
_HAPPY READING! 🥰
_
"Air…”
“A-air…”
Raya yang saat itu tidur dengan kepala yang tertelungkup dipinggir ranjang pasien, seketika terbangun lalu mengerjapkan matanya beberapa kali, memastikan suara yang dikenalnya itu benar adanya.
“Kak Kana!”Pekiknya senang setelah mengangkat kepala dan melihat mata kakak sepupunya itu perlahan-lahan terbuka.
Kana menoleh. “A-air…”lirihnya serak.
“Kakak haus ya? Tunggu sebentar!”
Raya melangkah menuju nakas dengan sedikit terburu-buru. Dan kembali ke brangkar sambil membawa sebotol air mineral beserta sedotan.
“Kak ini minumannya…”
Gadis itu menyodorkan sedotan kearah mulut Kana. Kana pun menyambutnya lalu menyesap air mineral itu hingga tandas separuh.
“Wow…airnya sampai ngak bersisa. Kering banget ya tenggorokan Kakak?”Canda Raya dan terkekeh pelan.
Senyuman tipis terbit diujung bibir Kana saat mendengar ucapan sang adik. Tetapi tak lama kemudian, ia menyadari ada yang berbeda darinya, perutnya yang buncit kini sudah rata.
“Ray…anak kakak udah lahir?”tanyanya seraya meraba perutnya. Raut cemas tak luput dari wajahnya.
DEG!
“E…i-itu…itu…”Tenggorokan gadis itu tiba-tiba terasa tercekat.
“Dimana dia? Kakak pengen lihat.”
“Kak...”
“Anakku laki-laki atau perempuan? Kakak udah ngak sabar melihatnya, Ray…”tanyanya antusias.
Raya menatap iba Kana. Apa dia tak sadar sama sekali, kalau usia kandungannya saat itu masih enam bulan lebih, usia yang belum semestinya lahirnya sang anak kedunia. Lalu bagaimana bisa kakaknya itu berkata demikian? Lupakah?
“Raya! Kenapa kamu diam saja? Ayo antar kakak ketempatnya...”Desak Kana dan hendak bangkit dari pembaringannya.
Raya menahan tubuh Kana, ia pun menggeleng lemah.
“Ngak bisa…aku ngak bisa..”lirihnya dan tertunduk sedih.
“Kenapa?”ujar Kana kecewa.
“Karena anak kakak sudah tiada.” Kalimat itu hanya mampu ia ucapkan didalam hati, ia tidak berani memberi tahu kenyaataan yang nantinya akan membuat kakaknya itu drop.
"Kenapa raut wajahmu seperti itu? Bayiku tidak apa-apa kan Ray...? Dia baik-baik saja kan?"
Raya tak menjawab, kepalanya semakin tertunduk dan tanpa sadar bulir bening mengalir dari sudut matanya.
"Katakan padaku, Raya!!!" Teriak Kana, mulai kesal dengan kebungkaman adik sepupunya itu.
Raya terlonjak kaget, ditatapnya mata Kana cukup dalam. Ingin sekali rasanya mengatakan kebenarannya. Namun, seperti yang ia pikirkan sebelumnya, ia amat takut Kana drop nantinya.
Melihat Raya menangis, hati Kana tiba-tiba ngilu, dan sebuah pemikiran buruk terlintas dibenaknya.
"Ba-bayiku selamatkan, Ray?"tanya Kana hati-hati.
Dalam hati ia berdo'a, semoga saja Raya membalas pertanyaannya dengan anggukan atau kata 'iya'
__ADS_1
Namun, hal itu tak sesuai dengan keinginan, nyatanya sang adik menggeleng lemah, tidak membenarkan opsi tersebut.
DEG!
Tes...Tes...
“Ngak! Ngak mungkin, Raya…”Kana menggeleng keras, ia tak terima akan kenyataan itu.
"Kak...Kakak yang sabar ya?"Raya memegang pundak Kana yang bergetar.
Dipeluknya erat perutnya yang telah rata.
“A-anakku….Sayang….anak Mama…hiks hiks…”
Semakin lama tangis Kana semakin keras dan histeris.
“Aaaaaa!!!….huuuu....”
Melihat kana yang histeris, Raya langsung memencet tombol darurat disisi kiri ranjang supaya dokter segera datang.
“Kak! Hey, tenanglah…lihat aku...”Raya kelimpungan sembari menggoncang tubuh yang sedikit kurus itu.
Bukannya menuruti ucapan sang adik, Kana malah semakin memberontak dan berteriak histeris. Bahkan selang infus yang menempel di tangannya, ia cabut begitu kasar hingga darah segar mengalir dari sana.
"Astagfirullahaladzim Kak...Istigfar...."Pekik Raya kaget sambil memeluk Kana erat.
"Lepassh....kubilang lepaskan!!! "Kana menatap nyalang Raya.
"Ngak! Ngak bakal kulepas sebelum Kakak tenang...hiks hiks..."
"A-anakku...kembalikan anakku...kumohon..."
"Istigfar Kak...ikhlas dia...."
Dan pada akhirnya, tindakan pemberontakan yang Kana lakukan tak berlangsung lama, ia jatuh pingsan sebelum beberapa tenaga medis memasuki ruang nya.
Dan detik kemudian ia teringat akan kakak iparnya, Addan. Kenapa dia bisa lupa mengabarinya Addan bahwa istrinya telah siuman.
"Dasar bodoh!"umpatnya pada dirinya sendiri, kemudian segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Addan dan yang lainnya.
...****************...
"Mau pergi kemana kau Dan?"tanya Hobby, melihat Addan yang nampak terburu-buru pergi.
"Ke Rumah Sakit."Balasnya singkat.
"Tapi, sebentar lagi meeting akan dimulai..."
"Kana siuman, aku ingin melihatnya. Meeting hari ini ditunda saja."
"Tapi..."
"Tak ada yang lebih penting dibanding istriku."Potong Addan cepat penuh penekanan.
"Kau rombak semua jadwal meeting kita hari ini. Jangan lupa kabari semua klien, bahwasanya meeting kita diundur menjadi esok hari."Lanjutnya.
Hobby mengangguk pasrah. “Hmm baiklah…”
“Aku pergi..”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Addan pun bergegas pergi, dan diikuti oleh Soka.
“Ya, hati-hati, nanti sepulang kantor aku akan menyusulmu.”Ujar Hobby sedikit teriak.
__ADS_1
...****************...
"Raya!"
Raya yang saat itu sedang berdiri didepan pintu ruang Kana, seketika menoleh saat seseorang menyerukan namanya.
"Kak Addan..."Gumamnya melihat Addan berjalan cepat kearahnya.
Gadis itu sedikit mengerutkan alisnya, sebab penampilan suami dari kakak sepupunya itu terlihat sedikit acak-acakan, kemejanya kusut dan kancing bagian atasnya terbuka, jas dan dasi bertengger dilengannya, tak lupa pula dengan rambut yang kusut dan mata yang memerah, sukses membuatnya seperti orang stress.
"Kenapa tidak didalam menemani Kana? Kamu bilang ia sudah siuman..."
"Iya...Kak Kana tadi memang udah siuman, tapi..."Ujarnya ragu-ragu untuk meneruskan kalimat yang terakhir.
"Tapi apa?"tanya Addan tak sabaran.
"Tap-tapi...Kak Kana pingsan, se-setelah aku bilang kalau dia mengalami keguguran..."
Raya tertunduk takut melihat perubahan wajah Addan. Ia pun dengan sengaja tak menceritakan perihal Kana yang sempat mengamuk, karena apabila ia ceritakan tamatlah sudah riwayatnya.
"APA!!" Kaget Addan.
Addan mengacak rambutnya frustasi. Rahangnya mengeras, menatap kesal sang adik ipar.
****!
"Kenapa kamu memberitahunya, belum waktunya dia mengetahuinya."Geramnya.
"Ma...maaf Kak...Aku terpaksa mengatakannya, karena Kak Kana terus mendesakku..."Ucap Raya dengan rasa bersalah.
Addan memilih menghiraukan Raya, sebelum dirinya secara tak terkendali memarahi gadis itu.
Ia pun memutuskan masuk kedalam ruang rawat inap, melihat sang istri.
"Eh, Kakak jangan masuk dulu."Cegah Raya mencekal lengan Addan, "Kak Kana masih dalam penanganan dokter..."
Addan menghela nafas panjang, dan terduduk lemas dikursi tunggu.
Beberapa menit kemudian, Dokter Sammy keluar dan menghampiri mereka.
Addan lekas berdiri.
"Bagaimana kondisiku istriku?"tanyanya dengan raut wajah khawatir.
"Syukurlah, Nyonya berhasil melewati masa kritisnya, kondisinya sudah membaik. Sekarang beliau sedang beristirahat. Silahkan Anda masuk dulu Tuan, yang lain bersabar mendapat giliran.”
~~
Ceklek!
“K-kana…”Lirih Addan dengan mata yang berkaca-kaca.
Ia begitu sangat merindukan wanita yang terbaring lemah diatas brangkar itu. Rindu akan suaranya, rindu memandang bola matanya yang indah, meski tak pernah membalas tatapannya yang penuh cinta itu.
“Sayang…”Addan mengusap sayang surai panjang milik sang istri.
Kana yang merasa istirahatnya tergganggu, segera membuka mata.
“Mas…”
Senyum Addan seketika merekah, walau masih meninggalkan raut kesedihan diwajahnya.
Digenggam eratnya tangan kiri sang istri. “Akhirnya kamu bangun sayang, setelah dua minggu lamanya kamu koma.”
__ADS_1
Kana bungkam, matanya menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong. Sekelebat bayangan percakapannya bersama Raya tadi siang, membuat pipinya kembali dibanjiri air mata.
Bersambung....