You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L (4)


__ADS_3

"Groaaakk!!!! (bunyi sendawa).Terimakasih makanannya Nyonya Lee dan Tuan Lee. Berkat kalian lambungku terisi penuh."Ucap Hoby kepada Lucy dan Quan yang telah mentraktirnya makan.


Lucy dan Quan hanya tersenyum kecut, melihat makan Hoby yang banyak, di tambah lagi makanan yang di pesan Hoby harganya yang cukup mahal. Mereka saja belum memesan apa pun jenis makanan di restoran itu, tapi dompet mereka sudah keburu sepi.


"Hish...menjijikkan sekali kau ini, seperti tidak pernah makan enak saja."gerutu Damian sambil menatap jijik ke arah Hoby yang sedang menjilat seluruh sisa makanan yang melekat di jarinya.


"Iri kau? Kalau iri, kenapa tak kau bujuk saja Addan tadi. Pasti kau dapat makan gratis dari Tuan dan Nyonya Lee."Hardik Hoby dan menatap sinis ke arah Damian.


"Hanya orang miskin seperti kau saja yang mengharapkan makanan gratis. Aku sudah terbiasa makan makanan hotel bintang 7, jadi tidak perlu di traktir."Ucap Damian menyombongkan diri.


"Sialan...songong sekali kau little bird!!."Ucap Hoby yang terbawa emosi.


"Hei...Burungku tidak kecil, sialan! Mau ku tunjukkan padamu Hah?" Ucap Damian emosi karena masa lalunya di ungkit oleh Hoby.


Lucy yang risih akan obrolan absurd keduanya, langsung angkat bicara.


"Kalian bisa diam tidak? Kalau tidak, aku akan menendang kalian berdua dari sini secara tidak terhormat." Kesal Lucy.


"Janganlah Nyonya Lee, kami cuman bercanda. slowdown, slowdown..."Canda Hoby.


Addan yang melihat tingkah keduanya hanya menghela nafas lelah.


"Bukankah ada yang ingin kalian bahas?" Tanya Addan serius sambil menatap mereka yang ada satu meja dengannya secara bergantian.


Mereka yang mendengar ucapan Addan, langsung berubah serius.


"Ya, tentu saja ada.Katakan padanya, Dam."Ucap Quan.


"Baiklah...Begini Dan, kau tau kan Belinda?"Ucap Damian.


"Siapa? Aku tidak kenal!"Ucap Addan.


"Haishhh...otakmu itu banyak di penuhi istrimu, makanya tidak ingat dengan perempuan lain. Itu... Belinda!Gadis cantik berambut emas yang jatuh cinta padamu 5 tahun yang lalu."jelas Damian.


"Gadis yang jatuh cinta padaku banyak sekali, pada saat itu."Ucap Addan santai.


Damian yang mendengar ucapan Addan menjadi kesal


"Iya aku tau, ngak usah sombong kau! Tapi gadis berambut emas yang jatuh cinta padamu kan hanya satu."Ucap Damian dengan sedikit berteriak karena kesal pada manusia batu yang ada di hadapannya itu.


"Aku benar-benat tidak ingat."Ucap Addan yang benar-benar lupa.


"Baiklah..terserah kau saja. Begini, gadis itu akhir-akhir ini selalu mengawasi gerak-gerik mu. Aku rasa gadis itu punya niat buruk, terutama terhadap istrimu."


"Seperti apa rupanya, aku benar-benar tidak ingat gadis itu. Apa kau punya fotonya? Aku berencana akan menghancurkan wanita itu dengan tanganku sendiri."Tanya Addan sambil mengepalkan tangannya karena geram.


"Ngapain aku nyimpan foto gadis gila itu. Coba kau tanyakan saja pada Hoby, mana tauan gadis itu merupakan salah satu jalangnya."canda Damian.


"Gila kau?Aku juga tidak kenal dengan gadis itu!"protes Hoby.


Damian hanya tertawa mendengar ucapan Hoby, ia begitu senang membuat Hoby kesal.


"Dia kolega bisnisku. Dan aku juga yang meminta Damian menyelidikinya dan mengawasinya, karena ada sesuatu yang mencurigakan darinya, dan aku yakin hal itu berkaitan denganmu."Ucap Quan angkat bicara.


"Kenapa kau melakukan itu?"Tanya Addan tanpa menatap Quan.


"Melakukan apa?"Tanya Quan bingung.


"Pura-pura baik padaku, bukankah aku menganggapmu sebagai musuhku?"


“Tapi aku tidak menganggapmu sebagi musuh, kau tetaplah sahabatku. Kau salah paham!"

__ADS_1


"Salah paham? Asal kau tau, diammu itu yang telah menghancurkan ikatan persahabatan antara kita."Ucap Addan dengan nada sedikit meninggi.


"Maafkan aku, aku salah karena tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya hingga aku tidak membelamu dan hanya diam membisu.”


“Kau tidak salah, karena pada saat itu kau percaya bahwa aku melakukan itu. Yang membuatku kesal padamu adalah kalau kau tidak mengenalku dengan baik selama ini.”Ucap Addan datar.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Addan pun bangkit dari kursi duduknya.


“Jika hanya hal itu saja yang di bahas, sampai disini saja pembicaraan kita. Karena masih banyak pekerjaan yang aku harus di selesaikan. Permisi!”Ucap Addan lalu membalikkan badannya hendak pergi dari hadapan mereka.


“Tunggu! Kau belum boleh pergi. Aku belum selesai berbicara denganmu Dan.”Teriak Quan yang kesal karena sikap acuh yang Addan tunjukkan.


Addan pun berhenti tanpa membalikkan badannya, ia hanya memutar kepalanya ke samping.


“Aku tau aku sangat bersalah padamu, tak seharusnya aku diam saat kau di fitnah pada malam itu. Tapi kumohon mengertilah alasannya, mengapa aku tidak membelamu waktu itu.'.”Ucap Quan dengan tatapan sedih dan raut wajah yang menunjukkan rasa penyesalan.


Mendengar ungkapan dari Quan, Addan pun membalikkan badannya dan menatap kedua mata Quan yang menggambarkan rasa penyesalan, dan tidak ada kebohongan yang Addan lihat.


“Alasan apa? jelaskan padaku apa alasanmu!”Ucap Addan dengan nada sedikit meninggi.


"Ok.Akan ku jelaskan! Alasanku tidak membelamu saat itu, karena gadis itu adalah sepupuku. Dan aku percaya bahwa gadis itu tidak mungkin menjebakmu, dia itu gadis polos dan baik hati tak mungkin dia melakukan hal kotor seperti itu."


Mendengar pernyataan dari Quan, Addan pun tersenyum sinis.


"Dari penjelasanmu itu, sudah jelas terlihat bahwa kau bukanlah orang baik untuk berada di sampingku sebagai sahabat. Kau tidak mengenalku, kau tidak tau siapa aku sebenarnya. Dan permintaan maafmu itu, tidak ada gunanya dan tidak berarti bagiku, karena aku ini tetap saja salah di matamu. Quan."Ucap Addan.


"Tampaknya tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, kalau begitu saya permisi, Tuan Lee!"Ucap Addan dan berdiri dari duduk kemudian pergi dari hadapan mereka.


Quan hanya menundukkan kepalanya karena apa yang dikatakan Addan sangat mengena di hatinya. Sedangkan Lucy yang menyaksikan, meneteskan air mata, karena hubungan antara Addan dan suaminya tidak membaik, malah semakin memburuk.


"Sudah ku duga, Pembicaraan ini tidak akan menyelesaikan masalah."Gumam Damian dalam hati sambil menundukkan kepalanya karena rencanya tidak berhasil untuk menyatukan kedua sahabatnya itu.


"Aku juga permisi!" Ucap Hoby lalu pergi menyusul Addan yang sudah berjalan menjauh.


Pesta pernikahan Lucy dan Quan.


"Selamat atas pernikahan kalian berdua, semoga cepat-cepat di karuniai anak."Ucap Hoby dan tersenyum bahagia.


"Kau tunggu saja, Seminggu kemudian akan terdengar berita kehamilan lucy hingga sampai ke telingamu yang tuli itu Hahhahahaha."canda Quan dan terkekeh begitupun juga Lucy yang ikut tertawa.


Hoby yang kesal akan ucapan Quan, bergumam tidak jelas hingga mulutnya tidak berhenti menggerutu.


Tak lama kemudian, Addan pun datang lalu berjalan menghampiri mereka.


"Akhirnya, yang di tunggu- tunggu datang. Ku pikir kau tidak akan datang, karena kau sibuk kata Hoby."Ucap Quan dan menepuk pundak Addan.


"Ya aku memang berencana tidak datang. Tapi karena melihat tampang orang yang di ujung sana yang selalu memelas padaku, dan selalu mengancam akan menculik calon istriku.Dengan terpaksa aku cepat-cepat terbang kemari dari jepang."Ucap Addan sambil menunjuk ke arah Damian yang sedang di kelilingi para wanita.


"Hahahaha...sampai kapan pria kalem (hitam) berambut ikal itu selalu mengancammu dengan kekuasaannya sebagai Mafia."


"Aku tidak takut padanya, aku cuman khawatir kepada calon istriku. Aku tau dia tidak akan main-main akan ancamannya itu."


Saat mereka asik mengobrol, tiba-tiba ada seorang gadis bermata sipit dan berambut panjang sepinggang menghampiri mereka.


"Selamat kakak, atas pernikahannya."Ucap gadis itu dengan nada yang terdengar sangat lembut.


Gadis itu sesekali melirik ke arah Addan yang terlihat cuek akan kehadirannya, beda halnya dengan Hoby, pria itu tanpa berkedip menatap body gadis itu dari atas sampai bawah yang terlihat jelas sekali lekukan badannya yang berisi.


"Terimakasih sudah datang, Fen. Oh iya mereka teman-temanku. Yang itu Addan yang satunya lagi Hoby."Ucap Quan.


"Hai Kak, salam kenal aku Fen Han Lee, panggil saja Fen."Ucap Fen lalu mengulurkan tangannya ke arah Addan.

__ADS_1


Addan terdiam sejenak lalu memperhatikan penampilan gadis itu, keningnya pun berkerut karena tidak suka akan penampilan gadis itu yang menurutnya sangatkah menjijikkan di matanya.


"Hmmm..."tanpa membalas uluran tangan Fen, Addan hanya menganggukkan kepalanya dan berdehem saja.


Melihat Addan yang tidak membalas uluran tangannya, Fen hanya tersenyum kecut.


"Aku..."Ucap Hoby, tapi terhenti karena Fen mengacuhkannya."Sial sombong sekali dia, ku geprek baru tau rasa kau."Ucap Hoby dalam hati.


Ketika lagi asiknya mengobrol, seorang pelayan wanita menghampiri Addan.


"Tuan sampanye?" Tawar pelayan itu.


Addan yang merasakan kering di tenggorokannya, menganggukkan kepala, lalu meraih gelas yang pelayan itu sodorkan. Dan meminum air itu hingga tandas.


Tak lama kemudian, kepala dan matanya terasa berat.


"Hei Dan kau kenapa, kepalamu sakit?"Tanya Quan karena melihat Addan yang berdirinya agak sempoyongan.


"Ya kepalaku terasa berat sekali."Jawab Addan dengan suara yang serak.


"Lebih baik kau istirahat. Hob! Tolong kau antar Addan ke kamar tamu, yang terletak di sebrang ruang perpustakaanku."Perintah Quan kepada Hoby.


"Ok" Saut Hoby, lalu memapah Addan hingga tiba di kamar yang Quan sebutkan tadi.


Hoby menidurkan Addan di atas kasur yang berukuran lumayan besar itu.


"Hufhhh....berat sekali kau ya, Dan." Ucap Hoby.


Tiba-tiba ada suara ketokan pintu. Hoby pun meninggalkan Addan yang terbaring lalu membukakan pintu, terlihat disana seorang pelayan laki-laki yang sedang menunggu.


"Maaf mengganggu Tuan! Tuan Quan meminta anda kembali."Ucap Pelayan itu.


"Kalau saya pergi bagaimana dengan teman saya? Saya tidak bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini."


"Tenang saja Tuan. Biar saya saja yang mengurus Tuan Addan. Itu pun atas perintah Tuan Quan."


"Baiklah, kalau begitu. Tolong jaga dia hingga sadar."Ucap Hoby tanpa menaruh rasa curiga, ia pun berlalu pergi meninggalkan Addan di dalam sebuah kamar bersama dengan seorang pelayan laki-laki.


2 jam kemudian, Addan pun bangun dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang melekat di badannya, dan terdapat seorang wanita yang tidur di sampingnya.


Dengar lebar- lebar, Addan membuka kedua matanya lalu memperhatikan gadis yang tidur disampingnya yang juga tanpa busana.


Dengan rasa kesal, Addan membangunkan gadis itu dengan cara kasar, yaitu dengan cara menendang-nendang kaki gadis itu.


"Kau!!Kenapa bisa ada disini?" Tanya Addan dengan suara tinggi.


Merasa terganggu, gadis itu membuka matanya, dan duduk, kemudian menoleh ke arah samping. Mereka saling bertatapan, lalu tanpa di duga gadis itu berteriak histeris hingga mengundang orang-orang di pesta untuk menghampiri mereka.


Setibanya orang di kamar yang di tempati Addan, gadis itu menangis sesenggukan seperti wanita yang teraniaya hingga membuat semua orang salah paham.


Addan yang di tuduh karena sudah melecehkan gadis itu, mencoba membela diri. Tapi ada saja orang yang menyudutkannya, di tambah lagi gadis itu membenarkan atas pemerkosaan yang telah ia lakukan, padahal dia tidak melakukan itu.


Namun yang lebih mengecewakan bahwa sahabatnya sendiri, Quan.Juga percaya atas ucapan gadis itu, tanpa mendengarkan penjelesannya terlebih dahulu. Dan hal itu yang membuat Addan sulit untuk memafkannya.


FLASBACK OF


Bersambung...


_


_

__ADS_1


Jangan lupa like, favorit, and votenya ya readers, agar Author semangat terus upnya, terimakasih...🥰


Selamat hari Raya Idul Fitri. Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin ya readers 😊🙏


__ADS_2