tanpa tahu bahwa pertanyaannya itu sangat menyinggung perasaan Kana.
Seketika semua orang yang ada disana menatap Nenek Suci. Hati Kana terasa teriris mendengar ucapan si Nenek, tanpa dipinta airmatanya menetes begitu saja.
"Nenek!"Tegur Lano dengan suara sedikit meninggi.
"Apa? Kenapa kamu marah, kan Nenek cuman memastikan."Ujarnya yang tidak mau disalahkan.
"Tapi Nenek keterlaluan..."
Hm...panas...panas. Aku suka melihat keluarga ini beselisisih, batin Kenny dan tersenyum tipis.
Nenek Suci memperhatikan penampilan Kana dari atas hingga bawah. 'Cantik' Itulah satu kata yang terlintas dibenaknya ketika melihat wajah Kana.
Namun sayang... pasti hanya gadis biasa, terlihat jelas dari cara berpakaiannya yang kampungan, dan tidak ada satupun perhiasan yang melekat ditubuhnya, batin Nenek Suci.
"Kamu kerja dimana dan posisinya apa?"Tanya Nenek Suci kepada Kana sambil berpangku tangan.
"Kana memiliki usaha sendiri Nek, yaitu usaha kue."Jawab Kana dan tersenyum yang tampak dipaksakan.
"Apa tokonya besar dan terkenal?"Tanyanya lagi dan diselengi senyuman sinis.
"Suci! jangan tanyakan sesuatu hal yang tidak penting."Kakek Vino sedikit membentak, ia tidak suka akan perkataan dari sang istri.
"Kenapa tidak penting? Ini menyangkut masa depan keluarga Nicolas, keluarga kita terkenal akan kekayaan, masak orang terkaya se-Asia memiliki istri yang tidak sepadan dengan dirinya. Cantik saja tidak cukup, memangnya cantik itu bisa bikin perut kenyang?"Hardik Nenek Suci.
Kana yang mendengar ucapan Nenek Suci merasa sangat sedih, ia menundukkan kepalanya menahan air mata yang siap jatuh membasahi pipi.
"Suci...!!"Tegur Kakek Vino dengan nada keras.
__ADS_1
"Nenek! Apa kekayaan kita ini tidak cukup? Sehingga Nenek berbicara seperti itu. Uang setiap hari mengalir, kita tidak membutuhkan pasangan yang sepadan. Cukup berbekal cinta dan kesetiaan saja itu sudah membuat kita sama-sama sepadan. "Ujar Lani yang mulai marah dengan sikap Neneknya itu.
Nenek Suci terdiam sejenak, hingga kemudian ia memutuskan mendekati Kana lalu berbisik ketelinganya.
"Saya tunggu dikantin Rumah Sakit, ada hal penting yang akan saya sampaikan kepadamu."Bisik Nenek Suci, kemudian ia berlalu pergi.
"Maafkan istri Kakek ya Nak..."Ujar Kakek merasa bersalah.
"Iya Kek..."
...****************...
Di Kantin Rumah Sakit...
Kana berjalan memasuki kantin Rumah Sakit yang terletak dilantai dasar, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Nenek Suci, hingga akhirnya pandangannya terhenti disudut ruang kantin, ia melihat Nenek Suci yang sedang menyeruput segelas kopi.
Sebelum menghampiri Nenek Suci Kana menarik nafasnya dalam-dalam kemudian melepaskannya perlahan-lahan, untuk menetralkan detak jantungnya yang berdetak tak karuan.
Kana berjalan mendekat ke meja dan kursi kantin yang ditempati Nenek Suci.
"Assalammu'alaikum Nek, Maaf Kana sedikit terlambat."Ucapnya sopan.
"Hmmm...duduklah." Balasnya dengan nada ketus tanpa menjawab salam dari Kana.
Kana pun duduk atas permintaan Nenek Suci.
"Saya langsung saja bicara ke intinya, saya tidak mau berlama-lama berada disini." Ujar Nenek Suci dengan menampakkan secara jelas ketidaksukaannya terhadap Kana.
"Apa alasan kamu menikah dengan cucu saya? Saya tau kamu tidak cinta sama cucu saya."Ujarnya lagi.
Mendengar ucapan Nenek Suci, Kana sedikit terperanjat karena kaget. "Mmm itu Nenek...saya..."
"Kenapa? Kaget? Kamu pikir saya bisa kamu bohongi. Saya sudah tau siapa kamu, bagaimana latar belakang keluargamu, dan kenapa kamu bisa hamil hingga memutuskan menikah dengan cucu saya. Saya tau kalau cucu yang telah berbuat salah karena telah menghamilimu, tapi bukan berarti saya akan menerimamu begitu saja masuk kedalam keluarga kami. Karena apa? karena kamu tidak mencintai cucu saya, tujuan kamu menikah dengan Addan pasti ingin numpang hidup mewah lalu menguras hartanya kan?"Hardik Nenek Suci menyela ucapan Kana.
Kana merasakan sesak didada, hatinya sakit setelah mendengar penghinaan yang Nenek Suci lontarkan.
Ia pun tak mampu membendung airmatanya yang sedari tadi ia tahan, air asin itu pun mengalir dipipinya."Itu tidak benar! saya tidak pernah sekalipun berpikiran seperti itu.Memang...memang saya tidak cinta sama Mas Addan. Tapi bukan berarti saya mau menikah dengannya hanya karena harta...."Bantahnya.
"Lalu kalau bukan demi harta, apalagi?"Ketus si Nenek dan menatap tajam Kana.
"Saya mau menikah dengan Mas Addan, demi anak kami, saya ingin memberikan orang tua yang utuh untuknya, saya ingin anak kami dibesarkan tanpa kekurangan kasih sayang sedikit pun dari kedua orang tuanya."
Nenek Suci menghela nafasnya sejenak untuk meredam amarahnya, lalu berkata.
"Saya akan menerima anak itu, tapi kamu tidak! Setelah melahirkan tinggalkan kediaman Nicolas, pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah kembali. Saya jamin anakmu akan memiliki keluarga yang utuh, karena Addan akan saya nikahkan dengan wanita pilihan saya."
DEG!
"Ma...maksud Nenek apa?"Tanya Kana dengan suara yang bergetar, airmatanya pun mengalir semakin deras.
"Heh! belum ngerti juga kamu, setelah anak itu lahir, maka ia akan menjadi milik keluarga Nicolas, penerus bisnis keluarga Nicolas, dan kamu...tidak berhak atas dirinya meskipun kamu ibu kandungnya."
"Tidak! anda tidak bisa memisahkan saya dengan anak saya...hiks hiks."Ucap Kana dengan nada agak meninggi dan menangis sesenggukan.
Nenek Suci tersenyum sinis. "Hmmm baiklah. Akan saya berikan kamu tiga pilihan. Pertama, kamu tetap disini tapi kamu harus menggugurkan kandunganmu, dan dengan sukarela dimadu. Kedua, Kamu bisa tetap disini bersama anakmu tapi dengan syarat adikmu pergi dan bercerai dengan cucu saya, Lano. Ketiga, kamu pergi dari kediaman Nicolas tanpa membawa anak, tapi tenang saja kamu akan mendapatkan kompensasi berupa cek senilai 3 miliar, karena telah melahirkan penerus Nicolas"
"Saya rasa diantara ketiga syarat itu, syarat ketiga adalah pilihan terbaik. Bagaimana menurutmu, hm...?"Sambungnya.
Kana meremas dressnya dengan kuat, hatinya begitu rapuh sehingga, ia tak dapat menahan airmatanya yang terus mengalir membanjiri pipinya. Sungguh teganya Nenek Suci memperlakukannya seperti manusia sampah yang harus segera dibasmi.
Bersambung...
__ADS_1