You Are My Prisoner Of Love

You Are My Prisoner Of Love
# Y A M P L~ Menyelidiki


__ADS_3

_Assalammu'alaikum Readersku, lebih dua minggu Author ngak update, karena Author sakit.😔


Maaf ya....


Alhamdulillah skrang udah bisa update, doakan ya, semoga bsok bisa update lagi, Amiiinnn...🤲


_HAPPY READING🥰


_


“ALIKAA!!!”Teriak Feni seraya melangkah tergesa-gesa kearah putrinya yang tengah duduk dikursi taman.


Spontan gadis kecil itupun menoleh dan ketakutan saat melihat air muka Feni yang tak bersahabat.


“Ma…ma?”


“Pasti kamu melihat kejadian tadi kan?”tanya Feni ketus pada putrinya.


Gadis kecil itu hanya diam dan menunduk takut.


“Telinga kamu itu jangan ditulikan. Kalau orang tua bertanya, dijawab!


Kamu melihat saya mendorong wanita itu kan..?!”Bentak Feni sambil mencengram kuat kedua lengan Gadis kecil itu.


“A-alika…Alika lihat Mah…”Ucap Alika gemetaran.


“Dasar kamu ya, anak kurang ajar! Disuruh diam dikamar, malah keluar. Terus ngapaian kamu bantu wanita itu hah? Biarkan saja dia mati! ”Feni memukul putrinya itu agak kuat.


“Ampun Mah…ampun…hiks, A-alika... ngak tega lihat Tante Kana kesakitan… hiks hiks…”Alika menangis sambil menahan rasa sakit ditubuhnya akibat pukulan Feni.


Sejenak Feni menghela nafas lalu celingak-celinguk, memperhatikan sekitar ruangan sebelum dirinya kembali menghardik putrinya.


“Kalau ada yang nanya sama kamu, apa penyebab perempuan itu jatuh. Bilang aja, dia jatuh karena kecerobohannya sendiri. Awas ya kalau kamu bilang saya pelakunya, saya tidak akan segan-segan menyakiti kamu dan tidak akan mempertemukanmu dengan Papamu, mengerti?!”


Gadis kecil itu hanya mengangguk pasrah. “I-iya…Mah”


Drrrtt…drrtt…


Feni sedikit terperanjat saat mendengar dering ponselnya.


“Ck! Sialan nganggu saja..”ujarnya kesal seraya meraih ponselnya disaku celananya.


“Kamu,kembali kekamar sekarang juga, jangan membantah!”Ucapnya pada Alika.


“Iya Mah..”


Feni mengangkat panggilan itu tanpa membaca dulu nama si penelepon, sebab dirinya tahu siapa dalangnya.


“Halo?!”Ujarnya ketus.

__ADS_1


“Heii…Feni...Kudengar kau berhasil melenyapkan janin wanita itu, kerja bagus! Tapi…aku sedikit kecewa karena kau kuancam terlebih dahulu, baru bertindak.”


Mendengar nada sinis dari suara pria itu membuatnya menggertakkan gigi.


“Lepaskan ibuku, aku sudah berhasil melenyapkan janin wanita itu.”


“Oh..Tidak bisa! Ibumu belum bisa kulepaskan. Dia masih berguna…lebih tepatnya kau yang berguna maksudku…hahaha”


“K-kau..! Aku sudah mematuhi semua perintah kalian. Lepaskan ibuku, BRENGSEK!”Umpat Feni keras pada pria itu.


“Hahahaha…”


Suara tawa Gipson membuat Feni bertambah geram.


“Kau bilang akan melepaskan ibuku setelah diriku berhasil menyelesaikan tugas!”


“Kapan aku bilang seperti itu, hm?”


“Kemarin kau_”


“Ohh itu…ternyata kau salah paham soal perkataanku yang kemaren. Aku bilang kalau kau berhasil membunuh janin perempuan itu, ibumu kupastikan tidak akan kelaparan lagi, bukan berarti aku juga membebaskannya, ya…”


“BAJINGAN!”Umpatnya Feni kesal dengan wajah yang semakin merah padam menahan amarah.


“Apa maumu Hah?!!”Pekiknya


“Cukup sederhana, setelah itu aku benar-benar akan membebaskan ibumu.”


“Lenyapkan wanita itu...”


Tangan kiri Feni mengepal kuat. Apa sebenarnya mau pria ini, bukankah dirinya sendiri yang mengubah rencana, tapi kenapa balik lagi kerencana awal?, pikirnya dipenuhi amarah.


“..Bukannya kau memintaku cukup melenyapkan janinnya saja, kenapa tiba-tiba berubah lagi. Kalian main-main denganku ya?!”Bentaknya dan tanpa sengaja menggembrak bangku taman yang ia duduki.


“…Belinda tidak tahu sama sekali, ini murni rencanaku. Bunuh wanita itu, maka ibumu bebas, plus kau mendapat bonus uang senilai 1 M dariku.”


Mendengar nominal uang yang disebutkan Gipson, Feni pun tergiur. Sejenak ia timbang-timbang tawaran pria itu sambil memikirkan besar kemungkinan dirinya bakal lolos dari rencana pembunuhan ini.


"Baiklah, tapi jangan sampai kau menipuku lagi!"


"Kapan aku menipumu Nona? Otak kecilmu saja yang kurang kuat menangapi ucapanku..."


Ingin sekali rasanya Feni mengumpat kasar Gipson, tapi ia urungkan sebab pria itu kini menjadi sumber penghasilannya.


Hening Sesaat.


“Kenapa kau melakukannya?”tanya Feni akhirnya. Ia sangat penasaran alasan Gipson melakukan itu.


“Kau tak perlu tahu…Laksanakan saja perintahku, kutunggu kabar baik darimu.”

__ADS_1


Tut...Tut...Tut...


...****************...


Sudah hampir dua minggu Kana koma, ia masih saja betah memejamkan mata. Sementara Addan tak pernah sekalipun bolos mengunjunginya, ia begitu setia menunggu sang istri siuman. Bahkan pria itu sampai rela mengabaikan meeting bersama klien-klien perusahaannya.


Ceklek!


“Bagaimana hasil penyelidikanmu? Apa kamu mendapat petunjuk?”tanya Addan pada Soka yang baru saja memasuki ruangan.


“Maaf Bos, saya sudah berulang kali mengecek Vila yang Anda tempati, namun tidak ada satupun keanehan ataupun jejak yang ditinggalkan pelaku, jika memang ada yang sengaja mencelakai Nyonya.”


“Tapi kenapa perasaanku selalu merasa kalau jatuhnya istriku dari tangga karena faktor disengaja?


Arghh…Seharusnya aku tidak menunda pemasangan CCTV didalam Vila...Dasar pria bodoh!"Ujarnya penuh penyesalan sambil meraup kasar wajahnya.


“Aku curiga pada asisten rumah tangga yang kau pekerjakan di Vila, Dan.” Timpal seseorang dari ambang pintu.


Sontak Addan dan Soka menoleh kearahnya. Ternyata itu adalah suara Hobby.


“Setiap diriku mengunjungimu ke Vila, asisten rumah tanggamu itu selalu bersikap takut dan waspada terhadapku, seakan-akan posisiku sangat mengancam keberadaannya. Ditambah lagi parasnya mirip dengan seseorang yang pernah kutemui, tapi sayangnya aku lupa dimana aku pernah berjumpa dengannya.”Sambungnya. Iapun masuk lalu menyandarkan punggungnya pada dinding sambil berpangku tangan.


Addan tampak berpikir, perkataan Hobby yang selalu mengingatkannya untuk terus waspada terhadap asisten rumah tangganya mulai bermunculan. Hingga akhirnya ia memutuskan menahan Feni untuk diintrogasi.


“Kalau begitu. Soka, kau bawa wanita itu keruang introgasimu sekarang, bila perlu seret saja dia.”Tegas Addan.


“Baik Bos!”


Setelah Soka keluar, Hobby dan Addan kembali membuka obrolan dengan topik yang berbeda.


“Hampir dua minggu istrimu tak sadarkan diri, apa kau tidak berkeinginan untuk mengirimnya ke Singapura, Korea atau Italia? Maaf, bukan maksudku mengatakan bahwa tenaga medis di Rumah Sakitmu ini kurang berkompeten.


Sampai kapan kau akan seperti ini menunggunya sadar? Perusahaan membutuhkan kau, Addan…Tidak semua urusan perusahaanmu bisa kami atasi…”Keluh Hobby.


Addan hanya diam, dirinya sibuk memandangi wajah pucat Kana sambil menggenggam erat jemari mungil sang istri dan sesekali mengecupnya. Bukannya Addan berpura-pura tak mendengar ucapan sang sahabat, tapi hati dan pikirannya tengah berdebat perihal bagaimana cara mengatasi permasalahan yang ada. Belum lagi masalah penculikan beberapa bulan yang lalu, yang mana sampai sekarang kasusnya masih menggantung.


Addan memijit pelipisnya, makin dipikirkan makin membuat kepalanya terasa sakit.


“Nanti kupikirkan, sekarang tolong tinggalkan kami. Aku ingin mengobrol berdua dengan istriku.”


Hobby mengangguk. “Baiklah…”


Setelah Hobby keluar, Addan menarik kursinya semakin mendekat kearah ranjang pasien. Diraihnya kembali tangan mungil sang istri lalu dikecupnya penuh kasih sayang, tangan mungil yang dulunya berisi kini mulai mengurus, sebab hampir dua minggu wanita itu mendapatkan asupan makan hanya melalui selang infus yang terhubung ketangannya.


“Sayang…apa kamu tidak bosan terus seperti ini? Kumohon bukalah matamu, aku rindu sayang…”


Meskipun Addan tahu bahwa Kana tidak akan merespon ucapannya, tapi setidaknya istrinya itu mendengar semua keluh kesahnya.


“Apa begitu tidak inginnya kamu melihat suamimu ini, sampai-sampai kamu lebih memilih menutup mata? Maafkan aku…yang telah lalai menjaga kamu dan anak kita. Kumohon bangun…aku akan menuruti apapun yang kamu inginkan kalau kamu bersedia membuka mata.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2